
HAPPY READING...⚘⚘⚘
"Bunda...!" Tiba-tiba Thalita datang setengah berlari menghampiri Afifa.
"Hei Sayang...! Kemari, Nak!" Afifa merentangkan tangan kanannya, lalu memeluk Thalita dengan sebelah tangan.
"Assalamualaikum, Bunda! Assalamualaikum, Adek!" Sapa Thalita.
"Waalaikum salam, Kak Lita!" Afifa tersenyum, "Ayo salam dulu sama Ayah, Kak Nadia dan Kak Farid!" Ucap Afifa.
Thalita mengangguk lalu menyalami dan memeluk Ayahnya juga yang lainnya. "Mulai sekarang Kak Lita ada temennya, namanya Dedek Fauzan, seneng gak?" tanya Fauzi setelah melepaskan pelukan putrinya.
"Seneng dong Ayah, nanti Thalita boleh gendong ya?"
"Tentu saja, Sayang!" jawab Fauzi.
"Assalamualaikum," Sapa dua orang suami istri yang datang bersama Thalita yang tak lain adalah Wulan dan Faqih.
"Waalaikum salam," Jawab semua orang.
Wulan dan Faqih tersenyum lalu berjalan menghampiri Afifa. Keduanya mengucapkan selamat kepada Fauzi dan Afifa. Mereka juga memberitahukan kebahagiaan mereka, kalau saat ini Wulan sedang mengandung dengan usia kandungan 10 minggu.
"MasyaAlloh, selamat juga untukmu ,Tam! Luar biasa, tokcer kamu," Canda Fauzi sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Terimakasih, Zi!" Faqih dan Fauzi saling berpelukan mengungkapkan rasa bahagia mereka.
Suasana ruangan itu semakin ramai dan penuh kebahagiaan, setelah perbincangan hangat berlangsung hampir satu jam, akhirnya mereka pun satu persatu pulang meninggalkan Afifa dan Fauzi agar Afifa maupun sang bayi bisa beristirahat.
Pukul 2 siang, Afifa sudah di perbolehkan pulang, Fauzi segera menelephon Mang Ujang agar segera menjemputnya. Selang 30 menit Mang Ujang dan Bi Yati pun datang. Fauzi segera mengurus administrasi kepulangan istriya. Setelah semuanya selesai barulah mereka pulang.
Waktu sudah menunjukan pukul 3.30 sore saat mereka sampai di rumah, Suasana rumah sudah rapi, Bi Yati melakukan semua yang di intruksikan Afifa. Begitu sampai di rumah, Bayi yang di gendong Bi Yati segera ditidurkan di atas kasur yang sudah tergelar di ruang keluarga.
Fauzi membimbing Afifa agar berbaring di samping bayi mereka. Lantas dia masuk kamar untuk melaksanakan Sholat Ashar, lalu menyiapkan air hangat untuk mandi Afifa.
Sebagai seorang muslimah, Afifa segera melakukan mandi wiladah dengan air hangat yang disiapkan Suaminya.
Dengan sangat hati-hati Fauzi membimbing tubuh lemah Afifa yang masih merasakan sakit sisa proses melahirkan pagi tadi menuju kamar mandi yang berada di kamarnya, lalu mendudukan Afifa di kursi plastik di samping bak mandi.
Fauzi membantu Afifa melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya. lantas menaikan kain sarung yang di pakai istrinya sampai setengah dada.
"Biar Fifa aja, Kak! Fifa bisa kok," Ucap Afifa sambil memegang tangan Fauzi yang sudah memegang gayung
"Tak apa, kamu kan masih lemah dan sakit," jawab Fauzi.
"Tapi, Kak!"
"Sssssst..., biar kali ini aku melakulannya ya!" Fauzi tersenyum sambil membuka ikatan rambut Afifa hingga rambutnya tergerai di atas bahu putih Afifa.
Afifa menatap lekat mata suami di hadapannya, bibirnya tersenyum, lalu meraih tangan suaminya seraya menciumnya. "Terimakasih, Kak!" ucap Afifa.
Fauzi mengangguk, lalu mengucapkan bismillah sambil menyiramkan satu gayung air hangat ke telapak tangan Afifa, Afifa segera berwudlu.
Selesai Wudlu, Fauzi mulai menyiramkan air ke tubuh Afifa dengan perlahan. Afifa segera membaca niat mandi Wiladah.
