Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Janji...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Mobil yang dikemudikan Farid sudah melaju di jalanan Kota Bandung. Selama di perjalanan Nadia tak banyak bicara, pandangannya hanya lurus ke depan, melihat lalu lalang kendaraan yang terus bergerak memenuhi jalanan. Sesekali Farid mencuri pandang ke arah Nadia, terkadang juga Farid tersenyum sendiri mengingat perasaannya yang tengah berbunga-bunga kali ini.


"Nad!" panggil Farid.


Nadia menoleh, "Ya?" tanya Nadia singkat.


"Kamu masih marah ya?"


"Marah? marah untuk apa?" tanya Nadia lagi.


"Ya..., marah karena kesalahanku waktu itu," Ucap Farid sedikit ragu.


"Apa masih perlu di bahas?" tanya Nadia lagi, membuat Farid tak berani lagi bertanya. Keduanya kini membisu sampai mobil itu berhenti tepat di depan sebuah restoran.


Farid segera turun dari mobilnya, lalu berlari ke sisi lain, dan membukakan pintu mobil untuk Nadia.


"Ayo, Nad!" Ajak Farid setelah Nadia turun, sambil menutup pintu. Nadia mengangguk, sambil membetulkan posisi tas selempang yang di bawanya. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu resto. Seorang pelayan resto menghampiri dan mempersilahkan keduanya duduk di meja yang masih kosong.


Pelayan itu menyodorkan kertas menu ke hadapan keduanya. Setelah pesan makanan masing- masing, pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua yang duduk berhadapan dengan kaku.


Farid menarik nafas panjang seakan sedang mengatur kata-kata yang ingin dikeluarkannya. Sedangkan Nadia hanya terdiam sambil memutar-mutar ponsel ditangannya.


Tiba-tiba Farid mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kertas berwarna merah muda sudah berada di tangannya. Perlahan tangannya bergerak dan membuka lipatan demi lipatan kertas yang didalamnya terdapat tulisan tangan seseorang.


Nadia yang awalnya tak begitu peduli dengan apa yang di pegang Farid, tiba-tiba matanya terbelalak saat dapat melihat dengan jelas kertas yang ada di tangan Farid berisi tulisan tangannya sendiri.


"Kertas itu...?" Ucap Nadia pelan. Jantungnya berdetak lebih kencang saat mengenali kertas yang pernah diselipkan dirinya pada buku skripsinya Farid beberapa tahun yang lalu. "Mas...? itu...," kata-kata Nadia menggantung.


Farid tersenyum, "Iya, kertas ini masih ku simpan, dan..."


"Dan apa?" tanya Nadia penasaran, dan menampakan binar di kedua matanya.


Farid tertawa, "Kenapa? penasaran ya?" goda Farid.


Nadia yang menyadari perubahan sikapnya seketika terdiam, dan kembali pada wajah datarnya. "Enggak, biasa aja," jawab Nadia sambil mengalihkan pandangannya ke arah pelayan yang datang untuk mengantarkan pesanan mereka. "Terimakasih," ucap Nadia sopan ke arah pelayan.


Pelayan itu mengangguk dan kembali meninggalkan mereka berdua setelah menyajikan makanan di atas meja.


Keduanya mengambil sendok dan garpu masing-masing, lalu mulai menyantap makanan di hadapannya. Beberapa waktu berlalu tanpa suara, keduanya fokus pada makanan di hadapannya.


"Nad!" Farid kembali memulai pembicaraan di tengah makannya.


"Hmmm?" jawab Nadia yang masih mengunyah makanannya.


"Kamu tau, aku selalu membaca kembali surat ini, dan entah mengapa, aku ingin kembali menerima surat serupa darimu saat ini,"

__ADS_1


"Uhuk... uhuk...!" Nadia tiba-tiba tersedak.


Farid segera memberikan air minum ke arah Nadia, Nadia segera menyambarnya, sampai tak terasa tangan Nadia menggenggam tangan Farid di atas gelas yang di pegangnya. Nadia terdiam, begitupun dengan Farid, keduanya saling menatap beberapa saat, sampai Nadia sadar dengan apa yang di lakukannya, dia pun segara melepaskan tangannya, agar Farid dapat menyingkirkan tangannya dari gelas dihadapannya.


Farid tersenyum sambil memperhatikan reaksi Nadia, "Pelan-pelan," ucapnya kemudian.


Nadia segera mengangkat gelas ke dalam mulutnya dan meminumnya beberapa teguk, lalu berdehem untuk mengontrol kembali kerja jantungnya yang kini terasa semakin ingin melonjak.


Farid terus memperhatikan wajah Nadia yang mulai merona, namun masih berusaha bersikap biasa. "Nad! Apa kamu masih meragukan perasaanku saat ini?" tanya Farid lagi.


Nadia menoleh ke arah Farid, "Mmm...Maksudnya?" tanya Nadia kembali datar.


"Aku merindukan tingkahmu yang dulu saat mengejarku yang kini hilang setelah kesalah fahaman yang terjadi pada malam pertunangan kita waktu itu," ucap Farid.


"Jleb!" lagi-lagi Jantung Nadia tak bisa di kontrol, kini wajahnya benar-benar memerah karena ucapan Pria di hadapannya, sekuat apapun Nadia menyembunyikan perasaannya, nyatanya hal itu sudah tergambar dari raut wajahnya, dan dapat dilihat dengan jelas oleh Farid.


Farid tersenyum, "Jangan bersikap cuek terus padaku, kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur malam ini karena terus memikirkanmu," Farid mulai berani merayu Nadia.


Wajah Nadia semakin merona, mendapat rayuan bertubi-tubi dari Pria pujaan hatinya ini. Tapi dia tak bicara, dia hanya tertunduk. Tanpa terasa senyuman mulai terukir dari bibirnya, menampakan lesung pipi yang muncul dari sisi kiri dan kanannya, menambah kesan manis diwajahnya.


"Akhirnya, aku melihat senyum tulus di wajahmu," ucap Farid. "Teruslah tersenyum, senyummu manis, aku ingin terus melihatnya."


Nadia yang menyadari bibirnya tengah tersenyum, seketika menghentikan senyumannya, lalu kembali berdehem. "Kita belum halal, Mas!" ucapnya kemudian, kembali ke nada datar.


"Nah..., itulah sebenarnya yang ingin aku bicarakan saat ini, aku tidak mau terus menambah dosa, karena terus memikirkanmu setiap malam. Aku ingin segera menghalalkanmu," ucap Farid, semakin membuat Nadia salah tingkah.


"Apa kamu tidak keberatan kalau saat ini aku memintamu untuk menjadi pendamping hidupku?" tanya Farid lagi, matanya terus memperhatikan wajah Nadia yang tertunduk dihadapnya, kemudian tatapannya beralih ke tangan mulus Nadia yang semakin erat memegang sendok di tangannya. Farid ingin sekali menggenggam tangan itu untuk meyakinkan wanita dihadapannya tentang perasaan cinta yang tumbuh semakin kuat didalam hatinya kini. Tangan Farid sudah terangkat dan terulur ke arah tangan nadia, namun tangannya terhenti tepat saat Nadia menjawab pertanyaannya.


"Apa masih perlu, Aku menjawabnya?" tanya Nadia, "Bukankah Mas Ari tau persis bagaimana perasaanku yang tak pernah berubah sejak dulu?"


Farid tersenyum. "Jadi..., sekarang sudah tidak marah lagi ni ceritanya?" goda Farid.


"Memangnya siapa yang marah?" Mata Nadia mendelik.


Farid tersenyum, "Aku tau bagaimana perasaanmu, Nad! aku hanya takut rasa yang sudah tertanam di hatimu untukku itu hilang seiring dengan kesalah fahaman itu. Aku mohon, maafkan aku, Nad! Kembalilah ceria seperti dulu." Farid memelas.


"Bukannya Mas Ari suka dengan gadis kalem seperti Anti?"


"Kok gitu si?" tanya Farid sedikit menahan senyum karena melihat raut kecemburuan di wajah Nadia.


"Buktinya, pandangan Mas Ari langsung berubah saat melihat Nadia berpenampilan seperti Anti," Ucap Nadia.


Farid tetap tersenyum, "Keluarkanlah semua unek-unek yang ada dalam hatimu, Nad! aku akan setia mendengarkan semua yang kamu katakan, yang penting hatimu kembali lega dan ceria seperti dulu." Ucap Farid dengan tenang.


"Apaan si? unek-unek apa?" tanya Nadia yang juga menahan senyumnya.


"Denger ya, gadis imut bernama Muthiya Nadia Putri...," Ucap Farid lembut, "rasa cinta itu tumbuh bukan karena ada apanya pada diri seseorang, tapi tumbuh seiring berjalannya waktu, disertai rasa nyaman saat kita bersamanya, dan kini aku pun merasakan hal itu. Dan..., kamu harus tau, Aku mencintaimu apa adanya dirimu, bukan ada apa pada dirimu," Farid tersenyum ke arah Nadia yang sudah berani melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Jadi bersikaplah seperti dirimu apa adanya, tapi ..., tentu saja dengan tetap menjaga Akhlak dan auratmu, jangan pake celana jeans bolong-bolong seperti dulu lagi," Farid tertawa sambil menatap intens ke arah Nadia.


"Apaan si?" Nadia refleks memukul lengan Farid, "Jangan ingatkan aku tentang masa laluku yang bejat! aku malu, Mas!"


"Iya, Maaf, abisnya kamu cuek mulu sama Mas, bikin hati Mas klepek-klepek mikirin kamu," Ucap Farid lagi.


Nadia semakin tersipu dan tertunduk.


"Ah...! sepertinya Aku memang harus segera menghalalkanmu, Nad!" farid meneguk minuman dingin di sampingnya. "Bolehkah sekali saja aku mendengar jawaban darimu, kalau kau memang mau menjadi istriku?" tanya Farid.


Nadia mengangkat kepalanya, "Apa harus ya?"


"Tentu saja, terkadang rasa yang ada dalam hati kita itu perlu di ungkapkan, bukan hanya sekedar gombalan, tapi satu fitrah dalam diri manusia, rasa senang itu akan timbul saat orang yang kita cintai dan kita sayangi ternyata memiliki perasaan yang sama, sehingga setiap kata yang dia ucapkan akan terus terngiang ditelinga sampai tertanam di hati kita." Kepandaian Farid dalam merangkai kata pun mulai keluar, membuat Nadia tak bisa lagi menahan gejolak hatinya yang kini semakin berbunga-bunga. "Jadi...gimana? Mau kah kamu menjadi istriku, Muthya Nadia Putri?" tanya Farid lagi dengan menangkupkan kedua tangannya di dadanya.


Nadia tak mampu lagi berkata-kata, dia merasa terharu dengan semua kata-kata yang baru saja di ucapkan Farid kepadanya. Tak terasa, mata Nadia mulai berkaca-kaca, rasanya semua perjuangan panjang dirinya untuk mendapatkan hati pria dihadapannya sejak bertahun-tahun yang lalu, kini sudah terbayarkan dengan sikap manisnya saat ini. "I...Iya, tentu, tentu saja aku mau, Mas!" Ucap Nadia sambil menitikan air mata kebahagiaannya yang sudah tak terbendung lagi, "Aku mau menjadi istrimu, teman hidupmu bahkan bukan hanya didunia ini, tapi sampai di hari yang kekal nanti," Nadia tertunduk sambil mengusap air mata di pipinya.


"Terimakasih, Nad!" Ucap Farid sambil tersenyum, lalu berdiri hendak memeluk Nadia, "Eh...! belum boleh ya hehe...?" ucapnya cengengesan sambil menghentikan tangannya yang sudah terbuka, lantas mendudukan kembali tubuhnya di atas kursi.


Nadia hanya bengong melihat tingkah konyol dari pria di hadapannya.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nadia.


"Gak papa, Aku hampir saja khilaf hehe...," Farid kembali tersenyum. "O ya, Nad! Aku sudah bicara dengan Abi dan Umi di telephon. Mereka mendukung semua keputusanku, dan aku akan segera bicara dengan keluargamu, kalau aku akan menghalalkanmu pada tanggal 1 November nanti, tepat di hari ulang tahunmu."


"Ulang tahunku? dari mana Mas Ari tau kalau tanggal satu November itu hari ulang tahunku?" tanya Nadia.


"Tentu saja aku tau, memang cuman kamu aja yang bisa diam-diam cari tahu hari ulang tahunku? terus tiba-tiba memberi hadiah untukku? aku juga bisa dong." Farid membanggakan diri. "Dan..., aku akan memberi hadiah yang sangat spesial di hari ulang tahunmu," Ucap Farid dengan senyum yang semakin mengembang.


"Terimakasih, Mas!" ucap Nadia, "Sungguh rasanya aku tak percaya dengan semua ini, aku...aku tidak tau lagi harus berkata apa dan bagai mana aku harus bersyukur kepada Nya yang telah memberiku sekian banyak nikmat untukku saat ini."


"Kamu benar, Nad! tanpa campur tanganNya, mungkin rasa ini juga tidak akan tumbuh di hatiku saat ini, mari kita menjaga amanah ini dengan terus memupuknya dengan rasa saling percaya hingga akhir hayat kita."


Keduanya tersenyum, saling mengikat janji yang kini tulus datang dari hati keduanya yang paling dalam, bukan sekedar cincin yang melingkar sebagai ikatan, tapi juga hati keduanya yang kini sudah mantap menapaki hidup ke arah yang lebih serius untuk menjalani hari-hari bersama hingga masa tua bahkan di kehidupan kekalnya nanti.


*********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Benar kan Readers kalau rasa itu perlu di ungkapkan??? 😊 Apalagi kalau sudah halal 😉.


Tetap like, vote dan komen ya 😉


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2