
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Matahari terus merangkak naik memancarkan sinar yang mulai terasa panas pertanda hari semakin siang, Fauzi sudah keluar lebih dulu dari kamar mandi, dia langsung mengenakan kaos oblong berwarna navy dipadukan dengan celana jins berwarna biru langit. Lalu mendudukan dirinya disofa dalam kamarnya sambil melakukan panggilan kepada seseorang.
Tak lama Afifa keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya, mengambil pakaian di dalam lemari dan memakainya. Afifa melirik kearah suaminya yang sedang sibuk melakukan panggilan.
"Iya, Mang... langsung saja ke rumah Umi, bawa tukang dan jangan lupa bahan-bahan material yang datanya sudah saya kirim tadi juga dibawa ya, nanti saya share lokasinya," Ucap Fauzi pada seseorang di sebrang sana, Afifa terus memperhatikan obrolan Suaminya sambil mengenakan pakaian sampai ucapan salam terlontar dari mulut Fauzi.
"Sudah, Dek?" tanya Fauzi setelah menutup panggilannya.
"Sudah", jawab Afifa", Telphon siapa Kak?" tanyanya.
"Mang Ujang, suruh ke rumah Umi, buat benerin lantai kamar mandi yang rusak"? ucap Fauzi.
Afifa tersenyum, lalu mengambil mukena dan berjalan ke arah sofa, berdiri didepan suaminya yang tengah duduk. "Makasih ya Sayang...," Ucap Afifa dengan tatapan berbinar.
"Untuk apa?"
"Untuk perhatian Kak Aji kepada keluarga Fifa."
"Sayang..., mereka itu kan orang tuaku juga, masa iya aku diam saja melihat mereka kesulitan?"
"Hmmm... Fifa makin sayang deh," Ucap Afifa dengan senyum manis menggemaskan.
"Hmmm... berarti ada hadiahnya dong...," Fauzi merentangkan tangannya sambil tersenyum menggoda Afifa, sedang dirinya masih duduk di atas sofa.
"Eits... berhenti! Fifa sudah Wudlu," ucap Afifa tiba-tiba saat Fauzi hendak menarik tangannya.
"Nanti Wudlu lagi," Ucapnya sambil melanjutkan aksinya menarik tubuh Afifa ke dalam pelukannya, Afifa sudah tidak bisa mengelak lagi, ciuman bertubi-tubi pun mendarat di seluruh wajah dan bibir Afifa.
"Sudah!" Ucap Afifa berusaha menghentikan tindakan suaminya.
"Kan aku sudah mandi dan gosok gigi juga, gak bau kan?" tanyanya.
"Iya, tapi ini sudah hampir jam 10, aku belum sholat dzuha," Ucap Afifa sambil melepaskan pelukan suaminya, lalu berdiri dan merapikan pakaiannya karena ulah suaminya, Afifa mengambil kembali mukena yang tadi sempat lepas dari tangannya, lalu menyimpannya di atas kasur dan dia masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk mengambil air Wudlu, Fauzi hanya terkekeh memperhatikan gerak gerik istrinya yang nampak kesal namun lucu menurutnya. Tak lama Afifa keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menuju pintu hendak keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana?" tanya Fauzi saat melihat istrinya sudah didepan pintu kamar.
"Ke Mushola belakang, Dzuha dulu sudah siang," jawab Afifa, sambil berjalan, kemudian dia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah suaminya, "Kak Aji juga belum dzuha kan?" tanyanya.
"Iya belum, duluan aja, Dek! Aku ambil air Wudhu dulu", Fauzi berdiri dan melangkah menuju kamar mandi kembali. Afifa mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju Mushola belakang. Afifa memang selalu menyempatkan dirinya untuk melaksanakan Sholat Dzuha, biasanya dia melakukannya di sekolah bersama anak-anak didiknya di saat jam istirahat pertama. Begitupun dengan Fauzi, selalu menyempatkan disela pekerjaannya di toko. Karena bagi mereka, Sholat dzuha itu bukan hanya Sholat untuk memohon rezeki semata, tapi juga sarana untuk bersyukur atas segala karunia dan rezeki yang telah Alloh limpahkan kepada mereka, sehingga Rezeki yang mereka punya saat ini memiliki keberkahan yang tak terhingga, dan rezeki itu bukan hanya harta yang bisa kita lihat wujudnya saja, tetapi juga semua kenikmatan dan karunia yang telah Alloh anugrahkan untuk kita, apalagi hari ini berita gembira itu baru saja datang ke tengah-tengah rumah tangga mereka, maka sudah sepatutnya lah mereka bersyukur.
