
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Lantunan sholawat dari mesjid terdekat rumah Afifa terdengar menggema memanggil hati insan taat yang sedang terlelap terbuai mimpi, Afifa terbangun. Dilihatnya jarum jam menunjukan pukul 3.30, Afifa menggeser lengan suaminya dari pinggangnya yang sedang memeluk dirinya. Dia bangkit, lalu duduk diatas tempat tidur. Afifa menoleh kesampingnya, suaminya masih terlelap, wajahnya nampak tenang dibalik sinar lampu tidur remang-remang didalam kamarnya. Meski bekas memarnya sudah berangsur hilang, namun balutan perban putih masih bertengger dibagian kanan kepalanya, Afifa membalikan badannya tepat ke arah kepala suaminya, perlahan tangannya meraba bekas luka diujung bibir dan pelipis suaminya. Dia tahu, betapa besar cinta suaminya untuk dirinya begitupun dengan cintanya. bibirnya tersenyum memandang pemandangan indah dihadapannya, dia bersyukur atas karunia yang telah Alloh berikan untuknya. Afifa mendekatkan wajahnya, tak terasa, bibirnya sudah mendarat dikening suaminya.
Fauzi menggeliat, terbangun karena ulah istrinya, "Sayang..., sudah bangun?" ucapnya sambil menahan pundak Afifa yang masih membungkuk ke arahnya.
Afifa tersenyum malu-malu karena perbuatannya diketahui suaminya, lalu dengan segera menarik tubuhnya menjauh. Namun Fauzi malah menarik tubuhnya kedalam pelukannya. "Aku begitu bahagia, karna hari ini masih senyumanmu yang kulihat pertama kali saat membuka mataku", ucap Fauzi sambil mencium kening Afifa, tangannya membelai lembut rambut panjang Afifa yang terburai didadanya.
Afifa tersenyum dibalik pelukan suaminya. "Kak...", panggil Afifa.
"Hmmm?"
"Ayo bangun!" ajak Afifa, namun dia masih membiarkan suaminya terus membelai rambutnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Fauzi basa-basi, padahal tentu saja dia sudah melihat jam dinding yang bertengger didinding kamarnya.
"Jam setengah empat", jawab Afifa sambil mendengarkan irama detak jantung Fauzi yang berdetak dengan teratur.
"Cukup gak ya waktunya?" tanya Fauzi lagi.
"Cukup buat apa?" tanya Afifa.
"Hmmmm... anu... Buat serangan Fazar", Fauzi tertawa nakal. sontak membuat Afifa menarik badannya dari pelukan suaminya.
"Ih... masih sakit juga", ucap Afifa sambil memukul pelan bahu suaminya.
"Kan yang sakit cuman luarnya aja, haha...".
"Isst...lihat ini! kepala aja masih diperban". Afifa menunjuk perban yang menempel dikepala Fauzi.
"Ayolah...! katanya mau ikhtiar..." rengeknya.
"Tapi harus cukup sama tahajudnya juga ya!" ancam Afifa.
"Iya Sayang....", bisiknya, sambil menarik kembali tubuh Afifa kepelukannya. Kalau sudah begini Afifa tak dapat berbuat apa-apa lagi 😊.
******
Pagi hari, Afifa sudah bersiap dengan seragam dinasnya, hari ini dia kembali mengajar setelah dua hari kemarin tidak bisa masuk karena menunggui suaminya di Rumah sakit, dia juga harus mengantar Thalita ke sekolah.
Sebelum sarapan, Afifa mengganti perban suaminya dikamar, karena sempat basah dan dibuka setelah mandi pagi tadi. Fauzi duduk bersandar diatas tempat tidur, Afifa duduk disampingnya. "Tuh kan basah jaitannya, Kak!", ucap Afifa, tangannya menggulung kasa dan mengusapkannya perlahan pada luka dikepala Fauzi, lalu berulang meniupnya.
"Iya Sayang, lumayan perih ni", Fauzi agak meringis kesakitan.
"Ah...lagian pakek serangan fazar segala, jadi gini kan?", omel Afifa tanpa mengalihkan pandangannya dari luka suaminya.
"Ya...harus gimana lagi hehe...", jawabnya cengengesan.
"Ah...ada-ada aja", Afifa mengulas senyum, tangannya cekatan menggunting plester dan menempelkan kasa baru diluka Fauzi. " Selesai", ucapnya kemudian, sambil memasukan peralatan P3K pada kotaknya.
