Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kampus Nadia...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


"Nadia...! tok tok tok...Nadia...!" , Suara seorang wanita paruh baya berusia 60 tahunan memanggil-manggil Cucunya dari luar kamar, namun tidak ada jawaban. "Nadia...! tok...tok...tok...", panggilnya kembali. "Haduh ini anak kok susah dibangunin, ini kan sudah mau jam delapan, memangnya gak masuk kuliah?", gerutunya sambil menengok jam dinding yang tergantung dirumahnya.


"Ceklek...", pintu kamar Nadia dibuka olehnya, beliau geleng-geleng kepala melihat cucunya yang masih tertidur pulas, tubuhnya terlentang menggunakan kaos oblong pendek dan celana trening panjang, rambutnya berantakan dengan ikatan rambut masih menempel tak beraturan. "Nad...!", panggilnya kembali, tangan keriputnya mengguncang pundak cucunya, "Ayo bangun sudah siang!".


"Hooooaaaaaammmm...masih ngantuk Mak Eyang..., lagi gak sholat ini", Jawab Nadia malas dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih terpejam.


"Mak Eyang tau, tapi ya tetep harus bangun...! bukannya hari ini masuk kuliah?"


"Iya...sebentar lagi...", jawabnya masih terpejam.


"Ini sudah hampir jam delapan lo", mengguncang kembali pundak cucunya, matanya melirik jam dinding di kamar Nadia.


"Jam berapa...?", tanyanya sambil menyipitkan mata ke arah Neneknya.


"Jam de la pan...", ucap Wanita itu.


"Haaaah...? jam delapan...???", Nadia langsung terduduk dan mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya ke arah jam dinding. "Mak Eyang...kenapa gak bangunin Nadia dari tadi...", Omelnya sambil buru-buru turun dari ranjang, menyabet handuk dan berlari keluar kamar menuju kamar mandi.


"Gak bangunin apanya, Mak Eyang udah 3 kali bolak-balik ke kamar kamu", Ucap Wanita itu kepada Nadia yang sudah berlalu dihadapannya, "Hahhhhhh....anak gadis kok kebluk", gerutunya, tangannya cekatan membereskan tempat tidur Nadia yang berantakan. "Itulah kalau sering bergadang, bikin tugas kok sampai malem banget", omelnya pada dirinya sendiri.


Secepat kilat Nadia membasuh muka dan menggosok giginya, tak lama dia keluar dari kamar mandi, kembali berlari menuju kamarnya.


"Lo...Kok gak mandi?" tanya Neneknya saat berpapasan dengannya.


"Udah terlambat", jawabnya sambil berlalu.


"Eh...eh...jorok ya kamu", mengikuti cucunya menuju kamar, tapi pintu kamar sudah keburu ditutup Nadia, "Nad...! mandi dulu, anak gadis kok jorok!", Omel Neneknya dari luar kamar.


"Nanti sore aja...sekalian doble mandinya...", teriaknya asal.


"Heh...doble???, emang ada mandi doble?", tanya wanita paruh baya itu kepada dirinya sendiri, dia hanya menggelengkan kepalanya setelah tidak juga dibukakan pintu oleh Cucunya, diapun berjalan menuju meja makan menghampiri suaminya yang sedang menunggu untuk sarapan.


"Kenapa lagi Nadia Ma?" tanya Pak Haji Ramadhan, sambil menyeruput tehnya.


"Itu, anak gadis mau kuliah kok gak mandi".

__ADS_1


"Kenapa?"


"Sudah terlambat katanya", satu centong nasi dituangkan ke piring suaminya.


"Memangnya gak dibangunin?".


"Sudah 3 kali Mama bolak-balik Pa, tapi gak bangun juga, sekarang udah jam 8 malah riweuh sendiri dia", mengambil lauk dan disimpan dipiring suaminya.


"Suruh sarapan dulu!".


"iya, lagi siap-siap dulu dia, Papa makanlah duluan!".


Nadia masih sibuk mencari-cari pakaian yang akan dipakainya hari ini. "Aaaaa...pake baju mana lagi sekarang?", tanyanya pada dirinya sendiri. Matanya menelusuri satu persatu pakaiannya didalam lemari, yang berisi kaos oblong dan celana jeans bolong-bolong miliknya, hanya ada tiga pakaian gamis yang tergantung dilemarinya, setelan gamis dan hijab syar'i warna coklat yang pernah diberikan Afifa dan dua gamis panjang tanpa setelan kerudung. "Masa pake gamis coklat ini lagi si? kan baru kemaren aku pake", dengusnya. Sebenarnya Nadia ingin mengajak Afifa belanja pakaian gamis untuk dia kuliah di Bandung, dia tidak mau memakai celana jeans yang biasa dia pakai lagi. Tapi, berhubung Afifa tiba-tiba melahirkan dan masih berkabung dengan kehilangan buah hatinya, diapun mengurungkan niatnya terlebih dahulu.


