Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Rindu...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Sungguh...rasa ini tidaklah salah, rasa yang telah tersiram dan terpupuk selama dua tahun lebih bersama pasangan halalnya, tapi mengapa kini keduanya ingin membuang rasa itu? hanya karena ego masing-masing dengan embel-embel ingin melihat orang yang dicintainya hidup bahagia. Ah...Bullshit! justru semua ini hanya akan menyakiti hati keduanya. Seandainya saja salah satu dari mereka ada yang mau memulai bicara dari hati ke hati, tentu saja hal ini tidak akan terjadi, namun lagi-lagi ego yang mengalahkan rasa itu, rasa cinta yang seharusnya semakin bersemi diusia pernikahannya yang baru seumur jagung ini.


"Ayah...!" Panggil Thalita sambil turun dari tempat duduknya dan menghambur ke pelukan Fauzi.


"Apa kabar putri Ayah yang cantik?" tanya Fauzi sambil membungkuk, memeluknya dan mencium pipi Thalita.


"Baik Ayah", ucapnya sambil tersenyum. "Ayah duduk dulu, Thalita mau habiskan minumannya dulu, Ayah juga mau?" tanyanya sambil menarik lengan Fauzi dan memintanya duduk disampingnya, sehingga berhadapan langsung dengan Afifa, kini mereka hanya terhalang meja panjang yang lebarnya hanya 30 cm saja.


"Tidak sayang, Ayah tunggu kamu aja", ucap Fauzi sambil tersenyum, ekor matanya sempat menangkap sosok Afifa yang hanya mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan sambil membuang pandangannya ke jalanan. "Ayo habiskan minumannya", ucapnya kemudian kepada putrinya.


"Iya Ayah, Thalita seneng dijemput sama Ayah dan Bunda sekaligus", ucap Thalita sambil tersenyum manis.


Afifa meletakan gelas yang dipegangnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Thalita. "Thalita pulang sama Ayah saja ya, Bunda harus ke rumah Umi, Umi sedang sakit". ucap Afifa.


"Umi sakit Bunda? sakit apa?" tanya Thalita.


"Umi jatuh sayang, jadi..."


"Tidak baik membuat alasan dengan sakitnya Umi kepada anak-anak", Ucap Fauzi tiba-tiba memotong ucapan Afifa dengan suara datar seolah menyindirnya, membuat Afifa menatap tajam ke arahnya, namun Fauzi hanya meliriknya dan kembali menatap putrinya.


"Mmmm...Ya sudah sayang, kalau begitu, Bunda pamit dulu ya, angkotnya sudah datang, Thalita pulang bareng Ayah", ucap Afifa sambil berdiri dari duduknya, "Assalamualaikum", lalu melangkahkan kakinya menuju jalanan dan menyetop angkot yang lewat.


"Tapi Bund...Thalita...", anak itu hendak berdiri menyusul Afifa. Namun Fauzi menghentikannya dengan memegang tangan Thalita.


"Waalaikum salam", jawab Fauzi pelan sambil menatap gelas bekas minum Afifa dihadapannya yang masih tersisa setengahnya, namun tangannya tetap memegang lengan Thalita.


"Ayah...Thalita mau ikut Bunda, mau liat Umi yang sedang sakit juga", rengek Thalita saat melihat Afifa sudah naik ke dalam angkot.


"Lain kali aja ya sayang, Bunda sedang sibuk sekarang", Fauzi menenangkan putrinya, "Sekarang kita pulang yuk!"


"Terus Bunda?"


"Bunda mau menginap di rumah Umi dulu".


"Yaaaa...jadi dirumah gak akan ada Bunda dong?", Thalita cemberut.


"Kan ada Ayah, memang Thalita gak mau sama Ayah?" tanya Fauzi. Tapi Anak itu masih cemberut tak menjawab. "Ya sudah, Ayah janji besok Ayah gak kerja dan kita akan jalan-jalan seharian ya", ucap Fauzi.


"Benarkah Ayah?" tanya Thalita sumringah.


"He'em", Fauzi mengangguk sambil tersenyum meyakinan.


Thalita pun tersenyum dan mau ikut pulang bersama Fauzi.


Fauzi mengambil dompet dan mengeluarkan uang 50ribu untuk membayar minumannya, tapi Pemilik warung bilang, minumannya sudah dibayar Afifa. dia hanya menghela nafas dan kembali memasukan dompet pada saku celananya.


**********


Malam Hari, Fauzi menggantikan peran Afifa sebagai ibu, dia menyiapkan semua keperluan Thalita, termasuk membantunya mengerjakan PR dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua, tapi lagi-lagi Fauzi mendapat protes dari putrinya, "Ayah...bukan begitu caranya, Ah...Ayah... ini tu salah, kalau Bunda biasanya kayak gini, Ayah... Thalita gak ngerti tentang ini, Ah...Ayah gimana si..." , protes Thalita saat Fauzi membantu mengerjakan PR nya. "Kok rasanya beda ya Ayah sama nasi goreng buatan Bunda? ini keasinan Ayah, harusnya...bla...bla...bla..." protesnya lagi saat Fauzi menyajikan makanan untuknya, membuat Fauzu hanya mengelus dada menahan kesabarannya. Begitupun pada saat hendak tidur, Thalita selalu menyebutkan kebiasaan-kebiasaan yang biasa Afifa lakukan, yang memang Fauzi tidak tahu sama sekali.

__ADS_1


Fauzi menatap wajah putrinya setelah dengan susah payah dia membuatnya terpejam, lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya sendiri dengan lemas dan malas. Dia merentangkan tubuhnya sembarang di tempat tidur masih menggunakan kain sarungnya, pandangannya berkeliling entah mencari apa, namun kamar ini benar-benar terasa hampa baginya. Fauzi mengusap kasar wajahnya, lalu membetulkan posisi tidurnya, meletakan kepalanya diatas bantal dan merentangkan tangan kirinya, diliriknya tangan itu yang biasanya ada seseorang tertidur disana sambil memeluk dirinya diiringi senyuman manis yang selalu menyejukan hatinya, tak terasa seulas senyum terukir dari bibir Fauzi sebelum akhirnya dia sadar dengan apa yang terjadi. Dia bangkit dan mendudukan dirinya diatas tempat tidur sambil memeluk lututnya sendiri, cukup lama terdiam, lalu kedua tangannya menarik rambut tebalnya kebelakang, dia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, mengambil air minum lalu duduk diatas sofa sambil menyambar remote dan menyalakan televisi.


Televisi terus menyala, entah tayangan apa yang sedang berlangsung dilayar kaca sana, Fauzi pun tidak peduli, cukup ada suara yang menemaninya, untuk sedikit mengurangi rasa kesepian dan rasa rindu yang kini kian memuncak disetiap malamnya.


**********


Hari Minggu, setelah sarapan dan membereskan rumah Umi, Afifa bersiap untuk pergi ketempat dimana ia berjanji untuk bertemu Nadia pukul 10 pagi ini. Diapun pamit kepada Abi dan Umi, lalu berangkat dengan menggunakan motor yang biasa dipakai Rizqi sekolah.


Dalam waktu 25 menit Afifa sampai ke tempat tujuan, rupanya Nadia belum datang, dia menunggu disebuah kursi stainless didepan toko souvenir, Afifa melihat pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 10.30, diapun mengambil ponsel bermaksud menelphon Nadia. Tapi...


"Anti...!" teriak Nadia dari arah samping mengagetkan Afifa yang sedang fokus pada layar ponselnya.


"Astaghfirulloh...Nadia...Untung Anti gak jantungan, ck ck ck... kamu ini ya...", Greget Afifa sambil mencubit pipi caby Nadia.


"Awwww... sakit Anti...Ampiuuuun...", rengeknya sambil cengengesan, wajahnya nampak sumringah menandakan bahwa kondisi hatinya kini sedang sangat bahagia.


"Hmmm...ada yang lagi seneng kayaknya? hayo...hayo... ada apa gerangan?" goda Afifa sambil menyikut lengan Nadia.


"Hehe..." Nadia tersipu malu, "Nanti juga Anti tau", ucapnya lagi sambil tersenyum, membuat mata bulatnya menyipit karena terdorong pipi caby nya.


"Hmmm...oke deh kalau belum mau cerita", ucap Afifa, tangannya menjawel dagu mencos milik nadia, "Jadi...kita nyari disini aja hadiahnya?" tanya Afifa, dijawab dengan anggukan Nadia. "Memangnya kamu mau beli apa, Nad?" tanya Afifa sambil berjalan beriringan dengan Nadia menuju pintu masuk toko.


"Belum tau An", jawabnya.


"Lo? kok belum tau?".


"Makanya Nadia ngajak Anti, barangkali aja Anti tau kado yang cocok buat Mas Ari", ucapnya sedikit berbisik ditelinga Afifa, sambil tersipu.


Afifa menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Nadia. "Mas Ari?" tanyanya heran.


Afifa berfikir sejenak, dia baru ingat kalau tanggal hari ini memang bertepatan dengan ulang tahun Farid, seketika memorinya berputar pada masa lalu, dimana dia pernah memberinya hadiah satu paket peralatan menggambar, karena dia senang sekali menggambar hingga menjadi arsitek seperti sekarang ini. Dan hadiah itu dia berikan pada tanggal yang sama dengan hari ini. "Kenapa tanya Anti?" ucap Afifa lagi setelah memorinya kembali pada masa kini.


"Karena Anti lebih tau kan kesukaannya?" ucap Nadia.


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu?"


"Mas Ari sering cerita tentang Anti, dan dari obrolannya, Nadia tau, kalau dulu Anti cukup dekat dengannya, dan pastinya Anti juga tahu banyak tentang kesukaannya. Iya kan...?" papar Nadia, yang cukup membuat Afifa bingung untuk menjawabnya.


"Oh...gitu ya...", Afifa tersenyum garing sambil berfikir jawaban apa yang tepat kalau seandainya Nadia terus bertanya tentang hubungannya dengan Farid dimasa lalu.


"Iya...makanya Ayo, An! Bantu Nadia cari hadiah yang cocok buat dia", Nadia menarik tangan Afifa masuk kedalam toko.


Mata Nadia berputar melihat-lihat souvenir yang berjejer rapi pada etalaseu toko, matanya tertuju pada jam tangan bermerk dengan gaya elegant didepannya. "Anti..., gimana kalau jam tangan aja?" tanya Nadia.


"Sepertinya dia sudah punya", jawab Afifa.


"Kaca mata?".


"Dia gak suka pake kaca mata".


"Tas? kemeja? jaket?" tanya Nadia bertubi-tubi, tapi Afifa tetap menggeleng, membuat Nadia prustasi harus memilih apa.

__ADS_1


"Topi saja", ucap Afifa, tiba-tiba saja dia teringat dengan wajah Farid yang bercucuran keringat saat keluar dari proyek pembangunan rumah Wulan waktu itu.


"Topi? kenapa topi?" tanya Nadia heran, dari sekian banyak hadiah mahal yang disebutkan dirinya, kenapa Afifa malah memilih topi yang harganya tak seberapa tentunya dibanding benda-benda yang dia sebutkan tadi.


"Iya...sepertinya dia butuh topi untuk bekerja ketika hari sedang panas, dia kan sering datang pada sebuah proyek, dan sepertinya dia tidak pernah memakai topi", Afifa menatap Nadia yang sedikit bingung, "jangan dilihat dari harganya, tapi manfaatnya, beli dua sekalian! biar dia bisa ganti-ganti kalau yang satunya kotor" tutur Afifa.


Nadia masih mengerutkan keningnya, lalu menatap Afifa dengan tatapan selidik, "Sepertinya Anti sangat mengenalnya?" tanya Nadia, sontak membuat Afifa tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nadia.


"Oh...itu..., itu karna Anti kan pernah satu sekolah dengannya, jadi...sedikitnya Anti tau lah...", kilah Afifa dengan senyum garing tentunya.


Nadia membulatkan mulutnya tanpa suara, kedua alisnya sedikit terangkat, mungkin dia masih ragu dengan jawaban Afifa. Lalu dia kembali bertanya, "Anti...gimana kalau kita belinya di pasar swalayan aja, sepertinya Nadia tau tempat penjualan topi yang bagus-bagus, nanti sekalian kita makan siang disana.


"Terus...disini?" tanya Afifa heran, dia merasa tidak enak juga kalau tidak jadi mebeli disana.


"Disini gk ada yang cocok, Ayo...!", lagi-lagi Nadia menarik tangan Afifa, Afifa terpaksa mengikutinya setelah sebelumnya mengangguk kepada pelayan toko sebagai permintaan maaf.


Keduanya berjalan menuju pasar swalayan yang berdiri menjulang berjarak sekitar 50 meter dari toko sebelumnya. Keduanya masuk dan berputar-putar mencari benda yang dimaksud, sampai akhirnya Nadia menemukan topi yang pas untuk dia berikan kepada Farid, dua buah topi bermerek warna hitam dan biru tua, sederhana tapi elegant. Nadia meminta pelayan untuk sekalian membungkusnya sebagai kado dan memasukannya pada sebuah phaper bag.


Nadia nampak mengirim pesan pada seseorang, lalu mengajak Afifa naik ke lantai 4 untuk makan siang. selama didalam lift Wajah Nadia nampak semakin berseri, terkadang dia tersenyum sendiri sambil menatap phaper bag dalam genggaman tangannya. Afifa tak banyak bicara dia hanya mengikuti apa yang Nadia inginkan.


Lift berhenti tepat didepan resto, disampingnya ada sebuah Timezone yang cukup besar, Afifa sempat menatapnya sesaat melihat beberapa anak yang sedang asyik bermain bersama orang tuanya, seulas senyum terukir dari bibirnya.


"Disini aja Anti", Ucap Nadia, lalu mengajak Afifa untuk duduk disebuah meja berbentuk persegi empat dengan empat kursi mengelilinginya.


Nadia memesan makanan, sesekali dia menatap jam yang tertera dilayar ponselnya, dia nampak gugup, sepertinya ada seseorang yang ditunggunya. Nadia berdiri dan pamit kepada Afifa untuk pergi ke belakang.


Afifa hanya mengangguk dan menunggu sendiri di meja pelanggan sambil melihat-lihat pesan yang masuk pada ponselnya, sampai terdengar suara seseorang memanggil namanya.


"Assalamualaikum Afifa... Apa kabar?" tanyanya.


Seketika Afifa mengangkat kepalanya, kedua matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum manis ke arahnya.


"Wa...alaikum salam", jawab Afifa, seketika dia menundukan pandangannya setelah kedua bola matanya sempat bertemu dengan orang itu.


"Boleh Aku duduk disini?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Farid, Afifa hanya terdiam, lalu Farid melanjutkan ucapannya. "Tadi Nadia memintaku datang kemari, kemana dia?"


"Oh...itu, lagi...ke belakang sebentar", jawab Afifa mengulas sedikit senyum untuk menghargai orang dihadapannya.


Farid melirik bungkusan kado yang tergeletak diatas meja, tapi dia tidak bertanya. Untuk menghilangkan kekakuan diantara mereka, Farid hanya bertanya tentang kuliah Nadia saja, dan nyatanya itu berhasil membuat Afifa bicara dan menjawab semua pertanyaan Farid. Obrolan mereka terus berlangsung, tak terasa keberadaannya ternyata sedang diperhatikan oleh sepasang mata yang baru saja datang melewati mereka berdua sambil menuntun anak kecil menuju wahana Timezone.


***********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers... maaf baru bisa Up sesiang ini.


Terimakasih atas semua dukungan kalian


Author tetap menunggu Like, vote dan komentarnya. 😊

__ADS_1


I LOVE YOU ALL... ❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2