
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Wulan terdiam, dan semakin tertunduk, dia merasa inilah saatnya, dia harus berperang melawan gejolak hati dan fikirannya, benar-benar meraba diri akan situasi dan statusnya saat ini.
"Benar Ayah, Ibu dan semuanya. Wulan memang sudah pernah menikah dan punya anak, tapi Faqih akan menerima semua kekurangan dan kelebihan Wulan." jelas Faqih.
Suasana hening beberapa saat, tak ada satu orang pun yang bicara, termasuk Kakak-kakak dari Faqih yang hanya terdiam mengikuti alur dari pertemuan ini. Namun ada seorang Ibu muda yang duduk di samping suaminya memandang lekat ke arah Wulan, seakan tau apa yang dirasakan dirinya saat ini.
Perlahan Wulan mengangkat kepalanya. menoleh sekilas ke arah Faqih yang nampak tenang dan meyakinkan dirinya. Lalu dia memberanikan diri untuk menatap sepasang suami istri di hadapannya dengan mata sayu yang menyembunyikan kemelut kepedihan dalam hidupnya.
"Betul, Pak! Buk! saya memang pernah menikah dan sudah memiliki seorang putri yang sangat saya sayangi, sekarang usianya 9 tahun, dan tinggal bersama saya juga Ayah saya di rumah." Ucap Wulan.
Tarikan nafas panjang terdengar dari mulutnya, seakan mencoba untuk menenangkan dirinya agar ia mampu berkata dan mengungkapkan semua kejujuran tentang dirinya. Dia pun kembali teringat dengan Wajah putrinya semalam, yang menangis di pelukan Afifa tanpa ingin melihat dirinya. Entah dari mana kekuatan itu datang, tiba-tiba saja mulutnya bergerak untuk berkata.
"Sejujurnya, saya tidak ingin memulai satu hubungan dengan ketidak jujuran. Untuk itu, sebelum saya melangkah dan terlanjur bahagia dengan hubungan yang akan terjalin ini, saya ingin mengatakan semua masa lalu kelam saya kepada keluarga besar di sini. Adapun nantinya, menerima atau tidak masa lalu saya, saya serahkan semuanya kepada sang maha pencipta.". Ucap Wulan, lalu kembali menundukan pandangannya.
"9 tahun?" tanya ibunya Faqih.
Wulan mengangguk dalam tunduknya.
"Sebentar!" Ucap ibunya Faqih. "Faqih! Ikut ibu!" katanya sambil menarik tangan Faqih dan tangan suaminya ke belakang.
Faqih yang tidak siap, langsung saja mengikuti kemana langkah ibunya, "Sebentar, Bu! ada apa?" tanya Faqih sedikit berbisik, dengan langkah terseret.
Mereka bertiga masuk ke ruang keluarga. Ibunya menarik lengan Faqih agar duduk disampingnya. "Denger Ibu!" ucapnya setengah berbisik, "kalian itu satu angkatan sekolahnya?" tanyanya mulai menginterogasi.
" Iya, Bu! kami satu kelas dulu, memangnya kenapa?" tanya Faqih
"Dia bilang, anaknya sudah berumur 9 tahun? kalian kan lulus belum genap 10 tahun yang lalu, apa dia menikah saat masih SMA?" tanya Ibunya Faqih lagi.
Faqih nampak terdiam, namun ibunya memandangnya dengan selidik, sehingga Faqih terpaksa buka suara. "Mmm...Sebenarnya, sudah terjadi kecelakaan tanpa sengaja yang menyebabkan Wulan dan temanku mekakukan hal itu saat kami lulus SMA,"
"Apa?" Ibu dan Ayah Faqih tercengang mendengarnya.
"Ayah gak salah dengar kan, Qih?" tanya Ayahnya.
"Tidak Ayah, itu memang benar, tapi hal itu sungguh kecelakaan, dan Wulan sudah sangat menderita akibat kejadian itu." Jelas Faqih, mulai gelisah, ada rasa takut juga, jangan-jangan mereka tidak akan merestui niat baiknya terhadap Wulan.
__ADS_1
"Oh..., Ya Alloh, Qiiiih...! memangnya kamu tidak bisa menemukan gadis lain apa selain dia?" tanya Ibunya sambil geleng-geleng kepala.
Sedangkan Ayahnya hanya duduk bersandar di atas sofa sambil memandang penuh kecewa terhadap putranya. Bagai mana tidak, Faqih adalah putra kebanggaannya. Sudah beberapa gadis baik nan cantik yang di tawarkan padanya untuk dipersuntingnya, namun Faqih selalu menolaknya dengan alasan masih fokus dengan pekerjaan. Lalu sekarang, tiba-tiba saja putranya datang dengan membawa pilihannya yang jauh sekali dari harapannya.
"Tapi Faqih sangat mencintainya, Ayah! Ibu! bahkan sejak masih SMA, hanya saja dulu dia belum berfikiran dewasa, dan mudah terpengaruh oleh orang lain." suara Faqih mulai memelas.
"Apapun itu alasannya, Faqih! ibu tidak setuju kalau kamu menikah dengannya!" Ucap ibunya Faqih tegas.
"Bu...! Faqih mohon, dengarkan dulu penjelasan Faqih, Wulan itu sekarang sudah berubah, dia sangat menyesali perbuatannya, dia sangat menderita. Bahkan sampai saat ini, dia terus dihantui rasa bersalah atas kematian ibunya, juga penyebab sakit Ayahnya yang baru saja selesai Faqih rawat di Rumah Sakit seminggu yang lalu, bukan kah itu semua sudah lebih dari cukup untuk menghukumnya dari segala perbuatan dosa yang sudah dia lakukan di masa lalu?" Faqih memegang tangan ibunya.
"Ah..., sudah lah! ibu tidak mau mendengarnya," Ibunya Faqih menepiskan genggaman tangan putranya.
Faqih tertunduk, memikirkan hal apa lagi yang harus dia lakukan agar kedua orang tuanya mengerti dan dapat menerima Wulan untuk menjadi pendampingnya.
"Sejatinya pendosa pun layak berbahagia, Bu!" Ucap seorang perempuan muda yang ternyata sudah berdiri sejak tadi mendengarkan percakapan mereka bertiga. Dia adalah menantu pertama dari keluarga ini yang sejak kedatangan Wulan terus saja memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi wajah Wulan yang memendam berjuta penyesalan dan kepedihan, menurutnya.
"Apa maksudmu Teh?" tanya Ibu Faqih sambil mengangkat kepalanya menatap penuh tanya kepada menantunya yang bernama Rika Widiawati itu.
"Bu!" Ucap Rika sambil mendekati ibu mertuanya, dan duduk bersimpuh dihadapannya, "Saya melihat ketulusan dari mata gadis itu, Rika yakin, dia gadis yang baik dan akan dapat membahagiakan Faqih nantinya"
"Rika ngerti perasaan Ibu saat ini, tentunya setiap orang tua akan menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi Ibu dengar sendiri bukan? kalau Faqih sangat mencintainya?"
"Ah...! semuanya tidak cukup hanya dengan cinta! Fikirkan pula bagaimana akhlaqnya, keluarganya, dan latar belakannya!" Suara ibunya meninggi, dan tentu saja Wulan dan orang-orang yang berada di ruang tamu ikut mendengarnya, membuat Wulan semakin tertunduk menahan semua gejolak hatinya. Ingin rasanya dia berlari saat ini juga dari ruangan yang mulai menyesakan dada itu. Seandainya dia tidak menghargai keluarga dari Faqih yang berada di hadapannya, yang kini sama gelisahnya dengan dirinya.
"Ibu jangan melihat seseorang dengan masa lalunya, apa Ibu tidak kasihan dengan faqih? Bahkan selama sepuluh tahun ini dia masih mencintai dan merharapkan gadis itu menjadi pendamping hidupnya, dan kini mereka dipertemukan kembali, meskipun dalam situasi yang berbeda. Dan ibu juga sudah mendengar penjelasan dari Faqih bukan, kalau gadis itu sekarang sudah berubah?" Ucap Rika kemudian.
"Tidak! Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Faqih dan Ibu tidak mau Faqih menyesal nantinya!"
"Mengapa Ibu tidak mencoba untuk mengenal gadis itu? Sepertinya kekhawatiran Ibu berlebihan. Faqih sudah dewasa. Rika yakin, Faqih tidak akan sembarangan menentukan pilihannya, biarkanlah dia bahagia dengan pilihannya Bu! Itu adalah prioritas utama bagi kita sekarang. Bukankah ibu pernah bilang jangan memandang seseorang dari statusnya apalagi dengan derajatnya, karna dimata Tuhan manusia itu sama," Tutur Rika panjang lebar.
