
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Afifa menoleh ke arah Faqih, memberi isyarat untuk segera mengikutinya. Faqih mengerti, dia pun bangkit dan segera menghampiri Fauzi dan Afifa.
"Mari, ikuti saya!" Ucap Faqih sambil berjalan ke belakang menuju kamar kecil. Afifa dan Fauzi mengikutinya.
Sampai di tempat tujuannya, Fauzi segera mengambil air Wudlu dan kembali keluar, Faqih dan Afifa masih menunggunya di ruang makan, keduanya duduk di kursi makan.
"Duduk dulu, Zi!" ucap Faqih, matanya menunjuk ke arah kursi di samping Afifa. Fauzi pun duduk. "Reaksiku sama sepertimu saat pertama kali Johan jujur padaku. Tapi, sepertinya dia memang benar-benar menyesali semua perbuatannya, bahkan dia berani menjelaskan semuanya kepada orang tuaku ketika mereka menolak Wulan untuk jadi menantunya."
"Jadi, kamu dan Wulan juga baru tau?" tanya Fauzi.
"Iya," Faqih pun menceritakan semua yang sudah Johan lakukan untuk menebus kesalahannya. Termasuk janjinya untuk membuat Wulan bahagia dan mendapat restu dari orang tuanya Faqih.
Fauzi mulai tenang, kepalanya manggut-manggut tanda mengerti.
Fauzi menatap Afifa. Afifa tersenyum dan mengangguk. Fauzi menggenggam tangan Afifa di balik meja makan.
Faqih yang faham dengan situsi, segera berdiri dan pamit kembali ke depan, membiarkan mereka berdua yang masih duduk di meja makan.
Fauzi mencium tangan Afifa dalam genggamannya. "Makasih sayang, Kamu memang penyejuk hatiku, gak salah aku membawamu kemari," Ucap Fauzi.
"Terkadang kebenaran itu tidak seperti yang kita lihat, Jangan menghadapi sesuatu dengan emosi dan kemarahan, karena tidak akan menyampaikan tujuan kita yang sebenarnya, itulah pentingnya Tabayyun," ucap Afifa.
"Iya, Sayang, terimakasih," Fauzi kembali mencium tangan Afifa, lantas meletakannya di depan dadanya, keduanya tersenyum.
__ADS_1
"Kita ke depan lagi?" tanya Afifa.
"Yuk!" Jawab Fauzi. Keduanya berdiri dan melangkah menuju ruang tamu kembali.
Suasana di ruang tamu sudah kondusif, Ayahnya Wulan pun sudah tenang dan mulai tersenyum. Ternyata bahasan di ruang tamu sudah mengarah pada rencana hubungan Wulan dan Faqih ke depannya, mulai dari menentukan tanggal khitbah sampai hari H pernikahannya yang akan segera di langsungkan dua minggu setelah pertemuan ini.
Suasana yang tadi sempat tegang sudah berganti dengan gelak tawa dan candaan kecil dari ruangan itu, terlebih saat semua orang bertanya tentang status kejombloan Johan yang belum juga mendapat pasangan.
"Saya mah gampang, mau cari jodoh tinggal bawa salah satu dari cewek-cewek yang selalu ngejar-ngejar saya karena terpesona dengan kegantengan si pria idaman kampus ini, Jadi deh," ucap Johan kalem dengan gaya narsisnya, membuat seisi ruangan tertawa karena tingkahnya.
Waktu terus beranjak, Fauzi dan Afifa pamit lebih dulu membawa serta Thalita bersama mereka.
Tak lama Johan, Wulan serta Ayahnya pun ikut pamit. Johan pulang sendiri dengan mobilnya, sedangkan Wulan dan Ayahnya di antar kembali oleh Faqih ke rumahnya. Kini senyum Wulan mulai mengembang, saat orang tuanya Faqih melepas kepergiannya dengan ramah dan senyuman.
"Kamu lihat, Lan! Semuanya akan baik-baik saja," ucap Faqih sambil menatap wanita disampingnya, saat mulai menghidupkan mesin mobil.
"Jangan panggil Tam lagi dong," ucap Faqih, lalu menoleh ke kursi belakang, dimana Ayahnya Wulan sedang duduk disana, "Iya kan, Ayah?" tanya Faqih mulai memanggil Pak Herman dengan sebutan Ayah.
Pak Herman mengangguk, Wulan tersenyum sambil menoleh juga ke arah Ayahnya.
Mobil Faqih mulai berjalan meninggalkan pekarangan luas rumah orang tuanya.
"Memangnya kamu mau kupanggil apa?" tanya Wulan saat mobil itu sedah melaju di jalan raya.
"Hmmm..., enaknya apa ya?" Faqih berfikir. "Boleh panggil Kakak seperti panggilan untuk Fauzi dari istrinya, atau Aa aja, cirikhas orang sunda, gimana?" tanya Faqih.
__ADS_1
Wulan tersenyum. "Baiklah Aa Faqih," Ucap Wulan.
"Nah! gitu kan enak dengernya," Ketiganya tersenyum. Mobil itu pun terus melaju membawa kebahagiaan dari penumpangnya, menuju harapan baru, harapan kebahagiaan yang tak pernah Wulan rasakan sejak sepuluh tahun yang lalu.
************
Hari-hari dengan cepatnya berlalu, Afifa dan Fauzi melaluinya dengan penuh kebahagiaan sambil terus menjaga buah hatinya yang kini mulai tumbuh sehat di dalam rahim Afifa.
Lain halnya dengan Farid, Setiap hari dia sempatkan untuk menelephon Nadia, sekedar basa-basi, bertanya kabar, sudah makan apa belum? sudah mandi apa belum? tidurnya nyenyak dan hal remeh temeh lainnya yang membuat Nadia semakin geli mendengarnya. Namun Nadia sekuat tenaga menahan imagenya dengan menjawab semua pertanyaan Farid dengan datar-datar saja, membuat Farid semakin kelabakan dan selalu teringat padanya.
"MasyaAlloh..., perasaan apa ini?" tanya Farid kepada dirinya sendiri, saat hendak tidur di rumah kostnya, namun hati dan fikirannya terus saja melayang pada Wanita yang baru saja mengakhiri panggilan dengannya, "Sepertinya, aku harus segera bicara dengan Abi untuk segera menghalalkannya, bisa dosa berkepanjangan ini, kalau kepalaku terus saja memikirkannya," gumam Farid sambil tersenyum.
Begitupun dengan Nadia, malam ini dia hanya terlentang sambil memeluk ponsel yang baru saja ditutupnya. Bibirnya tersenyum merekah mengingat ucapan Pria pujaannya yang terus saja uring-uringan karena sikapnya yang masih bertahan dengan nada datarnya. Sebenarnya Nadia ingin tahu, sampai dimana usaha Farid untuk mendapatkan hatinya kembali.
**********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selalu menyempatkan untuk Up tiap hari, meski hanya sedikit. 🤗
Terimakasih atas dukungannya.
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul