
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Hari-hari terus berganti, dilalui Afifa dengan menekan semua rasa kehilangan yang pernah singgah dalam kehidupannya. Kini satu bulan sudah sejak peristiwa kehilangan itu, Afifa ingin memulai kembali aktifitas semulanya, selain karna dia merasa sudah sehat dia juga ingin mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan positif agar fikirannya lebih terbuka dan berangsur melupakan penyesalan dan rasa kehilangan itu.
Pukul 5.30 Afifa sudah sibuk berkutat dengan pekerjaan dapurnya, dia memasak sambal goreng ati ampela dan tempe bumbu goreng. Tangannya cekatan membolak balik masakannya, sambil berdiri dengan rambut panjang tergerai sampai pinggang setengah basah, karna perbuatan suaminya semalam, masa nifas Afifa memang sudah selesai.
"Masak apa sayang? wangi banget", Ucap seseorang sambil melingkarkan kedua tangan dipinggang Afifa.
"Eh...Kak Aji sudah pulang?", tanya balik Afifa sambil melirik suaminya yang masih memakai sarung dan kopiah sepulang dari mesjid.
"Iya", Ucap Fauzi, tangan kanan Fauzi meraih rambut Afifa dan menyelipkannya dibelakang telinga Afifa, memeluknya dari belakang lalu mencium pipi istrinya.
"Ni..., Fifa masak sambel goreng ati ampela buat sarapan", tangan Afifa mengambil garam gan gula, lalu memasukannya ke dalam wajan dan mengaduknya.
"Hmmm..., enak dong", Ucap Fauzi lagi, tanpa melihat masakan Afifa, dia malah menjahili istrinya dengan menyusuri leher Afifa dengan bibirnya.
"Kak Aji mau ngapain si? Fifa lagi masak", omel Afifa sambil menggeser tubuhnya.
"Hmmm...".
"Ini kan di dapur Kak...",
"Memangnya gak boleh cium istri didapur?"
"Ya...boleh...si, tapi takut kebablasan nanti kena serangan fazar lagi".
"Ha ha ha..., apaan tuh serangan fazar?", Fauzi tertawa geli mendengar ucapan Afifa, sambil terus saja menggodanya.
"Ih..., sudah ah", Afifa menghentikan gerakan tangan Fauzi yang sudah menjelajah kemana-mana, maklum, dia sudah berpuasa satu bulan lebih lamanya, 😄.
"Fifa kan harus ke sekolah, Kak Aji juga ada janji pagi ini kan sama pemasok kayu itu?", ucap Afifa, berusaha melepaskan peluksn suaminya.
Fauzi tersenyum, lalu melepaskan pelukannya.
Afifa mematikan kompor, "selesai...", ucapnya kemudian.
__ADS_1
Fauzi mengambil 2 piring keramik dari lemari rak piring, dan menyerahkannya kepada istrinya, Afifa menerima piring itu dan dengan cekatan memasukan goreng tempe yang sedang ditiriskan di atas saringan juga sambel goreng ati ampela dari wajan ke atas piring.
"Sudah siap..., mau makan sekarang?", tanya Afifa, mengangkat kedua tangannya yang memegang piring berisi masakannya.
"Boleh", jawab Fauzi, keduanya berjalan menuju meja makan, lalu duduk dikursi makan bersebelahan.
Afifa meletakan piring berisi masakannya di atas meja, lalu kembali ke dapur mengambil piring dan gelas untuk makan dirinya dan suaminya, diapun kembali duduk disamping Fauzi.
"Kamu yakin hari ini mau ke sekolah Dek?"
"Iya Kak, Fifa kan sudah sehat sekarang", mengambil nasi dan menyimpannya diatas piring didepan suaminya, tangannya kembali mengambil nasi dan hendak meletakannya dipiring kosong untuk dirinya sendiri, tapi Fauzi malah mengambil piring kosong milik Afifa.
"Disini saja", pinta Fauzi sambil menggeser piring yang sudah berisi nasi miliknya ke hadapan Afifa.
Afifa tersenyum, dia mengerti maksud suaminya yang ingin makan satu piring dengannya, diapun meletakan nasi dari centong yang sudah dipegangnya ke atas piring suaminya, mengambil lauk, lalu makan bersama.
"Aku antar ya", ucap Fauzi lagi.
"Gak usah, Fifa pake motor saja, lagian Kak Aji kan ada janji pagi ini, nanti telat, gak baik lo membiarkan orang lain menunggu kita", Afifa tersenyum, tangannya mengambil nasi dan memasukannya ke mulut Fauzi.
"Enak?", tanya Afifa sumringah sambil memperhatikan ekspresi suaminya.
Fauzi mengacungkan jempolnya, "Masakan istriku selalu enak, apalagi sambil disuapin hehe...", ucapnya kemudian setelah makanan dimulutnya habis.
Afifa tersenyum mendengar pujian dari suaminya.
"Tapi kamu hati-hati bawa motornya ya!", ucap Fauzi lagi, "aaa...", mulut Fauzi menganga meminta istrinya kembali menyuapinya.
"Iya...Suamiku sayang", satu suapan kembali masuk ke mulut suaminya, lalu mengambil satu sendok nasi lagi dan memasukannya ke mulutnya sendiri.
Derama suap-suapan terus berlangsung sampai nasi dipiringnya tak bersisa, wajah Afifa terus berseri meski sesungguhnya ada satu hal yang masih terus mengganggu fikirannya, hari ini dia sengaja berangkat ke sekolah tanpa diantar, dia ingin segera mendapat kejelasan dari Wulan, tentang semua rentetan kebetulan yang terjadi di saat sebelum proses melahirkannya satu bulan yang lalu.
Mungkin Afifa bisa saja menanyakannya langsung kepada Wulan lewat pembicaraan di telphon, namun...hal sepenting itu sepertinya tidak etis jika tidak dubicarakan sambil berhadapan langsung dengannya, dan bisa saja Wulan mengelak semua pertanyaan Afifa jika hanya di telphon saja. Oleh karena itu, hari ini sepulang sekolah, dia bermaksud menemui Wulan secara langsung dirumahnya, sekalian mengantar kain-kain dan peralatan bayi miliknya.
Pukul 06:30, Afifa sudah bersiap dengan pakaian dinas mengajarnya, tak lupa dia membawa tas besar berisi peralatan bayi dan meletakannya diatas motor matiknya.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Fauzi menatap tas besar diatas motor Afifa.
"Oh...itu peralatan bayi, Fifa akan mengantarnya sekalian ke rumah Mbak Wulan, boleh kan?", tanya Afifa menyunggingkan senyum ke arah suaminya.
"Kamu gak capek nanti?".
"Enggak..., kan cuma 10 menit dari sekolah".
"Tapi..."
"Boleh ya...boleh ya...", rengek Afifa, "Cup", satu kecupan mendarat di pipi Fauzi.
"Hhhhh...kalau sudah begini, mana bisa aku menolak permintaanmu", Fauzi balik mencium kening istrinya, keduanya tersenyum, "Ya sudah, tapi hati-hati!".
Afifa mengangguk mantaf, bibir merahnya tersenyum senang.
Fauzi mengulurkan tangannya, Afifa menciumnya, lalu berjalan menuju garasi rumahnya dan mengeluarkan mobilnya, mobil itupun keluar dari pekarangan rumah dan melaju meninggalkan Afifa yang masih tersenyum memandangnya.
Sepeninggal mobil suaminya, senyuman Afifa kembali hilang, saat matanya tertuju pada tas besar diatas motornya, fikirannya kembali pada beberapa kemungkinan yang akan terjadi hari ini. Afifa menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya kembali dengan agak kasar, "Walau bagaimanapun, aku harus mencari kebenarannya, aku tidak mau terlena dengan kenyamanan ini, sementara ada hak-hak orang lain yang terabaikan, atau mungkin berkorban untuk kebahagiaanku, ya...hari ini aku akan mulai mencari kebenaran itu".
Afifa kembali masuk ke kamarnya, mengambil tas dan kunci motor yang tergantung dikamarnya, setelah mengunci semua pintu rumahnya, dia menyalakan motornya, lalu melaju dengan cepat membelah jalanan, mengarahkan motornya ke tempat mengajarnya dengan penuh keyakinan, hari ini dia yakin akan menemukan semua kebenaran yang terus menghantui fikirannya selama ini, meski kebenaran itu akan terasa pahit bagi dirinya dan kehidupannya.
**********
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers...Alhamdulillah hari ini bisa Up lagi.
Tetap ditunggu, like, Vote dan komentarnya ya... biar tambah semangaaaaaat...😊😘😘😘
LOVE YOU ALL...❤❤❤😚😚😚⚘⚘⚘
By: @Rahma Husnul#
__ADS_1