__ADS_1
Selesai dengan ritual sholat Dzuhanya, Fauzi bersiap berangkat ke tokonya. Afifa yang merasa lemas hanya duduk bersandar di atas sofa ruang tengah.
"Apa sudah minta izin ke sekolah kalau hari ini tidak bisa masuk, Dek?" tanya Fauzi sambil memberikan teh manis hangat kepada Afifa.
"Sudah, tadi pagi," jawabnya, "Kak Aji mau ke toko?" tanyanya lagi sambil menyeruput teh hanyat di tangannya.
"Iya, hanya sebentar, gak papa kan aku tinggal?" tanya Fauzi sambil menatap istrinya, entah mengapa wajah Afifa tiba-tiba berubah seolah tidak senang mendengarnya, "Kenapa, Dek?"
"Gak papa, kalau mau pergi, ya pergi aja," ucapnya sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Lo...? kok cemberut?" tanya Fauzi sambil membungkukan badannya ke arah Afifa.
"Gak papa, pergilah...! aku mau tidur saja dirumah," jawab Afifa.
"Tapi...kamu gak papa kan, Dek?" tanya Fauzi lagi, Afifa hanya menggeleng dan membaringkan tubuhnya di sofa, Fauzi segera mengambil bantal untuk menopang kepala istrinya. "O ya, Dek! Umi dan Mama sudah aku kasih tau kabar gembira ini, mungkin Mama dan Nadia besok kemari," ucap Fauzi kemudian, Afifa hanya mengangguk, Fauzi beranjak dari tempatnya untuk bersiap menuju toko, "Aku pergi dulu ya Sayang", Fauzi mengulurkan tangannya, Afifa menyambutnya lalu mencium punggung tangan Suaminya, dan seperti biasa Fauzi akan megecup kening istrinya. "Gak usah antar ke depan, tidur lagi aja!" ucapnya kemudian dan dijawab dengan anggukan Afifa.
Waktu terus berjalan, dan sore pun tiba, Fauzi kembali pulang ke rumah pukul 3.30, dan ternyata dia tidak pulang dengan tangan kosong, kedua tangannya menjinjing kantong kresek besar berisi barang-barang belanjaan kebutuhan rumah yang sengaja dibelinya dari pasar. Selama satu minggu rumahnya ditinggal Afifa, isi kulkasnya kosong dan dia belum sempat atau mungkin tidak semangat untuk berbelanja kebutuhan rumah. Tak lupa Fauzi membeli susu khusus ibu hamil untuk menambah nutrisi bagi Afifa dan janin yang ada dalam kandungannya. Hmmm... suami siaga 🤗.
Afifa masih nampak lemas saat suaminya datang, namun senyuman tetap ia sunggingkan mengingat suaminya yang kini begitu perhatian pada dirinya, bahkan lebih dari saat dia mengandung anak pertamanya dulu.
Malam ini, mereka lalui dengan masih tetap mematuhi perjanjian yang sudah mereka buat sebelumnya saat dirumah Umi. Hmmm...perjanjian? Perjanjian apa ya? 🤔...
Malam berlalu, hari esok pun tiba, Seperti yang Fauzi katakan, Mama dan Nadia datang kerumah Afifa, mereka menyambut kabar gembira itu dengan suka cita, ceramah panjang pun keluar dari mulut Ibu Mertuanya, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus ini, harus itu, dan tentunya masih banyak lagi wejangan-wejangan yang terus mengalir dari bibir ibu mertuanya. Afifa hanya mendengarkan dan menyambut nasihat Ibu Mertuanya dengan senyuman. Karena fikirnya, itu adalah bukti dari kasih sayang Ibu Mertua untuk Menantunya.
Setelah cukup lama mereka berbincang, dan Ibu mertuanya merasa cukup mengeluarkan nasehatnya, Nadia mulai mendekati Afifa dan menanyakan hadiah yang waktu itu sempat mereka beli untuk Farid.
"Ssst... Anti," ucapnya sedikit berbisik sambil beringsut di sofa mendekati Afifa.
"Kenapa, Nad?" tanya Afifa.
"Ngomong-ngomong, hadiahnya dibawa gak ya sama Mas Ari waktu itu?" tanya Nadia lagi dengan suara pelan, namun nampak tak sabaran menunggu jawaban.
"Lo...? kok tanya Anti? Anti kan pulang duluan," Afifa balik nanya.
"Huuuuuhhhh...," Nadia menghembuskan nafas panjang bermakna kekesalan, "Nadia...Nadia...Kenapa waktu itu sampai lupa untuk memberikannya," gerutunya pada dirinya sendiri, "Ah...gara-gara Paman si...jadi kacau deh semuanya," bibir Nadia manyun beberapa centi.
"Kenapa gak tanyakan langsung padanya?" tanya Afifa.
"Oh...Nooo... Anti..., untung kalo memang dia bawa, kalo enggak, kan malu, nanti dikiranya Nadia wanita apaan," jawab Nadia lagi masih setia dengan cemberutnya.
"Sudah, jangan terlalu difikirkan, kalau memang jodoh nanti juga gak akan kemana," jawab Afifa.
__ADS_1
"Iya si..., tapi kok ada yang ganjel gitu ya An," ucap Nadia, dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Afifa.
Malam ini, Mama dan Nadia menginap di rumah Afifa, Nadia tak henti-hentinya meledek dan menggoda Pamannya karena perbuatan bodohnya seminggu yang lalu, meski sebenarnya Nadia tidak faham bahwa penyebab dari kebodohannya itu berhubungan dengan pria yang menjadi pujaan hatinya saat ini.
*********
Seorang pria paruh baya sedang terduduk sendiri di kursi kayu yang ada di dalam taman tempat rehabilitasi, entah apa yang dia fikirkan, yang pasti, setelah hampir satu bulan dia berada di tempat ini, dia jauh lebih tenang dan mulai mengingat Tuhannya, semua itu tak lepas dari peran seorang Psikiater muda yang selalu mendampinginya. Psikiater muda itu sangat dekat dengan Pak Herman, dia merasa iba dengan dirinya, karena sudah hampir satu bulan lamanya dia tinggal di tempat ini, tak ada satu orang keluarga pun yang menjenguk dirinya. Wulan juga belum pernah menengoknya, selain karena masih ada rasa takut dengan Ayahnya, dia juga belum sembuh total karena kecelakaan waktu itu, dia hanya mengirim uang untuk biaya pengobatan Ayahnya lewat rekening rumah sakit.
Setiap datang waktu sholat Psikiater muda itu selalu datang menemui Pak Herman untuk mengingatkan waktu sholat, dan secara perlahan tapi pasti, Dia mampu merubah mental dan jati diri Pak Herman menjadi lebih baik.
"Terimakasih, Nak Faqih," Ucap Pak Herman saat Psikiater yang tersemat papan nama Fazar Faqih Adithama di dada kirinya itu memberikan sebuah Al-Qur'an kepadanya. dan Psikiater muda itu selalu menyunggingkan senyum dan tetap memberi semangat untuk pasiennya.
*********
Hari sabtu tiba, dan kini saatnya Thalita kembali ke rumah Afifa, namun Afifa belum cukup kuat untuk menjemput Thalita, sedangkan Fauzi ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Akhirnya Afifa meminta Nadia untuk menjemput Thalita, namun karena Nadia belum tahu sekolah Thalita, Nadia pun datang terlebih dahulu ke rumah Wulan dengan menggunakan sepeda motornya, sekalian melihat keadaan Wulan saat ini sesuai permintaan Afifa tentunya.
Pukul 11 dia sudah berangkat menuju rumah Wulan yang memang sudah diketahui Nadia saat menjenguk Wulan setelah kecelakaan waktu itu bersama Kakek dan Neneknya.
Nadia memarkirkan motornya tepat di depan butik Wulan, dia menurunkan standar samping dan membuka helmnya, lalu meletakan helm diatas motornya. Nadia melihat ke arah kaca spion dan membetulkan posisi hijab panjangnya yang sudah mencong tak beraturan, serta mengibas-ngibaskan tangannya ke gamis yang dikenakannya karena agak kusut akibat terpaan angin kecang di jalanan tadi. Saking konsentrasinya ke arah kaca dan gamisnya, dia sampai tidak sadar bahwa ada seorang pria yang tengah memperhatikan dirinya.
"Assalamualaikum, Siang, Muth," ucap suara bassnya.
Nadia menoleh ke arah sumber suara, sekejap matanya terkunci menatap Pria gagah dihadapannya yang sedang tersenyum mengenakan topi hitam yang pernah dibelinya.
*************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamuakaikum Readers... mohon maaf baru bisa Up semalam ini..., berhubung saat ini, Author belibet dengan pekerjaan dunyat 😊✌
Siapakah Faqih?
Akankah Farid mulai Respect pada Nadia?
Tapi tetep Like, Vote dan komen ya 😉
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul
__ADS_1