"Ah...yang ini aja", Ucapnya sambil mengambil satu gamis berwarna navy dan kerudung persegi empat berwarna abu muda dilemarinya. Dia segera mengganti pakaiannya, dan memakai kerudung persegi empat didepan kaca riasnya. "Duh...gimana si? kok susah ya?", ucapnya mendengus kesal sambil terus saja mengutak atik kerudung yang tak kunjung rapi, "Ah...gini aja kali ya", ucapnya lagi, lalu dengan segera menyambar tas dan keluar kamar.


"Nadia...! sarapan dulu...!", Panggil Neneknya dari meja makan saat melihat Cucunya berjalan terburu-buru menuju motornya.


"Nanti saja Mak Eyang..., di kampus", teriak Nadia.


"Emang kamu punya uang...?", tanya balik Neneknya.


"Sama uang jajan aja langsung lari, bukannya salam dulu, minta do'a biar selamat di jalan dan pinter cari ilmunya", omel Neneknya.


"Nadia dengerin ceramahnya nanti doble pulang kuliah ya Mak Eyang, sudah terlambat sekarang", jawabnya asal.


"Eh...dasar kamu ya...", Mencubit hidung Nadia sambil menyodorkan uang satu lembar 50ribu.


"Makasih Mak Eyangku yang cantik...", Nadia tersenyum sambil menyalami Nenek dan Kakeknya.


"Eh...tunggu...!" Panggil Neneknya lagi setelah Nadia melangkah menghampiri pintu rumah.


"Apa lagi si Mak Eyang?", Nadia menoleh dengan kesal.


"Kamu gak pake daleman?", tanyanya sambil menghampiri Cucunya.


"Daleman apa?", Nadia heran.

__ADS_1


"Daleman gamis kamu, kamu kan pake motor, nanti kalo kebuka gamisnya gimana?"


"Terus Nadia harus pake apa?"


"Pake leging panjang".


"Gak punya Ma Eyang", Nadia memelas.


"Pake celana panjang aja, kamu kan punya, ayo sana pake dulu!".


"huuuhhhh....", Nadia mendengus kesal, lalu kembali masuk kedalam kamarnya, dia mencari-cari celana panjang kaos, tapi tak juga ditemukannya, akhirnya dia memakai celana jeans miliknya sebagai dalaman gamis, dia kembali keluar kamar dan segera menghampiri motornya.


Jalanan Kota Bandung cukup ramai, membuat Nadia sedikit kesal karena sudah terlambat, tapi dia yang sudah biasa kebut-kebutan bersama teman-teman gengnya di ibukota, dengan mudahnya menyalip kendaraan lain yang menghalangi jalannya.


Nadia menghentikan motornya diparkiran, dengan mengangkat gamisnya agak tinggi dia setengah berlari menuju ruang kelasnya.


"Tok tok tok...", Nadia mengetuk pintu kelas, "Ceklek...", pintu kelas dibukanya sendiri. Nadia langsung tertunduk saat mendapati mata dosennya sedang mengarah ke arahnya dengan tatapan menakutkan. Sontak semua pasangan mata diruangan itu menuju kearahnya.


"Dari mana saja kamu?", tanya dosen itu tegas, "sudah tau peraturan kelas saya?"


"Maaf pa...saya...", Ucapnya pelan, tak berani mengangkat kepalanya.


"Tunggu diluar...!" perintahnya lagi.


Nadia hanya mengangguk, diapun melangkah keluar kelas dengan lemas. Dosen Akuntansi itu memang terkenal dengan ketegasannya, dia akan menghukum setiap mahasiswa yang tidak disiplin dan melanggar tata tertibnya, apalagi Nadia sudah terlambat setengah jam dari jadwalnya.


********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Part ini ceritain Nadia dulu ya Readers... biar gak nyesek terus... 😉


Tetap like, Vote, dan komentarnya ditunggu.


Terimakasih...😙😙😙

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😚😚😚⚘⚘⚘


By: @Rahma Husnul#


__ADS_2