Fauzi meraba kain kasa dikeningnya. "Makasih Sayang", ucapnya.
__ADS_1
Afifa tersenyum, menyimpan kotak P3K kedalam laci, lalu duduk kembali, "Kak Aji gak papa kan Fifa tinggal ke sekolah?", tanya Afifa.
"Gak papa, sudah enakan kok, berangkat saja, dan hati-hati dijalan!".
"Iya", Afifa bangkit dari duduknya, tapi Fauzi menahan tangannya.
"Sayang..., Kamu yakin mau mengantar Thalita kerumah Wulan hari ini?". tanya Fauzi sambil menggenggam tangan Afifa.
"Iya, lagian gak enak sama Mbak Wulan, Kak!, dia sudah telphon beberapa kali, dan Ayahnya terus meminta Thalita pulang katanya", jawab Afifa.
"Lalu, apa Thalita mau diantar pulang?"
"Tadinya tidak mau, tapi setelah Fifa bujuk, dan berjanji akan menjemputnya kembali akhir pekan nanti, dia pun mau pulang ke rumah Mbak Wulan".
Fauzi manggut-manggut tanda mengerti. "Ya sudah, tapi tetap hati-hati dan jangan masukan ke hati kalau sampai Ayahnya Wulan bicara yang tidak-tidak lagi".
Afifa terdiam, berfikir sejenak, lalu menganggukan kepalanya pelan.
******
Acara sarapan pun berlangsung, keluarga Afifa berkumpul dimeja makan, Mama menyapa Afifa saat melihat seragam dinas yang dipakainya. "Sudah mau kesekolah hari ini, Fa?"
"Iya, Ma! sekalian antar Thalita ke sekolah dan pulang ke Rumahnya", jawab Afifa sambil mengambil satu centong nasi dan menyimpannya di atas piring Thalita.
"Kenapa diantar kerumahnya? ini juga rumahnya kan?"
"Mbak Wulan sudah berkali-kali telphon Fifa agar segera mengantar Thalita, Ma!, Fifa gak enak".
"Oh..., ya sudah", Ucap Mama, mengambil alih centong nasi dari tangan Afifa. hening sejenak, hanya suara dentingan sendok yang tak sengaja beradu yang terdengar disana.
"Yang mana, Ma?" tanya Afifa tak mengerti.
"Saran Mama agar kamu berhenti mengajar". ucapnya enteng, membuat Afifa menghentikan tangannya yang akan memasukan nasi kedalam mulutnya, begitupun dengan Fauzi, dia menatap ibunya juga istrinya bergantian.
"Fifa...Fifa belum sempat membicarakannya dengan Kak Aji, Ma!", jawab Afifa pelan dan tertunduk.
"Kenapa harus berhenti? itukan pekerjaan Afifa dan cita-citanya sejak kecil, Ma!" Fauzi menimpali.
"Tadinya Mama fikir, Afifa terlalu banyak kegiatan, makanya belum hamil juga", ucap Mama lagi, sontak membuat Afifa terdiam dan semakin tertunduk mengingat nasib dirinya.
"Anak itu kan karunia Alloh, Ma! jangan mengaitkan dengan pekerjaan Afifa", ucap Fauzi, membuat Afifa sedikit bernafas lega mendapat pembelaan dari suaminya.
"Iya Mama ini, bicara kok ngawur, mungkin belum rejekinya", Papa menimpali disela makannya.
"Iya juga ya, Astaghfirulloh..., maafin Mama ya, Nak!" Ucap Mama kemudian.
Afifa hanya mengangguk pelan, meski hatinya tetap teriris, karena memang benar adanya, sampai saat ini, tanda-tanda kehamilan belum juga hadir dalam dirinya.
*******
Motor Afifa melaju membelah jalanan kota Bandung yang mulai padat, dengan helm yang masih setia membungkus kepalanya, tak henti-hentinya ia membujuk Thalita yang sedang berpegangan erat pada pinggangnya agar mau pulang ke rumah Wulan. Thalita setuju, asal Afifa sendiri yang mengantarkannya ke rumah.
__ADS_1
Tak terasa motor Afifa berhenti tepat didepan pintu gerbang sekolah Talita, mereka turun dari atas motor, Afifa menggandeng tangan Thalita menuju pintu gerbang sekolah. Thalita berpamitan sambil menyium punggung tangan Afifa, keduanya saling melempar senyum dan melambaikan tangan.
Afifa kembali melajukan motornya setelah Thalita masuk ke halaman sekolah, cukup lima menit saja untuk sampai ke sekolah SMP tempat dia mengajar.
Waktu dzuhur tiba, terlebih dahulu Afifa mengambil air wudlu dan melakukan kewajibannya di mushola sekolah, lalu bergegas menuju sekolah Thalita untuk menjemputnya.
Pukul satu siang mereka sampai dirumah Wulan, nampak sebuah proyek pembangunan sedang berlangsung tepat disamping rumah Wulan, Afifa teringat dengan obrolan Wulan saat dia melahirkan di rumah bidan waktu itu, bahwa Wulan hendak membangun rumah baru dengan menggunakan jasa Farid sebagai arsiteknya.
Afifa menurunkan standar samping motornya dan meletakan helm diatas motor, lalu berjalan dengan menggandeng tangan Thalita menuju pintu masuk lewat butik yang terbuka. Seorang pegawai butik menyapanya dan mengatakan bahwa Wulan sedang memeriksa pembangunan rumahnya. Setengah berlari pegawai itu menghampiri proyek untuk memanggil majikannya. Afifa masih menunggu didepan pintu.
Tak lama, Wulan datang, namun dia tak sendiri, ada seorang pria bersamanya, postur tubuhnya tegap tinggi menggunakan kemeja berwarna navy yang digulung setengah lengan dipadukan dengan celana jeans biru langit ditambah helm proyek berwarna kuning diatas kepalanya.
"Hai...Sayang...!", Ucap Wulan setengah berlari menghampiri Thalita, "Bunda kangen, Thalita kok baru pulang?" tanya Wulan sambil membungkuk dihadapan putrinya. Tapi Thalita hanya terdiam, Afifa memperhatikan keduanya.
"Apa kabar, Fa?", tanya pria itu kepada Afifa.
Afifa mengangkat kepalanya, menatap orang yang bertanya padanya, sepersekian detik, bola matanya menangkap netra hitam milik pria itu, lalu dia kembali menundukan pandangannya. "Alhamdulillah baik", ucapnya sambi mengangguk.
"Syukurlah", Ucap pria itu sambil tersenyum, lalu membuka helm yang bertengger dikepalanya, nampak keringat yang berkilauan dari pelipisnya karena tertimpa teriknya sinar matahari, menambah kesan gagah pada dirinya.
"Bunda!, ayo masuk!", rengek Thalita sambil menarik tangan Afifa agar ikut masuk bersamanya.
"A...iya, Sayang!", jawab Afifa mengikuti langkah Thalita.
"Ayo masuk dulu, Rid! Saya siapkan minuman dingin didalam", Ajak Wulan.
"Iya, Mbak! sekalian saya mau numpang Sholat dulu", jawab Farid.
"O, ya sudah masuk aja!", jawabnya, lalu berjalan mengikuti Afifa dan putrinya yang sudah lebih dulu naik ke lantai dua, begitupun dengan Farid yang mengikutinya dari belakang.
"Heh...! baru pulang rupanya", tiba-tiba terdengar suara Ayah Wulan saat Afifa baru sampai dilantai dua rumah Wulan. Afifa menoleh ke arahnya, pria paruh baya itu sedang berdiri memegang secangkir kopi ditangannya, tampak senyuman sinis dari bibirnya.
Thalita memeluk pinggang Afifa, seolah takut melihat Kakeknya.
"Maafkan saya, karena baru sempat mengantarnya", ucap Afifa, tangannya mengusap kepala Thalita untuk menenangkannya.
"Bagaimana keputusannya? kapan suamimu menikahi si Wulan?", tanyanya lagi, suara basnya yang agak serak terdengar menggelegar ditelinga Afifa.
Afifa terdiam, dia mengingat pesan suaminya untuk tidak menanggapi semua ucapan pria itu. Begitupun dengan Wulan.
Namun ada seseorang yang tersentak mendengar ucapan pria itu, dia menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar mandi untuk mengambil air Wudlu, terdiam sambil memastikan kembali kata-kata yang didengarnya. Lalu membalikan badan, sehingga dapat dengan jelas melihat ekspresi Afifa yang terpaku sambil memeluk kepala Thalita.
*********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di part ini Author sajikan yang agak sweet dulu ya Readers... agar tidak terlalu nyesek mikirin nasib Afifa kedepannya. 😊
Like, vote dan komentarnya tetap kutunggu...😘😘😘
__ADS_1
I LOVE YOU ALL... ❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul