Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Bertahanlah Bersamaku...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Dua hari sudah berlalu, kesehatan Fauzi membaik dan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Orang tua Fauzi menjemputnya dari Rumah sakit. Pukul 5 sore mereka tiba kembali dirumah. Cukup melelahkan selama 2 hari berada di Rumah sakit, Afifa langsung membersihkan dirinya dikamar mandi untuk membuat badannya segar kembali, sedangkan Fauzi merebahkan dirinya dikamar.


Waktu terus bergulir, sampai tiba waktu isya, Afifa dan Fauzi sholat dikamarnya. Seperti biasa Afifa selalu menyalami dan mencium tangan Fauzi ketika selesai sholat, sampai terjadi perbincangan diantara mereka.


"Dek..." panggil Fauzi saat Afifa baru saja mengangkat kepalanya setelah mencium tangan suaminya. dia duduk bersila lengkap dengan sarung dan kopiahnya berhadapan dengan Afifa yang masih berbalut mukena putihnya.


Afifa mengangkat kepalanya, menatap netra hitam milik suaminya, yang ternyata sedang memandang lekat ke arahnya. "Iya, Kak?"


"Aku hanya ingin tau, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Fauzi.


"Perasaanku? maksudnya?" tanya balik Afifa.


"Selama dua hari ini, fikiranku tidak pernah lepas memikirkan kata-katamu yang memintaku untuk menikahi Wulan".


Afifa terdiam dan tertunduk.


"Aku tidak habis fikir, bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu, Dek?, Apa cintamu sudah berangsur pudar untukku?"

__ADS_1


Afifa mengangkat kepalanya, memandang balik suaminya, senyuman tersungging dari bibirnya, "Cinta itu tidak hanya bisa diukur dengan kata-kata dan seberapa jelas menunjukan rasa cintanya, Kak!, tapi cinta itu hanyalah bingkai dari sebuah rasa yang bersemayam dihati, dimana hati ini akan bahagia saat melihat orang-orang yang dicintainya hidup bahagia".


"Apa kamu fikir, aku akan bahagia dengan menikahi Wulan?" tanya Fauzi memandang tak percaya kepada Afifa.


Afifa menarik nafas dalam, berusaha menekan rasa sesak, Dia kembali tertunduk untuk menyembunyikan kesedihan teramat dalam yang akan terpancar dari kedua matanya, lalu kembali berkata, "Mungkin pada awalnya tidak, tapi seiring berjalannya waktu, Kak Aji akan merasakan kebahagiaan itu, begitupun dengan Thalita",


"Mengapa kamu bersikukuh memintaku untuk menikahi Wulan? sedangkan hatimu sendiri terluka?" tanya Fauzi lagi sambil mengangkat wajah istrinya dengan tangan kanannya.


Afifa tersenyum menatap wajah suaminya, "Kak..., seandainya aku bisa memilih, tentu saja aku ingin mengarungi bahtera rumah tangga ini hanya denganmu saja, karena aku bukanlah Wanita hebat yang memiliki keikhlasan tertinggi untuk berbagi cinta suamiku, tapi aku melihatnya dari sudut pandang yang lain, dimana disana dipertaruhkan masa depan seorang anak yang tak berdosa, dimana aku belum juga bisa memberinya untukmu".


"Tapi aku juga bukanlah para Nabi, para Wali, ataupun orang-orang sholeh yang mampu berbuat adil pada setiap istri-istrinya, Aku hanya Pria biasa yang memiliki satu cinta hanya untukmu saja", Fauzi menggenggam tangan Afifa.


Fauzi beringsut mendekati Afifa, kedua telapak tangannya menangkup wajah Afifa, Tatapannya tak lepas dari wajah istrinya yang kini sedang memaksakan diri untuk tersenyum, meski kepedihannya terlihat jelas dari kedua bola matanya. "Bukan karena cantik wajahmu, Aku mencintai dan menyanyangimu. Tapi, karena ketulusanmu, karena kelembutan sikapmu, yang membuatku amat menyanyangimu. Kau selalu memahami dan mengerti aku, Kau selalu menemani dalam sedih dan senangku, Ku ingin hanya kau yang selalu menemaniku, Ku ingin hanya kau yang selalu di sisiku, tanpa ada orang lain diantara kita, Aku mohon, janganlah memintaku untuk membagi cinta ini, karna sampai kapanpun, aku tidak akan sanggup melakukannya, dan hanya akan ada dosa yang akan menjeratku dalam siksaNya karena ketidakadilan dan kecondongan hatiku ini".


Afifa memandang mata sayu suaminya, sungguh kini dia tak bisa berkata apapun lagi, hanya tetesan air mata yang mengalir dan membasahi kedua pipinya, mengingat begitu besar rasa cinta suaminya untuk dirinya, seandainya dia wanita egois yang hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri, tentu saja dia akan sangat bersyukur atas anugrah cinta teramat besar yang diberikan suaminya untuk dirinya.


Fauzi mengusap setiap bulir air mata yang keluar dari mata Afifa, satu kecupan mendarat dikening Afifa, lalu menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. "Bertahan, Sayangku, Alloh sedang menguji kekuatan cinta kita. Berjuanglah bersamaku dan buktikan kalau kita mampu bersama meski berbagai ujian terus berganti menimpa rumah tangga kita. Kita akan hadapi semua ini bersama".


Afifa membenamkan dirinya dipelukan suaminya, tangisnya kini pecah, seolah meluapkan semua sesak yang terus tertahan selama beberapa hari ini.

__ADS_1


Fauzi membiarkan istrinya menangis, tak terasa, perlahan air matanya mengalir dan terjatuh tepat di ubun-ubun Afifa yang terbalut mukena dalam pelukannya.


***************************************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Alhamdulillah hari ini, SCA 2 sudah lolos kontrak, dan hal itu tidak akan terjadi tanpa dukungan dari kalian semua.


Untuk itu Saya sangat bersyukur dan mengucapkan ribuan terimakasih atas semua dukungan kalian untuk karya saya yang kedua ini.


Tetap Like, Vote dan komentar, agar semangat saya terus terpacu untuk tetap menulis...🙏😊


I LOVE YOU READERS...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul.

__ADS_1


__ADS_2