Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Tentang Rasa yang Kini Hadir...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Pagi di hari Senin...


Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Afifa kembali mengeluarkan isi perutnya, dan berakhir dengan terkulai lemas di tempat tidur sampai matahari benar-benar terbit. Kali ini Fauzi sungguh berperan sebagai suami SIAGA. Semua pekerjaan rumah dia ambil alih, mulai dari beres-beres, ngepel, mencuci sampai memasak juga menyiapkan semua keperluan Thalita untuk berangkat sekolah.


Pukul 6 pagi Fauzi membangunkan Afifa sesuai permintaannya. "Dek...," panggilnya sambil menepuk pelan bahu Afifa, "Sudah jam 6."


Afifa menggeliat, dan membalikan badannya ke arah Fauzi, perlahan dia membuka matanya, lalu menatap pemandangan indah yang berada tepat di depan wajahnya. Afifa tersenyum memandang mata sayu suaminya. Fauzi mendekat, satu kecupan selamat pagi pun lolos di atas bibirnya. Afifa tersipu, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Fauzi agar dia menariknya dengan tetap menyunggingkan senyum dari bibirnya.


Fauzi menggeleng pelan sambil tersenyum, "Hmmm... istri manjaku, ayo bangun!" ucap Fauzi sambil menarik lengan Afifa ke arahnya, kini keduanya duduk berhadapan, Fauzi kembali menyesap bibir Afifa lantas memeluknya cukup lama.


"Sudah ah!" ucap Afifa tiba-tiba, "Kak Aji minggir! Fifa mau mandi,"


"Lo? kamu ini ya, barusan manja-manjaan, sekarang maen usir aja, aneh...," ucap Fauzi sambil geleng-geleng kepala.


"Biarin aja, terserah Fifa dong mau ngapain aja," ucapnya, dia turun dari tempat tidur dan menyambar handuk, lalu masuk ke kamar mandi.


Lagi-lagi Fauzi dibuat heran, dia kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena berhasil melakukan ucapan selamat pagi sesuai dengan peraturan kedua pernikahannya yang sudah disepakati mereka berdua.


Fauzi kembali ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, lantas menuju kamar Thalita, "Sayang...! udah pake bajunya?" tanya Fauzi dari balik pintu kamar yang tertutup.


"Sudah Ayah...!" teriaknya dari dalam kamar, "Ceklek" pintu dibuka dari dalam. Thalita sudah siap dengan seragam putih merah panjang-panjang, lengkap dengan kerudung putih dan tas gendong di punggungnya.


Fauzi menatap putrinya yang kini sudah berusia 9 tahun itu. "Hmmm... putri Ayah sudah mau gadis ya, pakaiannya saja sudah pada naik itu," ucapnya sambil menatap ujung rok Thalita yang sudah berada di atas mata kakinya.


"Hehe...Iya Ayah, Thalita tambah tinggi sekarang," tersenyum sambil memutar-mutar badannya kekiri dan ke kanan menimbulkan bunyi dari dalam tasnya karena isinya berbenturan.


"Ya udah, nanti Kita beli yang baru ya," ucap Fauzi.


"Makasih Ayah...," Thalita melonjak kegirangan.


"Yuk sarapan dulu, kamu duluan ke meja makan, Ayah panggil Bunda dulu ya." Fauzi mengusap pucuk kepala putrinya, Thalita mengangguk dan mengikuti perintah Ayahnya.


"Sayang...!" panggil Fauzi saat membuka pintu, dan ternyata Afifa sudah bersiap dengan seragam dinasnya, "Lo? kok pake seragam? memangnya sudah sehat?" tanya Fauzi heran.


"InsyaAlloh sehat, Kak! Fifa malah lemes dan pusing kalau dirumah terus, mending di ajak beraktivitas aja, biar mualnya lupa," ucap Afifa.


"Mmm...gitu ya? Emang mualnya bisa di lupain?"


"Bisa," ucap Afifa asal.


"Owww... ya udah, tapi gak boleh bawa motor sendiri! aku akan antar," ucap Fauzi.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang mau bawa motor? ih...panas-panasan di jalanan," Ucap Afifa lagi, membuat Fauzi melongo mendengar ucapannya, bagai mana tidak, seumur dia menikah, Afifa justru selalu menolak kalau mau di antar ke sekolah pake mobil, dia bilang hanya akan merepotkan saja, bahkan saat kehamilan pertamanya. Tapi sekarang? Hadeuuuh... Afifa benar-benar berubah, apa ini juga efek dari ngidamnya ya? Fikir Fauzi. Tapi tentu saja Fauzi sangat senang mendengarnya, jadi dia tidak khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya diperjalanan nanti.


Ketiganya sarapan, tentu saja masih dengan derama bujukan maut Fauzi agar Afifa mau makan. dan Afifa pun luluh karena bujukan Thalita kepadanya.


"Dek, nanti kita mampir ke toko pakaian seragam sekolah ya, Seragam Thalita sudah agak sempit dan kependekan." ucap Fauzi saat suapan terakhir di mulutnya habis. Lalu dia mengambil air minum dan meneguknya.


"Iya, kita mampir nanti di toko Griyo sandang Yasmin punyanya Mbak Lastri, deket ke sekolah Thalita, disana seragamnya kumplit dan kwalitasnya bagus-bagus, sekolah SMP tempat mengajar Fifa sudah melakukan kerjasama dengan toko itu untuk pengadaan seragam anak-anak." jawab Afifa, sambil membereskan piring bekas makan dan menyimpannya di tempat pencucian. lalu mencuci piring itu yang hanya tiga biji saja.


Setelah sarapan dan pekerjaan rumahnya selesai, mereka pun berangkat menuju sekolah, dan menyempatkan mampir di toko perlengkapan alat sekolah milik mbak Lastri, rupanya toko itu baru saja dibuka, karena masih pukul 7 pagi. nampak para karyawan masih sibuk menata barang-barang dagangannya, begitu pun dengan Mbak Lastri, Wajah mbak Lastri yang kalem langsung tersenyum saat melihat Afifa yang datang, beliau memang sudah sejak lama mengenalnya, karena selalu mewakili pihak sekolah untuk berbelanja kebutuhan sekolah disana.


"Selamat pagi, Bu Guru! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbak Lastri sambil menyalami Afifa.


"Pagi juga Mbak Lastri, saya membutuhkan pakaian seragam sekolah merah putih panjang untuk putri saya," Ucap Afifa.


Mbak Lastri mengangguk mengerti, dia pun mengambil seragam yang cocok untuk Thalita dan menyerahkannya kepada Afifa. Afifa membukanya dan mengukurkannya ke tubuh Thalita. Tak butuh waktu lama, Afifa sudah mendapatkan pakaian sesuai keinginannya. lalu segera meminta karyawan untuk membungkusnya, dan membayar tagihannya.


Saat hendak keluar dari pintu toko, tiba-tiba Afiifa berpapasan dengan pasangan muda dan hampir saja bertabrakan. "Eh maaf," ucap Afifa. Dia pun mengangkat kepalanya, Afifa kaget karena ternyata pria itu adalah orang yang pernah dikenalnya waktu kuliah dulu. Ahmad Fikri Maulana namanya, Mantan ketua BEM yang pernah menyatakan cinta padanya, namun Afifa tidak meresponnya waktu itu.


"Afifa?" tanyanya cukup kaget, "Apa kabar?"


"Eh..., Kak Fikri, Baik Kak..., Kak Fikri juga apa kabar?" tanya balik Afifa, lalu matanya beralih pada sosok gadis cantik nan imut dengan mata bulat sedang tersenyum di sampingnya. "Hmmm...Kak Fikri sudah gandeng aja ni? siapa ini?" tanya Afifa dengan pertanyaan menggoda dan menyelidik, senyuman tersungging dari bibirnya.


"Oh ini..., kenalkan ini Tania, dia...tunangan saya," ucap Fikri malu-malu.


Tania segera menyambutnya dan tersenyum, "Sama-sama teh Afifa," ucapnya.


"Kak...!" panggil Afifa kepada Fauzi yang berdiri dipinggir mobilnya. Fauzi menghampiri Afifa. diapun memperkenalkan Fauzi dan Thalita kepada Fikri dan tunangannya.


"Kalian mau belanja juga?" tanya Afifa lagi.


"Iya, untuk keperluan seserahan nanti," jawab Fikri.


"Oh..., jadi kalian akan secepatnya menikah? wah...selamat ya, jangan lupa kita diundang," ucap Afifa lagi.


"Pastinya Fa, nanti saya kirim undangannya lewat grup ya," ucap Fikri.


"Iya, baiklah, kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum." Afifa pamit.


"Waalaikum salam," jawab keduanya.


**********


Mobil Fauzi sudah sampai didepan gerbang sekolah Thalita, mereka turun dan berpapasan dengan teman Thalita bernama Wheta yang juga baru datang bersama Kakaknya Yudha, di antar oleh ibunya dengan mobil. Dia adalah anak seorang tentara yang sangat terhormat di daerah itu, meski begitu, Wheta tidak pernah pilih-pilih teman, karena ibundanya yang bernama Yusliani selalu menanamkan akhlak mulia bagi putra-putrinya. begitupun di saat teman-teman Thalita mengejeknya karena dia punya dua ibu, Wheta lah yang selalu hadir untuk menghiburnya.

__ADS_1


"Selamat Pagi Mama Wheta," sapa Afifa


"Pagi juga, Bunda Thalita," jawab ibunya Wheta dengan ramah, senyuman menghiasi wajah tegas yang nampak berwibawa itu, "Saya duluan ya, Bun! mau langsung antar Abangnya Wheta ke SMP, Assalamualaikum," Ucapnya kemudian.


"Waalaikum salam," jawab Afifa.


Wheta menyalami ibunya, begitupun dengan Thalita, dia segera mencium tangan Afifa dan Fauzi, lalu keduanya berjalan menuju gerbang yang telah terbuka.


Setelah meyakinkan kalau Thalita sudah masuk ke area sekolah, Fauzi kembali melajulan mobilnya menuju sekolah tempat Afifa mengajar. Lalu dia memutar kembali mobilnya menuju jalan yang tadi dilaluinya.


Mobil Fauzi sudah berjalan, tapi bukan menuju arah pulang, melainkan berbelok ke rumah kost Farid untuk membicarakan sesuatu tentang masalah Nadia.


Tak lama Fauzi sampai di depan rumah kost Farid, dia segera turun dan masuk ke pekarangan rumah kost. Farid segera keluar setelah mendengar suara mobil berhenti. dia mempersilahkan Fauzi untuk duduk di kursi santai di teras rumah kostnya.


"Ada apa Pak Fauzi datang kemari?" tanya Farid langsung kepada intinya.


Fauzi menarik nafas panjang, "Apa yang sudah kamu katakan kemarin kepada Nadia?"


"Aku?" Farid balik bertanya sambil menujuk dirinya sendiri, "Memangnya Nadia mengatakan apa padamu?"


"Dia tidak berkata apapun padaku, hanya saja Afifa bilang, dia nampak murung saat pulang dari makan siang bersamamu, lalu dia mengungkapkan kekecewaaannya karena Afifa tidak jujur padanya. Apa kau menceritakan semuanya tentang hubunganmu dengan Afifa di masa lalu?" tanya Fauzi.


"Tentu saja, dan aku fikir itu tidak ada salahnya," jawab Farid, seolah tidak ada sedikit pun perasaan bersalah pada dirinya.


"Tapi kamu telah menyakiti perasaan Nadia, Rid! lagi pula, kenapa juga harus mengatakan semuanya kepada Nadia, aku kira kamu tidak bodoh menilai perasaan Nadia yang sudah sejak lama hanya terukir untukmu saja."


"Justru itu, Zi! aku tidak mau memulai satu hubungan dengan ketidak jujuran seperti yang pernah kamu lakukan bersama Afifa, yang nantinya hanya akan menyakiti keduanya. Aku tahu, tidak mudah bagiku untuk menghilangkan perasaan ini untuk cinta pertamaku, tapi aku selalu berusaha untuk menghilangkan rasa yang terus saja bersemayam di hatiku ini. dan kehadiran Nadia saat ini, telah membuka celah di hatiku untuk menerimanya, dan perlahan aku mulai nyaman bersamanya. Afifa dan Nadia begitu dekat, aku tidak mau dia mengetahuinya dari orang lain. bukankah itu akan jauh lebih menyakitkan baginya?" tanya Farid.


Fauzi terdiam, semua yang dikatakan Farid memang benar, fikirnya. berkaca dari kehidupannya di awal-awal pernikahan yang penuh dengan kebisuan, sungguh telah menyiksa dirinya juga istrinya.


"Jika kau mau mendukungku, maka bantulah aku untuk bisa dekat dengan Nadia keponakanmu, aku berjanji, akan terus belajar untuk menumbuhkan rasa cinta didalam hatiku untuknya, karena sejujurnya, saat ini, hatiku sudah mulai merasa nyaman bersamanya." Ucap Farid akhirnya.


********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Salam Readers... Alhamdulillah... hari ini bisa doble Up. ini semua berkat dukungan dan motivasi dari kalian.


Yuk tetap dukung Author dengan tetap like, vote dan komentar. selalu ditunggu ya 😉😉😉


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2