
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Afifa baru saja memasukan buku daftar nilai kedalam lokernya, setelah satu jam dia berkutat dengan olahan nilai para siswa selama satu semester, tiba-tiba ponsel Afifa yang tergeletak diatas meja pribadinya bergetar, dia melihat ponselnya yang bertuliskan Mbak Wulan memanggil. dengan segera dia menggeser tombol hijau.
Mata Afifa terbelalak saat mendengar suara seseorang disebrang sana, dengan suara yang terdengar bergetar dan panik, si pemanggil menceritakan semua tragedi yang baru saja terjadi dirumah Wulan. Kepanikan Afifa bertambah saat terdengar suara isak tangis Thalita disana. Tanpa fikir panjang dia segera berlari menuju parkiran, dan langsung melesat membawa motornya menuju rumah Wulan.
Dalam waktu sepuluh menit saja, Afifa telah sampai didepan rumah Wulan, orang-orang masih berkerumun, mobil polisi juga terparkir disana, Afifa mencoba menerobos kerumunan, bulu kuduknya merinding saat pandangannya tertuju pada tetesan darah segar yang masih tertinggal disana, namun tubuh Wulan sudah tidak ada. Nampak seorang perwira polisi sedang melakukan panggilan telphon. Afifa mengalihkan pandangannya ke sisi kirinya, Ayah Wulan masih meronta dengan ceracau tak jelas keluar dari mulutnya, kedua tangannya dipegang oleh dua orang pria berseragam putih-putih, sedangkan satu orang lagi berusaha menenangkannya dengan mengarahkan jarum suntik ke lengannya.
Mata Afifa celingukan mencari Thalita yang tak juga ditemukannya. Lalu matanya menatap jendela diatas kepalanya, diapun melangkah kedalam butik yang terbuka dan bergegas naik ke lantai dua. Matanya kembali berputar keseluruh ruangan, sampai dia menemukan sosok Thalita yang masih terisak dalam pelukan Rina diatas sofa, matanya bengkak akibat menangis.
"Sayang...!", teriak Afifa setengah berlari menghampiri Thalita.
"Bunda...!!!", Thalita segera berdiri dan menghampiri Afifa, "Bruk!" anak itu langsung menghambur ke pelukan Afifa, tangannya sangat erat melingkar di pinggang Afifa, degupan jantungnya sangat kencang sampai dapat dirasakan Afifa, tangisnya pun kembali pecah, sesenggukan tak henti-hentinya membuat hati Afifa semakin pilu mendengarnya. Diusapnya lembut kepala anak itu, tak terasa tetesan air mata ikut mengalir dikedua pipinya. Afifa segera mengusap air matanya, dan berusaha bersikap setegar mungkin dihadapan Thalita. "Sayang..., duduk dulu yuk!" ajak Afifa sambil berusaha membimbing tubuh kecil Thalita menuju sofa.
"Sudah dikasih minum, Rin?" tanya Afifa mengalihkan pandangannya ke arah Rina. Tapi Rina hanya menggeleng, mungkin gadis itu juga merasa panik, tampak dari wajahnya yang pucat. "Bikin teh manis hangat dulu, Rin! sekalian kamu juga minum biar agak tenang", ucapnya, tangan Afifa tak lepas dari kepala Thalita dan terus mengelusnya.
Gadis itu mengangguk dan segera menuju dapur. tak lama dia kembali dengan 3 gelas teh hangat diatas nampan, lalu meletakannya dimeja tepat didepan Afifa.
"Ayo minum, Rin!", ucap Afifa sambil mengambil satu gelas untuk diberikan pada Thalita.
"Iya Bu Guru", ucapnya lalu meneguk teh hangat itu setengahnya.
Thalita hanya minum sedikit saja, dia kembali terdiam memegang gelas ditangannya.
"Thalita tenang ya sayang, Bunda ada disini dan gak akan ninggalin kamu", Afifa menyunggingkan senyum sambil menangkup kedua pipi Thalita. anak itu hanya memandang Afifa dengan mata bengkaknya yang memerah, lalu mengangguk pelan.
"Rin! Mbak Wulan sudah dibawa ke Rumah sakit?" tanya Afifa kepada Rina.
"Sudah Bu Guru, tadi langsung dibawa oleh orang yang menabraknya ke RSU".
"Siapa yang mengantar dari sini?"
"Sama Sinta", Rina menyebut nama teman seprofesinya, "dan Kak Farid juga".
"Farid?" tanya Afifa heran.
"Iya, kebetulan dia sedang ada di proyek pembangunan Rumah Ibu, karena Ibu tidak punya keluarga lagi, jadi Kak Farid terpaksa ikut ke Rumah sakit".
"Oh, Syukurlah, semoga Mbak Wulan baik-baik saja".
"Aamiin...", Rina mengamini.
"Lalu, kenapa didepan ada polisi? dan Pak Herman...? dia...", Afifa berhenti bicara sambil menunjuk ke belakang dengan jarinya.
"Pak Herman mau dibawa kembali ke tempat rehabilitasi Bu, tadi saya yang memberi tahu dokter yang biasa merawatnya, karena penyakitnya kambuh lagi dan bisa membahayakan orang-orang disekitarnya. Kalau polisi itu berasal dari polsek setempat yang jaraknya tidak jauh dari sini", jelas Rina panjang lebar.
"Oh...begitu ya". Afifa mengerutkan keningnya. Suasana hening sejenak, lalu Afifa teringat dengan suaminya, dia membetulkan posisi duduknya dan mengambil ponsel didalam tas yang masih setia tergantung dipundaknya.
"Thalita sayang, kita beri tahu Ayah ya!", Afifa mengalihkan pandangannya pada Thalita. Anak itu kembali mengangguk.
Afifa segera melakukan panggilan kepada Fauzi, dan dia mengatakan akan segera datang saat ini juga ke rumah Wulan.
Satu jam berlalu, Fauzi pun datang sendiri, karena orang tuanya juga Nadia sudah kembali kerumahnya. Ayah Wulan sudah diamankan oleh petugas rehabilitasi, suasana didepan rumah Wulan pun sudah mulai senggang.
"Sayang...!" Panggil Fauzi saat baru saja tiba dilantai dua rumah Wulan dan segera menghampiri istri dan putrinya yang masih berpelukan diatas sofa. Lalu mendudukan dirinya disamping Thalita, mengambil alih memeluk putrinya dari Afifa. "Apa yang sebenarnya terjadi, Dek?" tanya Fauzi kepada Afifa.
__ADS_1
Afifa menceritakan semua kronologis dari kejadian yang baru saja terjadi dirumah Wulan dengan dihamini Rina.
"Thalita ikut Ayah dan Bunda kerumah ya!", ucap Fauzi kepada putrinya yang masih dipeluknya.
Thalita merenggangkan pelukan Fauzi? lalu memandang Fauzi dan Afifa bergantian, diapun tertunduk tanpa menjawab ucapan Fauzi.
"Kamu kenapa sayang? kok diam saja?" tanya Fauzi sambil menunduk menatap wajah Thalita, lalu memegang dagu putrinya.
"Thalita takut Ayah", jawab Thalita kemudian.
"Kenapa?"
"Takut terjadi sesuatu sama Bunda Wulan", ucapnya masih tertunduk.
Fauzi menarik nafas panjang. "Thalita jangan takut, Bunda Wulan pasti baik-baik saja, dia sedang diobati oleh dokter di Rumah sakit".
"Tapi...tapi...hik...hik..." Thalita kembali menangis, "Tadi... darahnya banyak sekali Ayah, Thalita takut kalau Bunda akan meninggal", Ucap bibir mungil Thalita.
Fauzi kembali memeluknya dan memandang Afifa yang juga sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Thalita.
Afifa mengusap punggung Thalita, "Kamu jangan khawatir sayang..., peralatan dokter sekarang kan sangat canggih, InsyaAlloh Bunda Wulan akan tertolong" ucap Afifa, "Sekarang kira berdo'a untuk keselamatan Bunda Wulan ya!".
"Thalita juga tidak perlu khawatir, ada Ayah dan Bunda Fifa yang akan selalu menyayangi Thalita", ucap Fauzi.
"Tapi Thalita juga sayang Bunda Wulan Ayah, hik...hik...", Thalita kembali sesenggukan.
Fauzi dan Afifa memeluk anak itu dari kedua sisi.
"Ayah...!" panggil Thalita pelan.
"Mau kah Ayah melihat Bunda Wulan ke Rumah sakit?" tanya Thalita.
Fauzi menatap Afifa yang ternyata sedang memandangnya juga, dia kembali mengalihkan pandangannya kepada Thalita setelah mendapat anggukan dari Afifa.
