
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Hari-hari terus berlalu, satu minggu sudah sejak pertemuan Farid dengan Nadia, sampai bertemu lagi dengan hari minggu pagi, namun Nadia masih juga tidak mengangkat telepon atau pun membalas pesan dari Afifa. Ini membuat Afifa khawatir, meskipun dia sudah tau apa yang telah diucapkan farid sebenarnya kepada Nadia. Bukan apa-apa, ini adalah tentang rasa bersalah Afifa karena ketidakjujuran dirinya kepada Nadia. Akhirnya Afifa mengirim pesan kembali.
"Nadia sayang...Anti mohon, maafkan Anti. Anti tau, kalau Anti salah karena tidak jujur sejak awal padamu. Anti tidak bermaksud membohongimu, Tadinya Anti hanya tidak mau kamu merasa canggung kepada Anti. Tapi asal kamu tahu, Anti sudah tidak punya perasaan apapun kepada Mas Arimu. Anti sudah punya Pamanmu yang sangat Anti cintai, dan Pamanmu sudah bicara dengan Mas Arimu, dia mengatakan, bahwa dia tidak bermaksud menyakitimu, dia hanya tidak ingin ada kebohongan di awal hubungan kalian, karena sebenarnya dia sudah mulai merasa nyaman dengan mu. Anti yakin rasa cinta itu akan terus tumbuh di dalam hatinya untukmu. Percayalah..." Pesan terkirim.
Cukup lama Afifa memperhatikan layar ponselnya sambil bersandar diatas tempat tidur bermalas-malasan masih dengan pakaian tidurnya sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Hari minggu ini Thalita tidak dirumahnya, karena Wulan akan mengajaknya menjemput Pak Herman dari RSJ.
"Ping...!" notif pesan masuk, Afifa segera membukanya. Nampaklah pesan berderet panjang dari Nadia untuknya.
"Iya Antiku sayang..., hehe..., maafken keponakanmu yang nakal ini, sebenernya Nadia cuma ngerjain Anti aja kok, dan...sebenernya juga, Nadia sudah jadian sama Mas Ari, meski lewat telepon kemarin.
please... Anti jangan marah ya..., hehe... I love you..😘😘😘✌✌✌"
Afifa terbelalak membaca pesan dari Nadia. dia geram dengan tindakan keterlaluan Nadia yang sudah membuatnya tidak bisa tidur selama seminggu ini, meski sebenarnya bukan hanya karena mikirin Nadia saja, tapi karena suaminya selalu mengganggunya setiap malam 😄😄😄✌.
Afifa langsung memanggil nomor Nadia, panggilan pertama tidak di angkat, Afifa kembali mencobanya, dan akhirnya suara keponakan nakalnya terdengar disana.
Assalamuaaikum Antiku yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung...
"Waalaikum salam, Nadiaaaaaaaa...!" teriak Afifa di telepon membuat Fauzi yang baru saja selesai mandi membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya keluar. "Ada apa sayang?" tanyanya kaget.
"Kak Ajiiii..., keponakanmu ini...!" rengek Afifa sambil memperlihatkan layar ponsel ke arah pintu kamar mandi.
"Iya sebentar...!" ucapnya, lalu kembali menutup pintu dan mengambil handuk untuk menutupi badan bagian bawahnya, dan melangkah keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada menampakan dada bidangnya yang masih tersisa percikan air, membuatnya nampak segar.
"Awasnya Nadia Nakaaaal...," ucap Afifa lagi di telepon.
__ADS_1
Piiiiis Anti jangan marah..., maaf, maaf hehe..., Nadia janji gak akan ulangi. jawab Nadia disebrang sana.
"Tapi bercandamu sudah keterlaluan Nadia, Uh...rasanya Anti pengen jewer kupingmu saat ini, berani-beraninya ya ngerjain orang yang lagi ngidam. mau Anti rujak aja kupingmu sama mangga-mangga muda Anti ini?" Ucap Afifa kesal.
Ih...sadis amat Antiku yang satu ini. iya deh bumiiiil, Nanti Nadia kesana bawain buah-buahan segar buat dirujak sebagai ganti kuping Nadia ya ha ha ha...Assalamualaikum.
"Trup...!" suara telepon di tutup dari sana. membuat Afifa semakin geram. "Waalaikum salam!" ucapnya manyun.
"Kenapa si, Dek?" tanya Fauzi sambil duduk disamping Afifa.
"Ini!" Afifa menunjukan pesan dari Nadia.
"Ih..., tuh kan, keponakan gesrek dia mah, lagi kumat dia, "Ucap Fauzi, diiringi dengan anggukan Afifa, "tapi Syukurlah, semuanya sudah baik-baik saja sekarang, semoga hubungan mereka terus berlanjut sampai pernikahan."
"Iya, Aamiin...," ucap Afifa.
Afifa memandangnya, "Kenapa suamiku tampan sekali pagi ini?" ucapnya tiba-tiba.
"hmmm? memangnya kemarin-kemarin aku tidak tampan?" tanya Fauzi.
"Hari ini lebih tampan," ucap Afifa sambil tersenyum.
"Ah sayaaaang... jangan menggodaku, ini sudah jam 8, aku harus kerja," ucap Fauzi sambil mengecup sekilas bibir Afifa yang sedang tersenyum.
"Ih siapa yang menggoda, aku cuma bilang suamiku tampan, emang gak boleh memuji suami sendiri?" tanya Afifa setelah Fauzi melepas kecupannya.
"Wah...bisa-bisa aku gak jadi berangkat ini," Fauzi menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ih...mau ngapain? minggir ah! Fifa mau mandi." ucap Afifa seenaknya sambil mendorong dada Fauzi yang sudah mendekat ke arahnya.
"Deuuuuh..., kebiasaan deh," keluh Fauzi.
"Ini bajunya Kak!" Afifa menunjukan pakaian Fauzi yang sudah dia siapkan di atas tempat tidur sejak tadi. Lalu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
Fauzi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang aneh akhir-akhir ini, tapi bibirnya tidak pernah lepas dari senyuman.
*********
Wulan sudah bersiap untuk menjemput Ayahnya bersama Thalita, mobil merahnya melesat membelah jalanan kota Bandung menunu RSJ. senyuman selalu tersunggung dari bibirnya, bukan hanya karena kebahagiaan akan kembali dengan membawa Ayah tercintanya, tapi ada satu hal lain yang membuatnya bersemangat untuk pergi kesana pagi ini. Ya... seseorang yang selama satu minggu ini selalu difikirkan ucapannya. Mengapa tidak mencobanya membuka hati untuknya? Fikirnya. Dia Pria yang baik, sopan dan berpenampilan menarik, dan yang pasti dia siap menetima apapun yang terjadi dengannya, termasuk putri semata wayangnya. Itu lah sebabnya Wulan mengajak Thalita kali ini.
Meski sebenarnya tetap saja hatinya dipenuhi ketakutan akan tidak diterimanya dirinya oleh keluarga besar Faqih nantinya.
*********
Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Part bonus, cuman sedikit 🤗✌
tapi like, vote dan komentarnya semoga tidak sedikit ya 😉
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By: Rahma Husnul
__ADS_1