
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Waktu menunjukan pukul setengah empat sore, Afifa keluar menuju taman belakang rumah untuk mengangkat kain jemurannya.
Mama yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikan Afifa dari ruang dapur.
"Mungkin sebaiknya ada yang membantumu untuk melakukan pekerjaan rumah disini, Fa," Ucap Mama saat Afifa baru masuk ke ruang dapur, "Mama gak mau kamu kecapean, dan akan membahayakan kandungan kamu lagi nanti," Mama mengambil alih kain jemuran ditangan Afifa, lalu menyimpannya di keranjang pakaian bersih sebelum di setrika.
"Gak usah, Ma..., kan ada Bi Yati yang selalu bantu Fifa," jawab Afifa.
"Bi Yati kan tidak bisa dua puluh empat jam di sini, Sayang..., dia juga banyak kerjaan di toko, melayani suaminya juga para pegawai."
"Hmmm..., nanti Fifa coba bicarakan dengan Kak Aji ya, Ma."
"Iya, segera ya."
Afifa tersenyum, sungguh senang sekali mendapatkan perhatian seperti ini dari ibu mertuanya, dia pun mengangguk.
"O ya, Fa..., kok Nadia belum pulang juga ya?" tanya Mama sambil melihat jam dinding.
"Mungkin sebentar lagi, Ma...." jawab Afifa, sambil berjalan menuju ruang tengah dan mendudukan dirinya di sofa bersama Thalita yang sedang asyik nonton kartun kesukaannya. Mama pun ikut duduk disampingnya.
"Takutnya kesorean, Papa sudah telphon nyuruh Mama pulang."
"Kok pulang si, Ma? nginep lagi aja disini."
"Iya, lain kali Mama nginep lagi, kasian Papa dirumah sendiri."
Suara motor berhenti di depan rumah Afifa.
"Nah itu Nadia pulang, Ma," ucap Afifa, sambil berdiri, lalu berjalan menuju pintu depan dengan wajah berseri untuk menyambut kedatangan Nadia yang baru saja pulang dari kencan pertamanya, pastinya, Nadia akan langsung heboh dan bercerita panjang lebar kali ini. Afifa sudah mempersiapkan diri untuk mendengar semua cerita Nadia yang tidak akan cukup ia ceritakan dalam waktu satu jam saja. Fikir Afifa.
"Selamat datang keponakan Anti yang cantik, gimana nich kencan pertamanya?" tanya Afifa sambil menjawel dagu mencos milik Nadia. Tapi Nadia hanya terdiam, tidak merespon pertanyaan Afifa sama sekali, dia menatap sekilas ke arah Afifa, "Nadia mau Sholat dulu," ucapnya, lalu berjalan melewati Afifa menuju kamarnya.
Afifa hanya melongo melihat tingkah Nadia yang lain dari biasanya, bukankah seharusnya dia senang karena baru saja pulang makan siang bersama pria pujaannya, tapi ini??? Apa yang sebenarnya terjadi? Afifa tak habis Fikir, dia pun berjalan mengikuti Nadia, Tapi Nadia sedang berada di kamar mandi untuk mengambil air Wudlu. Afifa pun menunggunya. Nadia keluar dari kamar mandi tapi dia tidak menoleh sedikitpun ke arah Afifa.
"Nad! tunggu!" panggil Afifa.
"Nadia mau Sholat," ucapnya sambil berlalu menuju mushola dan segera memakai mukena.
Afifa menghela nafas, dia pun kembali ke ruang tengah menemui ibu mertuanya, fikirannya terus bertanya-tanya, Ada apa dengan Nadia? Apakah Farid telah membuatnya kecewa? fikirnya.
"Mana Nadia, Fa?" tanya Mama yang sedang menonton televisi bersama Thalita.
"Sedang Sholat dulu, Ma..., di Mushola," jawab Afifa.
"Oh...ya udah, Mama siap-siap dulu untuk pulang ya." Mama bangkit dan berjalan menuju kamar yang ditempatinya untuk mengambil tas pakaian juga tas tangannya.
"Iya, Ma...," Jawab Afifa, lalu dia pun pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia siapkan agar dibawa Mama pulang ke rumahnya.
Nadia keluar sari Mushola dan kembali berpapasan dengan Afifa, "Nad...!" panggil Afifa, tapi Afifa tidak menjawab, dia hanya menatap tajam ke arah Afifa. "Kamu baik-baik saja kan, Nad? apa tadi terjadi sesuatu di..."
"Kenapa Anti tidak jujur pada Nadia?" tanya Nadia sambil membuang pandangannya ke arah lain, lalu berjalan menuju kamar Thalita
__ADS_1
"Maksudmu?" Afifa merasa heran, "Nad...! tunggu...! Anti gak ngerti," Afifa mengikuti Nadia menuju kamar, fan berpapasan dengan Mama yang hendak keluar menjinjing tasnya.
"Kenapa, Fa?" tanya Mama heran, saat melihat Afifa berjalan terburu-buru
"Oh..., tidak Ma, Fifa hanya mau bicara dengan Nadia sebentar," Afifa menyunggingkan senyum kepada ibu mertuanya, meskipun hatinya penuh dengan pertanyaan tentang sikap Nadia.
"Ya sudah, Mama tunggu di depan aja ya!" ucap Mama, dan dijawab dengan anggukan Afifa, Beliau pun melangkah menuju ruang tengah untuk berpamitan kepada Thalita.
Afifa masuk ke dalam kamar, nampak Nadia sedang sibuk memasukan barang-barang pribadinya ke dakam tas, "Apa kamu baik-baik saja, Nad?" tanya Afifa setelah berada di belakang punggung Nadia.
Nadia berbalik, lalu menatap wajah Afifa sekilas dengan tatapan kecewa, lalu mengalihkan kembali pandangannya.
"Nadia..., denger Anti! kamu itu kenapa? Anti bener-bener gak ngerti dengan sikapmu, Apa Farid membuatmu kecewa?" tanya Afifa hati-hati.
"Aku jauh lebih kecewa dengan Anti," Nadia bicara sambil berdiri tegak dengan tatapan kosong jauh ke arah pintu dengan tas yang sudah dalam genggaman tangannya. Wajahnya tampak memerah.
"Maksudnya?" tanya Afifa belum mengerti.
"Kenapa Anti tidak pernah jujur, kalau sebenarnya, Mas Ari itu..."
"Nadia...! Ayo cepat...!" teriak Mama dari depan rumah, menghentikan ucapan Nadia.
Nadia segera menepis setitik air mata yang terlanjur menetes di pipinya, lalu dia menarik nafas panjang, "Iya, Mak Eyang...!" Ucapnya sambil berjalan keluar meninggalkan Afifa.
Afifa hanya terdiam menduga-duga apa yang baru saja terjadi antara Nadia dengan Farid. Apa mungkin Farid menceritakan semuanya tentang hubungan mereka dulu, lalu menolak Nadia dengan alasan itu? Ah...apa lagi yang sudah di lakukan Farid kali ini? Fikiran Afifa berkecamuk, sampai ia tersadar dengan suara motor Nadia yang sudah berbunyi di depan rumah dan Ibu Mertuanya tentu saja sedang menunggunya di luar. Dia pun bergegas mengambil makanan yang sudah dia siapkan di dapur tadi, dan dengan cepat berjalan ke luar rumah, Thalita sudah ada di sana bersalaman dengan Mama.
"Hati-hati ya, Mak Eyang!" Ucap Bibir mungil Thalita setelah mencium punggung tangan Neneknya. dan dibalas dengan kecupan di keningnya.
"Iya, Sayang, kamu juga baik-baik di rumah ya. Jaga Bunda dan calon dedek bayinya," Jawab Mama sambil tersenyum. Thalita mengangguk.
Motor Nadia melaju keluar dari halaman rumah. Afifa dan Thalita berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan. Dan saat keluar dari gerbang, motor Nadia berpapasan dengan datangnya mobil hitam milik Fauzi, suara klakson terdengar dari mobil itu, lalu berhenti, Fauzi membuka kaca mobil dan berbicara sebentar dari sana, dan tak lama dia pun membuka pintu mobil, lalu keluar dan menghampiri motor Nadia, mereka tampak bicara sebentar dan bersalaman. Motor Nadia kembali melaju meninggalkan pintu gerbang rumah Afifa.
Fauzi kembali masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya ke halaman rumah, lalu berhenti tepat di depan garasi.
"Assalamualaikum ... dua bidadariku," Sapa Fauzi setelah berada didepan Afifa dan putrinya yang masih berdiri di teras rumah. Wajahnya nampak berseri-seri melihat dua Wanita terkasihnya sedang menyambut kedatangannya.
"Waalaikum salam Ayah...," Jawab keduanya.
"Mmm... senengnya disambut dua bidadari," ucap Fauzi, senyumnya semakin mengembang. Afifa meraih tangan Fauzi dan menciumnya, begitupun dengan Thalita. Ketiganya masuk ke dalam rumah, "Udah enakaan sekarang, Dek?" tanya Fauzi hendak melingkarkan lengannya ke pundak Afifa.
"Mmm..., mandi dulu ah!" ucap Afifa sambil menggeser badannya sedikit menjauh dari Fauzi.
Fauzi kembali hanya menghela nafas, "Iya," jawabnya.
"Thalita nonton lagi ya Bunda," ucap Thalita saat melewati ruang tengah
"Iya sayang, kalau perlu apa-apa, Bunda di kamar ya," ucap Afifa.
"Iya," Thalita berjalan menuju ruang tengah, sedangkan Afifa dan Fauzi masuk ke kamarnya.
Afifa masuk duluan dan diikuti Fauzi, Afifa mengambil tas kecil dari tangan Fauzi dan dan menyimpannya di atas meja, lalu mengambil handuk bersih dari lemari dan menyerahkannya kepada Fauzi, "Ini handuknya... mandi dulu!" ucap Afifa.
Namun tiba-tiba Fauzi punya ideu konyol dalam benaknya. Dia mengeluarkan kemeja yang masuk kedalam celananya, lalu menggulung lengan kemejanya setengah lengan, melempar handuk itu ke sofa, lalu secepat kilat memeluk Afifa dengan erat tanpa bicara.
__ADS_1
Afifa meronta, "Iiih... Kak Aji mandi dulu...!" Afifa berusaha melepaskan diri dan hendak menutup hidungnya.
"Gak mau, mau dipeluk dulu," ucap Fauzi sambil menyusupkan kepalanya ke leher Afifa.
"Aaaa...Fifa mau muntah Kak..., Mmm...mmm...huwek," Afifa kembali mengeluarkan suara itu. membuat Fauzi segera melepaskan pelukannya.
"Eh...sayang...?" ucap Fauzi. Afifa segera berlari ke kamar mandi. dan Fauzi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ah..., kirain udah sembuh," gerutunya, lalu menyusul Afifa ke kamar mandi, namun Afifa segera keluar sambil mengusap bibirnya dengan tisyu.
"Kak Aji si, dibilangin suruh mandi dulu juga," Afifa kesal.
"Hmmm... ya sudah, aku mandi dulu, tapi nanti dilanjut ya..." Fauzi tersenyum nakal.
"Ih..., lanjut apaan?" Afifa mendelik. Dan Fauzi hanya tertawa melihat kekesalan istrinya.
Malam hari, Afifa baru saja menidurkan Thalita di kamarnya. Fikiran Afifa kembali pada ucapan dan sikap Nadia sore tadi. tak mau menduga-duga, diapun keluar menghampiri suaminya yang sedang minum teh hangat di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Dia pun duduk disampingnya. dan menyandarkan kepalanya ke lengan Fauzi. Fauzi segera mengangkat tangannya dan melingkarkannya di pundak Afifa, membuat Afifa bersandar didadanya. Afifa terdiam dengan nyaman disana, meskipun wajahnya tetap saja menampakan kegelisahan. Rupanya kegelisahannya itu dapat dirasakan Fauzi, dia pun bertanya.
"Ada apa, Dek?" tanya Fauzi sambil mencium pucuk kepala Afifa.
Afifa mengangkat kepalanya, dia memandang suaminya, dan berfikir, memang seharusnya dia jujur kepada suaminya agar tidak ada lagi sesuatu yang dirahasiakan diantara mereka berdua, "Nadia, Kak..." jawab Afifa.
"Kenapa dengan Nadia?"
"Tadi pagi dia mendapatkan pesan ajakan makan siang dari Farid, tapi pas pulang, wajahnya murung dan mendadak tidak mau bicara dengan Fifa. Lalu Fifa bertanya tentang perubahan sikapnya, dia malah bertanya kenapa Fifa tidak jujur padanya tentang Farid."
"Farid? Nadia di ajak makan siang sama Farid? lalu pulangnya?"
"Iya Kak..., Fifa khawatir kalau Farid menolak Nadia dan Fifa lah yang menjadi penyebabnya."
"Lo? memangnya Farid masih saja berharap padamu gitu?" Fauzi meninggikan suaranya dan langsung menarik tangannya dari pundak Afifa, dan duduk dengan tegak.
"Kak Aji jangan marah dulu..." rengek Afifa, "Fifa juga belum sempat bertanya lebih jauh lagi sama Nadia, tadi keburu Mama ngajak pulang."
"Ah..., aku gak habis fikir aja, kenapa dia melakukan itu," Fauzi nampak kesal.
"Kaaaak... Fifa juga belum tau, apa yang sudah di katakan Farid pada Nadia. Kaaaak...." rengek Afifa lagi, dan kembali mengangkat lengan kekar suaminya dan melingkarkannya pada bahunya sendiri, lalu mendusel di ketiak suaminya, dan memeluk erat perutnya.
Fauzi tersenyum melihat tingkah istrinya, "Hmmm...takut juga ya kalau aku marah?" gumamnya, lalu membiarkan Afifa melakukan apa yang diinginkannya. meski hatinya senang, tetap saja ketakutan akan kembali kehilangan itu datang, dia juga merasa khawatir dengan kondisi keponakannya. Fauzi terus memikirkan ucapan istrinya tentang Farid. dia segera mengambil ponsel disampingnya dan mengirimkan pesan kepada nomor Farid, bahwa dia akan menemuinya besok.
***********
Bersambung...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum... Readers tercinta...
Apakah Farid memang belum bisa move on dari Afifa????...🤔
tunggu part berikutnya ya 😉
Terimakasih masih tetap setia dengan cerita SCA 2. saya tetap akan terus berusaha untuk Up setiap hari untuk kalian. 😊
jadi terus dukung dan beri Author motivasi untuk menulis dengan tetap memberikan like, vote dan komentarnya. dan tentunya tetap menjadi pembaca setia... 🤗
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul.