Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Calon Istri Mas...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Malam itu berlalu dengan cepat, seperti cepatnya laju kereta malam yang ditumpangi Farid dari Bandung menuju kampung halamannya.


Farid duduk di tepi jendela saat seorang wanita bersama putrinya yang berusia sekitar 3 tahunan naik dan menghampirinya. "Permisi...," ucapnya ramah dengan logat jawanya sambil menganggukan kepala saat hendak duduk dibangku kosong di sampingnya.


"O silahkan, Mbak!" jawab Farid sambil menggeser duduknya, dengan logat jawanya Farid sudah bisa menebak kalau dia berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur.


Wanita itupun duduk bersama putrinya yang nampak sangat lucu.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Farid.


"Mau pulang ke Ketanggung, Ngawi, Mas!" ucapnya.


"Oh, dari mana?" tanya Farid lagi.


"Dari Bandung, abis ketemu Ayahnya Bening, karena dia tidak bisa pulang, jadi saya yang datang kemari." jelasnya.


"Oh, jadi anak cantik ini namanya Dek Bening?" tanya Farid. Wanita itu mengangguk. "Apa Ayahnya kerja di Bandung, Mbak...?"


"Erna, nama saya Erna, dan ini putri saya Bening," ucap Wanita itu.


"Oh iya, Mbak Erna!" Farid tersenyum. "Apa Mbak Erna sudah lama ditinggal kerja oleh Ayahnya Bening?"


"Lumayan, cukup lama, dan kami juga terpaksa harus tinggal berjauhan, karena Suami saya pekerjaannya ada di sini, dan saya tidak bisa ikut dengannya."


"Kenapa?"


"Ada beberapa hal yang memang membuat saya harus berpisah untuk sementara dengan suami, dan semoga saja urusan suami saya cepat selesai dan kami bisa berkumpul kembali seperti dulu."


"Aamiin," Ucap Farid. Semua ucapan Mbak Erna ini mengingatkan dirinya, bahwa serumit apapun nanti dalam kehidupan rumah tangganya, sebisa mungkin jangan sampai mereka hidup terpisah. Bukan apa-apa, dia juga meraba dirinya sendiri yang asli dari Semarang, sedangkan Nadia masih kuliah dan berada di Bandung. Keinginan Abinya untuk segera kembali dan tinggal di Semarang, membuat dia berfikir, mungkin dia akan membawa serta Nadia untuk tinggal di Semarang nantinya.


Tepat pukul empat pagi Farid menginjakan kakinya di statsiun Tawang Semarang. Setelah berpamitan dengan Mbak Erna yang duduk di sampingnya, dia bergegas turun dengan menggendong tas ransel hitamnya berisi satu setel pakaian ganti, sarung, serta Al-qur'an kecil yang selalu di bawanya, tangannya menjinjing phaper bag berisi satu ikat peuyeum Bandung sebagai oleh-oleh khas Bandung yang sengaja Nadia berikan untuk keluarganya di Semarang. tak lupa topi berwarna hitam yang pernah diberikan Nadia kepadanya selalu terpasang di atas kepalanya.


Farid melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. masih ada waktu sekitar 15 menit lagi untuk masuk waktu Subuh, perjalanan menuju rumahnya masih membutuhkan waktu sekitar 40 menit lagi dari statsiun ini menggunakan angkot. Farid sengaja tidak mengabari keluarganya untuk menjemputnya di sini. Dia Fikir, takut merepotkan orang rumah. Apalagi saat Ba'da subuh, pastinya keluarganya akan sibuk mengajar ngaji anak-anak didik mereka di pesantren kecilnya.


Farid berjalan menuju toilet untuk menyelesaikan hajatnya, lalu masuk ke mushola untuk tahajud serta berdzikir dan membaca Ayat-ayat Al-qur'an sampai waktu subuh tiba.


Waktu terus berjalan, hingga sang mentari mulai muncul di ufuk timur, Farid sengaja menunggu angkot di terminal dekat statsiun sambil minum kopi dan sarapan untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin.


Ditengah sarapannya, Farid teringat dengan janjinya, bahwa dia akan segera memberi kabar saat dirinya sudah tiba di kota kelahirannya. Diapun mencari nomor Nadia dan mendialnya.


Nadia yang baru saja selesai sholat Shubuh masih dengan balutan mukena putihnya, setengah berlonjak mendengar nada dering dari ponselnya, Dia mengambil ponsel yang masih terpasang kabel charger itu di atas nakas, matanya terbelalak saat pandangannya tertuju pada nomor kontak pria pujaannya yang terpampang disana. "dag-dig-dug..." tiba-tiba irama detak jantungnya semakin kencang. Perlahan dan hati-hati, Nadia menggeser tombol hijau di atas layar.


"Assalamualaikum, Mas!" ucap Nadia.


Suara lembut Nadia terdengar begitu hati-hati di telinga Farid, Nadia sengaja mengatur suara dan ucapannya agar tidak keceplosan mengeluarkan kata-kata slengeannya di depan Farid.


"Waalaikum salam warohmatulloh. Bagai mana tidurnya semalam? nyenyak?"


"Oh, Alhamdulillah nyenyak Mas, dan sempat mimpi juga."


"O ya? Mimpi apa? mimpiin Mas ya?" tanya Farid mulai berani menggoda Nadia.


"Eh, kok tau?" ucap Nadia polos.


"Hmmm..., asal nebak aja si, tapi mimpinya gak kelewatan kan?"


"Maksudnya?"


"Kita kan belum muhrim, jadi jangan bayangin macem-macem dulu! he he..."


"Enggak lah, Mas! mana aku berani,"

__ADS_1


"Ha ha..., Mas cuman bercanda kok. O ya, Mas mau ngabarin, Alhamdulillah..., Mas dah sampai di Statsiun Lawang. sebentar lagi mau lanjut ke rumah naik angkot sekitar 40 menit baru sanpai rumah. Do'ain Mas ya, agar orang tua Mas, memberi restu dan segera mengantar Mas untuk mengkhitbah kamu ke Bandung." jelas Farid.


Nadia yang mendengar hal itu, hanya menutup mulutnya tak percaya, dia tak mampu berkata-kata, hanya terdiam merasakan degupan jantungnya yang kini terasa semakin melonjak-lonjak kegirangan. Nadia ingin sekali bersorak, meneriaki kebahagiaan yang kini ia dapat, tapi dia hanya menggingit bibir bawahnya dan mengepalkan tangan kanannya sambil berkata "Yessss!" tapi hanya dalam hati saja tentunya.


"Nad...! Hallo...!" Ucap Farid.


"O...O iya, tentu, tentu saja Nadia akan selalu berdo'a untuk Mas dan keluarga juga. dan...," Ucapan Nadia terhenti.


"Dan Apa?"


"Dan untuk kelancaran niat baik kita." Nadia tersenyum malu sendiri di kamarnya.


"Aamiin..., ya udah Mas tutup dulu ya." ucap Farid hendak mengakhiri panggilannya.


"Eh Mas...!" Nadia menahannya, seolah tak ingin mengakhiri obrolannya.


"Kenapa?"


"Cepat kembali!" ucapnya pelan.


Farid tersenyum, "Hmmm..., iya, Mas akan segera kembali untukmu, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Nadia, dia langsung loncat kegirangan setelah menutuo panggilannya. Lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, mengguling-gulingkan tubuhnya kesana kemari sehingga memenuhi tempat tidur yang masih berantakan itu untuk meluapkan rasa bahagianya. Dia merentangkan tubuhnya yang masih berbalut mukena di atas tempat tidur, memandang ponsel di tangannya, lalu mencium layarnya beberapa kali. "Ya Alloh..., benarkah semua ini akan terjadi? Alhamdulillah Ya Alloh..., Engkau telah mengabulkan do'a hamba." digenggamnya ponsel di depan dadanya, bibirnya tersenyum merekah menunjukan dengan jelas kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.


********


Pukul 5.30, Farid sampai di depan gerbang pesantren, suasana masih sepi, mengingat anak-anak santri masih berada di dalam kelas, hanya beberapa orang santri saja yang berlalu lalang di sana yang kebetulan bertugas patrol hari ini. Farid bergegas berjalan menuju pintu rumahnya yang terbuka, rumah itu masih sepi.


Farid mengucapkan salam, seorang ibu paruh baya datang menghampirinya, "Waalaikum salam, MasyaAlloh, Mas! kok gak bilang-bilang kalau mau pulang hari ini? kalau tau Mas pulang, kan bisa di jemput sama kang santri ke Statsiun." ucap Umi Wafa, ibunya Farid.


"Gak papa Umi, mereka kan sedang pada ngaji. Farid kan bisa naik angkot," ucap Farid.


"Tapi, Lek! kamu pasti capek, Ayo duduk dulu! Umi buatkan minum ya."


"Baik lah, sebentar Umi panggil Zia dulu," ucap Umi Wafa sambil melangkah menuju kamar putri bungsunya. "Zia...! Mas mu nih sudah pulang," ucapnya.


Tak lama pintu terbuka, "Mas Farid Umi?" tanyanya sambil menyembulkan kepalanya yang tak berhijab.


"Eits..., pake dulu kerudungnya!" perintah Umi Wafa.


"Eh, iya Umi lupa hehe...," Siti Azizatul Fauzia yang biasa di panggil Zia, gadis berusia 22 tahun itu adalah adik kandung Farid satu-satunya, sikapnya manja dan sangat dekat dengan Farid. Setiap ada kesempatan pasti dia akan menanyakan calon kakak iparnya yang tak kunjung datang, padahal dirinya sudah di lamar seseorang, dan dia bertekad akan menikah hanya jika Mas nya ini sudah menikah dan bahagia bersama istrinya.


Gadis itu segera menyambar kerudung instan, memakainya lalu berjalan ke ruang depan untuk menemui Kakak tercintanya. "Mas...!" teriaknya sambil menghambur ke pelukan Farid, lalu kepalanya celingukan ke belakan seakan mencari seseorang.


"Cari Apa Dek?" tanya Farid kepada adiknya, heran.


"Calonmu, mana calonmu, Mas?" tanyanya.


"Calon apaan, dateng-dateng di tanyain calon, salam dulu kek, tanya kabar dulu kek, malah nanya calon." ucap Farid sambil menarik kerudung instan adiknya ke depan sehingga membuat kerudungnya hampir terlepas.


"Ih..., Mas, apaan si?" ucapnya sambil membetulkan kembali hijabnya, "katanya Mas bela-belain kerja di Bandung untuk mendekati calon istrimu dan akan segera membawanya kemari? mana dia?" tanya Zia kepada kakaknya.


"Ih..., gak sabaran banget ya kamu, udah gak tahan pengen nikah ya? ha ha ha...,"


"Mas...! apaan si..., Zia cuman mau mengurangi beban dosa aja," Ucapnya dengan bibir maju beberapa senti.


"Ah...baru aja umur 22," ucap Farid.


"Eh..., dari pada terus dihantui ketakutan berbuat dosa, hayoooh...! kaya Mas ni, dari zaman SMA memendam rasa cinta, eh...ampe sekarang gak nikah-nikah juga, makin banyak tu dosanya." ucap Zia masih cemberut.


"Iya, iya..., baiklah...,kali ini Mas akan bawa Umi dan Abi ke Bandung untuk menemui keluarga dari Calon nya Mas, Oke?" Ucap Farid sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanyanya dengan mata berbinar. "Umi dengar kan?" Zia menatap Umi Wafa, wajahnya nampak kegirangan.

__ADS_1


"Apa itu benar, Mas?" tanya Umi meyakinkan.


"InsyaAlloh Umi," Ucap Farid sambil tersenyum.


"Alhamdulillah..., Umi senang mendengarnya, Umi yakin dengan pilihanmu, Mas!" Umi tersenyum senang.


"Pilihan siapa, Mbak?" tanya seorang ibu muda yang datang menghampirinya bersama anak kecil berusia 7 tahun, "Eh..., kamu to, Lek? baru datang?" tanyanya lagi, beliau adalah adik ipar dari Umi, istri dari Ustadz Khais adik kandung Abinya Farid, rumahnya memang berdampingan, berjajar dengan rumah mereka.


"Enggeh, Bu lek Faiq!" Farid menyalami Bu Lek nya yang bernama Faiqotul Zannah ini. Bu Leknya yang satu ini memang sangat tegas dan berwibawa, apalagi di depan para santrinuya. Sikapnya itu membuat dirinya sangat disegani oleh para santri.


Farid menoleh ke arah anak kecil yang tersenyum manis sambil memegang tangan ibunya. "Hei Meme sayang, apa kabar?" tanyanya sambil berjongkok mensejajari tinggi anak itu.


"Baik Masku," celoteh bibir mungilnya.


"Ih..., lucu banget si kamu," ucap Farid sambil mencubit pipi anak itu. Anak yang di panggil Meme itu hanya tersenyum malu-malu.


"Ini, lo Ndok! Mas Farid sudah siap membawa kita menemui orang tua dari calonnya, katanya." jawab Umi.


"O ya..?, Orang mana..?, Asal e soko endi..?, Apa dia gadis seng bener bener becik, lan iso ngrewangi ngurus Pesantren?" (orang mana? berasal dari keluarga bagai mana? apa dia gadis yang baik, yang bisa ikut andil mengurus pesantren ini?) pertanyaan bertubi-tubi yang di arahkan kepada Farid terlontar dari mulut Bu lek nya yang tegas tanpa senyuman.


"Bok satu-satu to nanya nya Bu Lek," ucap Farid.


"Ehh.., Memang itu yang perlu di pertanyakan sekarang, milih colon pendamping iku, kudu jelas, bibit, bebet lan bobot e. Ojo nganti ada penyesalan di kemudian hari, apa lagi sampean iki lho generasi penerus Pesantren, atau jangan jangan gadis itu sudah mempengaruhi sampean. Buktinya sampean lebih mimilih tinggal sendiri di Bandung, ketimbang disini membantu mengembangkan Pesantren."


"Kita kan tidak bisa menentukan jodoh kita sendiri Bu Lek? Jodoh, kelahiran, kematian, itu semua adalah taqdir yang sudah di gariskan qodarullohnya sejak zaman ajali, dan tidak akan bisa di rubah lagi. Farid juga belum bisa memastikan kalau pilihan Farid ini adalah benar-benar jodoh Farid, jika belum benar-benar sampai pada iqrar aqad farid untuknya nanti." ucap Farid.


"Kita lihat dulu aja pilihan ponakanmu ini, Ndok! Mbak yakin, Farid tidak akan salah memilih calon makmumnya." jawab Umi Wafa.


"Eh..., Mas! ada fotonya gak?" tanya Zia sambil menyenggol lengan Farid.


"Ada di HP, tapi Mas mau ke belakang dulu ya!" Ucap Farid yang tiba-tiba perutnya melilit. "Ini, Dek! Lihat aja! Fotonya ada disana," Farid memberikan ponselnya kepada Zia, dan dia segera berlari ke belakang.


Zia mengampil ponsel Kakaknya, membuka galeri dan melihat-lihat kumpulan foto disana yang didominasi oleh gambar-gambar rancangan bangunan serta gedung yang sudah jadi hasil rancangannya.


Tangan Zia berhenti pada foto seorang gadis berjilbab asal-asalan yang sedang berada didepan meja cafee, wajahnya polos tanpa dibuat-buat. Kening Zia nampak berkerut, namun dia kembali menggeser layar, dan melanjutkan pencariannya, tangannya kembali berhenti pada Foto seorang gadis yang berbeda, foto gadis itu nampak tersenyum manis dengan balutan hijab panjang berwarna coklat dan gamis berwarna gading, nampak begitu anggun di mata Zia. Dia tersenyum, lalu segera menghampiri Umi dan Bu Leknya yang masih saja berdebat soal calon istri dari Kakaknya. "Umi...! lihat ini! Cantik ya pilihannya Mas Farid," Ucap Zia sambil memperlihatkan foto gadis itu di ponsel Kakaknya ke arah Umi dan Bu Leknya.


Umi mengambil ponsel itu dan memandang Foto yang ada di dalamnya bersama adik iparnya. "Pantesan kamu rela jauh-jauh mengejarnya, Lek! rupanya inilah gadis yang membuatmu menolak semua gadis yang di tawarkan kami," Umi Wafa tersenyum.


"Semoga saja akhlaknya pun sesuai dengan penampilannya," Ucap Ustadzah Faiq kemudian.


"Aamiin...," Jawab Umi Wafa dan Zia berbarengan.


Tak lama Farid kembali menghampiri mereka, Zia segera mengembalikan ponsel Kakaknya sambil senyum-senyum ke arahnya. "Kenapa, Dek?" tanya Farid kepada adiknya.


"Cantik," ucap Zia, "Cocok banget buat jadi istri Mas," Zia mengacungkan dua jempolnya.


"Benarkah? sudah lihat fotonya?" tanya Farid.


"Sudah dong..., aku setuju!" ucap Zia lagi dan terus saja menggodanya. Farid hanya tesenyum, ada sedikit malu dan lega juga di hatinya, ternyata keluarganya sudah menyukai Nadia meskipun baru lewat sebuah foto saja.


****************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan terlalu senang, Nadia...! perjuanganmu belum berakhir 😊


Tetap like, Vote, komentar ya 😊


Readers yang belum masuk GC saya, hayuk masuk insyaAlloh, lusa saya akan mengadakan event untuk semua member di GC saya. Bukan hanya main-main, tapi untuk menambah pengetahuan juga tentang ilmu agama 😊🙏, agar silaturahmi kita bisa lebih betmanfaat. Terimakasih... 🤗.


I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul.


__ADS_2