Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Rencana...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Nadia terduduk lemas di kursi tunggu didepan kelasnya, nafasnya masih terengah tak beraturan karena berlari dari parkiran menuju kelasnya, tapi ternyata...dia tetap saja terlambat.


Cukup lama dia duduk disana, sambil mencuri dengar penjelasan dosen dari dalam kelas, sampai suara ponselnya terdengar berdering didalam tas gendongnya, Nadia segera merogohnya. Keningnya sedikit berkerut, panggilan dari nomor yang tidak terdaftar dikontaknya, dia membiarkannya.


Rasa perih diperutnya, mendorongnya untuk berjalan menuju kantin, aroma masakan mulai tercium, membuat cacing-cacing diperutnya semakin berdisko meminta jatah. Namun saat dia hampir masuk kantin, ponselnya kembali berdering, dia melihatnya, panggilan dari nomor yang sama, cukup penasaran diapun mengangkatnya.


"Halo...Assalamualaikum, maaf dengan siapa ya?".


Waalaikum salam, apa kabar muthiya?


"Deg...", Nadia terdiam saat mendengar suara orang yang pernah dikenalnya, kebiasaannya memanggil nama depan dirinya sudah bisa menebak siapa orang yang sedang bicara dengannya.


Halo...? Muthiya...?


"Ah...emmm...iya, m...ba..baik Mas Ari", jawabnya terbata-bata, kepalanya celingukan ke kiri dan kekanan, lalu berjalan masuk ke dalam kantin dan duduk disalah satu kursi pelanggan.


Syukurlah, O ya...apa hari ini ada waktu?


"Mmmm...maksudnya?"


Aku ingin menemuimu, apa tidak mengganggu?


"Oh...hehe...tidak...tidak", Ucapnya cengengesan untuk menutupi kegugupannya. "Eh...maaf...aku...aku lagi di kampus", ucapnya lagi meralat ucapan sebelumnya.


Iya, aku tahu, aku akan datang ke kampusmu siang nanti, kita bertemu dicafee depan kampusmu.


"Oh...tapi, aku ada kelas, 6 sks hari ini".


Jam berapa kira-kira kelasnya berakhir?


"Jam 2 siang".


Baiklah, sebelum jam 2 siang, aku sudah ada dikampusmu, nanti aku kabarin lagi, Assalamualaikum.


"Waalaikum salam".


Nadia menggenggam ponsel didepan dadanya, jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan setelah menerima panggilan dari seseorang yang dulu pernah singgah dihatinya, memenuhi fikirannya bahkan mengalihkan dunianya. Dia tidak habis fikir, orang yang dulu selalu menghindar darinya, kini malah meminta untuk bertemu. ah...jangan geer kamu Nad...! gumamnya pada dirinya sendiri, diapun tersenyum sendiri menertawakan fikirannya.


"Mau pesan apa Neng?" tanya penjaga kantin, karena melihat Nadia hanya duduk diam disana.


"Eh...iya, Nasi aja bi", bangkit dan berjalan menuju etalase makanan, "sama ini dan ini", menunjuk ke salah satu lauk pilihannya, dia kembali duduk ditempat semula.


"Iya Neng", penjaga kantin mengangguk, mengambil Nasi dan lauk yang dipilih Nadia, lalu menyimpannya diatas meja dihadapan Nadia.


Nadia menyantap makanannya dengan lahap, bagaimana tidak, sudah pukul 9.30, belum ada secuil makananpun masuk ke dalam perutnya.


"Hei...!", suara cempreng seorang wanita berbarengan dengan tepukan kasar tangan seseorang pada pundaknya.


"Ukhuk...ukhuk...", Nadia yang sedang makan tersedak, tangannya langsung menyambar segelas teh hangat tawar didepannya dan segera meneguknya. "Gila lo Wi...!, gue tersedak gara-gara lo".


"haha... sory...gak sengaja", ucap gadis dengan setelan kemeja ketat dan celana jeans itu cengengesan, "Lagian..., makan kok kayak orang kesurupan ha ha..."

