Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Rumah Sakit part 2...


__ADS_3

Fazar bersiap muncul, Suara sholawat bersahutan dari pengeras suara beberapa mesjid sekitar RS, seorang anak manusia sedang bersimpuh diatas sajadah disamping tempat tidur pasien, memanjatkan do'a dan dzikir pada sang Kholiq.


Tak lama adzan subuh berkumandang, dia kembali bangkit untuk menunaikan kewajibannya.


***


"Ukhuk...ukhuk...ukhuk...", Suara batuk Dewi dari tempat tidur.


"Shodaqollohul 'adziim", Fauzi segera menutup Aplikasi Qur'an dari Ponselnya.


"Nad...! ukhuk..." Panggil Dewi, "Nadia...! ukhuk..." Suaranya serak tertahan karena batuknya.


Fauzi bangkit, melirik Nadia yang masih tertidur disofa, mungkin dia lelah karena terus menangis semalam, fikir Fauzi.


"Kenapa Kak?" tanya Fauzi, menghampiri kakaknya.


Dewi menatap adiknya, "Kamu gak pulang Zi?"


"Enggak, aku gak tega ninggalin Nadia disini sendiri".


"Ukhuk...ukhuk..."


Fauzi segera mengambil air putih disamping tempat tidur, "Minum dulu Kak!" mengulurkan gelas kearah kakaknya.


"Terimakasih Zi, lebih baik kamu pulang, kasian istrimu sedang hamil, kamu harus selalu berada disampingnya", Meneguk air minum hingga setengahnya.


"Gak papa, dirumah kan ada mama juga Kak Nita".


Dewi menatap putrinya yang masih tertidur pulas, wajahnya sangat kacau, rambut kucir kudanya sudah berantakan tak beraturan. "Bangunkan Nadia Zi, suruh sholat, Kakak juga mau sholat".


"Iya", Fauzi melangkah menuju sofa, menepuk bahu ponakannya, "Mut..., bangun Mut!, Sholat dulu!".


"Hooaaaam....", Nadia menguap, "Masih ngantuk, sebentar lagi", membalikan badan memunggungi Fauzi dan kembali memejamkan mata.


"Eh... dasar bocah ya...,Bangun! Sholat dulu!" Suara Fauzi meninggi.


"Aduh Paman....,berisik!", Menutup telinga dengan tangannya.


"Nad...! Ukhuk...ukhuk...", Panggil Dewi.


"Hei...! Imut, ibumu memanggil, ayo bangun!" Fauzi menarik rambut kucir kuda Nadia.


"Aw...aw...sakit paman!" Teriak Nadia.


"Makanya bangun, sholat dulu sana!"


"Iya...iya...", Nadia bangkit, lalu duduk, wajahnya cemberut, kesal dengan perbuatan Pamannya.


"Hayoo..., keburu habis waktunya".


"Iya....ih...bawel...!" Nadia berdiri dengan malas menuju kamar mandi sambil menggerutu, "Heran aku, laki-laki kok bawel, gimana Anti bisa tahan sama dia ya?"


"Apa kamu bilang?" Teriak Fauzi yang samar-samar mendengar ucapan ponakannya.


"Enggak...!" Segera masuk kamar mandi, gak mau terus diomeli Pamannya.


"Kalian itu kok gak pernah akur si?" Dewi geleng-geleng kepala sambil tersenyum pada adiknya.


"Gak papa Kak, seneng aja jahilin dia hehe..." Fauzi tersenyum, "Tapi Kak Dewi gak perlu khawatir, sebenarnya aku sayang kok sama dia".


"Kakak tau, Terimakasih ya Zi,"


Fauzi mengangguk.


"Sampaikan juga terimakasihku pada istrimu, sepertinya Nadia sangat mengaguminya, dia banyak berubah setelah kalian ke Jakarta waktu itu".


"Sama-sama Kak".


Nadia keluar dari kamar mandi, lalu sholat serta membantu ibunya bersih-bersih dan menunaikan kewajibannya meskipun sambil duduk.


"Nad... Ayahmu sudah diberi tahu?" tanya Dewi setelah selesai dengan sholatnya.


"Belum, dari semalem juga gak aktif nomornya", Ucap Nadia ketus.


"Ayo sekarang coba lagi, mungkin semalam hpnya lowbet", pinta Dewi.


"Males ah...paling juga masih molor jam segini mah", Wajah Nadia ditekuk.


"Kok gitu si ngomongnya? gak sopan, bagaimanapun dia itu ayahmu", ucap Dewi.


"Hhhhh...Aku gak pernah minta ya, dia jadi ayahku".


"Nadia...!, Kamu tu ngomong apa si?, Ukhuk...ukhuk..." Bentak Dewi pada putrinya agak keras sehingga memancing kembali batuk-batuknya.


"Sudah Kak jangan emosi", Fauzi berusaha menenangkan Kakaknya, segelas air minum kembali ia berikan ke hadapan kakaknya, "Kamu lagi Mut, tau ibunya sakit malah bikin emosi saja".


Nadia masih cemberut, lalu mendudukan bokongnya dengan keras ke atas sofa.


"Permisi", Ucap seorang perawat yang baru masuk ke kamar pasien.


"Silahkan Suster", Jawab Fauzi.


"Maaf, penanggung jawab pasien ditunggu diruang dokter".

__ADS_1


"Baik Sus", jawab Fauzi.


"Anda siapanya pasien ya?" tanya perawat.


"Saya adiknya, dan ini putrinya", Fauzi menunjuk Nadia dengan jari jempolnya.


"Suaminya? apa masih ada?"


"Masih ada Sus, tapi di Jakarta".


"Apa bisa dihubungi untuk datang hari ini?"


"Oh...harus suaminya ya?"


"Iya Pak, karna ini masalah serius, kalau Suaminya sudah tidak ada, baru boleh sama anggota keluarga yang lain, kecuali kalau ada surat kuasa dari suaminya", Jelas Suster.


"Apa seserius itu?" Fauzi merasa kaget dengan ucapan suster, dia menoleh ke arah Nadia yang mematung, Fauzi mengalihkan pandangannya ke arah Kakaknya, lalu kembali menghadap suster.


Suster mengangguk.


"Kami akan mencoba menghubungi beliau Sus, semoga saja hari ini bisa segara kemari", Ucap Fauzi pada Suster.


"Baik Pak, kami tunggu". Suster itu kembali keluar kamar.


"Coba telphon Ayahmu Mut!" Fauzi menatap ponakannya.


Dengan wajah malas Nadia mengambil ponselnya dan mencari nomor ayah sambungnya, lalu menekan tombol panggil.


"Gak diangkat", ucap Nadia singkat.


"Coba lagi!" perintah Fauzi.


Nadia kembali mencobanya, panggilan ke-4 barulah ada jawaban.


"Halo".


"Paman Aji mau bicara," ucapnya dengan ketus, Nadia memberikan ponselnya pada Fauzi, "Nih...!"


Fauzi mengambil ponsel itu dan mengambil alih pembicaraan dengan Mulyana.


"Assalamualaikum Kak Yana"


"Waalaikum salam, Ada apa Zi?"


"Kak Dewi sekarang sedang dirawat di RS Santosa Bandung"


"Oh"


"Kak Yana bisa datang ke Bandung hari ini?"


"Hari ini?"


"Iya"


"Sepertinya tidak bisa Zi, kalau Saya ke Bandung, terus siapa yang jaga toko, bisa rugi kalau toko ditutup, gak ada pemasukan dong, apalagi sekarang Dewi masuk rumah sakit, kan harus pake biaya, nambah pengeluaran lagi", Jawab Mulyana panjang lebar.


"Tapi kata suster penanggung jawab pasien harus suaminya dan hari ini harus menghadap dokter"


"Bilang aja suaminya lagi sibuk, kamu juga keluarganya kan? kamu saja yang urus, masa gak bisa? dirumahsakit manapun biasanya juga bisa asal bagian dari keluarganya yang tanggung jawab".


"Kalau bisa dengan saya, saya juga tidak akan menghubungi anda", Ucap Fauzi merasa emosi dengan ucapan Mulyana.


"Trup!" Fauzi langsung mengakhiri panggilannya.


Aneh ya ni orang, masa meluangkan waktu sehari saja gak bisa untuk istrinya yang sakit, gumam Fauzi dalam hati, dia tak tega kalau harus bicara sesuatu yang dapat menambah beban fikiran kakaknya.


"Gimana? gak bisa datang kan?" tanya Nadia, seolah sudah dapat menebak jawaban dari ayah sambungnya.


Fauzi hanya menatap tajam pada Nadia, memberi isyarat agar dia menyaring ucapannya didepan ibunya.


"Kak Yana sedang sibuk Kak, sepertinya dia tidak bisa datang", Ucap Fauzi pada kakaknya.


Dewi hanya menarik nafas panjang, tak bicara.


"Sibuk apaan, kerjaannya lontang-lantung".


ucap Nadia, senyuman sinis tersungging dari bibirnya.


"Ya jaga toko lah Imut", Jawab Fauzi, geram pada ponakannya.


"Hah...jaga toko? preeet....coba nanti kita lihat, kalau kita sudah pulang, ada uang berapa dilaci toko", Nadia menjulurkan lidahnya tanda tak percaya.


Fauzi yang geram segera menarik lengan ponakannya keluar dari kamar, "Kamu tu ya...bisa tidak menyaring omongan kamu didepan ibumu, kasian dia lagi sakit, jangan menambah beban fikirannya".


Nadia hanya mematung dimarahi Pamannya, wajahnya semakin cemberut memancarkan kebencian.


"Paman tau kamu tidak suka dengan ayah sambungmu, tapi tolong...hanya kali ini saja, saat ibumu sakit, jangan menambah beban fikirannya".


"Nadia bukan hanya tidak suka, tapi benci sama dia", Ucapnya lantang dengan wajah tanpa dosa.


"Iyyya...Paman tau, tapi tahanlah dulu, setidaknya sampai ibumu sembuh".


Nadia kembali mematung.

__ADS_1


"Sudah, masuk sana! temani ibumu dulu, paman akan menemui dokter".


Nadia mengangguk, lalu kembali masuk kedalam kamar.


Fauzi berjalan menuju ruang dokter, dengan susah payah dia memberi alasan kepada dokter bahwa suami Dewi tidak bisa datang, jadi dia sendiri yang akan bertanggung jawab terhadap pasien.


Akhirnya dokter menyetujui ucapan Fauzi, dan mengatakan kondisi yang sesungguhnya dari pasien.


Fauzi terdunduk diruang dokter, tak terasa airmatanya menetes, saat tau penyakit dari Kakak tertuanya sangat serius.


Dewi mengidap Kanker Paru yang sudah menjalar sampai ke otak, dilihat dari sejarahnya, ternyata Dewi sudah lama mengalami sakit paru, batuk-batuk dan terus-terusan berobat ke dokter.


Nadia kurang faham karena dia lama tinggal di Semarang, sedangkan suaminya sama sekali tidak peka dan tidak pernah sekalipun mengantarnya berobat, dan Dewi hanya memendam penyakitnya sendirian.


Fauzi merasa terpukul, dia merasa gagal sebagai sodara laki-laki satu-satunya bagi Dewi, dia benar-benar menyesal karena jarang berkunjung kerumah kakaknya, ataupun menelphon untuk sekedar bertanya kabarnya.