"Nawaitu Ghusla Lirof'i Hadashil Wilaadati Lilaahi Ta'alaa," Ucap Afifa, dia membiarkan Fauzi melakukan semuanya, mulai dari menggosok punggungnya, menyabuni seluruh tubuhnya sampai membungkus kembali tubuh Afifa dengan handuk bersih dan menggulung rambut basah Afifa dengan handuk yang lain.
"Selesai," Ucap Fauzi sambil tersenyum, "Ayo keluar!" ajaknya sambil memapah kembali tubuh Afifa yang sudah tampak segar ke dalam kamar dan mendudukannya di kursi rias Afifa.
Fauzi segera mengambil pakaian bersih Afifa dari dalam lemari, sesekali dia memperlihatkan pakaian itu ke arah Afifa untuk mendapat persetujuannya, Afifa hanya mengangguk dan tersenyum menyetujui semua pakaian yang di ambil suaminya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan pakaian yang tepat dia pun memakaikannya ke tubuh Afifa.
"MasyaAlloh, Walhamdulillah, Fifa beruntung sekali," Ucap Afifa, bibirnya tersenyum.
"Kenapa?" tanya Fauzi sambil mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Afifa yang basah.
"Mendapat Suami seperti Kak Aji yang sangat memperhatikan setiap detil kebutuhan istrinya."
Fauzi menghentikan gerakan tangannya, dia terdiam, lalu membungkuk menatap wajah Afifa. "Sayang..., Aku jauh lebih beruntung, karena Alloh memberikan Istri sepertimu kepadaku yang penuh dengan kekurangan ini," Fauzi meletakan sisir yang di pegangnya ke atas meja rias, lalu menangkupkan telapak tangannya ke pipi Afifa. Wajahnya mendekat, lantas mengecup lama kening Afifa.
Tak terasa air mata Afifa meleleh, terharu dengan semua perlakuan suaminya saat ini. "Terimakasih, Kak!" ucap Afifa setelah Fauzi melepaskan kecupannya. Fauzi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Afifa dengan jarinya, lalu keduanya tersenyum, batinnya bersyukur atas semua nikmat yang mereka rasakan saat ini.
Setelah selesai mengurus Afifa sampai memakai pakaiannya, Fauzi kembali memapah Afifa ke ruang keluarga dan membaringkannya di samping buah hatinya.
Tak lama kedua orang tua mereka datang, bersama Rizqi dan Nisa, di susul dengan Farid dan Nadia, lalu Wulan, Faqih juga Thalita. Begitu pun dengan para tetangga, mereka ikut berbahagia dengan kelahiran anggota baru di tengah keluarga kecil Fauzi dan Afifa.
Beberapa kado mereka berikan sebagai ucapan selamat kepada Afifa. mulai dari pakaian bayi, selimut, gendongan sampai alat makan.
Selang beberapa menit, tiba-tiba saja satu rombongan mobil datang membawa penumpang yang begitu banyak. Mereka bergerombol turun dari mobil dan masuk ke pintu gerbang rumah Afifa yang terbuka. Masing-masing dari mereka membawa bingkisan di tangannya.
Mang Ujang yang sedang berada di teras rumah Fauzi dan melihat kedatangan mereka, setengah berlari menuju gerbang. "Eh eh..., tunggu! tunggu! ada apa ini? kalian siapa? kenapa ramai-ramai datang kemari?" Mang ujang membentangkan tangannya untuk menahan mereka masuk.
"Assalamualaikum, Mang Ujang!" ucap mereka serempak.
"Wa...waalaikum salam, Ka...kalian siapa?" tanyanya lagi dengan sedikit gugup dan kaget karena jumlah mereka begitu banyak dan bisa tau namanya pula, padahal Mang Ujang tidak mengenal satu pun di antara mereka.
"Kami mau bertemu Afifa dan Fauzi untuk mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati mereka." ucap salah seorang dari mereka.
"Tapi kalian ini siapa?" tanya Mang Ujang masih bingung.
"Ya ampun Mang Ujang masa tidak tahu siapa kami?"
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya salah satu diantara mereka angkat bicara, "Kami ini Readersnya Bunda Rahma, Mang Ujaaaaang! Ayo persilahkan kami masuk!"
"Bunda Rahma?" tanya Mang Ujang lagi masih dengan kebingungannya.
