
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Farid melirik bungkusan kado yang tergeletak diatas meja, tapi dia tidak bertanya. Untuk menghilangkan kekakuan diantara mereka, Farid hanya bertanya tentang kuliah Nadia saja, dan nyatanya itu berhasil membuat Afifa bicara dan menjawab semua pertanyaan Farid. Obrolan mereka terus berlangsung, tak terasa keberadaannya ternyata sedang diperhatikan oleh sepasang mata yang baru saja datang melewati mereka berdua sambil menuntun anak kecil menuju Time zone.
Pria itu berhenti sejenak, sesaat ada dua kubu yang sedang berperang didalam hatinya. Di satu sisi, hatinya merasa begitu sakit melihat wanita yang dicintainya sedang bersama pria lain, tapi disisi lain, ada satu rasa lega, karena pengorbanannya tidaklah sia-sia untuk menyatukan mereka. Bibirnya nampak tersenyum, namun senyum itu terlihat getir seolah menertawakan dirinya sendiri. Helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya, dengan langkah hati-hati, dia terus berjalan melewati meja itu yang hanya berjarak 5 meter saja dari tempatnya berjalan, Fauzi berusaha mengalihkan perhatian Thalita pada wahana Time zone yang sudah berada didepannya agar dia tidak melihat Bunda Afifanya.
Nadia kembali dari toilet, langkahnya nampak sedikit ragu saat orang yang dia tunggu-tunggu ternyata sudah ada dihadapannya, dia berjalan perlahan menghampiri meja Afifa dan Farid.
"Eh, Nad", sapa Afifa saat melihat sosok Nadia yang sudah berdiri di hadapannya. "lama sekali?", ucapnya kemudian. Tapi Nadia hanya terdiam.
"Halo, Muthya..., apa kabar?" sapa Farid.
"Eh... Baik, Mas", jawab Nadia sambil mengangguk dan tersenyum manis, lalu tertunduk dan ragu-ragu mendudukan dirinya dikursi yang berada diantara Afifa dan Farid.
Terjadi obrolan kecil diantara mereka, sampai pesanan mereka datang, Farid juga ikut memesan makanan. Dua mangkok bakso sudah tersaji dihadapan mereka, asapnya masih mengepul, dua buah bakso berukuran sedang dan potongan kikil yang diiris tipis mengeluarkan lemak dan aroma khas daging sapi segar membuat ngiler orang yang melihat tampilannya dan mencium aromanya.
Tapi entah mengapa, Afifa merasa mual melihatnya, apalagi menghirup aromanya, Afifa juga tidak mengerti, biasanya dia paling hobi makan bakso, tapi kali ini? entah dari mana datangnya dorongan kuat dari lambungnya, naik ke atas tenggorokannya dan ingin segera mengeluarkannya. "Huwek..!" Afifa berdiri sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kirinya menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
"Anti kenapa?" tanya Nadia heran. Begitupun dengan Farid.
Afifa mengangkat tangan kanannya memberi kode bahwa dia tidak apa-apa, tapi saat dia hendak duduk kembali, "Huwek...! Huwek...!", lagi-lagi Afifa ingin muntah mencium aroma bakso yang menyeruak masuk kedalam hidungnya, secepat kilat dia berlari menuju toilet sambil tetap menutup mulutnya.
Nadia yang heran, segera mengikuti Afifa ke belakang meninggalkan Farid yang masih bengong ditempatnya sendirian.
Farid memutar pandangannya ke seluruh area lantai 4, tak terduga, matanya menangkap sosok Fauzi yang sedang asyik bermain bersama putrinya, cukup lama Farid memperhatikannya, terdapat sedikit pertanyaan dalam benaknya. "Kenapa Afifa tidak menyinggung soal Fauzi? dan makanan ini juga, masa iya mereka hanya pesan berdua saja?" Farid menatap mangkok bakso yang masih utuh dihadapannya. Cukup lama Dia memperharikan pasangan Ayah dan anak yang berada di area Time zone yang hanya terhalang kaca besar itu.
Afifa masuk ke toilet dan mengeluarkan dahak kental didalam sana, dia tidak sempat menutup pintu, sehingga Nadia bisa langsung masuk menghampirinya. "Anti...! Anti gak papa kan?" tanyanya panik.
Afifa mengeluarkan air keran dan menampungnya dengan tangan, membasuh mulutnya, lalu mengusap wajahnya dengan air. Wajah putihnya nampak memerah, dengan keringat yang sedikit keluar. Dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Nadia dengan lemas.
"Anti kenapa? masuk angin?" tanya Nadia lagi.
"Entahlah, Nad! rasanya perut Anti mual sekali pas menghirup aroma bakso tadi", ucap Afifa.
"Lo...? bukan kah Anti suka banget dengan bakso ya? kenapa sekarang jadi mual?"
"Gak tau juga, Nad! Mungkin Anti memang masuk angin, akhir-akhir ini Anti sering bergadang karena melakukan simulasi untuk tes lusa nanti".
"Tes apa?" tanya Nadia belum mengerti.
"Tes CPNS", jawab Afifa sambil berjalan keluar dari toilet dibantu oleh Nadia.
"Oh...mungkin iya, jaga kesehatan dong Anti! jangan terlalu memaksakan diri! nanti pas hari H malah sakit lagi", nasihat Nadia.
__ADS_1
"Iya, Nad!" Ucap Afifa, tentu saja Afifa tidak bisa tidur bukan hanya memikirkan tes itu, melainkan ada hal lain yang jauh lebih rumit didalam fikirkannya. "Mungkin sebaiknya Anti pulang saja ya, Nad? Anti juga harus siap-siap untuk berangkat ke gedung walikota selama dua hari kedepan".
