
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Waktu menunjukan pukul 4.05 sore saat Fauzi membelokan mobilnya ke halaman luas komplek pesantren Al Huda. Suasana pesantren cukup sepi, karena para santri sedang berada di dalam madrosah untuk mengikuti pengajian ba'da Ashar yang di sampaikan oleh para Mudarris di sana.
Keduanya turun dari mobil, dan segera menuju tempat wudlu, kemudian masuk ke dalam mesjid pesantren untuk melaksanakan Sholat Asyar yang sedikit terlambat terlebih dahulu.
Selesai dengan kewajibannya, keduanya berjalan menuju kediaman Apa Kiyai. Tak lupa Fauzi menjinjing kantong kresek putih berisi buah tangan yang sempat ia beli di jalan tadi. Seorang santri terburu-buru menghampiri mereka saat keduanya mengucapkan salam, lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan menunggu di ruang tamu. Keduanya duduk di atas kursi menghadap meja yang dipenuhi toples kaca berisi berbagai makanan ringan dan air mineral yang berjejer rapi.
Tak lama Apa Kiyai keluar menghampiri mereka diikuti oleh Ceuceu. Fauzi dan Afifa segera berdiri dan mengucapkan salam, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mencium tangan Gurunya.
"MasyaAlloh Tabaarokalloh, Apa senang sekali melihat kalian datang kemari dengan wajah cerah seperti ini," Ucap Apa kiyai yang memang sangat mengerti dengan kemelut rumah tangga dari kedua muridnya ini. "Bagaimana kabar kalian?"
"Alhamdulillah baik, Apa! Dengan izin Alloh, keadaan kami sangat baik saat ini," Jawab Fauzi. "Apakah Apa sekeluarga juga sehat?"
"Alhamdulillah, Kami pun sehat, Zi!" Apa Kiyai tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kepada Afifa yang sedang setia mendengarkan obrolan Suami dan Gurunya. "O ya, Afifa agak gemukan sekarang, Iyakan, Umi?" ucapnya kemudian sambil menoleh ke arah istrinya.
"Iya betul, Abi! Apakah kamu sedang mengandung, Nak?" tanya Ceuceu kepada Afifa.
Afifa tersenyum dan mengangguk, "Betul Ceuceu," Jawab Afifa.
"Alhamdulillahirobbil Aalamiin...," Ucap Apa Kiyai dan Istrinya serempak, keduanya nampak senang sambil menatap Fauzi dan Afifa bergantian.
"Kedatangan kami kemari, sebenarnya bermaksud untuk mengundang Apa serta Ceuceu pada acara Tasyakuran 4 bulanan kandungan Afifa, Apa!" Ucap Fauzi.
"Alhamdulillah, Kapan acaranya?" tanya Apa.
"InsyaAlloh besok lusa, Apa!" jawab Fauzi.
Apa Kiyai nampak terdiam dan mengerutkan keningnya, "Apa tidak bisa di undur?" tanyanya.
"Kebetulan, menurut perhitungan Dokter Kandungan, besok lusa usia kandungan Afifa tepat 4 bulan 10 hari, jadi kami akan mengadakan Tasyakuran tepat di hari itu."
"Hmmm..., itu benar sekali, Zi! Sebagai mana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, usia 4 bulan sepuluh hari adalah masa ketia Alloh mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam rahim seorang ibu, dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.
Maka sepantasnyalah kita bersyukur dan berdo'a di hari itu agar Alloh memberikan keselamatan, kesehatan serta menjadikan anak yang dikandung kelak sebagai anak yang saleh atau salehah.
Mungkin ini hanya tradisi, khususnya di daerah Jawa. Tapi, jika kegiatan yang dilakukan positif, seperti membaca Al-Quran, zikir bersama, atau menyantuni anak yatim, maka acara selamatan saat hamil 4 bulan, itu sangat baik untuk dilakukan," Papar Apa Kiyai.
Fauzi dan Afifa nampak manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Gurunya. Memang, setiap kali mereka datang ke tempat mulia ini, mereka selalu disejukan dengan berbagai ilmu yang di tuturkan dari lisan beliau ini.
Apa Kiyai nampak menarik nafas panjang, lalu kembali berkata, "Sebenarnya Apa ingin sekali datang ke acara baik ini. Namun, nanti malam Apa harus berangkat ke Cianjur dan kemungkinan kembali hari senin depan," ucapnya nampak menyesal.
Fauzi dan Afifa saling memandang, "Jadi..., Apa tidak bisa datang?" tanya Fauzi lemas. "Sebenarnya kami ingin Apa yang memimpin acara serta Do'anya nanti."
"Apa sangat menyesal, tapi acara di Cianjur besok benar-benar tidak bisa Apa lewatkan," Jelas Apa Kiyai, lalu tiba-tiba bibirnya tersenyum. "Tapi kalian jangan khawatir, Apa akan mengirim adik bungsu Ceuceu dari Purwakarta, kebetulan dia sedang ada disini. InsyaAlloh dia bisa mewakili Apa untuk menghadiri dan memimpin acara kalian," Jelas Apa Kiyai, lantas beliau menoleh ke arah Istrinya, "Umi, tolong panggilkan Ade!" Ucapnya kemudian.
