Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Sanggupkah Hidup Tanpanya?...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Dengan langkah terburu-buru Afifa berjalan melewati koridor menuju ruang kantor, sesekali dia tertunduk melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, Ah...tentunya dia datang terlambat, bahkan 30 menit dari biasanya. Dia segera mengambil buku administrasi pembelajaran dalam lokernya, lalu bergegas menuju kelas sesuai jadwal masuknya yang hanya tersisa 60 menit lagi saja.


Hiruk pikuk anak muridnya seketika berhenti saat suara ketukan sepatu Afifa sampai tepat didepan pintu, dia segera masuk dan mengucapkan salam, serempak salamnya dijawab oleh anak-anak dengan suka cita menyambut kedatangan guru paforitnya.


Celotehan mereka cukup membuat Afifa terhibur, dan melupakan sesaat semua kejadian yng baru saja menimpanya. Tak terasa, jarum jam terus berputar, hingga saatnya waktu pulang tiba. Setelah melaksanakan kewajiban sholat dzuhurnya di sekolah dia tidak langsung pulang, melainkan membuka leptopnya untuk melakukan simulasi test CPNS dengan berbagai soal Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang meliputi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) yang sudah ia peroleh dari hasil googling, sharing sesama teman dan ada juga yang sengaja diberikan penilik untuk latihan sebelum hari H berlangsung.


Jika sudah berkutat dengan hal-hal semacam itu, maka Afifa akan melupakan semua masalahnya, sampai suara adzan Ashar membuyarkan konsentrasinya.


Afifa menarik nafas panjang, pandangannya berkeliling dan ternyata dikantor sudah tidak ada satu orang pun, hanya ada seorang penjaga sekolah yang sedang menyapu di halaman, dia menutup leptopnya, lalu menyimpan buku-buku administrasi dan materi pembelajaran ke dalam loker, serta memasukan leptop kedalam tas gendongnya. Sesaat dia tertegun memamdang ponsel yang tergeletak di mejanya, meraihnya lalu membuka layar, tak ada panggilan atau pesan satupun dari orang yang diharapkannya, dia kembali menghela nafas panjang, lalu memutar bola matanya, "Memangnya siapa yang akan menelphonmu Afifa...", gumamnya sendiri, senyuman miring tersungging dari bibirnya, "Sudahlah...mungkin memang dia sudah tidak peduli padamu" ucapnya lagi sambil mengibaskan tangan, menggendong tas dan berjalan menuju mesjid sekolah.


Pukul 4 sore Afifa sampai dirumah Umi, Setelah menyimpan tasnya di kamar Nisa dan membersihkan dirinya dia bergegas memasak bahan makanan yang sengaja ia beli diwarung tadi saat perjalanan pulang menuju rumah Umi. Beberapa pertanyaan tentu saja terlontar dari Abi, Nisa maupun Rizqi, tapi Afifa hanya menjawab ingin membantu Umi selama beliau sakit.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 5 sore, Afifa kembali melihat pergelangan tangannya, saat ini biasanya suaminya sudah pulang kerumah, dia masuk ke kamar Nisa, mendudukan diri diatas kasur busa yang sudah mulai menipis, lalu menyandarkan dirinya ditempat tidur sambil memeluk bantal guling, tangannya mengambil ponsel didalam tas, lalu dia pandangi cukup lama, berharap ada seseorang yang menelphonnya. "Mengapa dia belum juga menelphonku?" gumamnya. "Ah...Afifa... sadarlah! mengapa masih juga mengharapkannya?", Afifa melempar ponsel disampingnya, lalu menjatuhkan kepalanya diatas bantal sambil tengkurap, dia kembali mengusap kasar air matanya saat kembali jatuh dikedua pipinya tanpa diundangnya. "Cukup Afifa...! sudah cukup, jangan lagi ada air mata untuknya", dia bangkit dari baringannya lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, dan bergabung bersama Abi dan adik-adiknya diruang keluarga untuk sekedar bersantai menyaksikan acara komedi kesukaan mereka, dia ikut tertawa bersama keluarganya, sesaat diapun lupa dengan semua kemelut dalam rumah tangganya sampai maghrib pun hampir tiba.


Seperti biasa Abi dan adik-adiknya akan pergi ke mesjid dan akan pulang pukul 8 malam setelah isya dan mengaji.


Malam semakin larut, Afifa masih saja berkutat dengan leptopnya, kali ini dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya untuk meratapi nasib rumah tangganya, karena nyatanya sampai selarut ini, tak ada panggilan atau satu pesan pun dari suaminya, hal itu menandakan bahwa suaminya sama sekali tidak merasa kehilangan dirinya. "Ya sudah lah, lebih baik aku memikirkan masa depanku, dengan terus semangat menghadapi tes nanti, Semangat Afifa....", teriaknya, tentunya hanya dalam hati, karena Nisa sudah tertidur disampingnya.


********


Pukul 5 sore, Fauzi pulang kerumahnya, dia kaget saat tidak ada satu orangpun yang menjawab salamnya dari dalam rumah, diapun membuka pintu yang memang tidak terkunci, suasana rumah sangat hening dan belum ada satupun lampu yang dinyalakan. Dia berjalan mencari seseorang yang biasa menyambutnya, namun dia tidak menemukannya, dia pun masuk kamar, matanya langsung tertuju pada kunci motor yang tergeletak diatas tempat tidur, berfikir sebentar, lalu membuka lemari istrinya. Fauzi manarik nafas panjang, dipejamkannya kedua matanya dengan kedua tangan masih memegang pintu lemari. Tak lama dia menutupnya kembali, lalu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Waktu menunjukan pukul 6 kurang 15 menit, dia segera mengambil air Wudlu dan bergegas pergi ke Mesjid, meski waktu adzan masih sekitar 5 menit lagi.


Diapun kembali kerumah sesusah sholat Isya, lagi-lagi dia tertegun didepan meja makan yang kini masih bersih tanpa sentuhan tangan seharian, dia berjalan menuju lemari es, memgambil satu telur dan sayuran, lalu mengolahnya dan menggorengnya menjadi satu omlet untuk makan dirinya, untungnya nasi hangat masih ada didalam megikom, diapun makan sendirian dengan malas tanpa selera.

__ADS_1


Lagi-lagi matanya berkeliling dan kembali menghela nafas panjang, dia mendudukan dirinya diatas sofa dan menyandarkan dirinya disana, menghidupkan TV berusaha menghilangkan rasa sepi yang ia rasakan saat ini. Televisi terus menyala, namun fikiran Fauzi tak berada disana, hanya wajah istrinya yang berada dalam benaknya saat ini, sesekali dia menatap sofa disampingnya, dimana istrinya biasa bermanja dalam pelukannya. "Ah...sayang, sedang apa kau disana?" gumamnya.


Fauzi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Ayo lah Zi...! kuatkan hatimu, sampingkan ego mu, kalau terus seperti ini, bagaimana kamu bisa menjauh darinya? Biarkan dia mendapat kebahagiaannya sendiri, meski tanpa kau disampingnya, dia pantas untuk bahagia, dimana hal itu tidak pernah dia rasakan selama bersamamu" gumamnya. Fauzi memejamkan matanya sambil bersandar diatas sofa "Tapi...apa aku yakin bisa hidup tanpanya?" tanyanya lagi pada dirinya, dan pertanyaan itu terus saja beruang-ulang terlintas dalam fikirannya yang semakin menguatkan rasa rindu yang kini hampir tak tertahankan dalam hatinya. Fikiran Fauzi terus melayang, dan entah sampai jam berapa matanya baru terlelap diatas sofa, Televisi masih terus menyala menemani kesepian dirinya didalam rumah yang kini jauh dari kemesraan yang biasanya mereka lalui disetiap malamnya.


*********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ah... jangan terlalu rindu Fauzi, rindu itu berat, biarlah hanya dilan saja yang merasakannya... 😄


Hai hai Readers... tetap like, vote dan komen buat Author ya...

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2