Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Menangislah!...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Fauzi hanya terdiam menatap punggung Farid yang berlalu dari hadapannya. Hatinya terus bergejolak mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar dari mulut Farid.


"Bodoh?" tanyanya dalam hati, "Ya aku memang bodoh, bahkan sangat bodoh karena sudah melepaskan Dia dari genggamanku, wanita yang selalu mengisi ruang dalam hati dan fikiranku setiap saat, setiap waktu. Tapi...apa kau tau, Rid? kalau semua yang kulakukan adalah untuk dirinya, untuk mengembalikan setiap senyum yang sudah ku renggut sejak pertama kali aku mengikatnya? dan senyum itu sempat kulihat saat dia bersamamu waktu itu, senyum yang tulus, polos tanpa ragu dan embel-embel kebohongan untuk menutupi semua penderitaannya selama hidup bersamaku. Ku fikir, seiring berjalannya waktu, kebahagiaan itu akan timbul dalam bahtera rumah tangga kami yang berjalan lebih dari dua tahun ini. Namun lagi-lagi masa laluku mengusiknya, membuat senyum tulus yang selalu kurindukan itu hilang dan tergantikan dengan senyuman semu yang selalu menghiasi wajahnya untuk menutupi semua penderitaannya. Bukankah akan sangat egois jika aku tetap mempertahankannya? dia berhak bahagia Rid, dan kuharap, Kau lah yang akan membahagiakannya".


Senyuman getir tersungging dari bibir Fauzi, seolah ada satu tangan yang menyentil hatinya saat fikirannya mengingat kata-kata terakhir dalam gumanannya.


"Ayah...! kok bengong aja?", Thalita menarik lengan Fauzi dan membuyarkan lamunannya.


"Oh...iya, Sayang", jawab Fauzi gelagapan.


"Ayo kita makan dulu, Ayah...! Thalita laper", rengek anak itu.


"O ya sudah, Yuk kita pesan makanan, Thalita mau makan apa?" tanya Fauzi.


"Kentang goreng sama ice cream", ucap Thalita sambil menarik Ayahnya menuju meja pelanggan yang tadi digunakan Afifa dan Nadia.


Fauzi mengikutinya, matanya tertuju pada dua buah mangkok bakso yang masih utuh dan satu phaper bag yang tergeletak diatas meja. Fauzi mengambilnya, melihat-lihat bingkisan yang terbungkus rapi dengan kertas kado dan terukir sebuah tulisan tangan seseorang bertuliskan "Teruntuk Kak Ahmad Farid Al ghifari". Fauzi mengangkat kepalanya, celingukan mencari sosok pemilik nama pada bingkisan itu, tapi...dia tidak juga menemukannya.


Seorang pelayan datang mengambil mangkok bakso yang tak tersentuh itu, sekaligus menanyakan pesanan Fauzi. Tak lama pesanan datang dan Thalita menyantapnya dengan riang, sedangkan Fauzi hanya melihat putrinya saja sambil memutar-mutar kado yang berada dihadapannya, dan menerka-nerka apa isi dari kado itu dan siapa yang ingin memberikannya kepada Farid?


******


"Anti...! tunggu...!" teriak Nadia setengah berlari di balakang Afifa yang hampir sampai di tempat motornya terpartkir. Namun Afifa tak berhenti sampai kakinya tepat didepan motor.


Dengan nafas tersengal karena berlari ditengah terik matahari, Nadia sampai di hadapan Afifa. "Anti..., sebenarnya... apa yang terjadi?" ucapnya disela tarikan nafasnya.


Afifa terdiam sejenak lalu membalikan badannya. "Nadia..., ada saatnya Anti tidak menceritakan semuanya padamu ya, ini adalah masalah pribadi Anti, masalah rumah tangga Anti...dan..."

__ADS_1


"Tapi sayangnya, masalah itu sudah Nadia ketahui sumbernya, An!, sekarang...Anti sudah tidak bisa menutupinya lagi kepada keluarga seperti dulu. Pa Eyang dan Ma Eyang juga harus tahu kalau Anti sudah tidak tinggal dirumah Paman lagi".


"Tapi, Nad..., Anti hanya sementara tinggal di rumah Umi, sampai tes Anti selesai". bela Afifa.


"Untuk apa? apa hubungannya tinggal dirumah Umi sama tesnya Anti? Apa Anti sudah tidak tahan lagi hidup bersama Paman?"


"Nad!...Nadia..., bukan...bukan begitu, Anti...Anti hanya ingin beristirahat saja di rumah Umi", kilah Afifa sambil mengangkat kedua tangannya, agar Nadia tidak berfikiran lebih jauh lagi.


"Sampai kapan? sampai Paman benar-benar menikahi Wulan?" tanya Nadia lagi, membuat mulut Afifa berhenti bicara mendengar ucapannya.


"Deg...!" Ada dentuman besar yang seolah mendobrak hati Afifa saat mendengar ucapan terakhir Nadia. "Apa itu benar?" ucapnya dalam hati. "Apakah itu sebenarnya alasan Kak Aji mengusirku secara halus dari rumah? apa dia benar-benar akan menikahi Mbak Wulan? Ya Alloh...kuatkan hati ini...", Fikiran Afifa terus berkecamuk, berspekulasi atas semua masalah yang menimpanya saat ini.


Afifa tertunduk dihadapan Nadia, menahan kelu hatinya, juga air mata yang hampir jatuh dari tempatnya. tanpa mereka sadari, seorang pria dengan tak sengaja sudah mendengar semua obrolan mereka, sedang berdiri dibalakang mereka yang hanya terhalang gerobak pedagang kaki lima saja.


"Anti...! bicarakan semuanya dengan Pa Eyang, Ma Eyang dan Juga Orang tua Anti, jangan sampai hal ini berlarut-larut, Nadia akan dukung semua keputusan Anti", ucap Nadia, tubuhnya mendekat, lalu memeluk Afifa yang masih saja terdiam dan tertunduk. tak terasa, air mata itupun jatuh dibalik pelukan Nadia.


Nadia membimbing Afifa duduk dikursi stainless yang sempat Afifa duduki saat pertama kali datang ke tempat ini tadi, dan kembali merangkul bahu Afifa. "Menangislah! jika memang ingin menangis, jangan menahan dan menggantinya dengan senyuman dihadapan semua orang, Nadia tahu...Anti wanita kuat, tapi...dibalik kekuatan hati seorang Wanita, Terkadang air mata dibutuhkan saat hati tak mampu menampung setiap perih yang datang", ucap Nadia sambil menepuk-nepuk bahu Afifa.


"Iya An, jangan Khawatir, Nadia akan sampaikan semua pesan Anti", ucap Nadia sambil tersenyum menyemangati.


Afifa mengangguk dan menyunggingkan senyum. "Anti pulang dulu ya!", ucapnya sambil berdiri.


"Iya, hati-hati, An!" Nadia berdiri dan kembali memeluk Afifa. "Semoga semuanya sukses" Nadia melepaskan pelukannya, "Semangat Anti...!!!", teriaknya kemudian sambil mengepalkan tangan kanannya bergaya seorang pejuang untuk menyemangati.


Afifa pun mengambil kunci motor dari dalam tasnya, lalu menstater dan melaju meninggalkan Nadia yang masih menatap kepergiannya.


Pria itu melangkah mendekati Nadia, yang masih berdiri ditempatnya sampai motor Afifa menjauh dan tak terlihat lagi dari hadapannya. Pria itu mengajak Nadia duduk diatas kursi yang tadi, mereka nampak berbicara dengan serius, tak terasa obrolan keduanya berlangsung sampai hampir 30 menit.


**********

__ADS_1


Hari senin tiba, Fauzi kembali mengantar Thalita ke sekolah, dan Thalita akan kembali pulang ke rumah Wulan siang nanti.


Afifa kembali ke sekolah, entah mengapa, pagi ini badannya begitu lemas, setelah dia sempat mengeluarkan isi perutnya saat bangun tidur tadi pagi di kamar mandi tanpa sepengetahusn Umi dan Abi, Afifa tidak mau mereka khawatir, apa lagi sore ini dia akan pergi ke gedung Walikota dan menginap selama dua malam disana.


Sesampainya di sekolah dia membereskan semua keperluannya utuk keberangkatan sore nanti, tak lupa dia meminta izin sekaligus Do'a kepada kepala sekolah, teman-teman seprofesinya, juga anak-anak didik tercintanya.


Waktupun terus bergulir, sore hari pun tiba, Afifa berpamitan kepada Umi dan Abi serta adik-adiknya, Abi sudah menawarkan untuk mengantar Afifa, namun...karena kondisi kaki Umi yang belum sehat benar, juga masalah keuangan tentunya, akhirnya dia harus rela berangkat sendiri. Afifa menggendong ransel berisi leptop, buku-buku dan pakaian ganti selama disana. Sebuah angkot berhenti didepan rumah Umi, Afifa segera naik dan melambaikan tangan kepada keluarganya.


Sampai di terminal, Afifa naik bis menuju penginapan yang letaknya tidak jauh dari gedung Walikota, ketika sampai ditempat yang dituju, mata Afifa berkeliling, ternyata teman-teman yang akan berjuang seperti dirinya sudah berdatangan juga ke tempat itu, ada satu desiran yang mengusik hatinya, dia menarik nafas panjang saat melihat mereka diantar langsung oleh keluarganya, orang tuanya bahkan suaminya, tapi Afifa segera membuang rasa itu, dia hanya teringat dengan niatnya yang kuat untuk berjuang dan datang ketempat ini. dia pun segera mencari kamar tempat menginap yang sudah dibooking panitia.


Malam itu berlalu, dia isi dengan belajar sebentar, lalu tidur untuk mengistirahatkan fikiran dan hatinya, untungnya dia cepat terlelap, mungkin karena capek juga setelah cukup lama diperjalanan sore tadi.


Pagi hari tiba, semua orang bersiap dengan menggunakan pakaian hitam putih, begitupun dengan Afifa. Niatnya saat ini sudah mantap untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dihadapannya.


***********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Mohon maaf kemarin tidak sempat menulis, semoga part ini bisa mengobati kerinduan kalian pada Afifa ya 😊


Tetap Like, Vote, komentarnya ditunggu. 😊


Yang mau kepoin FB Author, yuk add aja FB dengan nama "Rahma Husnul".


ada banyak info tentang Novel ini disana, tapi sebelumnya inbox dulu untuk konfirmasi, Oke? 🖒😉.

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2