
HAPPY READING...⚘⚘⚘
"Terimakasih Mas Ari" Ucap Nadia sambil tertunduk.
Seketika Farid menghentikan langkahnya, dia terdiam sesaat mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya, tanpa sadar dia memutar kepalanya kembali menoleh ke arah gadis berhijab coklat yang sedang tertunduk dihadapannya.
Farid memperhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Maaf...?" Ucapnya.
Nadia mengangkat kepalanya, sepersekian detik iris mata mereka bertemu, Nadia kembali menundukan pandangannya, lalu mengangguk pelan seolah mengerti dengan maksud Farid yang ingin memastikan bahwa itu adalah dirinya.
"Muthya?" tanya Farid.
"Ayo Rid...!" Ajak wulan yang kembali menyembulkan kepalanya kedalam ruangan, karna Farid tak juga keluar.
"Oh...iya mbak" Jawab Farid sambil mengalihkan pandangannya yang sejak tadi masih saja tak berpaling dari gadis dihadapannya yang masih berdiri dengan kepala menunduk, dia langkahkan kakinya menuju pintu, kepalanya sempat menoleh kebelakang sebelum bayangan tubuh gadis itu benar-benar hilang dibalik pintu, Apa aku salah lihat?, kenapa anak itu berubah sekarang? Ah... Farid menepis lamunannya dengan mengibaskan tangan kanannya dihadapan wajahnya.
Sepeninggal Farid dan Wulan, Fauzi berpamitan kepada Abi untuk menyusul Umi dan bayinya ke Rumah sakit.
"Bi, Aji mau melihat kondisi bayi kami ke Rumah sakit, bolehkan Aji nitip Afifa disini sampai kondisinya pulih?" Ucap Fauzi pada mertuanya, "Nadia juga ikut menemani disini, iya kan Nad?" menoleh ke arah Nadia.
"Iya Paman", ucap Nadia.
"Baik Zi, kamu tenang saja, nanti Abi paling pulang habis isya", jawab Abi.
"Iya Bi, Aji akan kembali kemari sebelum isya".
Fauzi keluar meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke arah Afifa.
Afifa hanya menatap punggung suaminya yang berlalu begitu saja dari ruangan itu sampai tak terlihat lagi, ada rasa sakit dihatinya mendapati sikap suaminya yang tak lagi menolehnya.
"Abi Sholat ashar dulu ya Fa, nanti gantian sama Nadia", ucap Abi kepada putrinya yang sejak kepergian suaminya hanya diam membisu dengan tatapan kosong ke arah pintu.
"Iya Bi", ucap Afifa pelan.
Abi melangkah keluar, sepeninggal Abinya entah mengapa rasanya ingin sekali dia menangis, air matanya yang sudah tergenang kini tak terbendung lagi, diapun menangis tersedu-sedu.
Nadia yang berada diruangan itu langsung memeluk Afifa, "Anti...!, Anti kenapa tiba-tiba nangis?" tanya Nadia heran.
Afifa tak menjawab, dia hanya memeluk balik keponakannya, beberapa saat Nadia membiarkan Afifa menangis dalam pelukannya, sampai tangisannya agak mereda, Afifa mulai merenggangkan pelukannya.
"Ini semua salahku Nad, karena keteledoranku dan ketidakjujuranku, jika tidak, semua ini tidak akan terjadi", Ucap Afifa disela isakannya.
"Anti kok bilang gitu? Anti tidak salah apapun disini, kalau memang ada yang harus disalahkan, maka Nadialah yang salah, Nadia yang datang kerumah Anti malam itu dengan basah kuyup, sehingga kecelakaan itu terjadi".
"Tidak Nad, kamu gak salah".
"Anti juga tidak salah, jadi jangan salahkan diri sendiri".
"Tapi Pamanmu pasti sangat kecewa dengan Anti".
"Paman bukan orang seperti itu An, Nadia tau betul betapa dia sangat mencintai dan menyayangi Anti".
__ADS_1
"Tapi dia tidak melihat Anti sama sekali setelah tau Anti pernah terjatuh".
"Sudahlah An, jangan berfikir negatif dulu, mungkin Paman sedang sangat khawatir dengan bayi kalian, lebih baik kita berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja".
Afifa mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya di bahu Nadia yang kini duduk ditepi tempat tidur pasien.
Rumah Sakit #
Fauzi sampai ke Rumah sakit, dia segera menghampiri bagian pendaftaran untuk mengetahui keberadaan bayinya, setelah mendapatkan informasi dia bergegas mencari ruangan khusus bayi sesuai petunjuk petugas.
Umi, Mama dan Papa sedang duduk didepan ruangan kaca transparan yang didalamnya terdapat beberapa bayi yang disimpan didalam tabung terbuat dari kaca, Fauzi menyapa mereka bertiga lalu berdiri menatap kedalam ruangan, matanya fokus ke tabung bayi yang bertuliskan Ny. Afifa, bayi mungil itu terpejam tak bergerak, nafasnya sangat lemah, Fauzi meletakan telapak tangannya didinding kaca, menatap bayinya dengan linangan air mata.
"Kamu yang kuat ya sayang..., Ayah yakin kamu pasti kuat, ayah akan lakukan apapun untuk kehidupanmu, kita akan segera pulang kerumah dan bertemu Bunda,". Ucap Fauzi lirih.
Mama yang mendengar ucapan putranya berdiri mendekatinya, memegang pundaknya dan mengusapnya beberapa kali, "Sabar ya Zi, semuanya sudah ditangani, kita berdo'a saja" Mama menenangkan, "O ya, Bagaimana keadaan Afifa?"
"Sudah membaik Mah, hanya tinggal pemulihan saja", jawab Fauzi.
"Syukurlah..., kamu sudah sholat ashar Zi?" tanya Mama lagi.
"Astaghfirulloh..., belum Ma", Fauzi mengusap wajahnya, "Aji ke mushola dulu ya Ma".
"Iya, sholatlah dulu, jangan lupa berdo'a untuk keselamatan putramu dan kesehatan istrimu!".
"Iya Ma", Fauzi melangkah meninggalkan orang tua dan mertuanya".
Waktu sudah menunjukan pukul 4:30, Fauzi masih setia diatas sajadahnya, bermunajat dan berdo'a kepada yang maha kuasa, sampai suara panggilan terdengar dari pintu mushola.
"Zi...!".
"Dokter memanggilmu, cepatlah!"
"Oh...iya, baik Pa", Fauzi segera bangkit dari duduknya dan bergegas menemui dokter diruangannya diikuti oleh Papa, Mamapun ternyata sudah berada disana.
Fauzi menatap Mama yang terlihat tegang, "Ma? ada apa?" penasaran.
Mama tak menjawab dia hanya memegang pundak putranya dan menatapnya iba, lalu mengalihkan pandangan ke arah dokter.
"Pak Fauzi...," ucap dokter pelan.
Fauzi menatap intens dokter dihadapannya, "Iya dok?"
"Jadi begini, bayi Anda dilahirkan belum tepat pada waktunya, berat badannya terlalu kecil dan saluran pernafasannya belum normal, jika keadaannya tidak berubah sampai maghrib nanti, kami mohon maaf, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik", Jelas Dokter.
Seketika Fauzi terdiam, mulutnya terasa kaku, hanya cairan bening yang tiba-tiba saja merembes dari kedua matanya, Namun dia segera menepisnya mengingat dokter ada dihadapannya.
"Anda dan keluarga berdo'a saja, semoga satu jam kedepan pernafasannya berangsur normal", Ucap dokter kemudian.
"I...iya...makasih dok", Fauzi mengusap kedua pipinya.
Mereka keluar dari ruangan dokter, kembali menuju ruang tunggu didepan ruangan kaca transfaran, Mama menjelaskan semuanya kepada Umi, semuanya berdo'a untuk keselamatan bayi Fauzi.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 7:30 malam, bayi mungil itu tetap tidak berubah, semuanya semakin gelisah, sampai suara panggilan diponsel Fauzi berdering, dia merogoh saku celananya, ternyata Nadia yang memanggil,
Fauzi mengangkatnya.
Hallo assalamuakaikum Paman
"Waalaikum salam"
Bagaimana keadaan bayinya?
"Belum pasti, masih menunggu perubahan selanjutnya"
Oh...semoga saja semuanya baik-baik saja.
"Aamiin..."
Paman, Anti bersikukuh ingin ke Rumah sakit, Abi juga sudah pulang, Paman akan kemari jemput kami kan?
"Sepertinya tidak bisa, Paman harus menunggu keputusan dokter".
Oh begitu ya.
"Apa Afifa sudah boleh pulang?"
Iya, tapi tetap harus istirahat total.
"Ya sudah, Kalian pulang saja kerumah, Paman akan telphon mang ujang agar menjemput kalian".
Iya Paman.
Fauzi menutup panggilannya, fikirannya kembali menerawang membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi.
Pukul 9 malam, Fauzi kembali dipanggil dokter, dengan hati berdebar dia melangkah menuju ruangan dokter, setelah Fauzi duduk diapun memulai pembicaraannya.
"Maaf sebelumnya Pak", Ucap dokter dengan hati-hati.
"Deg...!" jantung Fauzi berdetak semakin kencang menunggu ucapan dokter selanjutnya.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi mohon maaf, putra Bapak ternyata tidak kuat, dan telah diambil kembali oleh Tuhan".
"Dueeerrrr...", suara dokter terdengar memekik telinganya, jantungnya berhenti sesaat dan diapun tertunduk menahan tangis dan sakit yang terbendung didadanya, sampai isakan kecil terdengar dari mulutnya, airmatanya mengalir membasahi kedua pipinya.
********
Bersambung...😢😢😢
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers... sampai sini dulu, Author terlanjur berlinang air mata 🙏
Tetap kasih like, vote dan komentarnya ya...
__ADS_1
LOVE YOU ALL...❤❤❤
By : @Rahma Husnul#