
HAPPY READING...⚘⚘⚘
"Bunda Fifa...!", panggil seorang anak yang berlari bersama seorang gadis dari pintu restoran menghampirinya.
Afifa menoleh, "Hai sayang...Assalamualaikum!", ucapnya, berbalik ke arah anak itu.
Talita menghambur ke pelukan Afifa, "Waalaikum salam, Bunda kok ada disini? sama Paman juga?", tanyanya sambil menoleh kearah Fauzi.
Afifa tersenyum dan melonggarkan pelukannya, "Iya sayang, Bunda sama Ayah sengaja ingin bertemu Talita", ucapnya, pandangannya beralih ke arah suaminya yang sedang menatap haru anak itu.
Wulan terdiam mendengar ucapan Afifa, tatapannya berubah saat melihat keakraban putrinya dengan Afifa, bahkan putrinya tak meliriknya sedikitpun.
"Ayah?", tanya Talita tak mengerti dengan ucapan Afifa, anak itu memandang Afifa dan Fauzi bergantian.
Fauzi mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca melihat anak yang ada dihadapannya, yang ternyata putri kandungnya sendiri.
"Iya sayang...mulai sekarang...Talita panggil Paman Ayah ya", Afifa mengelus pipi imut Talita.
"O iya...Talita ngerti, Paman kan suaminya Bunda, jadi Talita manggil Ayah juga sama Paman, iya kan Bunda?", jawab bibir polos Talita.
Ketiganya terdiam mendengar ucapan polos anak kecil itu.
Afifa kembali mengulas senyum setelah sempat terdiam sesaat karena ucapan Talita. "Hmmmm...ya sudah Nanti Bunda ceritakan semuanya ya", Afifa mencium kening Talita, "O ya, Talita peluk ayah juga dong", ucapnya sambil menatap mata suaminya yang sudah mulai berkaca-kaca memperhatikan keakraban mereka.
Talita membalikan badannya, dia terdiam menatap Fauzi yang sudah mengulurkan kedua tangannya.
"Sini Nak...", ucap Fauzi, bibirnya tersenyum ke arah anak itu.
Talita masih terdiam, lalu menoleh kembali ke arah Afifa, Afifa mengangguk dengan mengulas senyum, ragu-ragu Talita mendekat ke arah Fauzi.
Fauzi yang sudah tak tahan lagi menahan airmata bahagianya, segera meraih tubuh mungil Talita dan mendekapnya erat dipangkuannya, airmatanya menetes dibalik punggung anak itu. Afifa yang menyaksikan moment mengharukan itupun ikut meneteskan air mata. Sedangkan Wulan hanya terdiam menatap ketiganya.
Fauzi melonggarkan pelukannya, lalu mencium kening Talita. Anak yang belum tau apa-apa itu hanya memandang Fauzi dan Afifa bergantian dengan tatapan heran, usianya yang masih 8 tahun belum bisa mengerti semua yang terjadi, termasuk arti dari air mata yang keluar dari keduanya.
"Talita sudah makan?", tanya Afifa, Talita menggeleng, "Ya sudah, makan dulu ya", mendongakan kepala mencari pramusaji hendak memesan makanan, "O ya Rin...duduk sini! kok berdiri saja", ucap Afifa lagi saat melihat gadis yang mengantar Talita hanya berdiri di belakang Fauzi.
"Eh iya Rin...duduk sini!", Wulan menepuk tempat kosong disampingnya.
__ADS_1
"Iya Bu", jawab gadis itu, lalu dia berjalan melewati Fauzi dan Afifa, "Permisi...", ucapnya. Lalu duduk disamping Wulan.
Wulan segera memanggil pramusaji, memesan makanan untuk putrinya dan pegawainya.
"Bunda..., tadi aku lihat banyak ikan dikolam itu, bagus banget, warna-warni dan besar-besar, sama seperti ikan-ikan yang ada dirumah Bunda", Celoteh Talita kepada Afifa.
"O ya? dimana?", tanya Afifa.
"Disana..., ayo kita lihat!", Ajak Talita langsung berdiri dan menarik tangan Afifa.
"Iya Sayang, sebentar...", Afifa menoleh ke arah Fauzi dan Wulan, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya karena tangannya sudah di tarik Talita menuju kolam ikan yang berada tepat dipinggir restoran.
Fauzi tersenyum, lain halnya dengan Wulan, dia merasa terabaikan karena ternyata putrinya lebih dekat dengan Afifa.
"Kamu lihat kan Zi..., cepat sekali Afifa menarik hati putriku, aku takut kehilangan dia", ucap Wulan dengan tatapan kosong ke arah perginya Afifa dan putrinya.
"Picik sekali fikiranmu, Talita dekat dengan istriku itu karena dia merasa nyaman, dia selalu mencintai anak-anak, dia menyayangi Talita jauh sebelum dia tau kalau Talita itu putriku", Fauzi menarik nafas sejenak. "dan asal kamu tau, Afifa bukan wanita serakah seperti yang ada dalam fikiranmu".
"Ah...maafkan aku Zi..., entah mengapa, hatiku begitu resah memikirkan semuanya", Wulan mengalihkan pandangan ke arah pesawahan hijau disampingnya.
"Jangan Su'udzon pada orang lain!, ku kira kehawatiranmu tentang Talita dan Afifa sama sekali tidak beralasan".
Fauzi hanya menolehnya sekilas, lalu menarik nafas dalam.
Sore itu Fauzi mengajak Talita ikut bersamanya, kebetulan besok adalah hari minggu, sekolahnya libur dan Wulan tidak punya alasan untuk menahannya.
*******
Hari-hari berlalu dengan cepat, kini kehidupan Fauzi dan Afifa semakin berwarna, kesedihan karena kehilangan putra mereka beberapa bulan yang lalu seolah terobati dengan kehadiran Talita. Afifa ataupun Fauzi selalu menjemput Talita setiap hari Sabtu siang disekolah, dan akan kembali hari senin siang sepulang sekolah ke rumah Wulan.
Sebenarnya Fauzi dan Afifa akan sangat senang kalau Talita bisa lebih lama tinggal bersama mereka, tapi mereka tidak mau Ayahnya Wulan curiga dengan sering tidak adanya Talita dirumahnya.
Suatu hari saat Afifa menjemput Talita disekolah, Afifa tidak melihat Talita ditempat biasa menunggunya, diapun segera menelphon Wulan barangkali dia sudah menjemputnya, tapi ternyata Wulanpun tidak menjemputnya karena hari ini adalah jadwal Talita pergi ke rumah Afifa.
Afifa bertanya kepada satpam, diapun belum melihat anak itu, lalu Afifa meminta izin untuk mencarinya di dalam sekolah. Mata Afifa berputar menyusuri setiap tempat dan beberapa anak yang lalu lalang disekitar sekolah, sampai matanya tertuju pada sosok yang dicarinya. Talita sedang berada dibawah pohon besar dikelilingi 3 anak lainnya. Afifa segera berjalan menghampiri anak-anak yang sedang asyik mengobrol itu, Afifa menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan polos mereka.
"Aku punya Ayah...", ucap Talita.
__ADS_1
"Terus mana ayah kamu? kok aku gak pernah lihat dirumah kamu?", tanya seorang anak yang ternyata anak dari tetangga Wulan.
"Ayahku rumahnya jauh", jawab Talita.
"Kenapa ayahmu tidak satu rumah denganmu?, Ayahku selalu ada dirumah, kenapa ayahmu tidak?", tanya anak yang lain.
"Ayahku tinggal bersama Bunda Fifa", jawab Talita polos.
"Siapa Bunda Fifa?"
"Bundaku juga".
"Jangan-jangan kamu punya ibu tiri ya?...iiiih...serem", ucap seorang anak sambil bergidig, "Aku dengar ibu tiri itu kan jahat".
"Tidak...bunda Fifa baik kok, dia bukan ibu tiri, tapi Bundaku", jawab Talita.
"Kok kamu punya dua Bunda? atau jangan-jangan sebenarnya kamu tidak punya Ayah ya?"
"Aku punya Ayah...!", jawab Talita tegas.
"Bilang aja kalau kamu gak punya Ayah", ucap anak yang lain.
Talita terdiam dan menunduk.
Afifa yang melihat hal itu, segera menghampiri Talita, "Sayang..., rupanya kamu disini", Sapa Afifa dengan mengulas senyum, senyum yang dipaksakan memang, karena sebenarnya ada sesuatu yang mencubit hati kecilnya. Anak sekecil itu harus mendapat cemoohan dari teman-temannya kini, karena kesalahan orang tuanya dimasa lalu. Usia Talita belum siap untuk menerima penjelasan serumit itu tentang statusnya, tapi Afifa berjanji, Talita tidak akan kekuranganu kasih sayang sedikitpun, dia akan mendampinginya dan menyayanginya seperti putrinya sendiri.
************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
haaaah... Readers...😔, bagaimana dengan kekutan rumah tangga Afifa ya??? 😔
Tetap V**ote, Like dan Komentar**...
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😙😙😙⚘⚘⚘
__ADS_1
By: @Rahma Husnul#