"Iya! tanya aja sama Afifa dan Fauzi, pasti mereka tau."
"Oke! Se...Sebentar! tunggu dulu disini, saya minta izin dulu," Mang ujang mengangkat kedua tangannya, lantas berbalik dan berlari menuju pintu rumah setelah mendapat anggukan dari mereka.
"Nak Fauzi...! Neng Fifa...! itu di depan banyak orang, mereka ingin bertemu kalian untuk mengucapkan selamat atas kelahiran putra kalian katanya." Jelas Mang ujang dengan nafas tersengal-sengal.
"Siapa mereka, Mang?" tanya Fauzi.
"Saya juga tidak tahu, Nak Aji! Tapi Mereka bilang, mereka semua adalah Readersnya Bunda...Bunda... siapa ya?" Mang Ujang nampak berfikir sebentar.
"Bunda Rahma..." Ucap Afifa dan Fauzi bersamaan.
"Nah...! Iya, Bunda Rahma," Mang Ujang mengacungkan jempolnya.
"Owalaaaah... Suruh mereka masuk, Mang!" Ucap Fauzi, "Mereka kan keluarga kita," Fauzi menatap Afifa sambil tersenyum.
Afifa membalas senyuman Fauzi sambil mengangguk.
"Tapi mereka banyak sekali, Nak Aji!" ucap Mang Ujang.
"Tak apa, atur aja biar masuknya gantian, nanti kita foto bareng." jawab Fauzi. "Iya kan Sayang?" Fauzi kembali menoleh kepada Afifa. Afifa pun tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu, Mamang akan atur mereka." Mang ujang kembali berlari menuju pintu gerbang menghampiri kerumunan orang-orang. Kedatangan Mang Ujang disambut riuh dengan senyuman yang terus mengembang dari bibir mereka.
__ADS_1
Mang Ujang membuat kesepakatan dengan mereka agar masuk secara bergantian supaya tidak mengganggu bayi Afifa yang sedang tidur. Kesepakatan pun terjadi, mereka masuk satu-persatu untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiah.
Suasana rumah Afifa begitu ramai, diantara mereka ada yang mengucapkan selamat, berfoto bahkan banyak pula yang memberikan nasihat berdasarkan pengalaman serta pengetahuan mereka dalam mengurus dan mendidik anak.
Afifa dan Fauzi merasakan kebahagiaan yang luar biasa, mereka bercengkrama saling menyapa hingga tak terasa waktu Maghrib pun tiba, Akhirnya para tamu satu persatu berangsur pulang, hingga hanya menyisakan Afifa, Fauzi, Bi Yati dan Umi yang sengaja menginap di rumah Afifa.
Selesai melaksanakan sholat Isya, Fauzi menghampiri Afifa yang sedang memangku putranya sambil memberikan Asi. Bibirnya nampak tersenyum merasakan moment kedekatan dirinya dengan buah hatinya yang hanya seorang ibu yang bisa merasakannya. Sungguh! moment seperti inilah yang tak kan pernah dilupakan oleh seorang ibu manapun.
"Gimana? sudah keluar air susunya, Dek?" tanya Fauzi sambil mendudukan dirinya disamping Afifa, matanya tertuju pada wajah buah hatinya yang sedang menghisap air susu Afifa dengan kuat.
"Alhamdulillah, sudah, Kak! meskipun belum banyak," jawab Afifa sambil tersenyum menatap sekilas ke arah Fauzi.
"Tidak apa, Teh! kalau terus rajin memberikannya, nanti juga keluar banyak," Ucap Umi yang baru saja datang dari kamar setelah melaksanakan kewajiban Sholat Maghrib.
"Iya, Mi!" Jawab Afifa.
Tiba-tiba Fauzi teringat dengan Apa Kiyai, dia belum memberi tahu kabar bahagia ini kepada Beliau. Dia pun mengambil ponsel dan segera melakulan panggilan kepadanya.
Fauzi nampak manggut-manggut mendapatkan nasihat panjang lebar dari Gurunya, Namun satu hal yang paling mengena di hati Fauzi, yakni saat Apa Kiyai mengucapkan satu kalimat nasihat yang di kutip dari ucapan Sayyidina Ali R.A, yang terus terngiang dalam benaknya.
..."Didiklah anak-anakmu! Sesungguhnya mereka di persiapkan untuk hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu!"...
Selama hampir 20 menit Fauzi melakukan komunikasi lewat telephon dengan Gurunya, dia pun mengakhiri panggilannya. Cukup lama Fauzi terdiam, fikirannya tak bisa lepas dari kata-kata yang baru saja di ucapkan Apa Kiyai kepadanya.
Dirinya bertekad untuk membesarkan dan merawat amanah paling berharga yang dititipkan kepadanya. Kita tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan yang akan datang. Ada dua hal yang terbersit dalam fikiran Fauzi, rasa bahagia karena sudah diberikan kepercayaan kembali untuk merawat seorang anak, namun juga ada rasa was-was dan kekhawatiran dalam dirinya, seandainya dia tak mampu menjalankan amanah ini sesuai dengan harapan Sang Pemilik dari titipannya.
Seperti halnya saat ini, zaman sudah semakin modern, peralatan serba canggih, padahal di masa kecilnya dulu, tak pernah sedikitpun terfikir kalau manusia bisa melakuan banyak hal hanya dengan satu gerakan jarinya saja. Luar biasa! Zaman semakin canggih. Akankah dirinya hanya terdiam dan menjadi penonton menyaksikan orang-orang hebat dalam teknologi memainkan skenario hidup tanpa memikirkan kepentingan Agama?
Tidak! Sungguh! semua yang terjadi di dunia ini, tentunya sedikit banyak akan berpengaruh terhadap tatanan hidupnya, kekuatan imannya, dan kekuatan dari pondasi Agama itu sendiri. Maka sebagai seorang Muslim, dia bertekad untuk menanamkan Aqidah yang kuat terhadap Putranya sekaligus membekalinya dengan Ilmu Teknologi agar kelak dia mampu mengendalikan kehidupannya dengan cara Islami, serta dapat mengimbangi perkembanhan zaman yang terjadi.
⚘⚘⚘...THE END...⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum warohmatulloh wabarokaatuh...
Alhamdulillah Wasyukrulillah. Segala puji dan Syukur saya panjatkan kehadirat Alloh SWT. yang telah memberikan nikmat hidup, usia, rezeki, waktu, dan semua yang ada pada diri saya, sehingga saya dapat menyelesaikan karya pertama saya yang di bagi pada dua season ini. Juga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk meluangkan waktu di samping peran utama saya sebagai ibu rumah tangga juga seorang pengasuh di Lembaga Pendidikan.
Terimakasihku juga untuk Suami tercinta dan keluarga yang telah memberi dukungan penuh untuk saya, sehingga saya bisa terus menulis menuangkan apa yang ada dalam fikiran saya.
Dan tentunya Ribuan terimakasih yang mendalam untuk semua Readers yang telah meluangkan waktunya dan terus setia menunggu karya-karya saya yang receh dan jauh dari kata sempurna ini.
Mohon maaf sebelumnya, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui apalagi menasehati melalui karya saya ini. Karena disini saya bukanlah seorang Pe****nulis yang pandai merangkai kata-kata untuk mengungkapkan sebuah penomena. ataupun seorang M****otivator yang mampu menggerakan hati seseorang melalui kata-katanya.
Saya hanya seorang Guru PAUD yang senang bercerita, dan terbiasa bercerita di depan anak-anak. Namun hobi saya itu rupanya terhambat dengan pandemi yang terjadi akhir-akhir ini, dan akhirnya saya pun menuangkan semua yang ada dalam fikiran saya lewat sebuah tulisan.
Apa yang saya dapatkan hari ini, tentunya tidak lepas dari peran Readers yang membawa karya saya selama 7 bulan ini, mulai dari nol kecil sampai bisa seperti sekarang ini. Karna tanpa Readers, karya saya sama sekali tidak ada apa-apanya...😊
Mohon maaf juga untuk Readers yang masih meminta cerita ini tidak segera berakhir 🙏. Jangan Khawatir, karna karya saya selanjutnya yang berjudul CAHAYA CINTA NAURA yang sempat tertunda akan saya lanjutkan, dan fikiran saya akan saya fokuskan disana. Semoga kalian pun suka dengan karya-karya saya selanjutnya 😊.
AKU PUNYA BUANYYYAAAAK CINTA UNTUK KALIAN SEMUA...
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
I LOVE YOU READERS...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul.
__ADS_1