
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Fauzi dan Afifa mengangguk, keduanya tersenyum meyakinkan orang tuanya.
"Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat", pinta Papa.
"Iya Pa", jawab Afifa diikuti anggukan Fauzi, "Mama dan Papa tidur di kamar tamu saja, kamarnya sudah Fifa siapin".
"Iya, Nak", jawab Mama.
Afifa berdiri diikuti Fauzi, mereka berpamitan, namun Fauzi membelokan langkahnya menuju dapur. "Kamu duluan sayang, aku ke belakang dulu", ucapnya sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi belakang untuk mencuci muka dan mengambil air minum didapur.
Afifa mengangguk, lalu kembali berjalan menuju kamarnya. Saat tiba dikamar, dia mendudukan diri dikursi riasnya, lalu membuka kerudung instan yang masih menutupi kepalanya,menampakkan rambut yang sengaja ia tumpuk diatas kepala dengan jepitan hitam kesukaannya. Afifa menarik nafas dalam, tak sengaja matanya beralih pada buku panduan ibu hamil yang masih ia simpan rapi diatas rak buku disamping meja riasnya, perasaannya yang rindu dengan kehadiran sosok janin dalam rahimnya, tidak dapat menghentikan gerakan tangannya untuk mengambil buku itu. Lembaran demi lembaran ia buka kembali, tak terasa butiran air mata keluar begitu saja membasahi pipinya, fikirannya kembali pada saat-saat kehilangan buah hatinya, dan kini kerinduan itu datang kembali menyisakan sesal atas keteledoran yang pernah ia lakukan sebelumnya.
"Sayang...", panggil Fauzi yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya memandangi pantulan wajah istrinya dibalik cermin tanpa disadari Afifa.
"Eh...iya...Kak...", jawab Afifa segera mengusap air matanya dan berbalik ke arah suaminya.
"Kenapa?", tanyanya, "apa kamu masih memikirkan apa yang dikatajan Mama dan Papa tadi?", Fauzi mendekat ke arah Afifa.
Afifa berdiri, "Ah...tidak Kak, aku...aku hanya sedang membaca buku ini", memaksa tersenyum sambil menunjukan buku yang dipegangnya.
Fauzi mengambil buku ditangan Afifa, melihatnya sekilas lalu meletakannya kembali di atas meja rias Afifa. "Hmmm...apa kamu merindukannya?", tanya Fauzi menatap lekat wajah Afifa yang tertunduk.
Afifa mengangguk pelan. Fauzi mengusap air mata yang masih tersisa dipipi Afifa dengan jarinya. "Kalau begitu, kita harus lebih sering ikhtiar", ucapnya sambil tersenyum.
Afifa mengangkat wajahnya, "Besok kita periksa ke dokter kandungan ya Kak, aku khawatir ada kelainan dalam rahimku setelah kejadian itu".
"Baiklah sayang", ucap Fauzi sambil melepaskan jepitan rambut diatas kepala Afifa dan meletakannya diatas meja rias, rambut Afifa terburai panjang, menampakan bulatan-bulatan kecil diujung rambutnya, anak rambutnya berjejer rapi di ujung keningnya menambah kecantikan alaminya. Fauzi tersenyum, "Tapi besok kan hari minggu, kita ke dokter hari senin saja, setelah kamu pulang sekolah, aku jemput dan kita langsung ke dokter".
__ADS_1
"Iya, Kak...", Afifa membiarkan tangan Fauzi yang memainkan rambutnya lalu menyelipkannya dibelakang telinganya.
"Sebelum kita berikhtiar ke dokter, kita ikhtiar dulu malam ini ya", ucap Fauzi tersenyum nakal ke arah istrinya, tangannya cekatan mulai membuka satu persatu kancing gamis Afifa.
Afifa tersenyum, "Tapi janji ya hari senin kita ke dokter".
"Iya sayang..., tenang saja aku kan suami siaga", ucapnya lagi, satu kecupan mendarat di bibir Afifa. tak terasa, gamis Afifa sudah bertumpuk dibawah kakinya. "Kamu juga sudah pintar ya sekarang", goda Fauzi.
"Pintar apa?", tanya Afifa.
"Pintar membuka kancing kemejaku", Fauzi mengedipkan sebelah matanya ke arah Afifa.
Afifa tersentak, rupanya dia baru sadar, kalau sejak tadi tangannya bergerak menyusuri satu persatu kancing kemeja suaminya yang kini sudah terbuka seluruhnya menampakan dada bidang dan perut sispack suaminya tepat dihadapannya. Afifa tersipu malu, dia menyembunyikan wajahnya didepan dada suaminya, membuat dia bisa mendengar jelas debaran jantung suaminya.
"Sayang...", panggil Fauzi sambil memeluk tubuh mungil Afifa.
"Hmmm...?" Afifa mendongakan kepalanya.
Fauzi mencium pucuk kepala Afifa, lalu keduanya berjalan menuju peraduan cinta untuk meluapkan hasratnya masing-masing atas nama ibadah terindah didunia ini.
******
Pagi hari, keluarga Fauzi dan orang tuanya selesai sarapan, sejak bangun tidur, ibu mertua Afifa terus saja menampakan kasih sayangnya kepada Talita, mulai dari membangunkannya tidur, menyiapkan pakaiannya, makanannya bahkan menyuapinya.
Talita yang belum mengerti dengan perubahan ibu dari orang yang dia panggil sebagai Ayah itupun hanya mengikuti apa yang dilakukan wanita paruh baya itu. Baginya satu kesenangan bisa mendapatkan kasih sayang berlimpah dari seorang nenek yang memang sejak lahir tidak pernah ia dapatkan. Tapi, perubahan yang tiba-tiba itu tentu saja membuat anak seusia Talita yang sudah mulai mengerti, sedikit heran dan memberanikan diri untuk bicara pada mereka disela sarapannya.
"Bunda...hari ini Talita seneng banget", ucapnya sambil senyum-senyum.
"O ya?, kenapa sayang?", tanya Afifa.
__ADS_1
"Talita merasa punya Nenek", ucapnya polos.
Afifa terdiam mendengar jawaban Talita, lalu mengalihkan pandangannya kepada Fauzi dan Ibu Mertuanya, lalu kembali memandang Talita yang duduk disampingnya.
"Ma Eyang kan memang Neneknya Talita", ucap Afifa.
Talita menghentikan kunyahannya, lalu memandang Afifa dan Mama bergantian, seakan meminta penjelasan.
"Iya Sayang, Ma Eyang kan ibunya Ayah, jadi Ma Eyang adalah Neneknya Talita, dan Pak Eyang juga Kakeknya Talita", jelas Afifa panjang lebar, dibalas dengan senyuman imut dari Talita.
"Dan ini...", Nadia menimpali sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya. "Kak Nadia ini, Kakaknya Talita", ucapnya sangat terburu-buru gak mau ketinggalan.
Sontak membuat semua orang di meja makan itu tertawa.
Setelah selesai dengan sarapan, Mama kembali bicara. "Zi..., Mama mau bertemu Wulan hari ini, kita kerumahnya ya". Ucap Mama pada putranya.
Afifa yang sedang membereskan piring-piring kotor bersama Nadia, sontak menghentikan kegiatannya. dia menarik nafas panjang, dan berbalik ke arah ibu Mertuanya. Afifa memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika seandainya mereka bertemu dengan Wulan dan Ayahnya.
*******************************
Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Readers... mohon maaf kemarin tidak bisa Up. se.oga Up hari ini bisa mengobati kerinduannkalian kepada Afifa...😊
jangan lupa tetap boomlike, Vote dan komentar di setiap partnya 😊.
I LOVE YOU READERS...😘😘😘
__ADS_1
By: Rahma Husnul.