Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Tugas Utama Seorang Suami...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Acara Resepsi berjalan dengan lancar, satu persatu para tamu undangan meninggalkan tempat resepsi. Wulan yang datang bersama Suaminya nampak berseri-seri, mata sayunya yang sejak dulu selalu menyembunyikan kesedihan dan penyesalan seolah tak sedikitpun nampak pada dirinya. Wulan pulang hampir pukul 4 sore, dan Thalita pun ikut serta bersamanya agar besok Afifa tidak perlu mengantarnya ke sekolah.


Pukul 8 malam saat para tamu sudah benar-benar sepi, barulah Fauzi dan Afifa pamit untuk pulang, bukan apa-apa selain mereka merasa lelah, di rumah ini juga tidak ada kamar kosong untuk tidur mereka, karena kamar yang dulu biasa di tempati Fauzi kini sudah berubah menjadi kamar pengantin Nadia. Mama bilang agar mereka lebih leluasa dengan kamar yang lebih besar serta kamar mandi di dalamnya. Sedangkan kamar Nadia di tempati oleh keluarga Kak Hanita.


Malam itu Farid masih duduk bersila di ruang tamu yang beralaskan karpet permadani, Nadia duduk di sampingnya, mereka berbincang bersama keluarga besar Pak Haji Ramadhan juga Kak Arman yang memang asli dari Semarang juga. Banyak hal yang mereka bicarakan termasuk masa-masa kuliah Farid bersama Nadia waktu di Semarang yang membuat semua orang tertawa, sedangkan wajah Nadia bersemu merah karena malu mengingat hal itu.


"Sudah..., jangan menggoda mereka lagi!" Ucap Bu Haji Ramadhan, "Kalian istirahatlah!" Perintahnya. "Nad! Ayo ajak suamimu istirahat!"


"Iya, Mak Eyang!" Nadia memutar pandangannya ke arah Farid, kepalanya sedikit mengangguk mengisyaratkan ajakan kepada Farid.


Farid pun mengerti, dia berdiri dan berpamitan kepada semua orang, lalu mengikuti langkah Nadia yang sudah berjalan lebih dulu di hadapannya. Farid berhenti sejenak di depan pintu yang sudah terbuka, lalu dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, entah apa yang dia pikirkan. Lantas dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang penuh dengan wewangian bunga melati asli ini.


Farid menatap ke sekeliling kamar namun Nadia tidak ada di dalamnya, dia hanya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Farid pun mendudukkan dirinya di atas sofa panjang sambil memeriksa ponselnya yang sejak pagi tadi ia matikan.


"Mas! Kita Sholat Isya dulu!" Ajak Nadia yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah mengenakan kerudung instan.


"Iya, tunggu sebentar ya, kita berjamaah," ucap Farid sambil berdiri, meletakan ponselnya di atas meja lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air Wudhu.


"Mas! Apa boleh Nadia membuka koper Mas untuk mengambil kain sarung?" tanya Nadia sebelum Farid menutup pintu kamar mandi.


Farid tersenyum, "Tentu saja," Ucapnya, sambil kembali keluar untuk membuka kode pada kopernya, Farid meminta Nadia untuk menghafal kodenya. "Barang-barang ku ada disini semua, kamu bisa membereskannya nanti," ucap Farid, lantas berdiri dan kembali melangkah ke kamar mandi.


Nadia mengangguk dan tersenyum, dia hanya mengambil kain sarung dan peci milik suaminya, lantas menutup kembali kopernya. Nadia berjalan menuju lemarinya untuk mengambil 2 sajadah serta mukena. Lantas menggelar sajadah itu di samping tempat tidur dan segera membuka kerudungnya untuk memakai mukena.


Tak lama Farid keluar dari kamar mandi dan segera memakai kain sarung serta peci yang sudah di siapkan Nadia. Mereka pun tenggelam dalam ritual ibadahnya.


Ucapan salam tanda berakhirnya Sholat terdengar dari mulut Farid, beberapa ucapan dzikir terus mengalir dengan lancar sampai dengan do'a-do'a yang Farid ucapkan sebagai ucapan Syukur atas segala nikmat yang dia rasakan saat ini. Nadia memperhatikan semua gerak-gerik Farid sambil mengamini do'a-do'anya.


Sungguh Nadia merasa sangat bahagia, bisa menjadi makmum dari Pria soleh yang sangat mengerti tentang Agama, hal ini lah yang selalu di nantikan di setiap siang dan malamnya. Dia sadar betul, kalau dirinya sama sekali tidak punya banyak pengetahuan tentang ilmu agama, hanya beberapa hal kecil saja yang selalu ia tanyakan kepada Antinya yang kini sudah mampu merubah dirinya menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya, setidaknya dalam penampilan dan sikapnya.


Tiba-tiba fikiran Nadia teringat dengan masa lalunya, dimana dirinya sangat jauh dari agama, bahkan sholat pun entah berapa ribu waktu yang ia lewatkan. Tak terasa air matanya menetes membayangkan masa lalu yang tidak terpuji itu.

__ADS_1


Farid menutup Do'anya, dia menoleh kebelakang saat mendengar isakan kecil dari mulut istrinya. "Nad? kenapa?" tanya Farid heran sambil menggeser duduknya mendekati Nadia, lantas mengulurkan tangannya ke hadapan Nadia.


Nadia segera menghapus air matanya dengan mukena yang terjuntai di dadanya, lantas segera menyambut uluran tangan Farid dan menciumnya. "Gak papa, Mas!" ucap Nadia sambil tertunduk.


"Benarkah? lalu kenapa nangis? apa ada yang salah denganku?" tanya Farid.


"Tidak sama sekali, Mas Ari adalah Suami sempurna untuk Nadia, hanya saja..., tugas Mas Ari pasti akan sangat berat untuk membimbing Nadia, Nadia sama sekali tidak punya dasar pendidikan Agama, bahkan Nadia tidak yakin kalau Sholat dan bacaan Qur'an Nadia sudah benar," ucap Nadia masih tertunduk.


Farid tersenyum, "Tidak ada satu orang pun manusia yang sempurna, Nad! begitupun denganku, kita akan menjalani rumah tangga ini bersama dengan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan..., untuk masalah ibadah, memang sudah menjadi tugas utama seorang suami untuk membimbing istrinya bukan?"


"Tapi Nadia masih nol besar, Mas!"


"Hei..., sudah jangan nangis lagi!" Farid mengusap air mata yang jatuh di pipi Nadia. "Baiklah, mulai sekarang kita akan membagi waktu dimana kita akan belajar bersama tentang agama," Farid berfikir sebentar, lalu tersenyum kembali, "Bagaimana kalau setiap malam sebelum tidur, selama satu jam kita membahas tentang agama terlebih dahulu?" tanya Farid.


Nadia mengangkat kepalanya, lalu menatap Farid dengan mata basahnya. Nadia mengangguk sambil tersenyum.


"Nah, begitu kan manis, Apa akan kita mulai malam ini?" tanya Farid.


"Kalau capek ya tinggal tidur, cuman satu jam saja, abis itu...," Farid menghentikan ucapannya.


Nadia kembali menatap Farid, keningnya berkerut. "Abis itu apa?" tanya Nadia polos, membuat Farid tertawa melihat mata bulat istrinya yang nampak penasaran.


"Sudah, ayo kita mulai saja belajarnya, mulai dari ibadah inti saja tentang Sholat ya!" Ucap Farid sambil berdiri dan memegang tangan Nadia mengajaknya untuk berdiri pula, lalu keduanya duduk di atas sofa. Farid mulai memaparkan tentang Sholat, mulai dari kewajiban untuk Thoharoh beserta Syarat dan Rukunnya. Nadia mendengarkan dengan seksama, sambil mencerna setiap kata yang di ucapkan suaminya, tubuhnya masih terbalut mukena putih yang tak juga di lepasnya.


"Bagaimana? ada gambaran?" tanya Farid sambil melingkarkan tangannya ke pundak Nadia.


Nadia tersentak mendapat perlakuan suaminya. "I...iya tentu saja," ucap Nadia agak gugup karena Farid sudah mulai memeluk dirinya.


"Belajar Agamanya di lanjut besok ya! malam ini kita belajar yang lainnya," ucap Farid dengan wajah yang sudah condong ke arah Nadia.


"Be...belajar apa?" tanya Nadia yang semakin gugup. Debaran jantungnya semakin kencang, kini dia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas suaminya yang sudah berada tepat di hadapannya.


Farid tersenyum, "Apa kamu takut?" tanyanya.

__ADS_1


"A...aku...aku hanya...hanya..." Nadia tak dapat bicara, dia memejamkan matanya, tak sanggup melihat sorot mata suaminya yang terus menjurus ke arahnya. Tubuh Nadia terpaku sejenak saat merasakan bibir suaminya sudah mendarat di atas bibirnya sekilas. Farid menarik tubuhnya. Dan Nadia perlahan membuka matanya. Tampaklah wajah suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya. Nadia segera menundukkan wajahnya yang bersemu merah sambil mengatur detak jantungnya sendiri.


"Ayo tidur!" ucap Farid, tangannya memegang dagu mencos Nadia.


Nadia hanya mengangguk, lantas membuka mukenanya perlahan, menampakan rambutnya yang dikucir kuda agak pirang karena cat yang masih juga belum hilang sejak setahun yang lalu. Nadia melipat mukenanya di atas sofa, sambil sesekali mencuri pandang ke arah suaminya yang sejak tadi terus saja memperhatikan wajahnya, membuat Nadia semakin salah tingkah.


Setelah selesai Nadia berdiri untuk membereskan sajadah yang masih tergelar kemudian menyimpannya ke dalam lemari. Dia membalikan badannya dan nampak suaminya sudah terbaring di atas tempat tidur. Nadia terdiam, dia hanya berdiri mematung tidak tau apa yang harus di lakukannya saat ini.


"Tidurlah!" ucap Farid. "Kamu pasti capek, Aku tidak akan mengganggumu kalau kamu belum mengizinkan," Farid tersenyum.


Nadia mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, dia pun menaikan kakinya ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disamping suaminya.


Keduanya terdiam tak bicara, meski jiwa kelaki-lakian Farid tentu saja meronta-ronta karena dia pria normal.


Dan Nadia yang semakin gelisah merasa bersalah dengan diamnya Suaminya, Nadia menarik nafas panjang berusaha mengucapkan sesuatu. "Kalau Mas mau melakukannya, Nadia mengizinkan," ucap Nadia pelan.


Farid yang sedang terlentang langsung membalikan posisi tidurnya ke arah Nadia. "Benarkah?" bisiknya pelan tepat di telinga Nadia. Membuat bulu kuduk Nadia langsung berdiri karena hembusan nafas suaminya. Nadia hanya mengangguk pelan.


Farid pun membentangkan lengannya agar Nadia tidur diatasnya, dia melakukan semua yang ingin dia lakukan setelah mendapatkan izin dari Istrinya tentunya.


**************************


Bersambung... ❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf di sensor .... 😉


Tetap like, vote dan koment...😉


I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2