Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Akankah Berakhir disini?...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Setelah cukup jauh dari tempat dua orang tadi, Fauzi membelokan mobilnya ke arah lain, dia langsung menuju Rumah sakit untuk menjemput Wulan. Disana sudah ada Rina yang sedang mengurus administrasi kepulangan Wulan, Fauzi cukup lama menunggu diluar kamar sambil terus memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. ingatannya berputar kembali pada ucapan Farid dua minggu yang lalu. Fauzi mengusap kasar wajahnya, lalu mengirim pesan kepada Afifa bahwa dia sudah berada dirumah sakit bersama Thalita, Dia pun berdiri menuju ruangan Wulan dimana Thalita juga sedang berada disana.


"Afifa kemana, Zi?" tanya Wulan.


Fauzi terdiam sebentar, lalu kembali berkata, "Sedang dirumah Umi, sepertinya tidak bisa kemari", ucapnya sedikit berbohong.


"Oh, gitu ya", Wulan sedikit kecewa.


"Ayah bilang, tadi mau jemput Bunda Fifa, kok gak jadi?" tanya Thalita.


"Oh...itu...itu karena Bunda Fifanya lagi sibuk, Sayang", jawab Fauzi sambil duduk diujung tempat tidur pasien disamping Wulan. "Thalita kangen Bunda Fifa ya?" tanya Fauzi lagi sambil meraih tubuh Thalita dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Iya Ayah, tadi Bunda berangkatnya pagi-pagi sekali, buru-buru lagi, Thalita belum sempet cium pipi Bunda", Ucapnya polos.


"Uh...jadi itu ya penyebabnya? ya udah nanti Thalita minta ciumnya doble aja sama Bunda ya", goda Fauzi sambil menggelitiki pinggang Thalita, ketiganya tertawa, Wulan ikut tertawa karena merasa terhibur dengan obrolan Fauzi dan putrinya.


*******


Setelah bensin motornya terisi, Afifa segera pamit kepada Farid untuk langsung berangkat menuju UPTD, karena dia sudah terlambat. Syukurlah petugas masih menerima berkas yang di serahkan Afifa meskipun dia terlambat 15 menit.


Setelah selesai dengan urusannya, Afifa melihat ponselnya, dia terbelalak menatap panggilan tak terjawab sebanyak 4 kali dari suaminya, diapun membuka pesan dari Fauzi yang memberitahukan bahwa dia akan berangkat ke Rumah sakit.


Tak fikir panjang, Afifa segera melajukan motornya menuju ke Rumah sakit. Sekitar satu jam perjalanan Afifa pun sampai di tempat tujuan. dia segera berlari menuju kamar Wulan. Langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di pintu masuk yang sedikit terbuka. Matanya tertuju pada punggung seseorang yang duduk ditempat tidur pasien membelakanginya, seorang anak duduk di pangkuannya, sayup-sayup terdengar candaan kecil dari mulut mereka dan sesekali mereka tertawa. Afifa terdiam memperhatikan ketiganya, Ah...mengapa hatiku begitu sakit melihatnya? bukankah aku tahu benar bagaimana perasaan suamiku? ya Ampun Fa...singkirkan fikiran burukmu. Gumam Afifa.


"Permisi...", ucap seorang perawat yang hendak masuk ke kamar Wulan.


"Eh...iya, silahkan, Sus!" Afifa menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Suster yang membawa nampan stainles itu masuk ke dalam ruangan, "Eh Rin, sudah selesai?" tanyanya lagi saat melihat Rina berjalan ke arahnya mengikuti suster tadi.


"Sudah, Bu guru! sudah bisa langsung pulang sekarang", jawab Rina.


"Oh, Syukurlah, ayo kita siap-siap!" ajaknya, lalu melangkah masuk beriringan dengan Rina ke dalam ruangan.


Suster nampak sedang berkutat dengan peralatannya untuk membuka selang infus yang masih terpasang pada tangan Wulan, "Nanti satu minggu lagi, Ibu harus kontrol lagi kesini ya! untuk melihat kondisi gips nya apakah sudah bisa dibuka atau belum", ucap suster.


"Iya, Sus! terimakasih", ucap Wulan.


"Sama-sama, saya permisi" ucapnya lagi, sambil tersenyum, lalu berjalan keluar ruangan, "Mari...", Ucap Suster lagi saat berpapasan dengan Afifa dan Rina, mereka mengangguk sopan.