"Iya Sayang..., tentu saja Ayah akan melihat Bunda Wulan, Apa Thalita mau ikut?".
Thalita terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya memandang Fauzi, "Apa Thalita boleh ikut?" tanyanya ragu.
"Boleh, tapi janji jangan nangis didepan Bunda Wulan nanti ya!"
"Iya Ayah".
Setelah itu, mereka bertiga berangkat menuju Rumah sakit tempat Wulan dirawat setelah sholat Ashar, mereka pergi menggunakan mobil Fauzi, motor Afifa terpaksa ditinggal dirumah Wulan.
Sesampainya dirumah sakit, mereka langsyng menuju UGD, dan disana terlihat Sinta pegawai Butik Wulan dan Farid yang sedang tidak sabaran menunggu kabar di depan pintu ruang tindakan.
"Farid?" tanya Fauzi saat melihat sosok Farid juga ada disana.
"Oh...iya Zi, saya...saya mengantar Wulan kemari", ucap Farid.
"Oh... bagai mana keadaannya?" tanya Fauzi lagi.
"Masih diruang tindakan, Zi!, Mbak Wulan banyak kehilangan darah, tadi sempat panik karena golongan darah yang diperlukan habis, tapi untunglah bantuan dari PMI segera datang". jelas Farid.
"Oh Sukurlah!" ucapnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Afifa, apa kabar?" sapa Farid saat melihat Afifa sedang menutun Thalita dibelakang punggung Fauzi.
"Waalaikum salam, baik Kak", jawab Afifa.
"Ceklek!" Suara pintu ruang tindakan dibuka. "Keluarga Ibu Wulan Mulyani...!" panggil seorang perawat.
Afifa dan fauzi saling pandang, begitupun dengan Farid. "Saya, Sus!" ucap Afifa dan segera menghampiri Suster.
"Mari, Bu! ditunggu Dokter didalam", Ucap Suster kemudian, sambil mempersilahkan dengan sopan dan menunjuk menggunakan jari jempolnya ke dalam ruangan.
Afifa menoleh ke arah Suaminya, Fauzi seolah mengerti, dia segera mendekat beberapa langkah mengambil Thalita dari tangan Afifa. "Thalita tunggu disini sama Ayah ya!" pinta Afifa, "Bunda mau temuin dokter dulu didalam". Afifa sedikit membungkuk.
Thalita mengangguk, lalu melepaskan pegangan tangannya. Afifa segera mengikuti langkah Suster menuju ruangan dokter.
Cukup lama Afifa berbincang dengan dokter, Fauzi dan Farid sempat mengobrol di ruang tunggu.
"Jadi, Thalita benar anakmu Zi?" tanya Farid pelan agar tidak terdengar oleh Thalita yang sedang anteng main game di ponsel Fauzi untuk menghiburnya.
Fauzi menoleh ke arah Farid, "Iya", jawabnya singkat.
"Maaf, Zi! Mbak Wulan sudah menceritakan semuanya kepadaku", ucap Farid lagi.
"O ya?".
"Iya, termasuk... Permintaan Pak Herman agar kamu menikahi Mbak Wulan".
Hening sejenak, Farid menunggu reaksi Fauzi, sedangkan Fauzi sedang berfikir, mengatur kata-kata yang akan diucapkannya.
"Itu tidak akan terjadi", Ucap Fauzi kemudian.
Farid menarik nafas lega, "Syukurlah...", ucapnya, lalu memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong dan kembali berkata, "Jangan sia-siakan orang yang terus bertahan bersamamu, meski dia mengenyampingkan rasa bahagianya sendiri. Karna diluar sana... masih banyak orang yang siap dan sanggup membahagiakannya".
Fauzi tersentak mendengar ucapan Farid, dia langsung menoleh ke arah Farid yang nampak datar memandang lurus kedepan tanpa menoleh dirinya sedikitpun.
************
Bersambung... ❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers...
Kira-kira bagai mana reaksi Fauzi mendengar ucapan Farid?
Apa yang dibicarakan dokter dengan Afifa didalam ruangannya tentang kondisi Wulan?
Hmmm....🤔🤔🤔
Tunggu jawabannya di part selanjutnya ya 😊
Terimakasih... tetap, LIKE, VOTE, KOMEN...🤗😘
I LOVE YOU ALL...😘😙😘❤❤❤
By : Rahma Husnul
__ADS_1