
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan Afifa terus berputar melewati setiap angka yang memang harus dilaluinya, entah sudah berapa puluh kali Afifa meliriknya, hingga sampai saat ini, jarum jam mengarah tepat pada angka 10.
Afifa mengisi waktunya dengan membereskan pekerjaan rumah dibantu Nadia dan Ibu Mertuanya, meski sesekali dia menghentikan pekerjaannya hanya untuk menarik nafas panjang mengatur detakan jantung yang sudah tak menentu. Sesekali Afifa melihat Talita yang sedang asyik bermain bersama Ayah mertuanya dipinggir kolam ikan kesukaannya. Sampai akhirnya suara deru mobil berhenti tepat didepan pintu gerbang rumahnya saat dirinya melangkah keluar dari pintu rumah, membawa kantong kresek berisi sampah untuk disimpan ditempat penampungan didepan rumah.
Afifa menghentikan langkahnya saat tatapannya tertuju pada mobil merah itu, dan kembali setengah berlari ketika klakson mobil Wulan berbunyi mengisyaratkan sapaan pada dirinya. Dia mendorong lebar pintu gerbang dan mempersilahkan mobil Wulan masuk ke halaman rumahnya, lalu menyimpan kantong plastik yang sejak tadi dipegangnya ke tempat sampah.
Mobil Wulan melaju, kaca jendela depan mobil Wulan terbuka, nampak senyuman merekah dari bibir wanita cantik itu ke arahnya, Afifa menganggukan kepala untuk menyambutnya.
Mobil itu berhenti, keluarlah seorang wanita cantik tinggi semampai berbalut hijab anggun dari pintu depan, dia menutup pintu mobil dan berbalik ke arah Afifa sambil tersenyum manis sekali. "Maaf menunggu lama", ucapnya.
"Tidak apa, Mbak! silahkan! Mama sudah menunggu", jawab Afifa dengan ekspresi sesantai mungkin, berusaha menutupi gejolak hatinya.
"Terimakasih Afifa", kembali tersenyum.
Keduanya berjalan menuju pintu rumah, Afifa mempersilahkan Wulan duduk di ruang tamu. "Silahkan! duduk dulu, Mbak! saya akan panggilkan Mama". pinta Afifa dan dijawab dengan anggukan Wulan.
__ADS_1
Tak lama Afifa kembali bersama Ibu dan Ayah mertuanya, sambil membawa minuman dan camilan untuk menghormati tamunya.
Wulan menyalami keduanya, lalu kembali duduk ditempat semula, dia tak banyak bicara, hanya senyum yang berusaha ia tunjukan, meski wajahnya tak dapat menyembunyikan kegugupannya.
"Fifa telphon Kak Aji dulu, Ma!", pamit Afifa, lalu kembali kekamar untuk mengambil ponsel setelah diangguki Ibu mertuanya.
Tak butuh waktu lama setelah memberi tahu Fauzi, Afifa pun kembali ke ruang tamu untuk bergabung bersama mereka.
"Jadi...kamu teman SMU Fauzi?", tanya Papa memulai pembicaraan diantara mereka yang terasa sangat kaku itu.
"Iya, Paman", jawab Wulan singkat.
"Saya...saya dan Fa...", ucapan Wulan terpotong karena teriakan histeris salah satu warga didepan rumah Afifa.
"Aaaaaaa...!Tuluuuung...!kumaha ieu...? Neng...! Neng Fifa...! enggal kadie...!", teriak seorang Wanita tetangga Afifa memanggil-manggil nama Afifa.
Afifa tersentak mendengar namanya dipanggil ditengah jeritan suara Wanita itu.
__ADS_1
"Neng...! Neng Fifa...! Duh gusti...kumaha Ieu Jang Fauzi...???", suaranya kembali terdengar, malah ditambah dengan teriakan dari suara lain yang terdengar melerai satu pertengkaran.
"Atos Pak...! lepas Pak...!, aya naon ieuteh???".
Afifa terperanjat saat mendengar nama suaminya disebut, dia langsung loncat dari tempat duduknya dan berlari sekuat tenaga menuju sumber suara. Begitupun dengan Wulan dan kedua mertuanya ikut berlari mengikuti langkah Afifa. Orang-orang sudah berkerumun didepan gerbang rumah Afifa, seorang wanita paruh baya yang suaranya terdengar menjerit tadi sedang menopang kepala Fauzi yang berlumuran darah tak berdaya, tiga orang laki-laki tetangga Afifa memegangi tubuh seorang pria yang terus meronta membabi buta dengan nafas memburu seolah kehilangan akal.
Mata Afifa terbelalak saat melihat kondisi suaminya yang terkulai lemah tak berdaya, tetesan darah segar mengalir dari pelipis dan ujung bibir suaminya, kakinya bergetar seakan tak sanggup menopang berat tubuhnya, setengah diseret Afifa melangkahkan kaki menghampiri tubuh Fauzin lalu tubuhnya ambruk bersimpuh tepat didepan kepala Fauzi, dengan tangan yang gemetar Afifa meraih kepala Fauzi dari pangkuan Wanita itu dan memindahkannya kepangkuannya sendiri. "Kak...", panggilnya pelan sambil mengusap darah segar yang mengalir hampir masuk kemata Fauzi dengan kerudungnya yang terjuntai.
Fauzi membuka matanya perlahan, mata sayunya memandang lekat wajah istrinya yang berada tepat dihadapannya sambil berderai air mata karena menghawatirkan dirinya. Sempat tersungging senyuman dari bibir Fauzi, tangannya terangkat dan berusaha meraba wajah Afifa yang kini sudah mulai kabur dari pandangannya. bibirnya terbuka seolah berusaha mengucapkan kata-kata, namun tak satu patah katapun keluar dari mulut Fauzi. Kepalanya terasa berat, pandangannya semakin kabur, dan berubah menghitam, gelap, lalu kesadarannya hilang seiring tangisan Afifa yang membludak memanggil nama Fauzi sambil memeluk tubuh suaminya yang sudah tak berdaya.
****************************************
Bersambung....😢😢😢❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Author ikut nangis...😢😢😢
__ADS_1
By: Rahma Husnul