
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Afifa kembali ke sekolah, setelah satu bulan lebih dia mengambil cuti. Saat barusaja dia memarkirkan motornya, segerombolan siswa menghampirinya, Afifa dikenal dekat dan ramah terhadap semua peserta didiknya serta selalu menempatkan dirinya sebagai teman untuk mereka, pantas saja mereka berbondong-bondong menghampiri Afifa untuk menyapa dan menyemangatinya, serta menumpahkan kerinduan mereka kepada ibu guru kesayangannya.
Afifa selalu menyunggingkan senyumnya. Saat dia kembali berbaur dengan anak muridnya, maka dia akan masuk ke dunia mereka, seolah melupakan semua kesedihan dan beban fikirannya. Setelah puas bercengkrama dengan para siswa kesayangannya, diapun berjalan dan masuk ke ruang kantor, Semua teman seprofesinya segera menghampirinya dan bertanya tentang kondisinya, mereka turut berduka cita atas musibah yang menimpa dirinya, satu persatu mereka menyalami Afifa.
Beberapa jam berlalu, Pukul 13:00 Afifa selesai dengan jam pelajarannya, setelah menyimpan beberapa buku di lokernya, dia kembali tertegun, fikirannya kembali pada tujuannya setelah ini, matanya menoleh ke luar jendela ruangan kantor, saat terdengar riuh anak-anak berlarian keluar kelas diselingi suara tawa yang terdengar tulus ditelinga Afifa. Cukup lama dia menatap anak-anak itu, tak terasa bibirnya tersenyum, membayangkan seandainya dirinya bisa tetap seperti mereka, dimasa SMP nya yang selalu diisi dengan belajar dan bercanda dengan teman-teman seusianya, tak perlu memimirkan beban berat yang kini terus hinggap dikepalanya.
"Hai...!, Bu Afifa kok ngelamun?", tanya seorang guru perempuan yang baru saja masuk keruangan kantor, cukup mengagetkan Afifa.
"Eh...Bu Maya, Saya...hanya kangen anak-anak saja, senang rasanya melihat mereka tertawa". Jawab Afifa dengan senyuman.
"Hmmmm...pantesan Bu Afifa senyum-senyum sendiri", ucap Bu Maya kemudian sambil menyimpan semua buku di lokernya.
"Oh...begitu ya, maaf...saya gak sadar sampai tersenyum sendiri", Afifa tersipu malu.
"Ya udah, saya duluan ya, Assalamualaikum", menepuk pundak Afifa.
"Iya Bu, waalaikum salam", Afifa mengangguk.
Sepeninggal Bu Maya Afifa bergegas membereskan buku-buku dan tas miliknya, dengan ucapan Bismillah dan keyakinan, dia ayunkan kakinya melewati koridor sekolah menuju parkiran motor, hari ini dia harus mencari kebenarannya.
*****
Motor Afifa berhenti tepat didepan butik bertuliskan W.Mulyani Collection. Setelah membuka helmnya dia turun dari motor dengan menjinjing tas besar yang dibawanya, dia berdiri tepat dipintu butik yang terbuka. Seorang pelayan toko menyapanya, setelah dia mengutarakan maksudnya untuk menemui pemilik dari butik ini, pelayan itu mempersilahkan Afifa naik ke lantai 2, pelayan itu mengantarnya, Afifa mengikutinya sampai keruang tamu.
Saat tiba diatas, suasananya masih sama, Afifa melihat seorang pria paruh baya duduk dikursi goyang, memandang lurus ke luar jendela, sorot matanya tajam seolah menyimpan kebencian.
"Silahkan duduk dulu bu guru!", ucap pelayan perempuan itu sopan, "saya akan panggilkan ibu dibelakang".
Afifa mengangguk sambil tersenyum. Entah mengapa ingin sekali Afifa menyapa pria paruh baya itu, diapun berdiri dari duduknya dan menghampirinya.
"Assalamualaikum Pak...", Sapa Afifa.
Pria itu menoleh ke arahnya, menatapnya tajam menyelidik, wajah dinginnya seolah memendam sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan.
__ADS_1
Afifa tersentak, merasa ada sesuatu pada tatapannya, namun dia kembali mengontrol dirinya. "Assalamualaikum...saya Afifa", kembali mengulang salamnya.
"Waalaikum salam!", Jawabnya tidak ramah.
"Maaf..., apa saya mengganggu Bapak?" tanya Afifa lagi dengan hati-hati.
Pria itu tidak menjawab, dia kembali menatap Afifa, pandangannya berputar memperhatikan seluruh tubuh Afifa dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Afifa tidak mau menyerah, dia kembali menyapanya. "Apa...Bapak ini...Ayahnya mbak Wulan?", Afifa berhenti sejenak karena pria itu tidak bereaksi. "dan...Kakeknya Talita juga?"
Mata pria itu semakin mendelik ke arahnya, membuat Afifa merasa takut dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pertanyaannya, kaki Afifa mundur dua langkah.
"Jangan sebut nama anak haram itu....!!!", Ucapnya kemudian dengan tegas.
Afifa yang hendak menjauh, seketika menghentikan langkahnya mendengar ucapannya, dia kembali menoleh ke arah pria itu, perlahan tubuhnya mendekat dan membungkuk.
"Maksud Bapak?" selidik Afifa, kini rasa takutnya terkalahkan dengan rasa penasarannya, tapi pria itu sama sekali tidak menolehnya, apalagi menjawab pertanyaannya.
"Maksud Bapak..., apa Talita itu anak Mbak Wulan? apa Mbak Wulan pernah melahirkan? apa Mbak Wulan pernah...."
"Afifa???", tiba-tiba Wulan datang karena mendengar teriakan ayahnya.
Afifa mundur beberapa langkah, dia kembali mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan.
"Ada apa?", tanya Wulan lagi, sepertinya dia hawatir dengan ekspresi wajah Afifa yang agak pucat dan berkeringat dengan nafas terengah tak beraturan, tangan Wulan segera menarik tangan Afifa menjauh dari pria itu.
"Maaf Mbak, sepertinya saya sudah mengganggu beliau", ucap Afifa.
"Sudahlah, ayo kita duduk saja!", Wulan mengalihkan pembicaraan.
Afifa mengikuti Wulan, dia kembali mendudukan dirinya dikursi tamu tepat disamping tas besar yang dibawanya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Wulan.
"Alhamdulillah baik Mbak".
__ADS_1
"Syukurlah, saya senang mendengarnya".
"O ya, ada perlu apa?, kok kamu sampai datang kemari?" tanya Wulan lagi.
"Aku mau mengantar peralatan bayi milik Mbak Wulan yang aku pinjam waktu itu".
"Oh...kenapa repot-repot sampai diantar kembali? kenapa tidak kamu simpan saja? siapa tau sebentar lagi kamu hamil".
"Oh...gak papa Mbak, ini kan punya Mbak Wulan, pasti Mbak Wulan ingin tetap menyimpannya sebagai kenangan".
Wulan menarik nafas panjang dan berat, Afifa terus memperhatikan ekspresinya, meski wajahnya tersenyum, namun ada sesuatu yang dia sembunyikan dibalik senyumannya.
"Bagaimana rasanya punya anak Mbak? pasti menyenangkan", tanya Afifa berusaha memancing Wulan.
"Oh...tentu...tentu saja, punya anak itu sangat menyenangkan", ucapnya pendek.
"Apa mbak Wulan pernah menyusui?"
"Tentu saja, dan ada satu kebahagiaan bagi seorang ibu, saat kita bersentuhan dengan buah hati kita, saat mulut kecilnya menghisap air susu kita, melihatnya menangis dan bergerak mencari perlindungan kita", paparnya panjang lebar diselingi senyuman tulus, menerawang ke masa lalu, seolah tidak menyadari seseorang yang bertanya dihadapannya sedang menatapnya tajam dan gelisah.
"Apa mbak Wulan pernah merasakannya sendiri? apa Talita itu anak Mbak Wulan? Apa Kak Aji Ayah biologis Talita?" rentetan pertanyaan langsung saja keluar dari mulut Afifa.
"Duueeeerrrr...!" Wulan tersentak, dia baru sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, dia menatap wanita dihadapannya yang sedang memandangnya selidik dengan wajah memerah dan mata yang berkaca-kaca.
******
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...tunggu lanjutannya ya...
tetap berharap like, vote dan komentarnya.
LOVE YOU ALL...❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By: @Rahma Husnul#