__ADS_1


"Gue laper parah tau", mata Nadia mendelik kesal karena ucapan sahabatnya.


Nadia adalah mahasiswa baru dikampus ini, tapi karena kesupleannya, dia disukai banyak orang, sehingga bukan hal yang sulit bagi dirinya mendapatkan banyak teman, dan gadis yang bernama Pratiwi Sutrisno ini adalah salah satu dari sahabatnya yang paling dekat dikampusnya saat ini.


"Laper si laper, tapi malu kali sama pakaian lo haha...", ucap Pratiwi.


"Emang kenapa dengan pakaian gue?", tanya Nadia disela makannya.


"Sok sokan pake gamis, mana jilbab lo mencong lagi kagak ada benernya, eh...giliran jalan kaku kayak cowok, dan sekarang makannya kayak tukang becak hahaha...", ledek Sahabatnya.


"Eh...elo tu ya...terus aja ledekin gue", Nadia berdiri menghampiri sahabatnya, hendak meninju lengannya, tapi pakaian gamisnya menghalangi langkahnya, sahabatnya itu segera menghindar. Nadia terpaksa mengangkat gamisnya sampai ke lutut agar bebas mengejar sahabatnya.


"Ha ha ha...ternyata elu pake daleman celana jeans bolong? ha ha ha...", Pratiwi terus saja menertawakannya.


Nadia yang sadar dengan prilakunya sendiri seketika menurunkan gamisnya, bibirnya cemberut, lalu kembali duduk dikursinya. "Sini lo...!", panggil Nadia ketus pada sahabatnya yang masih saja menertawakannya sambil memegang perutnya.


"Ha ha ha...iya iya..., tapi tangannya dikondisikan ya!" Ucap Pratiwi sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Hooh...gue jg udah gak napsu lagi buat mukul lo...", masih cemberut, mata bulatnya kembali mendelik.


Pratiwi duduk dihadapan Nadia dengan tetap menjaga jarak, barangkali saja sahabatnya itu tiba-tiba memukulnya.


Nadia menatap sahabatnya, "lo kenapa duduk jauh-jauh? tenang aja gue gak akan mukul lo...".


"Ya kali aje lo berubah fikiran ha ha...", ucapnya asal.


"Dasar lo...! Emang Pa Dikcy udah keluar?", tanya Nadia, menanyakan dosen akuntansinya yang super disiplin itu.


"Udah...gue barusan dari toilet, elo udah makannya?".


"Masuk lagi yuk!, sebentar lagi kelas kedua dimulai", ajak Pratiwi.


"Hayuk", keduanya bangkit dan berjalan beriringan menuju kelasnya.


*****


Pagi ini Afifa pergi ke sekolah diantar Fauzi, dia sengaja tidak membawa motor sendiri, karena suaminya akan kembali menjemputnya sekalian akan bertemu dengan Wulan siang nanti di sebuah resto lesehan tempat Afifa bertemu dengan Wulan kemarin. Pukul 13:00, jam pelajaran Afifa selesai, diapun berjalan menuju pintu gerbang dimana mobil suaminya sudah menunggu disana.


"Assalamualaikum Kak", Ucapnya sambil tersenyum dan menyalami suaminya yang sedang menunggunya sambil bersandar disamping mobil.


"Waalaikum salam, sudah selesai kelasnya sayang?", tanya Fauzi.


"Sudah, yuk berangkat!", ajak Afifa.


"Yuk...", Fauzi membukakan pintu depan mobil untuk istrinya, lalu berputar ke sisi lain dan duduk didepan kemudi. Afifa mengarahkan jalan menuju tempat tujuannya.


Fauzi memarkinkan mobilnya tepat disamping mobil merah milik Wulan yang ternyata sudah menunggu disana.


*****


4 SKS mata kuliah akhirnya selesai, Nadia melirik jam dinding yang tergantung didepan kelasnya, jarum jam menunjukan pukul 14:05, kini wajahnya mulai gelisah, dia merogoh ponsel didalam tasnya, karena belum juga mendengar nada dering ataupun notif pesan masuk dari ponselnya.


"Hadeeeeeuuuuh...", Nadia menepuk jidatnya, "Pantesan batreinya habis", gumamnya. dia lupa tidak menchargernya semalam, karena ketiduran saat mengerjakan tugas.

__ADS_1


"Kenapa lo?", tanya Pratiwi yang duduk disampingnya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah sahabatnya.


"Ah...gak papa, cuma...ponselku lowbet".


"owh...chas dulu sana!",


"Kayaknya gak bakalan sempet deh, aku ada janji sama seseorang", Nadia memelas.


"Oya...?, Nal lo...janji sama siapa? hah..hah...siapa?" tanya Pratiwi sambil menaik-naikan alisnya.


"Eh...bukan siapa-siapa... dia hanya...".


"Hai Nad..., mau pulang bareng gak?", tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka, membuat obrolan dua sahabat itu terhenti.


"Nggak...ngapain gue bareng lo?", Jawab Nadia replek.


"Hmmm..., jadi... nolak ajakan pria paling ganteng dikampus ini ya?", ucap pria yang bernama Aldi itu dengan percaya diri tingkat tinggi.


"Heleh...narsis lo...", Nadia mendelik sebal dengan ucapan Aldi.


"Al...kalau dia gak mau, ajak gue aja napa?", ucap Pratiwi penuh harap.


"Ogah...!", Aldi menjawab cepat, membuat bibir Pratiwi manyun beberapa centi, "Nanti lo kumur-kumur pake nasi lagi di mobil baru gue, weeek...".


"Eh...itu kan dulu", bela Pratiwi.


"Same aje...kali...", Aldi meletakan jari telunjuknya tepat dijidat Pratiwi, lalu mendorongnya membuat gadis itu mundur beberapa langkah, lalu secepat kilat lari meninggalkan Pratiwi yang geram.


"Eh...dasar lo kutu kupreeeet..., awas lo ya...", Pratiwi mengejar Aldi yang terus berlari didalam kelas menghindari amukannya sambil tertawa.


"Heh...kalian tu ya...bisa gak si akur sehari aja...!", teriak Nadia pada kedua temannya. Tapi Pratiwi tak juga berhenti mengejar Aldi, sampai Aldi berlari keluar kelas dan terus diikuti Pratiwi.


"Hei...tunggu gue...!", Teriak Nadia sambil membereskan buku-bukunya kedalam tas.


Aldi adalah sahabat Pratiwi sejak SMU, tapi hampir setiap hari mereka berantem seperti anak kecil yang tak pernah kehabisan bahan untuk pertengkaran konyol mereka. Sejak Nadia datang ke kampus ini, mereka langsung klop dan jadi 3 sahabat yang tak terpisahkan.


"Wi...! Al...!", teriaknya lagi saat kedua sahabatnya tak juga berhenti berlari, Nadiapun ikut berlari mengikuti mereka dengan mengangkat pakaian gamisnya yang panjang agar tak mengganggu langkahnya.


"Bruk...!", tiba-tiba saja Nadia menubruk tubuh tinggi seseorang, "Eh...maaf", Ucapnya sambil mendongakan kepalanya. Seketika dia terdiam, Mata Nadia tak berkedip saat kedua bola matanya bertemu dengan mata hitam pria dihadapannya yang juga sedang menatapnya.


*************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Alhamdulillah...hari ini bisa Up...


Apa yang akan terjadi di part selanjutnya ...🤔


Tunggu kelanjutannya ya Readers...😉


tetap VOTE, LIKE dan KOMENTAR agar Author semakin semangat menulis untuk melanjutkan ceritanya...😊🤗

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😙😙😙⚘⚘⚘


By : @Rahma Husnul#


__ADS_2