Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Melahirkan...


__ADS_3

Happy Reading...⚘⚘⚘


Sayup-sayup suara deru kendaraan mulai terdengar ditelinga Afifa, perlahan dia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Wulan yang tepat berada dihadapannya penuh dengan kekhawatiran dan kebingungan, kini kepala Afifa sedang berada dipangkuan Wulan yang duduk di kursi belakang didalam mobil merah milik Wulan, terdengar suara Wulan yang sedang berbicara dengan pengemudi menunjukan arah jalan mana yang harus mereka lalui, seseorang sedang mengemudi tak kalah paniknya.


"Nah, kita ambil jalan pintas saja, ya lewat sini!", ucap wulan sambil menunjuk-nunjuk dengan tangannya, tatapannya masih kearah kaca mobil depan, belum menyadari kalau Afifa tengah siuman.


"Iya Mbak, didepan belok kanan kan?" Tanya pengemudi.


"Iya, abis itu lurus dan belok kiri" Jawab Wulan.


"Baik Mbak"


Afifa merasa tidak asing dengan suara seseorang yang duduk dibelakang kemudi itu, ingin sekali ia menengok untuk memastikan pemilik suara itu, tapi tiba-tiba saja dia merasakan sakit luar biasa di perut bagian bawahnya.


"Aaaaaawwwwww....", Jerit Afifa.


Sontak pengemudi kaget dan menginjak pedal rem dibawah kakinya membuat Afifa semakin menjerit kesakitan.


Wulan semakin panik, "Afifa...! kamu kenapa? apa perutmu sakit?" tanya Wulan tak sabaran.


Afifa tidak menjawab, dia hanya meringis kesakitan, tangannya mengepal memegang jok mobil disampingnya, giginya gemertak digigit dengan kuat untuk menahan sakitnya, seketika keringat dingin bercucuran dari wajah dan sekujur tubuhnya, "Peletuk" terdengar suara pecahan suatu benda didalam rahim Afifa, byuuur cairan kental keluar membasahi gamis dan kursi mobil Wulan.


Afifa semakin menjerit histeris, kini bukan lagi rasa sakit yang dia fikirkan, tapi keselamatan buah hatinya sedang dipertaruhkan, airmatanya mengalir dikedua pipinya, tapi Afifa tak sanggup mengeluarkan satu patah katapun dari mulutnya, dia hanya mampu menangis menahan rasa sakit dan penyesalan yang tetamat dalam. Ya Alloh..., apakah ini saatnya? aku mohon selamatkan anakku ya Alloh...,aku tak ingin meminta apapun padamu selain keselamatan anakku meski harus mengorbankan nyawaku sendiri, Jerit Afifa didalam hatinya, memohon keselamatan atas bayinya, airmata terus mengalir menganak sungai dikedua pipinya.


"Afifa...!" Wulan semakin panik, tangan kanannya mengusap usap kening Afifa yang penuh keringat, tangan kirinya meraba gamis Afifa yang basah, "MasyaAlloh...! ketubannya pecah Rid..., Cepat kita ke bidan terdekat", perintahnya kepada pengemudi.


"Apa? Ketuban? I...iya Mbak..." Pengemudi itu semakin panik dan langsung tancap gas.


"Tahan dulu ya Fa!, tahan sebentar, kita akan sampai dirumah bidan", Wulan menatap iba wajah Afifa dipangkuannya, matanya yang basah sedang menatap balik kearahnya, dengan pandangan nanar seolah memohon pertolongan, tangan Wulan menggenggam erat tangan Afifa.


Afifa terus meringis menahan sakit, sesekali bibirnya bergerak melafalkan kalimat-kalimat dzikir dan do'a, sampai akhirnya mobil Wulan berhenti tepat didepan sebuah rumah yang didepannya terdapat plang besar bertuliskan Rumah Bersalin INDAH MAOLIDAH, S.Tr.Keb.


"Rid, cepat bantu saya membawa Afifa ke dalam!" pinta Wulan.