"Oh...ya sudah, ayo! Nadia bantu" ucap Nadia sambil memapah Afifa kembali ke meja pelanggan tadi.
Thalita sedang asik bermain didalam area Time zone bersama Fauzi, tiba-tiba matanya menangkap sosok orang yang dikenalnya di luar area, "Ayah...! lihat...! itu Bunda", Thalita menunjuk dan menatap keluar ruangan kaca dengan senyum mengembang.
"Masa si? Bunda gak mungkin ada disini, kamu salah lihat mungkin", ucap Fauzi tanpa menoleh ke arah yang ditunjuk Thalita membuat Thalita memutar wajah Fauzi dengan tangan kecilnya.
"Lihat Ayah...! bener itu Bunda", ucapnya sambil keluar dari wahana dan setengah berlari menghampiri Afifa.
Fauzi terdiam sambil menarik nafas kasar, diapun berdiri dan melangkah mengikuti putrinya.
"Bunda...!" panggil Thalita, sontak membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.
"Thalita...???" ucap Afifa heran, begitupun dengan Nadia, Farid hanya memperhatikan derama yang terjadi dihadapannya sambil berusaha mencari jawaban atas kejanggalan yang terjadi pada orang-orang dihadapannya.
Afifa memutar pandangannya mencari seseorang, ternyata benar saja, Fauzi sedang berjalan gontai keluar dari area Time zone menghampirinya.
Thalita menghambur ke pelukan Afifa, "Bunda..., Ayah bilang Bunda sibuk, tapi... kenapa Bunda ada disini?" tanya Thalita polos.
"Oh...itu...itu karena Kak Nadia yang minta Anti kemari", ucap Afifa.
"Eh...ada Kak Nadia juga?" Thalita melihat gadis disamping Afifa yang sedang tersenyum, namun tetap tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Paman gak tau kalau kalian mau kesini", jawab Fauzi.
"Lo...? kok bisa? memangnya Anti bilangnya mau kemana?" tanya Nadia lagi.
Fauzi dan Afifa terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
"Bunda kan dari rumah Umi, Kak!" jawab Thalita, saat melihat kedua orang tuanya hanya diam saja.
"Hah???" Nadia semakin mengerutkan keningnya.
"Nad! sebaiknya Anti pulang sekarang deh", ucap Afifa sambil memelas.
"Lo? terus baksonya?" Nadia menunjuk baso yang masih utuh dihadapannya, membuat Afifa kembali melihatnya dan seketika rasa mualnya muncul kembali.
"Huwek...!" Afifa kembali menutup mulut dan hidungnya dengan tangan, membuat Afifa mundur beberapa langkah dan tubuhnya hampir oleng. Fauzi juga Farid hampir meloncat bersamaan ke arahnya, namun gerakan keduanya terhenti saat sadar dengan situasi saat ini dihadapan mereka.
"Bunda kenapa?" tanya Thalita saat melihat wajah Bunda Afifanya mulai pucat, anak itu mendekat ke arah Afifa.
"Tidak apa-apa sayang, Bunda hanya masuk angin, lebih baik Bunda pulang sekarang ya, Thalita lanjut main lagi sama Ayah", Ucap Afifa sambil membungkuk.
__ADS_1
"Tapi Bun...".
Afifa meletakan jari telunjuknya didepan bibir Thalita, membuat anak itu berhenti bicara. "Bunda akan baik-baik saja, kamu tenang saja ya!"
"Kenapa gak pulang bareng kita, Bun?"
"Bunda kan bawa motor, Sayang... masa motornya ditinggal?" Afifa tersenyum ke arah anak itu. "Bunda pulang duluan ya!" pamit Afifa, lalu menegakan tubuhnya memandang sekilas kepada dua orang pria dihadapannya, "Assalamualaikum"? ucapnya, lalu menyambar tas dan membalikan badannya, serta melangkah menuju pintu lift.
"Waalaikum salam" ucap ketiganya pelan.
"Anti...! tunggu...!" Nadia nampak terburu-buru mengambil tas dan mengambil dompet didalamnya untuk membayar makanannya, tapi Farid menghentikannya.
"Sudah! biar nanti Aku saja yang bayar, ikuti saja Antimu!" ucap Farid.
Nadia menatap sekilas ke arah Farid dan Fauzi, lalu mengangguk, berbalik dan setengah berlari mengikuti Afifa meninggalkan Farid, Fauzi dan Thalita yang masih berdiri memperhatikan kepergian mereka. Nadia sampai tidak sadar dengan kado yang ingin diberikan pada hari spesial pria pujaannya ini, semua rencana untuk memenangkan hati pujaannya kali ini benar-benar gagal.
Farid dan Fauzi masih terpaku ditempatnya sampai Farid memulai pembicaraannya. "Jadi kamu benar-benar menyia-nyiakannya?" tanya Farid dengan suara dingin tanpa menoleh ke arah Fauzi.
"Bukan kah itu yang kamu inginkan?" tanya Fauzi.
"Heh..." Farid tersenyum sinis, "Bodoh...", ucapnya asal.
"Apa maksudmu?" tanya Fauzi.
"Kau akan menyesal", ucap Farid kemudian sambil melangkah meninggalkan Fauzi menuju kasir.
Fauzi hanya terdiam menatap punggung Farid yang berlalu dari hadapannya. Hatinya terus bergejolak mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar dari mulut Farid.
****************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apa yang terjadi dengan Afifa?
Akankah kali ini Farid benar-benar mendekati Afifa? lalu bagai mana dengan Nadia?
Ah... Readers... tunggu part selanjutnya ya.
tetap dukung Author dengan Like, vote dan komentarnya 🤗.
I LOVE YOU READERS...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul