
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Matahari sudah terpacar dari upuk timur, Keluarga Farid sudah bersiap untuk berpamitan menuju rumah kost Farid.
Bukannya Farid tidak berniat untuk mengajak keluarganya menginap di rumah kostnya, tapi berhubung rumah kost Farid hanya satu ruangan kecil saja, sepertinya tidak akan cukup untuk menampung semua keluarganya. Selain itu, Mama juga keukeuh meminta keluarga Farid untuk menginap di rumahnya yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.
Setelah mereka sarapan, mereka bersiap untuk berangkat, Mama dan asisten rumah tangganya sibuk mempersiapkan oleh-oleh khas sunda untuk dibawa oleh keluarga Farid ke Semarang.
Sementara orang-orang menyiapkan semuanya, Farid menyempatkan untuk menghampiri Nadia dan memintanya untuk bicara di sebuah kursi kayu panjang yang terletak di samping rumah.
Nadia mengikuti permintaan Farid, ragu-ragu ia duduk di samping Farid dengan jarak setengah meter saja. Wajahnya tetap tertunduk tak banyak bicara. Cukup lama keduanya terdiam kaku, mereka nampak seperti sepasang anak muda yang baru mengenal cinta, sesekali Farid mencuri pandang ke arah Nadia. Namun yang di pandang tetap diam dan tertunduk.
"Nad!" Farid mulai bicara, "Apa...pesanku semalam sudah kamu baca?" tanya Farid basa-basi, padahal tanpa bertanya pun tentunya dia sudah tau jawabannya.
"Sudah," jawab Nadia singkat.
"Lalu, kenapa tidak di balas?" tanya Farid.
__ADS_1
"Apa tidak cukup, cincin yang melingkar di jariku ini sebagai jawabannya? bukankah itu menunjukan kalau kita memang sudah membuat satu ikatan?" Nadia mengangkat kepalanya dan memandang lurus kedepan tanpa menoleh ke arah Farid sedikitpun. Kedua tangannya lurus disampingnya memegang kuat pada kursi kayu panjang yang didudukinya.
Farid hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan Nadia. Ya..., memang sudah sewajarnya jika Nadia bersikap seperti ini padanya setelah mengalami kejadian kemarin.
Farid menatap wajah Nadia yang nampak datar tanpa ekspresi, Sejujurnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali menggenggam tangan gadis dihadapannya, mengucapkan beribu maaf atas semua keteledorannya.
Tangan Farid sudah terangkat dan sudah berada di atas tangan Nadia, Namun akal sehatnya melarangnya untuk melakukan hal itu. Meski Nadia adalah gadis yang sudah di khitbahnya, namun tindakan itu belum halal baginya. Farid pun menarik kembali tangannya, dia hanya terdiam dan tertunduk, tak mampu lagi berkata Apapun.
"Mas...!" panggil seseorang dari depan rumah.
Farid dan Nadia menoleh, nampak anggukan dari Umi Wafa mengisyaratkan kalau mereka akan segera berangkat. Nadia segera berdiri, lalu melangkah melewati Farid yang masih saja duduk.
Farid menatap punggung Nadia yang terus berjalan, dia pun berdiri mengikuti langkah Nadia, dan mengambil tasnya sendiri untuk di masukan ke dalam mobil.
Setelah semuanya berpamitan, rombongan keluarga Farid pun naik ke mobil masing-masing, mereka sengaja membawa dua mobil, karena mobil yang satunya akan disimpan di Bandung untuk digunakan Farid. Kedua mobil itu pun perlahan meninggalkan pekarangan rumah keluarga Pak H. Ramadhan. Farid masih sempat menatap Nadia dari bayangan kaca spion. Nadia nampak berdiri di teras rumah memandang kepergiannya dengan wajah datarnya.
Farid mulai mengarahkan kemudinya ke arah jalan raya, membelah jalanan kota Bandung yang mulai padat di jam-jam sibuk seperti ini, meski hari ini hari sabtu. Namun sepertinya tidak mengurangi keramaiannya.
__ADS_1
Di tengah mengemudi, Farid tak banyak bicara. Entah mengapa, kini Farid merindukan wajah ceria Nadia yang dulu selalu ia pancarkan setiap berhadapan dengannya. Bahkan lebih gila lagi, kini dia merindukan kata-kata rayuan Nadia untuk dirinya, yang selalu ia lontarkan lewat mulut mungilnya, ataupun lewat pesan chat dan surat yang Nadia kirimkan untuknya dua tahun yang lalu.
Ya..., cinta memang aneh, saat cinta mengejar kita, kita malah tidak peduli padanya, namun saat dia menjauh, rasa itu justru mulai tumbuh. Namun Farid tak pernah menyesal, Mungkin inilah yang disebut rahasia Alloh untuknya, seandainya Farid menerima cinta Nadia waktu itu, mungkin Nadia tidak akan berubah seperti sekarang ini, dan tentunya orang tuanya pun akan berfikir beberapa kali untuk menerima Nadia sebagai bagian dari keluarga besarnya.
Farid tersenyum sendiri mengingat semua kejadian dua tahun yang lalu. Biarlah kali ini dia berjuang untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari Wanita yang kini sudah terikat dengan janjinya. Seiring berjalannya waktu, mungkin Nadia akan melupakan semua kejadian yang disebabkan keteledorannya itu. "Ya... semoga..." Fikirnya.
*****************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf Readers ..., cuman bisa menulis sedikit saja, semoga bisa mengurangi rasa rindu kalian. Jujur saja, kalau tidak Up sehari saja, saya seperti punya hutang kepada kalian 🙏.
Mohon do'anya saja ya, semoga orang tua saya cepat sembuh 🙏🤗
Tetap like, vote, komen 🤗.
__ADS_1
I LOVE YOU READERS...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul