Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Ibarat Siti Fhatimah...


__ADS_3

Roda brankar dorong Rumah sakit terus berputar membawa tubuh Fauzi yang tak sadarkan diri menuju ruang UGD, Afifa tergesa-gesa mengikuti langkah perawat yang mendorong brankar ke ruang tindakan, begitupun dengan Mama. Aroma obat-obatan menyeruak menusuk hidung bercampur bau darah dari pasien-pasien kecelakaan yang baru datang berbarengan dengan kedatangan mereka, suara isak tangis keluarga menambah pilu suasana hati Afifa.


Perawat menghentikan langkah Afifa tepat di pintu masuk ruang tindakan, "Silahkan tunggu disini Bu!", ucap salah satu perawat.


Afifa hanya mengangguk, meski hatinya meronta tak ingin sedetikpun pandangannya lepas dari tubuh suaminya.


Mama mengusap punggung Afifa, "Kita tunggu disini, Nak! kita berdo'a untuk keselamatan Fauzi".


Afifa mengikuti langkah ibu mertuanya, lalu duduk di salah satu kursi ruang tunggu, wajah keduanya gelisah sambil membacakan beberapa do'a dan penggalan ayat-ayat Al-qur'an.


Mang Ujang ikut mondar-mandir didepan pintu kamar tindakan dengan berbagai pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya, sebenarnya dia ingin bertanya banyak kepada Afifa tentang tragedi yang menyebabkan majikannya bisa babak belur seperti sekarang ini, tapi melihat kondisi Istri dari majikannya itu begitu memprihatinkan, dengan wajah pucat pasi dan kerudung penuh darah, diapun mengurungkan niatnya, dia khawatir hanya akan membuat Afifa bertambah sedih.


"Nak!", panggil Ibu Mertua Afifa sambil mengusap punggungnya, "apa tidak mau ganti baju dan kerudungmu dulu? minimal cuci bekas darah yang menempel di kerudungmu!"


Afifa mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk melafalkan do'a, matanya beralih ke arah kerudung yang dikenakannya, dia baru sadar kalau kerudungnya penuh noda darah, dia mengangkat kepalanya, pandangannya berkeliing ke arah orang-orang di sekitarnya yang ternyata sedang memandang dirinya dengan tatapan iba, "Oh...iya, Ma..., Fifa...Fifa ke toilet dulu", ucapnya, langsung berdiri dan berjalan menuju toilet setelah mendapat anggukan dari ibu mertuanya.


"Mang Ujang...!" panggil Mama kepada Mang Ujang sepeninggal Afifa. "Mang Ujang kalau mau pulang, pulang aja, itu juga mobilnya Wulan kan? nanti biar suami saya yang jemput kemari".


"Oh...iya...baik, Bu!", jawab Mang Ujang sambil membungkukan badannya, "Kalau begitu saya permisi", berjalan dengan cepat menuju parkiran setelah mendapat izin dari Mama.


Rupanya benar saja, Mang Ujang berpapasan dengan Pak H. Ramadhan di parkiran yang membawa tas besar berisi pakaian ganti juga tas kecil milik Afifa. Mang Ujang segera menjelaskan keberadaan Fauzi, Papanya Fauzi mengangguk lalu dengan segera menghampiri letak keberadaan putranya beserta istrinya sesuai petunjuk Mang Ujang.


Mama segera memanggil suaminya yang celingukan mencari keberadaan dirinya, Papa menghampirinya dan bertanya kebetadaan Fauzi. Mama pun menjelaskannya, sampai akhirnya terjadi perbincangan diantara mereka tentang kejadian dirumah Afifa.

__ADS_1


"Ini sulit sekali untuk kita Ma...", ucap Papa.


"Memang kenapa?", tanya Mama.


"Pak Herman meminta pertanggung jawaban Fauzi terhadap putrinya".


"Maksudnya?"


"Dia ingin Fauzi menikahi Wulan"


"Apa?" Mama terperanjat mendengar ucapan suaminya.


Afifa menghentikan langkahnya tepat setelah Ayah mertuanya mengucapkan kata terakhirnya, dia berdiri dibalik tembok sambil menyandarkan tubuhnya yang mulai lemas.


"Tapi itu tidak mungkin, Pa!, bagaimana dengan Afifa?"


"Hhhhh...Papa juga tidak tahu, Ma...", Papa menarik nafas berat, "Papa sudah berjanji untuk merawat Talita dan menjamin masa depannya, bahkan berani memberi dia harta kita untuk mengganti semua kerugiannya, tapi dia tidak mau, dia ingin setatus Talita jelas".


"Lalu? apa Papa setuju?" tanya Mama.


"Papa belum memutuskan apapun, karena ini urusan masa depan rumah tangga Fauzi juga Afifa, tapi Papa berjanji kalau Fauzi sudah siuman dan memungkinkan untuk diajak bicara masalah ini, Papa dan Fauzi akan memberi jawaban secepatnya".


"Bagaimana kalau kita menolaknya?"

__ADS_1


"Sepertinya, Pak Herman tidak main-main Ma..., dia berani melakukan apapun agar putrinya bisa menikah dengan Fauzi, bahkan dia mengancam untuk menjebloskan Fauzi ke penjara atau bahkan mencelakainya sekalipun".


"Ah... tidak Pa!, Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan Fauzi", Mana menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Afifa masih terus berdiri dibalik tembok, mendengarkan setiap kata yang keluar dari obrolan ibu dan ayah mertuanya, kedua lututnya bergetar, lemas dan hampir saja ambruk ke lantai, tak terasa air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya. sesekali ia mengusapnya dengan kerudung yang memang sudah basah karena air untuk mencuci noda darah suaminya, dia tak peduli dengan lalu lalang orang-orang yang menatap sekilas padanya, Afifa terus menangis, fikirannya melayang memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya, betapa rasa sakit itu akan terus mengiris-iris hatinya, seandainya suaminya sampai menduakan cintanya.


Hatinya tidak akan sanggup untuk menerima kenyataan itu, AFIFA FATHIMA MUMTAZA yang berati "Perempuan yang suci, putri Nabi yang memiliki keunggulan", sungguh nama yang Abi tercintanya sematkan pada dirinya sejak ia dilahirkan, kini terasa begitu berat baginya, dia sama sekali tidak memiliki hati selapang putri-putri nabi yang memiliki keunggulan yang begitu istimewa, dia hanya wanita biasa yang tak kan sanggup menerima penderitaan yang terus datang silih berganti kepada dirinya. Bukannya dia tidak menerima Taqdir yang telah Alloh gariskan untuknya, namun dia hanya berharap dirinya bernasib seperti Siti Fathimah Rodiyallohu Anha, yang memiliki cinta berlimpah dari Sayyidina Ali Suaminya yang tidak pernah terbagi dengan wanita manapun 😢.


***************************************


Bersambung...😢😢😢❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Duh... kok makin nyesek saya nulis 😢😢😢


Maafkan Author, Readers... masih bikin kalian mewek 😭😭😭


Tapi Vote dan Like nya jangan bikin Author tambah mewek ya 🙏


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2