Ceceu mengangguk lalu berjalan ke belakang.
__ADS_1
"Baiklah Apa, Saya percaya dengan Apa," ucap Fauzi. "Kalau boleh tau, Adiknya Ceceu siapa namanya?"
"Khoerudin Nurzaman," Jawab Apa Kiyai, "Kalian pasti mengenalnya, dulu kalian pernah belajar bersama disini, tapi hanya satu tahun saja, karena dia melanjutkan pendidikannya di Cianjur," jelasnya kemudian.
Fauzi dan Afifa nampak berfikir mengingat nama yang disebutkan Gurunya, sempat terlintas dalam fikiran Fauzi tentang sosok kang Khoeruman yang pernah menjadi keamanan pesantren dulu dan sempat menaruh hati kepada Afifa. Namun sepertinya itu bukanlah sosoknya, karena setahu Fauzi, Kang Khoeruman bukanlah dari kalangan keluarga pesantren, melainkan Santri dari luar yang sama-sama menimba ilmu disini.
Tak lama Ceuceu kembali bersama seorang pemuda yang usianya hampir sepantaran dengan Fauzi. "Duduk, Dek!" perintah Ceuceu kepada adiknya.
Pemuda itu mengangguk dan mengucapkan salam, "Assalamualaikum," sapa suara basnya.
"Waalaikum salam," Jawab ketiganya serempak, sambil menoleh ke arahnya.
"Deg!" Fauzi terperanjat melihat sosok Pria yang pernah dia kenal sudah berdiri di hadapannya. "Kang Khoer?" tanya Fauzi refleks karena keheranannya. Begitupun dengan Afifa.
Pemuda itu mengangguk. "Betul, Zi!" ucapnya.
"Bukan kah ini Kang Khoeruman? bukan Kherudin Nurzaman?" tanya Fauzi lagi.
"Betul, Nama saya Khoerudin Nurzaman, hanya saja dulu anak-anak sering menyingkat nama saya jadi Khoeruman, mungkin karena tugas saya sebagai keamanan yang mereka anggap galak, jadi mereka sering memanggil saya Khoeruman, biar seperti Aironman atau Spiderman mungkin," Canda Pemuda yang dipanggil Kang khoer itu dengan mengulas sedikit senyum, membuat semua orang di ruangan itu tertawa. Kecuali Fauzi tentunya, dia masih mengerutkan keningnya.
"Sebentar!" Fauzi mengangkat tangannya nampak masih penasaran, mengingat dia tidak tahu sama sekali kalau kang khoer yang pernah ia cemburui saat bertemu dengannya pada saat reuni dua tahun yang lalu ternyata adik ipar dari Gurunya sendiri. "Kang Khoer ini beneran adiknya Ceuceu?" tanya Fauzi.
"Iya, Zi!" Jawab Ceuceu. "Ade Ceuceu ini sengaja tidak mau identitasnya di ketahui para santri yang lain, agar tidak ada kecemburuan sosial katanya," jelas Ceuceu.
"MasyaAlloh maafkan saya, Kang! saya benar-benar tidak tahu, dan saya juga minta maaf atas perlakuan saya yang kurang baik kepada Kang Khoer saat reuni waktu itu," Ucap Fauzi.
"Tidak apa-apa, Zi! saya faham kok dengan sikapmu. Setiap Suami juga pasti akan bersikap seperti itu saat mengetahui masa lalu dari istrinya," Kang Khoer tersenyum ke arah Fauzi dan Afifa.
Obrolan mereka pun berlajut hingga waktu maghrib tiba. Fauzi dan Afifa melaksanakan Sholat terlebih dahulu di mesjid pesantren. Lantas mereka berdua pun pamit setelah sebelumnya memberikan alamat rumah mereka, agar kang Khoer tidak sulit menemukan rumah mereka.
Di perjalanan pulang, rasa penasaran Afifa yang sejak tadi dipendamnya kini ditanyakan kepada suaminya. "Kak! Fifa masih belum mengerti dengan apa yang Kak Aji bicarakan bersama Kang Khoer tadi, memangnya kalian punya masa lalu apa?"
"Hmmm? penasaran ya?" Fauzi menoleh sebentar ke arah Afifa sambil tersenyum menggodanya, lalu kembali fokus ke jalanan.
"Ya Iya lah, abisnya... kok bawa-bawa Fifa segala?"
"Nanti deh, Kakak jelasin dirumah ya," Ucap Fauzi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iiih..., bikin penasaran deh," Afifa cemberut sambil memalingkan wajahnya ke arah jalan yang di penuhi kerlap kerlip lampu malam.
"Udah jangan ngambek, nanti Kakak jelasin," Fauzi menjawel dagu istrinya. Dia pun kembali fokus pada kemudinya. "O ya, gimana dengan makanan untuk besok lusa? sudah siap?" Fauzi mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, Tadi Fifa sudah telephon Cathering Dapur Mungil, mereka siap mengantar 250 nasi box sebelum acara di mulai, dan untuk makanan ringannya Ibu Siti dan Bi Yati siap membuat 15 macam jajanan pasar untuk 250 undangan," Jawab Afifa sambil tersenyum ke arah suaminya.
"Alhamdulillah," Ucap Fauzi. Kakak juga sudah meminta data kepada Pak RW. Besok kita membuat 120 amplop ya, Dek! untuk Anak yatim 22 amplop dan sisanya untuk sodara kita yang kurang mampu."
"Iya, Kak!" Jawab Afifa. Keduanya tersenyum, fikirannya melayang pada acara yang akan mereka buat semaksimal mungkin esok lusa.
__ADS_1
Pukul 8 malam mereka sampai di rumahnya, Afifa yang masih mengenakan seragam sekolah sejak pagi tadi, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Begitupun dengan Fauzi. Lalu keduanya Sholat Isya berjamaah dan makan malam dengan makanan yang sempat mereka beli pada perjalanan pulang tadi.
Selesai makan malam, rasa lelah pun mulai terasa, Afifa segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, rasa penasarannya muncul kembali saat dia melihat suaminya masuk ke kamarnya. Dia pun mendudukan dirinya di atas tempat tidur.
"Kak!" panggil Afifa sambil memeluk bantal guling di pangkuannya.
"Hmmm?" jawab Fauzi yang sedang memasang kabel charger pada ponselnya.
"Fifa masih penasaran dengan yang tadi," Afifa menatap gerak-gerik suaminya.
Fauzi menoleh, menatap Afifa sebentar, lalu tertawa, "Ha ha ha..., masih penasaran aja, Dek?" ucapnya tanpa menghentikan tawanya.
"Ih..., malah ketawa, Fifa nanya serius juga," Afifa cemberut.
"Jadi gini," Fauzi menghampiri Afifa, lalu duduk bersila menghadap Afifa di atas tempat tidur, "Dulu..., Waktu kamu SMP, Kang Khoer itu pernah curhat sama Kakak, dia bilang naksir kamu, dan akan nunggu kamu sampai kamu lulus kuliah," Fauzi mencubit hidung Afifa yang hanya bengong mendengarkan penjelasan suaminya.
"Hah? iya kah? kok aku gak tau?" tanya Afifa.
"Emang gak ada yang ngasih tau," Jawab Fauzi asal. Kening Afifa masih berkerut. "Sebenernya..., Kang Khoer pernah nitipin surat sama Kakak buat kamu, karena dia mengira kalau kita sudah seperti sodara ketemu gede." Fauzi tersenyum mengingat kejadian itu.
"Terus?" tanya Afifa.
"Kakak gak suka, jadi Kakak buang aja suratnya," jawab Fauzi cuek.
"Ih...! kok gak amanah sih?" protes Afifa.
"Eh..., jangan-jangan kamu seneng ya kalau dapat surat cinta dari Kang Khoer? hayo ngakuuuu...." Fauzi menginterogasi.
"Lo? Kok Kak Aji bilang gitu si? Fifa kan cuman bilang, Kak Aji gak amanah. Dulu Fifa mana tau cinta-cintaan, yeeeeeey..." Afifa memukul palan dada suaminya.
"Ha ha ha..., iya maaf, dulu kan Kakak gak mau ada yang deket sama kamu, apalagi naksir gadis kecilku ini," Ucap Fauzi sambil tersenyum dan menangkupkan tangannya di wajah istrinya.
"Hmmm..., memangnya sejak kapan Kak Aji suka sama Fifa?" Tanya Afifa dengan tatapan selidik.
"Hmmm..., sejak kapan ya?" Fauzi nampak berfikir, "Kakak juga tidak tau, Dek! Yang pasti, waktu itu..., Kakak selalu senang kalau melihatmu bahagia dan selalu sedih kalau melihatmu sedih. Dan..., Kakak masih ingat ketika wajahmu berubah cerah, saat namamu dipanggil ke atas panggung untuk menerima piala penghargaan santri terbaik setiap tahunnya. Kakak selalu jadi orang pertama yang duduk didepan panggung untuk menyaksikan wajah ceriamu," Fauzi menatap wajah Afifa, lalu tersenyum.
"Iiih..., Kak Aji...," Afifa tak sanggup berkata-kata, wajahnya memerah mendengar penuturan kisah manis suaminya di masa lalunya. Afifa mendekat ke arah Fauzi sambil membenamkan kepalanya ke pelukan suaminya. Cukup lama Fauzi mencium kening Afifa, lalu keduanya terbaring di atas peraduan cinta, membenamkan dirinya di tempat ternyamannya.
************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm... so sweeet... 😙😙😙
Tetap like, vote dan komen... 😉
__ADS_1
I LOVE YOU ALL..😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul