
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Pagi menjelang, seperti biasa Afifa selalu berkutat dengan pekerjaan dapurnya. Semua makanan sudah tersaji dimeja makan. Fauzi keluar dari kamar menuju meja makan, dia sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Sarapan dulu!" ucap Afifa, sambil mengambil dua buah piring dan meletakannya dimeja makan.
"Ya", jawab Fauzi singkat.
Keduanya menyantap makanan dihadapannya tanpa suara dan nampak tak berselera, makanan di piring mereka sedikit berkurang, namun tidak sampai habis, entah mengapa, Afifa merasa makanan itu hambar dan sulit sekali untuk ditelan, rasanya selalu nyangkut di kerongkongan, padahal dia menggunakan bumbu yang sama seperti biasanya dia memasak, diapun selalu mendorongnya dengan minum air putih di setiap suapannya agar makanan itu langsung tertelan. Ah... sulit sekali makan seperti ini, akhirnya Afifa pun menyerah dan menghentikan kegiatan makannya yang masih tersisa setengahnya.
Rupanya Fauzi pun tak jauh beda dengannya, makanannya masih tersisa, meski tak sebanyak Afifa, Fauzi mengambil air minum dan tissue untuk mengelap bibirnya, lalu berdiri membawa piringnya menuju halaman belakang dan menaburkan sisa makannya pada ikan-ikan warna warninya di sana, membuat ikan-ikan itu mengeluarkan suara "Cup cup cup" dari mulutnya karena berebut makanan.
Afifa hanya memperhatikan gerak-gerik suaminya dibalik kaca jendela. Tak lama diapun berdiri, membereskan meja makan dan mengikuti suaminya membawa piring bekas makannya sendiri ke halaman belakang. Afifa menaburkan sisa makanannya kedalam kolam, sesaat matanya memperhatikan ikan-ikan itu, merasa ada yang menatapnya, diapun mengangkat wajahnya, dan benar saja suaminya sedang menatap lekat ke arahnya, namun saat mata mereka bertemu, Fauzi langsung mengalihkan pandangannya, dan berjalan kembali ke dalam rumah.
Afifa hanya terdiam sambil menatap punggung suaminya yang berlalu, lalu dia tersadar dengan suara mulut ikan-ikan mas nya yang masih berebut makanan, pandangannya kembali ke arah ikan-ikan itu, sejenak berfikir, "Betapa senangnya kalian, bisa bersama-sama dan saling berbagi dalam satu rumah, meski harus berebut makanan, tapi kalian tidak saling menyakiti", gumamnya. Lalu dia kembali melangkahkan kakinya menuju rumah, hendak mencuci piring bekas makan dirinya dan suaminya. Namun, lagi-lagi Afifa terkejut, piring bekas makan suaminya sudah bersih dan tersimpan rapi didalam rak. Afifa pun hanya mencuci satu piring saja.
Setelah semuanya beres, Afifa berjalan menuju kamar untuk mengambil tasnya, lalu kembali keluar lengkap dengan seragam, jaket serta kunci motor ditangannya. Sekilas Afifa melihat suaminya diruang tamu sambil memainkan ponselnya, diapun menghampirinya. "Kak..., hari ini pulang sekolah Fifa mau ke rumah Umi dulu", izin Afifa.
Fauzi menoleh sekilas lalu mengangguk, dan kembali menatap layar. "Kalau kamu mau istirahat dulu, boleh kok tinggal lebih lama di rumah Umi", ucap Fauzi dengan tetap memandang layar ponsel didepannya.
Seketika Afifa yang hendak melangkahkan kakinya tersentak dan terdiam, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. dengan wajah yang masih tertunduk memandang lurus pada kakinya, kedua tangannya mengepal disamping rok dinasnya dia menahan rasa sakit dan kekesalan. Ucapannya halus, tapi bermakna pengusiran baginya. Diapun mengangkat kepalanya, menatap ke arah suaminya dengan tatapan heran dan kemarahan.
"Apa itu artinya...Kak Aji sudah tidak membutuhkanku lagi disini?" tanya Afifa pelan namun tegas, dia masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Fauzi menutup ponselnya, lalu berdiri dan memasukan kedua tangannya pada saku celananya. "Itupun kalau kau mau", ucapnya seenak hatinya, lalu melangkah ke kamarnya, menyambar kunci mobil dan hendak keluar menuju pintu.
"Tunggu...!" bentak Afifa. "Tidak cukupkah pengorbananku selama ini untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kita? bukankah kau yang memintaku untuk bertahan bersamamu? lalu sekarang?"
"Sudah...!cukup...!" Bentak Fauzi, membuat Afifa semakin menatap tajam ke arahnya. "kau lihat? seberapa banyak pun kau berkorban untukku, dan aku berkorban untukmu, tapi nyatanya kita memang tetap tidak bisa hidup bahagia. sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama...", ucap Fauzi sambil berlalu keluar rumah meninggalkan Afifa yang masih tetap berdiri mematung ditempatnya.
__ADS_1
Sepeninggal Fauzi, tubuh Afifa tersungkur kelantai, dia menangis tersedu-sedu mengingat apa yang baru saja dilakukan suaminya. "Heh...mudah sekali kau mengatakan itu, Kak..." Afifa menyunggingkan senyum sinis nya dibalik deraian air mata. "Afifa...dimana harga dirimu? kenapa kau terus bertahan bersama orang yang tidak bisa mempertahankan mu? orang yang tidak menghargai pengorbananmu, sama sekali tidak pantas untuk dipertahankan". ucap Afifa pada dirinya sendiri.
Afifa segera menghapus kasar air matanya dengan kedua tangannya, "Aku masih punya orang tua yang akan selalu menerimaku kapanpun aku mau, ku pastikan... suatu saat nanti, kau akan menarik kembali semua ucapanmu", gumamnya. Lalu berdiri dan melangkah menuju kamarnya, mengambil tas besar dan memasukan beberapa pakaian gamis dan seragam yang biasa dia pakai untuk mengajar, tak lupa ia membawa serta leptop dan buku-buku materi mengajarnya, kunci motornya ia lempar sembarang ke atas tempat tidur.
Tidak berfikir panjang lagi, Afifa segera membawa tasnya menuju gerbang yang sudah terbuka, lalu melambaikan tangan menyetop angkot berwarna hijau yang lewat didepan rumahnya. Angkot itupun berhenti, Afifa segera masuk dan duduk dibangku paling belakang. berpasang mata menatap ke arahnya, mungkin mereka heran melihat seorang wanita membawa tas besar dengan mata sembab khas habis menangis. Sempurna sudah kini penderitaannya, hatinya benar-benar sakit karena serasa telah diusir secara halus dari rumah suaminya. Afifa segera menutup wajahnya dengan kerudung yang terjuntai di dadanya? agar kemalangannya sedikit tertutupi dari pandangan orang-orang.
Sepanjang perjalanan Afifa hanya terdiam, seandainya saja dia tidak malu dengan kehadiran orang-orang disekitarnya, mungkin dia sudah menangis menumpahkan semua rasa gundah dan emosinya saat ini. Untungnya, Angkot segera berhenti di persimpangan jalur menuju rumah Umi, Afifa pun turun dan beralih ke angkot lain yang menuju arah jalur rumah Umi.
Cukup 10 menit saja didalam angkot yang kedua, Afifa meminta supir untuk berhenti setelah mempersiapkan wajahnya senormal mungkin dihadapan orang tuanya. Tepat didepan rumah Umi, Diapun turun setelah memberikan ongkos kepada kondektur.
Di Rumah hanya ada Umi saja, Abi sedang berada di sawah, sedangkan Nisa dan Rizki sudah berangkat ke sekolah.
Afifa mengucap salam, namun karena tidak ada jawaban dan pintu pun tidak dikunci, akhirnya dia masuk ke dalam rumah. "Umi...! Abi...!" panggil Afifa. Dia pun langsung menengok kamar Umi, ternyata Umi sedang terbaring sambil memejamkan matanya. Afifa tersenyum melihat wanita terkasihnya tertidur dengan tasbih masih setia dalam genggamannya, diapun segera menyembunyikan tas besarnya dikamar Nisa, lalu kembali ke kamar Umi dan duduk ditepi ranjang, dia meraih tangan Umi dan seraya mencium punggung tangannya.
Umi terbangun dan menyipitkan matanya, untuk memperjelas penglihatannya. Umi cukup kaget saat kesadarannya benar-benar sempurna, "Teteh?" Ucapnya sambil berusaha bangun dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. "Kapan datang?" tanyanya lagi.
"Baru saja, Mi! Umi gimana? sudah enakan?" tanyanya sambil tersenyum.
"Mungkin pengaruh obat juga, Mi!"
"Sepertinya begitu, bawaannya ngantuk terus, Teh!".
"Ya sudah, Umi lanjut tidur lagi aja, Fifa juga mau ke Sekolah".
"Oh..., Umi kira mau nemenin Umi, Teh?" Umi agak kecewa.
"Mau nya begitu, Mi! tapi...Fifa belum izin, terus masih banyak tugas yang harus Fifa kerjakan pula untuk persiapan testing minggu depan, Umi jangan Khawatir, pulang sekolah Fifa kesini lagi, mau nginep malah", Ucap Afifa sambil menyunggingkan senyum ke arah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Benarkah?" tanya Umi sambil tersenyum lebar. Afifa mengangguk dan tak lepas dari senyumnya untuk meyakinkan Umi. "Tapi...kamu sudah izin kan sama suamimu?" tanya Umi lagi.
__ADS_1
Afifa terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum, "Umi tenang Aja, Kak Aji pasti mengizinkan kok, Umi kan lagi sakit", ucapnya, dengan senyum agak dipaksakan, dia menarik nafas panjang karena merasa bersalah telah tidak jujur dengan Wanita terkasihnya itu.
"Syukurlah..., Umi senang sekali mendengar Teteh mau menginap disini sesudah sekian lama". Umi tersenyum sambil mengusap pipi mulus Afifa.
"Ya sudah, Mi! Fifa ke sekolah dulu ya!" Afifa meraih tangan Umi kembali dan menciumnya.
"Iya, hati-hati ya, Nak!"
"Assalamualaikum",
"Waalaikum salam".
Afifa berdiri dan melangkah keluar, kembali memberhentikan angkot hijau menuju sekolah.
Kali ini dia harus kuat, menghadapi kenyataan pahit yang sedang terbentang dihadapannya kini, biarlah semua kenangan manis dan pahit itu terkubur seiring berjalannya waktu. Sudah cukup rasanya pengorbanan yang ia lakukan untuk memperjuangkan hubungan suci itu, namun jika ternyata orang yang dia perjuangkan sudah tidak menginginkannya lagi, apa yang harus dipertahankan? Yang pasti sekarang dia harus memantapkan langkahnya demi masa depannya, berjuang di atas kakinya sendiri, tanpa tergantung dengan belas kasih orang lain.
*********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masih berderai air mata...😢😢😢
Maaf ya Readers...
Yuk tetap Like, Vote dan Komentar, agar Author trus semangat untuk menulis kejutan di part selanjutnya 😊
I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By: Rahma Husnul