Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Derama Ngidam Afifa...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Hari-hari terus berlalu, Afifa menjalani kehidupan rumah tangganya dengan penuh kebahagiaan. Meskipun masa-masa hamil mudanya dipenuhi dengan derama keinginan yang aneh-aneh dari Afifa, yang tentunya Fauzi lah yang akan jadi sasarannya.


Seperti pada malam ini, Pukul 11.30 malam Afifa masih saja terjaga, dia terus membolak balikan badannya di tempat tidur, matanya benar-benar sulit terpejam. terkadang dia duduk di atas tempat tidur, lalu berbaring lagi. Fauzi sudah berusaha membujuknya untuk tidur, sudah memijit kakinya, mengusap-usap punggungnya bahkan menepuk-nepuk bokongnya seperti seorang ibu yang berusaha menidurkan anaknya.


"Kenapa gak tidur juga, Dek?" tanya Fauzi dengan suara serak karena matanya sudah ngantuk berat.


"Aaaaa... Kak Aji jangan tidur dulu...! Fifa gk bisa tidur ni..., gimana dong?"


"Ya Udah, kamu maunya gimana? Kakak udah pijitin, udah kelonin, kok gak tidur juga? Apa mau makan?" tanya Fauzi dengan sabarnya.


"Makan?" tanya Afifa tiba-tiba saja teringat makanan.


"Iya, tadi kan kamu makannya dikit banget, cuman dua suap aja, itu pun karena disuapin, mungkin Si jabang bayi kelaperan di dalam sini," Ucap Fauzi sambil mengelus perut Afifa yang masih rata.


"Ah..., iya Kak..., sepertinya Fifa mau makan," tiba-tiba kepala Afifa membayangkan sesuatu yang sangat segar di mulutnya.


"Ya udah, makan dulu ya! Ayo Kakak temenin!" Fauzi bangun dari baringannya, lalu menarik tangan Afifa agar bangun juga dari tidurnya, keduanya berjalan menuju dapur, Fauzi melingkarkan tangannya di bahu Afifa, "Ayo duduk dulu! Biar Kakak ambilin nasinya," Ucap Fauzi saat sampai di meja makan dan hendak melangkah memgambil piring.


"Bukan makan nasi, Kaaaak...," rengek Afifa.


"La..., terus makan apa dong?" Fauzi menghentikan langkahnya.


"Rujak tomat," Jawab Afifa singkat.


"Hah? gak salah?" tanya Fauzi.


"Enggak..., Fifa beneran pengen rujak tomat, tomatnya di potong kecil-kecil di masukin gelas, pake gula merah, diaduk-aduk sampe airnya keluar, duh...seger bangeeet...cip cip cip...Ah..., rasanya sudah ada di lidah Fifa ini, Kaaaak...," Afifa menopang dagunya dengan tangan di atas meja makan sambil membayangkan rujak tomat yang ingin dimakannya.


"Ooo... Ya Udah, Kakak buatin ya," Fauzi segera membuka kulkas dan mengambil dua buah tomat merah besar dari sana, lalu mengambil pisau untuk segera mengirisnya.


"Iiiih... bukan tomat yang itu, Kaaak...," Rengek Afifa lagi.


"Lo...? terus tomat yang mana? emangnya tomat ada berapa macem?" tanya Fauzi sambil mengangkat tomat di tangannya.


"Fifa pengennya tomat mateng seger yang baru dipetik dari pohonnya, yang getahnya masih tercium dihidung gitu," Ucap Afifa.


"Ya Ampun, Deeeek..., kita kan gk punya pohon tomat, apalagi tomat mateng," keluh Fauzi.


"Ya cari dong," jawab Afifa seenaknya.


"La...? cari di mana malam-malam begini, Sayaaaang...?"


"Ya di kebun rumah orang dong, tetangga kita banyak yang punya pohon tomat di depan rumahnya, merah-merah lagi."


"Tapi kan harus minta dulu, masa main ambil aja, itu namanya mencuri, Kakak gak mau jadi pencuri, apalagi nyuri makanan buat kamu dan calon bayi kita,"


"Siapa yang nyuruh mencuri? minta dong!"


"Tapi ini kan sudah malem, pasti mereka udah pada tidur, masa ia gedor-gedor pintu rumah orang malem-malem cuman mau minta buah tomat doang, Dek?"

__ADS_1


"Ya udah kalo gak mau! Fifa gak akan tidur ampe pagi!" ucap Afifa kecut sambil cemberut.


Fauzi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang lagi datang keanehannya ini. "Ya sudah, jangan ngambek dulu! Kakak coba cari ya," Ucap Fauzi dengan sabar, lalu membetulkan kain sarungnya dan berjalan gontai menuju pintu depan rumahnya, dia mengunci kembali pintu rumahnya dari luar.


Suasana di depan rumahnya sangat sepi, semilir angin malam menyapu kulit Fauzi yang hanya menggunakan kaos lengan pendek dengan kain sarung saja. Fauzi berjalan menyusuri komplek perumahan sambil celingak celinguk melihat-lihat pekarangan rumah tetangganya.


Ah...bener-bener perjuangan yang sulit ini, gimana kalau nanti orang-orang mengira aku pencuri? gumam Fauzi sambil terus berjalan. Setelah sekitar lima menit, tiba-tiba mata Fauzi tertuju pada pekarangan rumah salah seorang tetangganya yang penuh dengan berbagai tanaman, tampak remang-remang di balik sorot lampu dari teras rumahnya. Disana juga ada pohon tomat yang buahnya cukup banyak dan besar-besar, bahkan beberapa buahnya sudah ada yang berwarna merah.


Fauzi berfikir sejenak. "Ini kan rumahnya Pak Wahyu dan Bu Nita, langganan tokoku, Bu Nita juga cukup dekat dengan Afifa, pasti dia gak akan marah kalau aku minta satu saja buah tomatnya," gumam Fauzi. Dia tersenyum, lalu melangkah masuk ke pekarangan rumah itu yang memang tidak berpagar.


Saat Fauzi sudah dekat dengan pohon tomat, tiba-tiba sebuah lampu senter menyorot tepat ke arahnya, "Hei...! Siapa itu?" tanya seorang pria sambil berlari mendekati Fauzi. Fauzi terdiam tak dapat berkata apa pun. Nampak dua orang pria membawa lampu senter dengan kain sarung melingkar di leher keduanya datang menghampirinya.


"Maaf!" Ucap Fauzi kepada keduanya setelah mereka berada dihadapannya.


"Pak Fauzi???" tanya keduanya heran, "Kenapa Pak Fauzi ada di depan rumah Pak Wahyu?" tanya salah seorang dari mereka.


"Anu, mmm... maaf, Bapak-Bapak! sebenarnya saya mau meminta buah Tomat ini untuk istri saya," ucap Fauzi kepada para petugas ronda itu gelagapan karena malu.


"Buah tomat?" tanya salah seorang dari mereka, "untuk apa malam-malam nyari buah tomat?" tanyanya lagi seolah tak percaya dengan alasan Fauzi.


"Itu, Pak! sebenarnya istri saya sedang ngidam, dan tiba-tiba saja barusan dia ingin makan rujak tomat segar yang baru saja di petik dari pohonnya, dan saya...saya terpaksa harus mencarinya keluar, lalu melihat pohon tomat di sini," Jelas Fauzi.


"Ooooo..., saya kira tadi pencuri lo Pak Fauzi ha ha ha...," ucap petugas ronda itu tertawa cukup keras, membuat pemilik rumah terbangun.


"Ceklek!" Suara pintu dari rumah Pak Wahyu di buka seseorang dari dalam. Tampaklah sepasang suami istri keluar dari sana menghampiri sumber keributan. "Ada apa ini?" tanya Pak Wahyu.


"Oh..., Maaf Pak Wahyu, kalau tidurnya sudah terganggu, ini...! Pak Fauzi mau meminta buah tomat milik Bu Nita, karena istrinya sedang ngidam dan ingin makan buah tomat yang baru saja di petik dari pohonnya," jelas salah satu petugas ronda kepada Pak Wahyu dan istrinya.


"Terima kasih Bu Nita, Mohon maaf, saya sudah mengganggu istirahatnya," ucap Fauzi.


"Gak papa, Ayo..., kalau mau buah tomat ambil aja sebanyak yang Pak Fauzi mau! Ayo silahkan petik aja!" Ucap Bu Nita ramah.


"Terima kasih banyak Bu Nita, saya hanya minta dua biji saja," ucap Fauzi.


"Kok cuman dua? ambil semuanya juga gak papa," Ucap Bu Nita dengan semangat, lalu dia melangkah mendekati pohon-pohon tomatnya yang berjejer rapi didalam pot besar, dengan cekatan tangannya memetik beberapa buah tomat.


"Sudah bu! cukup! itu terlalu banyak," ucap Fauzi setelah melihat lima buah tomat sudah berpindah ke tangan Bu Nita.


"Cukup segini?" tanya Bu Nita sambil mengangkat tangannya yang sudah memegang lima buah tomat merah segar berukuran besar.


"Itu...itu sudah lebih dari cukup, Bu!" ucap Fauzi, sejujurnya dia agak malu melakukan ini, tapi demi istrinya, dia rela melakukan apa pun.


Sesudah berulang kali berterimakasih, Fauzi pun pamit pulang dengan membawa sekantong kresek kecil buah tomat di tangannya.