Setelah dari ruangan dokter, Fauzi merasa begitu lemas, dia menerima pesan dari Afifa, bahwa Hanita dan suaminya akan segera datang ke Rumah Sakit untuk menggantikannya menjaga Dewi agar dia dan Nadia bisa istirahat.


Tak lama Amran dan Hanita datang, tapi Nadia tidak mau diajak pulang, dia ingin tetap menemani ibunya, dengan terpaksa Fauzi pulang sendiri.


*****


Pukul 8 pagi Fauzi sampai dirumah, wajahnya murung, tak ada sedikitpun senyum dari bibirnya.


Afifa tetap menyambut suaminya dengan senyuman, dia mengerti kali ini suaminya begitu lelah, mungkin dia tidak tidur semalam, fikirnya.


"Capek ya Kak?" tanya Afifa, "Fifa sudah siapkan air hangat buat mandi, yuk mandi dulu!" Afifa masih menggenggam tangan suaminya setelah sebelumnya menciumnya.


Fauzi memandang lekat wajah istrinya, wajah teduh yang selalu membuat hatinya tenang.


"Kak..." Panggil Afifa saat melihat suaminya hanya terdiam, tangannya mengusap lembut pipi suaminya, "Ada apa?"


"Sudah datang Zi..." Mama datang dari arah dapur.


"Eh...iya Ma, baru saja", ucap Fauzi cukup kaget dengan kedatangan Mamanya.


Afifa segera melepaskan genggaman tangannya, dia tersenyum ke arah mertuanya.


"Bagaimana kondisi Dewi?" tanya Mama lagi.


"Nanti Aji ceritakan ya Ma, Aji mau bersih-bersih dulu", Fauzi berusaha tersenyum pada ibunya.


"Baiklah, mandilah dulu, kamu pasti capek".


Fauzi mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya, Afifa mengekor dibelakang suaminya.


"Talita mana?" tanya Fauzi.


"Di belakang, main bersama Cici dan Papa". Jawab Afifa.


"Oh..." Fauzi menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur.


"Loh...kok malah tidur, katanya mau mandi".


"Kemarilah!" Fauzi melambaikan tangannya.


Afifa duduk ditepi tempat tidur, "Ada apa Kak?"


Fauzi tak bicara, dia mengubah posisi tidurnya, mengangkat kepalanya dan meletakannya dipangkuan istrinya.


Afifa merasa heran dengan prilaku suaminya, tapi dia tau, pasti suaminya sedang ada masalah, Afifa meletakan tangan kanannya dikepala Fauzi, lalu perlahan mengusapnya.


Fauzi meraih tangan istrinya lalu menciumnya sangat lama, matanya terpejam, tak terasa air matanya menetes mengenai tangan Afifa.


"Kak Dewi sakit kanker paru Dek..." Fauzi memulai pembicaraan.


"Kanker? Innalillahi..." Afifa tersentak dengan penjelasan suaminya.


"Iya, hasil scan tiga dimensinya menunjukan kankernya sudah menjalar sampai ke otak, ada benjolan dikepalanya".


"Apa ada kemungkinan sembuh Kak?"


"Entahlah, dokter bilang, mereka sudah tidak bisa melakukan biopsi, resikonya sangat besar".


Keduanya terdiam cukup lama, tenggelam dalam fikirannya masing-masing.


Afifa kembali mengusap rambut suaminya. "Sayang...mandi dulu ya, abis itu kita sholat dhuha dan berdo'a untuk kesembuhan Kak Dewi".


Fauzi mengangkat kepalanya, "Iya sayang", satu kecupan mendarat di kening Afifa, dia berdiri mengambil handuk yang sudah disiapkan istrinya, lalu masuk ke kamar mandi.


********************


Bersambung...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Makasih pecinta setia SCA


jangan lupa like dan komentarnya 😊


LOVE YOU ALL ❤❤❤😙😙😙


By :@Rahma Khusnul #

__ADS_1


__ADS_2