"Entah lah, ibu sama sekali tidak bisa berfikir jernih saat ini," ucap Ibunya Faqih sambil menyandarkan tubuhnya lemas di atas sofa dengan tangan kanan memegang kepalanya.
"Sebaiknya, kamu antarkan dulu gadis itu pulang ke rumahnya! biarkan kita berfikir kembali dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin disini nanti." Perintah Ayahnya Faqih kepada putranya. "Kasian dia kalau harus menunggu lama dalam situasi seperti ini."
Faqih mengangguk lemah, diapun berjalan menuju ruang tamu, langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat melihat wanita yang dicintainya ini sedang tertunduk menyembunyikan air mata yang terus di tahannya. Faqih menoleh ke arah ketiga kakaknya yang juga sama tegangnya, lalu dia kembali berjalan menghampiri Wulan. Faqih menarik nafas dalam setelah berada tepat di depan Wulan yang masih saja tertunduk. "Lan..., Ayo ku antar pulang!" ucap Faqih lemas.
Wulan mengangkat kepalanya perlahan, wajah putihnya memerah, begitupun dengan mata sayunya, seakan ribuan partikel cairan sudah menunggu untuk di keluarkan, Wulan hanya mengangguk, lantas berdiri dan membungkukan badannya ke arah keluarga Faqih tanpa berani menatap mereka, diapun melangkahkan kakinya keluar dari rumah besar itu. "Kamu tidak perlu mengantarku, Tam! Aku bisa pulang sendiri!" ucap Wulan sambil terus berjalan dengan langkah cepat menuju pintu gerbang rumah Faqih.
__ADS_1
"Lan...!" Faqih mengejarnya, "Lan...! tunggu dulu...! jangan seperti ini, aku akan mengantarmu." Faqih meraih tangan Wulan yang sudah berada di depan gerbang.
"Tidak perlu! aku bisa naik taksi!" ucap Wulan sambil menepis tangan Faqih.
"Lan..., tolong jangan seperti ini, dengarkan dulu penjelasanku, kamu tau kan? kalau aku sangat mencintaimu? aku akan melakukan apapun agar orang tuaku merestui hubungan kita, aku mohon, Lan!"
"Sepertinya memang tidak ada orang tua yang akan menerima seorang menantu sepertiku, Tam! Terlebih untuk pria sesempurna dirimu, rasanya itu hanya mimpi bagiku, dan sampai kapanpun, mimpi itu tidak akan pernah terwujud untuk wanita pendosa sepertiku."
"Lan..., aku mohon bertahanlah! aku akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka. Kalau perlu aku akan tetap menikahimu meski tanpa restu dari keduanya."
Wulan terdiam, tiba-tiba kedua bibirnya tertarik ke samping, tersenyum dengan sinis penuh arti, sambil memandang lekat Pria di hadapannya? "Heh..., jangan memutuskan tali cinta dan kasih sayang yang sudah terjalin dengan orang-orang yang sangat mencintaimu hanya untuk mengikat satu cinta dengan Wanita sepertiku. Kalau tidak, akulah yang akan menyesal seumur hidupku," Ucap Wulan sambil melambaikan tangan pada satu angkot yang kebetulan lewat di hadapannya. Angkot itu berhenti, dan Wulan langsung masuk ke dalamnya tanpa menoleh kembali ke arah Faqih.
"Lan...! tunggu, Lan...!" Faqih berusaha mengejar angkot itu sampai beberapa meter jauhnya, namun angkot itu tidak juga berhenti karena Wulan memerintahkan kepada Pak supir untuk terus berjalan lebih cepat lagi.
Faqih berdiri lemas di pinggiran jalan, tatapannya terus mengikuti arah angkot yang membawa Wanita yang dicintainya itu, sampai angkot itu benar-benar hilang dalam satu titik. Faqih berjongkok dengan memegang kepalanya, wajahnya nampak begitu prustasi karena tidak berhasil mencegah kepergian Wulan. Dia mendudukan dirinya di atas tembok trotoar sambil tertunduk lemas.
"Tam...!" Panggil seorang Pria di belakangnya.
Faqih mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Dia tersentak kaget, saat melihat ternyata yang datang adalah orang yang pernah di kenalnya semenjak sepuluh tahun yang lalu.
**********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘😢😢😢
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aaaaahhhhh.... Readers..., akan kah Wulan dan Faqih bersatu?
Lalu siapa Pria yang datang menghampiri Faqih?
Nantikan di part selanjutnya ya.
Tetap like, vote dan komen...😊
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul
__ADS_1