Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Saat Ego Mengalahkan Rasa...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Hari kedua dirumah Umi...


"Teh..., gak bawa motor ya?" tanya Abi, Saat Afifa sudah berada didepan pintu rumahnya hendak berangkat ke sekolah.


"Mmm...Enggak, Bi! anu...motornya lagi dibengkel", ucap Afifa kembali berbohong, memang saat suatu pekerjaan yang diawali dengan kebohongan, maka akan terus ditutupi dengan kebohongan lainnya.


"O ya? Kok Fauzi gak nganter?" tanya Abi lagi.


"Kak Aji lagi banyak kerjaan Abi".


"Terus kemarin, Teteh kesini naik apa?"


"Angkot", jawab Afifa pendek, "Ya udah Abi, Fifa berangkat sekolah dulu ya, takut kesiangan, Assalamualaikum", Ucapnya, sambil menyalami Abi dan Uminya, lalu segera melangkah keluar dan menunggu angkot yang sudah telihat melaju ke arahnya dipinggir jalan, seolah tidak mau lebih banyak lagi pertanyaan yang mengarah terhadap dirinya.


Abi hanya menatapnya, memperhatikan raut wajah dan gerak-gerik putrinya, lalu dia menghela nafas panjang, tentu saja dia sangat mengenal putrinya, apa lagi Abi sudah tau sumber permasalahan dari rumah tangga putri dan menantunya itu.


Seperti biasa Afifa melakukan aktivitas mengajar di sekolah, kembali bercengkrama dengan anak didiknya, melupakan semua madalah pribadinya. Dan setelah anak-anak pulang, Afifa akan melakukan simulasi tes lagi di ruang guru sampai waktu Ashar tiba. Pulang sekolah Afifa kembali kerumah Umi dan tentu saja pertanyaan lagi-lagi terlontar dari Umi dan Abinya.


"Kok gak pulang teh? memangnya suamimu gak nyariin?" tanya Umi yang duduk diatas sofa diruang tengah sambil mengelus-elus bekas jahitan dikakinya.


"Enggak, Mi!, dia sudah tau kok kalau Fifa disini", jawab Afifa.


"Biasanya Suamimu gak bisa jauh dari kamu sebentar saja, tapi sekarang sudah dua hari dirumah Umi, kok kamu gak dijemput juga?"


"Iya, Mi! Kak Aji lagi banyak banget kerjaannya, jadi gak sempet jemput kemari". Ucapnya kembali berbohong.


Abi yang kebetulan sudah berada dirumah masih terus memperhatikan putrinya. "Teh..., simpan dulu tas kamu, kita bicara disini", ucap Abi yang baru saja pulang dari mushola lengkap dengan sarung dan kopiahnya.


Afifa yang sudah merasa ada kecurigaan di mata Abinya, sejenak terdiam, lalu menatap mata teduh Abi yang juga sedang menatapnya, dia tahu betul bahwa dirinya tidak akan bisa berbohong kepada orang yang sangat dihormatinya itu. Afifa mengangguk lalu melangkah menuju kamar Nisa untuk menyimpan tas gendongnya, tak lama diapun kembali menghampiri Abi dan Uminya. Perlahan dia duduk sambil tertunduk disamping Umi dan dihadapan Abi.


"Mau kah Teteh cerita semuanya sama Abi dan Umi?" tanya Abi begitu hati-hati dengan ucapannya.


Afifa terdiam sambil tertunduk, jari tangannya meremas-remas diatas pangkuannya.


"Teh..., jika masalahmu masih bisa kalian atasi berdua, maka selesaikanlah terlebih dahulu dirumahmu, jangan membawanya keluar atau pun menghindar, tapi...jika memang hal itu sudah tidak bisa lagi kalian atasi, maka orang tualah yang punya peran disana untuk menyatukan kalian kembali, sampingkan lah ego kalian masing-masing, bicara baik-baik dengan kepala dingin dan jangan mengikuti emosi belaka", Nasihat Abi.


Afifa masih terdiam, dan menundukan kepalanya yang sudah terlanjur mengeluarkan air mata, dia segera mengusapnya dengan kerudung yang terjuntai didadanya.


"Teh..., Umi kan sudah bilang, seandainya kamu sudah tidak kuat mempertahankan rumah tanggamu, Umi dan Abi akan selalu ada untukmu", Umi memeluk Afifa dari samping.


Afifa mengangkat kepalanya, mata basahnya menatap wajah lembut Umi, lalu dia menyenderkan kepalanya ke bahu Umi. "Umi...bolehkan Afifa beristirahat dulu disini untuk menenangkan diri? setidaknya sampai Afifa selesai tes CPNS 5 hari lagi"

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Teh! Umi dan Abi ini kan orang tuamu, tapi kamu harus ingat, kamu itu sudah berkeluarga, dan ada orang yang lebih berhak atas dirimu, yaitu Suamimu sendiri, Umi akan dengan senang hati menerimamu disini, tapi dengan catatan, kamu harus meminta izin dulu pada Suamimu", ucap Umi.


"Fifa hanya ingin beristirahat saja disini Umi", jawab Afifa masih bersender di bahu Umi nya, "Lagi pula, dari sini kan lebih dekat ke sokolah".


"Umi mengerti Sayang, tapi tetap saja kamu harus ada izin dari Suamimu".


"Kak Aji pasti ngizinin kok Umi". rengek Afifa.


"Kan tinggal telphon aja, Teh! kok susah amat"


"Tapi Umi yang mintain izin ya", ucapnya lagi.


"Lo...? Kok Umi?" tanya Umi heran.


"Sudah! ambil ponselnya, Teh! biar Abi yang bicara sama Fauzi", ucap Abi menghentikan perdebatan antara ibu dan anak dihadapannya.


Afifa menegakkan duduknya, lalu menatap ke arah Abi, diapun berdiri setelah mendapat anggukan dari Abi untuk mengambil ponsel di dalam tasnya yang berada di kamar Nisa. Tak lama dia kembali dengan membawa ponsel. "Ini, Bi!" Afifa menyerahkan ponsel ke arah Abi setelah sebelumnya mendial nomor Suaminya. Namun tak ada jawaban di sebrang sana, Abi kembali mencobanya, namun hasilnya tetap sama.


"Tuh...sibuk kan, Bi!" ucap Afifa seolah ada kekuatan untuk mengelak.


"Sebentar!" Ucap Abi, lalu berjalan ke meja Televisi dan mengambil ponsel Umi yang masih terpasang kabel charger. Abi mendial nomor menantunya sambil berjalan menuju sofa kembali, tak lama panggilannya langsung tersambung.


"Assalamualaikum Zi!"


.....


.....


"Iya, Abi mengerti. Tapi, kalian tetap harus bicara".


.....


"Baiklah, setidaknya sampai tesnya selesai, Abi tunggu disini ya, Assalamualaikum"


.....


Abi menutup panggilannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah Afifa, menatapnya sesaat, lalu sedikit menggelengkan kepalanya. "Dia mengizinkanmu tinggal disini sampai tes kamu selesai", ucap Abi.


Afifa menghela nafas panjang, sejujurnya, hati kecilnya tidak ingin mendengar ucapan itu. Sebagai seorang istri, tentu saja berada dekat bersama suaminya dan mendapat dukungan dari suaminya itu adalah satu kekuatan yang tak terhingga bagi dirinya. Namun Afifa kembali berfikir jernih, mungkin ini adalah jalan terbaik untuknya, dia akan bisa lebih fokus pada testingnya nanti.


***************


Hari-hari terus berlalu, Fauzi lebih banyak mengisi waktunya dengan bekerja, bekerja dan terus bekerja, hanya malam hari saja dia berada dirumah, itupun sekitar jam 10 baru dia pulang ke rumah, entah apa dan kemana dia pergi setiap malamnya, padahal pagi-pagi sekali dia akan kembali ke tokonya.

__ADS_1


Begitu pun dengan Afifa, dia menyibukan dirinya pada belajar dan terus belajar dengan beberapa simulasi soal yang terus ia cari dari berbagai sumber.


Pada hari ke 5 dirumah Umi, hari sabtu pagi sebelum Afifa berangkat ke sekolah, dia sudah bersiap dengan memakai gamis dan kerudung warna coklat, karena memang setiap hari sabtu, semua guru dibebaskan dari pakaian dinas, dia pun memilih mengenakan gamis saja. Saat Afifa hendak melangkah keluar rumah, Afifa mendapat telphon dari nomor Wulan. Ragu-ragu Afifa mengangkatnya, ternyata Thalita yang bicara, dia bilang... sore ini ingin pulang kerumah Ayahnya, Afifa bingung harus menjawab apa, akhirnya dia mengiyakannya, dan mengatakan kalau Ayahnya lah yang akan menjemputnya disekolah, karena dirinya sedang menemani Umi yang sedang sakit.


Afifa tertegun sejenak, bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Siapa yang akan menjemput Thalita? Apa aku harus telphon Kak Aji? Ah, kemarin saja dia tidak mengangkat telphonku, bahkan mungkin sekarang dia sudah lupa denganku. Apa aku bawa saja Thalita ke rumah Umi?" tanya Afifa pada dirinya sendiri.


"Tapi... dia kan ingin bersama Ayahnya, bukan bersamaku, terus bagaimana kalau Thalita berada dirumah? siapa yang akan mengurusnya? apa Kak Aji bisa mengurus Thalita sendiri? dia juga kan harus kerja? lalu Thalita sama siapa hari minggu besok dirumah?, bagaimana dengan makanannya? keperluannya? Ah... kasian anak itu" Berbagai pertanyaan terus terngiang dalam fikirannya. Setelah beberapa kali memutar otaknya, Akhirnya Afifa mengirim pesan kepada Fauzi untuk menjemput Thalita disekolahnya setelah dzuhur nanti. Pesan terkirim, namun pesan itu hanya ceklis saja, sepertinya tidak juga dibacanya. Afifa membiarkannya, lalu diapun berangkat menuju sekolah, seperti biasa menggunakan angkot yang kini sudah menjadi langganannya dalam 5 hari ini.


Dalam perjalanan Afifa mendapat pesan dari Nadia, bahwa hari minggu besok dia ingin meminta ditemani untuk membeli sesuatu sebagai hadiah ulang tahun seseorang yang sangat spesial untuk dirinya, Afifa mengulum senyum, mengira-ngira siapa orang yang sangat spesial untuk Nadia? karena rengekan Nadia akhirnya Afifa setuju untuk bertemu di sebuah toko souvenir yang terletak dipusat perbelanjaan di kota Bandung.


Sampai disekolah, Afifa melalukan aktifitas seperti biasanya, entah mengapa, dia terus saja kefikiran dengan Thalita, karena sampai saat ini Fauzi belum juga membaca pesan darinya. Takut jika Thalita tidak ada yang menjemput, akhirnya Afifa memutuskan untuk menjemput anak itu ke sekolahnya.


Tepat pukul 12:30 siang, Afifa tiba di sekolah Thalita, pintu gerbang sudah terbuka, dan beberapa anak berhamburan keluar dari gerbang. Kepala Afifa celingukan mencari sosok Thalita, sampai terdengar suara seorang anak memanggilnya.


"Bunda...!" teriaknya dengan senyum yang mengembang, setengah berlari menghampirinya, kemudian menghambur ke pelukannya.


"Hai, Sayang..., Assalamualaikum", ucap Afifa setelah melepas pelukan anak itu.


"Waalaikum salam, Bunda..., Thalita kangen...", Ucapnya lagi.


"Bunda juga kangen sayang", ucapnya sambil menuntun Thalita ke warung kecil disebrang gerbang sekolah.


Sebuah mobil hitam berhenti disisi lain gerbang sekolah Thalita, cukup lama mobil itu berhenti, tapi pemiliknya tidak juga keluar, dia masih duduk didalam mobil sambil memperhatikan seorang Wanita yang sedang berpelukan dengan putrinya yang kemudian menuntun anak itu menuju warung untuk membeli minuman. Jantungnya cukup berdebar saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu kini sedang berada dihadapannya. Fauzi membuka kancing tangan kemejanya, lalu menggulungnya setengah lengan, mencoba menata jantung dan hatinya agar terlihat wajar dihadapan Afifa.


Dia turun dari mobil, dan perlahan menghampiri Afifa dan Thalita yang sedang asyik mengobrol. "Assalamualaikum", ucap suara basnya yang sanggup menghentikan gerakan Afifa yang sedang minum dan hampir tersedak.


"Uhuk...uhuk...Wa...Waalaikum salam", jawab Afifa sambil menatap ke sumber suara, sejurus kedua iris mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat, lalu keduanya saling mengalihkan pandangan masing-masing ke arah lain, sebelum degupan jantung dari dalam dada keduanya semakin berdegup kencang tak terkendali, karena tak bisa dipungkiri, tentu saja masih ada cinta dalam tatapannya masing-masing.


Sungguh...rasa ini tidaklah salah, rasa yang telah tersiram dan terpupuk selama dua tahun lebih bersama pasangan halalnya, tapi mengapa kini keduanya ingin membuang rasa itu? hanya karena ego masing-masing dengan embel-embel ingin melihat orang yang dicintainya hidup bahagia. Ah...Bullshit! justru semua ini hanya akan menyakiti hati keduanya. Seandainya saja salah satu dari mereka ada yang mau memulai bicara dari hati ke hati, tentu saja hal ini tidak akan terjadi, namun lagi-lagi ego yang mengalahkan rasa itu, rasa cinta yang seharusnya semakin bersemi diusia pernikahannya yang baru seumur jagung ini.


******************************


Bersambung...❤❤❤😢😢😢


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hmmm...


Bingung mau ngomong apa sama kalian...😯


Tetap Like, vote dan komentar...😉


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul.


__ADS_2