"I...iya Mbak", Pengemudi yang tak lain adalah Ahmad Farid Al Ghifari segera keluar, memutari mobil dan membuka pintu belakang, tapi dia hanya berdiri didepan pintu, menatap wajah Afifa yang pucat, meringis dan bercucuran peluh dengan penuh rasa iba, jilbab yang dikenakannya basah dengan keringat, posisinya pun sudah tak beraturan lagi.


Sekilas mata Afifa bertemu dengan mata Farid, namun dia sudah tidak lagi menghiraukan apapun disekelilingnya, hanya rasa sakit dan kekhawatiran akan keselamatan buah hatinya yang ia fikirkan, Afifa merasakan desakan yang hebat mendorong perutnya ke bagian bawah, dia tidak mungkin bisa berjalan sendiri lagi.


"Rid...! Ayo bantu saya gendong Afifa", Ucap Wulan membuyarkan lamunannya.


"Saya?"


"Iya".


"Tapi Mbak...say..."


"Ayo cepat! kasian Afifa, dia sudah tidak bisa berjalan lagi". Wulan menggeser duduknya, membangunkan tubuh Afifa yang terkulai lemah, sehingga posisinya menjadi duduk bersandar dikursi mobil, mata basahnya terpejam menahan sakit.


Setengah sadar Afifa merasakan tubuhnya melayang, Farid tengah menggendongnya, langkahnya yang panjang dengan cepat membawanya menuju rumah bersalin, setengah berlari, Wulan mengikutinya dari belakang.


"Bu bidan...! tolong teman saya mau melahirkan, ketubannya sudah pecah barusan di jalan, cepat tolong dia dan bayinya!", Ucap Wulan tergesa-gesa berbicara dengan Bidan.


"Baik bu, tenang dulu ya, saya akan segera melakukan tindakan", Ucap Bidan menenangkan, "Silahkan bawa istri anda ke tempat tidur khusus pa!" mengalihkan pandangan ke arah Farid, tangannya menunjuk pada satu ruangan bertuliskan Ruangan Bersalin.


Farid menghela nafas, tapi dia tak menghiraukan ucapan Bidan yang menyangka dirinya suami dari Afifa, dia segera mengikuti langkah Bidan, membawa tubuh Afifa dan membaringkannya diruang tindakan.


Afifa terkulai lemas, matanya yang merah dan berlinang air mata menatap nanar ke arah Farid, dia mengangguk sebagai tanda terimakasihnya.


Farid hanya berdiri kaku di hadapan Afifa, ingin sekali tangannya meraih wajah itu, memeluknya dengan erat, barangkali saja itu akan dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan wanita yang pernah singgah dihatinya itu.


"Bapak mau tunggu diluar atau menemani istrinya disini?" tanya Bidan membuyarkan lamunannya.


"Oh...saya...saya tunggu diluar saja bu", ucap Farid gugup.


"Baiklah, kalau begitu silahkan tunggu diluar!" Bidan itu segera menutup pintu.


Farid mengangguk dan melangkah lunglai menuju ruang tunggu bersama Wulan.

__ADS_1


"Ah...Rid, bagaimana kita memberitahu Fauzi dan keluarganya? ponselku tertinggal dirumah, dan tas Afifa juga sepertinya masih tergeletak disofa, aku terlalu panik tadi," Wulan membuang nafas kasar, mengingat semua yang barusaja terjadi.


"Saya masih menyimpan nomor Fauzi Mbak" Ucap Farid.


"Oh Syukurlah, cepat hubungi dia sekarang!".


Tanpa fikir panjang Farid segera menghubungi Fauzi.


Fauzi sedang dalam perjalanan pulang menuju Bandung, saat ponselnya berdering. Dia sempat meliriknya, nama Farid masih tersimpan di kontak ponselnya, dia segera menepikan mobilnya ke bahu jalan untuk menjawab panggilan telphon terlebih dahulu.


"Assalamualaikum Rid..., apa kabar?" tanya Fauzi, suaranya terdengar bahagia seperti mendapat telphon dari seorang sahabat yang sudah lama tak jumpa.


"Waalaikum salam, maaf Zi...aku mau kasih tau kalau sekarang Afifa mau melahirkan, dia sudah kami bawa ke rumah Bidan".