Fauzi kembali ke rumahnya, dia langsung menemui Afifa yang tenyata sudah tertidur sambil duduk di kursi makan dengan meletakan kepalanya di atas meja makan dan bertumpu pada kedua tangannya. rambut panjangnya yang tidak di ikat terjuntai menutupi punggungnya. Fauzi menghela nafas, "Hmmm..., sudah tertidur aja kamu, Dek!" Ucapnya sambil tersenyum, lalu menyimpan buah tomat di atas meja makan dan menepuk pelan bahu Afifa. "Dek..., bangun...," Fauzi meraih rambut panjang Afifa yang menutupi telinganya, "ini tomatnya sudah dapet," bisik Fauzi tepat di telinga Afifa.


"Aaaa... ngantuuuk," Ucap suara serak Afifa sambil tetap pada posisinya.


"Tadi katanya mau rujak tomat, aku buatin ya?"


"Besok lagi aja, Fifa ngantuk banget sekarang."

__ADS_1


"Ya Elaaaah..., aku sudah capek-capek cari tomat, sampe di kira maling, malah bilang besok katanya, hadeuuuuuh...,Dek....!" keluh Fauzi di dalam hatinya. ada rasa dongkol sekaligus jengkel dalam hati Fauzi, tapi..., dia segera menepis kedongkolannya, mengingat istrinya yang kini sedang hamil. "Ya sudah, ayo tidurnya pindah ke kamar," Ajak Fauzi, tapi Afifa tidak juga bergerak. Fauzi mengguncang pelan pundak Afifa namun tetap saja Afifa tak bergerak, hanya hembusan nafas teratur saja yang terdengar darinya.


Fauzi segera mengangkat tubuh istrinya, dan mengendongnya masuk ke dalam kamar dan menidurkannya perlahan di atas tempat tidur. Cukup lama Fauzi memandangi wajah tenang Afifa, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya, lalu mengusap seluruh bagian wajah Afifa dengan tangannya, dan mendaratkan ciuman selamat malam diatas bibir istrinya. "Selamat tidur, Sayang...," ucapnya. Tangannya beralih ke perut Afifa dan mengelusnya perlahan, lalu menciumnya, "Kamu baik-baik di dalam sini ya, Nak! lain kali jangan minta yang aneh-aneh lagi, Ayah kan jadi repot, kalau perlu, kamu minta sering di tengok aja sama Ayah ya! He he...," Fauzi tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Dia pun membaringkan tubuhnya disamping Afifa, sambil memeluk erat dan menikmati aroma khas tubuh istrinya.


**********


Pagi-pagi setelah Sholat subuh, Nadia bersemangat bersih-bersih dan pergi ke dapur menghampiri neneknya. Wajahnya sangat ceria mengingat chat yang diterimanya semalam dari pujaan hatinya, siang ini dia diajak makan siang sepulang kuliah nanti, Farid mau bertemu dengannya sebelum berangkat ke Semarang menemui Orang tuanya untuk meminta izin dan mengutarakan niat baiknya.


"Pagi, Mak Eyaaaang...!" sapanya penuh semangat.


"Pagi juga anak nakal!" jawab Neneknya.


"Lo? kok anak nakal si Mak Eyang? Nadia kan sudah gadis, baik, sopan, dan rajin..."


"Menabung?" Ucap Neneknya memotong ucapan Nadia.


"Ha ha ha ...," keduanya tertawa.


"Mak Eyang..., Ajarin Nadia masak ya!" Ucap Nadia sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hah? gak salah, kamu mau belajar masak?" tanya Neneknya heran.


"Ya bener dong, Mak Eyang. Nadia kan sudah gadis, pengen bisa masak untuk suami Nadia nanti, biar tambah di sayang gitu kayak sayangnya Pak Eyang sama Mak Eyang he he..."


"hmmm... memangnya siapa yang mau nikahin gadis pecicilan kayak kamu?" goda Neneknya.


"Eits..., Sembarangan. Gini-gini juga Nadia sudah punya calon lo, Mak Eyang! orangnya ganteng, soleh, udah kerja pula."


"O ya??? gak percayyya!" ledek Neneknya.


"Ish...Ma Eyang. Kalau gak percaya tanya Paman sama Anti aja." ucap Nadia serasa ada pembelaan.


"Hmmm..., Kalau Afifa yang bilang, baru Mak Eyang percaya," Mama tersenyum. "Ya udah, ayo mulai kalau mau belajar masak!" perintahnya.


"Oke..., siapa takut! apa dulu ni?" tantang Nadia.


"Nah, ini iris tipis, itu bumbunya di ulek, jangan lupa sayurannya di cuci bersih, dan itu jangan sampai berantakan, sesudah di iris masukin wajan lalu... bla bla bla..." Cerocos Mama membuat Nadia kelabakan mengikuti semua perintahnya, keringat Nadia sampai bercucuran dari keningnya. Mama hanya tersenyum melihat ekspresi Cucunya yang lucu, begitu semangat ingin belajar memasak.


***********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Haha... Fauzi...Fauzi... sepertinya anakmu mau balas dendam kali ini 😄😄😄


tetap like, vote dan komen ya Readers...😉


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2