"Assalamualaikum", sapa Afifa setelah berada dihadapan Wulan.


"Waalaikum salam", jawab Wulan dan Fauzi.


"Bunda...!" panggil Thalita, sambil menghambur ke pelukan Afifa, lalu menciuminya bertubi-tubi, Afifa membalas ciuman Thalita.


"Kamu datang juga, Fa?" Ucap Wulan dengan tersenyum lebar, "Fauzi bilang ..."

__ADS_1


"Tadi Afifa sibuk, benar kan, Dek?" Fauzi memotong ucapan Wulan, sambil tersenyum garing ke arah Afifa.


Afifa hanya terdiam, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap suaminya. "Oh...tadi, saya dari puskesmas, lalu..."


"Ya sudah, Ayo kita pulang!" potong Fauzi tiba-tiba, membuat Afifa menghentikan ucapannya.


"Ayo!, Thalita sudah gak sabar bawa Bunda Wulan pulang", ucap Thalita dengan riang.


Rina memasukan obat yang dibawanya kedalam tas milik Wulan, "Obatnya disini ya, Buk!" ucapnya, dan dibalas dengan anggukan Wulan.


"Hati-hati! jangan sampai ada yang ketinggalan, Rin!" Wulan menatap Rina yang sedang beres-beres memasukan semua barang-barang pribadi Wulan.


"Iya, Buk!" jawab Rina.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Rin?" tanya Afifa.


"Tidak perlu, Bu Guru! sudah selesai kok", tolak Rina sambil berdiri dan menjinjing tas besar itu melangkah menuju pintu.


Wulan berusaha turun perlahan dari tempat tidur, dan saat Afifa hendak membantunya, Fauzi sudah mendahuluinya, "Hati-hati!" Ucap Fauzi, sambil memegang lengan Wulan dan membantunya duduk di kursi roda, lalu perlahan mendorongnya menuju pintu keluar.


Afifa hanya menghela nafas, Dia memperhatikan raut wajah suaminya, dimana tidak ada lagi senyum untuknya, membuat fikiran Afifa terus bertanya, apa yang terjadi dengannya?


Lamunan Afifa buyar saat Thalita meraih tangannya, "Ayo, Bunda!" Ajak anak itu setengah menarik tangan Afifa.


"Eh...iya, Sayang", ucapnya, lalu berjalan dibelakang suaminya.


Afifa ikut naik mobil bersama suaminya, Thalita dan juga Wulan. Sedangkan motor Afifa dibawa oleh Rina.


30 menit kemudian, mobil Fauzi sudah sampai di rumah Wulan, Pegawai Wulan berhamburan keluar dari butik dan membantunya naik kelantai dua rumahnya. Setelah beristirahat beberapa saat, Fauzi dan Afifa pun pamit pulang. Thalita tidak ikut lagi bersamanya.


Karena Afifa membawa motor, akhirnya mereka pulang dengan kendaraan masing-masing. Tepat pukul 4 sore, Afifa sampai didepan rumahnya, tak lama mobil Fauzi pun datang dan masuk ke halaman rumahnya setelah Afifa membukakan pintu gerbang.


Keduanya berjalan menuju pintu rumah setelah menyimpan kendaraan masing-masing tanpa suara, Afifa membuka pintu rumah, lalu masuk kedalam kamarnya, menyimpan tas dan segera masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. Saat Afifa keluar, Suaminya sudah duduk ditepi tempat tidur sedang termenung dengan wajah dingin tanpa senyuman sedikitpun.


"Kak!", panggil Afifa, "Sudah Sholat?" tanyanya lagi saat suaminya hanya diam saja.


"Belum", jawabnya pendek, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat Afifa yang berdiri disampingnya menggunakan handuk kimono karena baru selesai mandi.


Afifa hanya bengong menatap punggung suaminya yang berlalu menuju kamar mandi dan hilang dibalik pintu. Sikap suaminya sungguh berbeda dari biasanya, tak ada lagi senyum dan rayuan dari mulut manisnya untuk dirinya, membuat Afifa terus bertanya, ada apa dengannya?


Sore pun berlalu seiring terbenamnya sang surya dibalik hamparan perumahan sebelah barat kota Bandung, digantikan dengan gelapnya malam yang mulai dingin karena sudah masuk musim kemarau.


Setelah makan malam yang penuh kebisuan, keduanya kembali masuk kamar untuk bersiap tidur, karena lelah setelah beraktivitas seharian. Afifa mencoba bertanya kepada suaminya saat keduanya sudah terbaring terlentang di atas tempat tidur tanpa suara dan kemesraan yang biasa mereka lalui setiap malamnya.


"Kak...", panggil Afifa.


"Hmmm...?" jawab Fauzi.

__ADS_1


"Kak Aji kenapa?" tanya Afifa lagi.


"Apanya yang kenapa?" Fauzi balik nanya.


"Kenapa seharian ini sikap Kak Aji berubah?"


"Berubah? bukannya kamu yang berubah?"


"Maksudnya?" tanya Afifa.


"Kalau kamu memang lebih bahagia bersamanya, kenapa kamu terus bertahan bersamaku?"


Afifa mengerutkan keningnya, lalu bangun dan duduk menghadap suaminya "Maksud Kak Aji apa?" tanya Afifa tak mengerti.


"Mungkin benar ucapan Farid, sebenarnya kau tidak bahagia bersamaku, aku hanya akan terus menyakitimu karena masa laluku, dan dia..., dia akan lebih bisa membuatmu bahagia".


"Apa maksudmu, Kak?" tanya Afifa mulai meninggikan suaranya, tak mengerti dengan jalan fikiran suaminya, bukankah selama ini dia yang memintanya untuk tetap bertahan? lalu sekarang?


"Bukankah tadi kau baru saja bertemu dengannya dan bukan menemui Umi? kalian berdua nampak begitu bahagia, dan aku rasa..."


"Apa itu artinya, Kak Aji melihatku bersama Kak Farid tadi siang?"


Fauzi hanya terdiam, dan Afifa tau kalau diam suaminya membenarkan pertanyaannya.


"Aku tidak menyangka, kukira...Kak Aji akan percaya padaku setelah sekian banyak ujian yang kita lewati bersama, ternyata pemikiranmu begitu dangkal menilaiku, kau tahu, Kak? kepercayaan itu adalah hal yang paling utama dalam rumah tangga, kenapa hal itu tidak tertanam dalam dirimu?" mata Afifa mulai berkaca-kaca, sakit rasanya saat orang yang kita percayai sepenuhnya justru tidak memiliki kepercayaan sedikitpun pada diri kita, rasanya percuma, semua pengorbanan yang sudah dia lakukan selama ini untuk mempertahankan rumah tangganya, jika ternyata harus ternoda dengan ketidak percayaan dari orang yang selama ini menjadi alasan perjuangannya.


Fauzi tidak menjawab, dia hanya membalikan tubuhnya menghadap dinding kamarnya sehingga membelakangi Afifa. Cukup lama Afifa terdiam menunggu reaksi suaminya, tapi suaminya tidak juga bergerak sama sekali. Afifa yang kesal akhirnya ikut menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur, lalu memeluk guling dan membelakangi suaminya.


Kini mereka saling bertanya dalam diam, keduanya memejamkan mata sekuat tenaga berusaha menghilangkan kecamuk yang terus berputar dalam fikiran masing-masing, akankah semuanya berakhir disini?


Diam... kaku... hening...tanpa suara, hanya suara detakan jarum jam yang terdengar semakin keras ditelinga keduanya, seolah mengingatkan mereka akan waktu yang terus berputar melewati setiap jaring-jaring dan sandiwara kehidupan, setiap detik, menit, jam dan ratusan hari yang mereka lalui selama dua tahun ini, membuat mereka terus bertanya, sampai kapan cobaan ini akan berakhir?


Desakan naluriah seorang manusia ikut berperan saat satu bagian tubuhnya merasa tersakiti, maka bagian yang lainnya akan ikut merasakan, begitupun dengan kedua mata mereka, cairan panas mulai memenuhi kelopak mata keduanya, dan tanpa terasa cairan itupun merembes keluar karena sudah sudah tak dapat lagi ditampung dalam kelopak mata keduanya.


**********


Bersambung...😢😢😢⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Entah akan ada demo apa lagi setelah ini? mungkin akan terjadi demo besar-besaran 😟😟😟


Ya sudahlah, Author tampung saja semua komentar kalian, karena sebenarnya Author juga sedang gegana saat ini 😣😣😣


Tapi tetep saja, akhirnya saya mengemis like, vote dan komentar kalian 😉.


karna tanpa itu semua, karya saya tidak ada apa-apanya. Terimakasih semuanya...😊

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2