"Apa? melahirkan? maksud kamu?" tanya Fauzi tak percaya, karena dia tau ini belum waktunya istrinya melahirkan.


"Iya Zi...Afifa mau melahirkan".


"Jangan bercanda kamu Rid, Istriku baru mengandung 6 bulan".


"Iya, sungguh Zi, dia sudah didalam ruang tindakan, bahkan ketubannya sudah pecah waktu di mobil tadi".


Tak ada suara dari Fauzi, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, "Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Suara Fauzi tiba-tiba terdengar tegas dan menyelidik, "Dan bagaimana dia bisa bersamamu?"


"Aku...aku..." Farid gelagapan, tak dapat menjawab pertanyaan Fauzi.


Wulan segera mengambil ponsel Farid yang masih menempel ditelinganya, "tolonglah Zi, jangan berfikir negatif terlebih dahulu, lebih baik sekarang kamu segera datang ke rumah bersalin di jalan A no 36, dekat rumahku".


"Wulan? kamu bersamanya?"


"iya, cepatlah! Afifa membutuhkanmu saat ini".


"Baiklah, satu jam lagi aku sampai disana" Ucap Fauzi kemudian.


Fauzi segera menghubungi Mama dan Umi, juga Nadia agar mereka bisa datang terlebih dahulu ke tempat Afifa melahirkan sebelum dirinya sampai.


Wulan dan Farid masih setia menunggui Afifa, keduanya terus saja mondar-mandir untuk menghilangkan kegelisahannya. Seorang perawat menghampiriya, "Bu, apa sudah membawa peralatan bayinya?" tanya perawat kepada Wulan.


"Oh belum sus, apakah beliau benar-benar akan melahirkan?" tanya Wulan masih penasaran.


"Betul bu, usia kandungannya memang masih muda, tapi ibu Afifa cukup kuat untuk melahirkan secara normal, hanya berat badan bayinya saja yang belum memenuhi standar, makanya begitu bayinya dilahirkan, kita harus segera membawanya ke Rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut" Jelas suster.


"Iya sus, saya akan mengambil peralatan bayinya", ucap Wulan.


"Segera ya bu!"


"Baik sus, saya akan segera kembali".


Suster itu mengangguk dan kembali ke tempat kerjanya.


Wulan berfikir sejenak, bagaimana dia bisa mendapatkan peralatan Bayi dalam waktu mendadak seperti ini, untungnya dia teringat bahwa baju-baju dan peralatan bayi bekas Talita dulu masih ia simpan rapi dilemarinya.


Wulan menatap Farid, "Rid, aku harus membawa peralatan bayi ke rumah, kamu tunggu dulu disini sebelum keluarganya datang!".


"Baik Mbak" Farid menyerahkan kunci mobil, Wulan segera mengambilnya dan setengah berlari menuju mobil merahnya.


Didalam ruangan bersalin, Afifa terus meringis menahan rasa sakit, wajah-wajah orang yang disayanginya terlintas satu persatu dibenaknya, berkelebatan seperti tanyangan film disebuah layar lebar, dan bayangan wajah suaminya yang selalu tersenyum terus berputar dikepalanya, "Kak... Aji..." Ucapnya pelan memanggil nama suaminya disela tangisnya, ada rasa sedih yang begitu dalam dihatinya, karena disaat seperti ini, orang yang sangat ia harapkan kehadirannya, justru tidak ada disampingnya.


"Tarik nafas ya Bu, tenang, kita akan terus membantu ibu, suami ibu ada diluar", Ucap suster yang terus mengusap-usap perut Afifa dan memutar-mutar jari telunjuknya tepat diatas pusarnya.


Afifa menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, tangannya menggenggam erat seprei disampingnya hingga berantakan, "Kak Aji...!" panggilnya lagi.


Suster segera keluar, berinisiatif memanggil nama orang yang baru saja disebut Afifa, "Pak...istri anda memanggil, pasient selalu menyebut nama Kak Aji, mungkin dia ingin ditemani", Ucap suster kepada Farid.


Farid langsung berdiri, kakinya melangkah menuju ruangan, namun langkahnya terhenti saat teringat, wanita yang dimaksud suster bukanlah istrinya.


"Ayo Pak!" ajak suster yang heran karna Farid menghentikan langkahnya tepat didepan pintu.

__ADS_1


"Ma...maaf suster, sebentar lagi... suaminya datang, dia...dia sedang dalam perjalanan" Ucap Farid salah tingkah, dia menarik nafas pelan, setidaknya apa yang dia ucapkan membuat hatinya sedikit lega, karena suster tak lagi mengiranya sebagai suaminya.


Farid masih mondar-mandir didepan pintu ruangan bersalin, saat satu buah mobil silver memasuki halaman rumah praktek Bidan, keluar 3 orang penumpang dari mobil itu dengan tergesa-gesa menghampiri petugas bagian pendaftaran, terdengar perbincangan diantara mereka.


"Dimana menantu saya sus?" tanya Mama panik, Pak Haji Ramadhan dan Nadia berdiri dibelakangnya sama-sama panik menunggu jawaban dari suster.


"Beliau sudah didalam ruangan bu, silahkan ibu dan bapak menunggu disana!" Ucap suster, tangannya menunjuk kursi kosong yang berjejer rapi diruang tunggu.


"Bagaimana keadaannya sus?" tanya Mama lagi.


"Nanti semuanya akan dijelaskan oleh Ibu Indah ya bu", Ucap suster ramah.


Mama hanya menghela nafas, diapun berjalan menuju ruang bersalin diikitu suaminya dan Nadia.


"Maaf...anda siapa ya?" tanya Mama saat melihat seseorang sedang berdiri dengan wajah cemas tepat didepan pintu tempat Afifa bersalin.


"Oh...saya...saya Farid", dengan gugup mengulurkan tangannya kehadapan Mama, tapi mama hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanya, "Saya...saya tadi bersana Mbak Wulan mengantar Afifa kesini". jelasnya kemudian, saat menyadari keheranan dari wajah wanita dihadapannya.


"Lalu Wulannya kemana?" tanya Mama lagi sambil menerima uluran tangan Farid.


"Dia sedang mengambil peralatan bayi kerumahnya, sebentar lagi dia kembali", ucap Farid ramah, meskipun rasa khawatir tak dapat disembunyikan dari wajahnya, sekilas matanya menangkap tatapan tajam seorang gadis berbalut hijab berwarna coklat muda yang berdiri mematung disamping Mama.


Sepersekian detik mata Farid bertemu dengan mata bulat milik gadis itu, bola mata hitam yang jernih sama seperti mata milik gadis yang pernah dikenalnya 2 tahun lalu dikampusnya, seorang gadis tomboy yang selalu saja mengganggunya dan membuatnya jengah karena pernah membuatnya sampai berurusan dengan Dekan, Farid tersadar dari lamunannya, saat seorang wanita paruh baya beserta suaminya datang menghampiri Mama dengan nafas tersengal menanyakan kondisi putrinya.


Farid segera menundukan pandangannya, lalu berjalan menuju kursi kosong dipojokan ruangan, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun fikirannya kembali memikirkan gadis itu, diapun membuka matanya, fokus dengan hijab yang dipakai gadis itu, alisnya berkerut mengingat-ingat wajah gadis yang ada dihadapannya, ada perasaan ingin bertanya, namun dia takut salah mengenali seseorang.


"Ceklek" Seseorang membuka pintu ruangan bersalin, keluarlah seorang wanita berpakaian putih-putih dengan kedua tangan yang terbungkus sarung tangan karet bersiap melakukan persalinan, semua orang menoleh ke arahnya dan segera berhambur menghampirinya, "Apa suaminya sudah datang?" tanyanya sambil memutar pandangan ke seluruh ruangan.


Semua orang saling pandang, seakan saling bertanya dengan tatapannya.


"Dia sedang dalam perjalanan Bu", Ucap Farid yang tiba-tiba berdiri menghampiri Bidan.


"Pasien selalu memanggil suaminya, tolong beritahu suaminya untuk segera datang", Ucap Bidan itu, dia kembali masuk kedalam ruangan. Terdengar suara rintihan Afifa yang menyayat hati orang yang mendengarnya saat pintu terbuka.


Semua orang semakin panik, terlebih Umi yang mendengar putrinya kesakitan, dia hanya menangis bersandar ke dinding kamar.


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti dihalaman rumah bersalin, semua orang menoleh keluar, Fauzi turun tergesa-gesa, berlari langsung membuka pintu dan masuk kedalam ruang bersalin tanpa menghiraukan orang disekitarnya yang begitu menanti kehadirannya, ia berdiri tepat didepan kaki Afifa, air matanya tak mampu ia bendung saat melihat istrinya terkulai lemas kesakitan di atas tempat tidur bersalin, "Sayaaaang....!" tubuhnya menghambur ke arah Afifa, tangannya meraih kedua pipi Afifa yang basah dengan air mata, lalu mengusapnya lembut dengan jari-jarinya, ciuman bertubi-tubipun mendarat di seluruh wajah Afifa, "Apa yang terjadi sayang? kenapa bisa seperti ini?"


Mata Afifa berbinar saat melihat orang yang ia nantikan telah hadir dihadapannya, memeluknya dan menciumi dirinya dengan penuh kasih sayang, "Kak...!" panggilnya pelan, rasa bahagianya tak dapat ia sembunyikan, seulas senyum tersungging dari bibirnya.


"Iya sayang, aku disini, kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa, aku akan terus menemanimu", Fauzi meraih tangan Afifa dan menggenggamnya dengan erat.


Tiba-tiba saja Afifa merasa ada satu kekuatan yang muncul didalam dirinya, dia menarik nafas panjang, lalu muncul dorongan yang sangat kuat diperut Afifa, turun dan terus turun ke bawah, Afifa kembali meringis, tangannya yang dingin mencengkram tangan Fauzi dalam genggamannya, keringat terus bercucuran dari sekujur tubuhnya, cairan bening kembali mengalir dari ujung matanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Fauzi panik, tangannya menepuk-nepuk pipi Afifa, pandangannya beralih ke arah bidan yang sedang mempersiapkan peralatan bayi yang baru saja dibawa Wulan, "Bu bidan, istri saya kenapa? tolong bu, apa yang terjadi dengannya?" ucap Fauzi setengah berteriak sambil terisak, tak tega melihat istrinya kesakitan.


"Ini sudah saatnya Pak, Bapak tenang ya", Ucap Bidan, "Ayo Bu Afifa kita mulai, tarik nafas dalam dan keluarkan perlahan", Interuksi Bidan kepada Afifa.


Afifa mengikuti ucapan Bidan, dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, perutnya kembali sakit.


"Tarik nafas lagi bu...! lalu keluarkan dan mengejang dengan kuat!, bagus bu, ayo lakukan lagi!, ibu pasti bisa!" beberapa Kali Bidan mengarahkan Afifa.


Afifa masih mengikuti ucapan Bidan, sampai puncaknya tiba, rasa sakit itu terus berputar melilit diperutnya dan sekuat tenaga dia mengeluarkan erangan keras yang terasa memekik ditelinga suaminya, "Aaaaaaaaaaaaaa...." Afifa menjerit merasakan sesuatu yang keluar dibagian intimnya, dan Aaaah... mata Afifa terpejam, ucapan syukur terus menalir dari bibirnya, diapun terkulai lemas kehabisan tenaga.


"Sayang...! kamu berhasil sayang..." Fauzi kembali menciumi wajah istrinya dengan berlinang air mata, tak peduli dengan kepanikan Bidan dan suster yang mendapati bayi yang baru saja dikeluarkan dari rahim Afifa ternyata tidak menangis.


*************


Bersambung...❤❤❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seorang wanita yang pernah melahirkan pasti pernah merasakan kejadian serupa, terlebih saya, terus terang, saya sampai menitikan air mata menulis part ini, karena teringat dengan kisah saya sendiri yang terpaksa harus melahirkan bayi saya dalam usia kandungan saya 6 bulan lebih 5 hari, dan ternyata kamipun harus kehilangan buah hati kami....😢😢😢


like, vote dan kementarnya tetap saya tunggu....


LOVE YOU ALL...❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : @Rahma Husnul.


__ADS_2