Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Mual...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Afifa yang sedang merebahkan tubuhnya seketika terperanjat mendengar suara orang yang dirindukannya, dia segera bangkit dan membetulkan posisi jilbabnya yang berantakan, lalu menatap sekilas ke arah cermin untuk memastikan penampilannya, namun saat dia hendak membuka pintu, fikiran Afifa teringat dengan ucapan Nadia, diapun mengurungkan niatnya, dan kembali naik ke tempat tidur dan berbaring membelakangi pintu.


"Tok...tok...tok..." Fauzi kembali mengetuk pintu, "Dek...!" panggilnya, namun tidak ada jawaban. Fauzi berbalik memandang Umi yang sedang berdiri memperhatikan dirinya.


"Buka saja! tidak dikunci sepertinya", ucap Umi.


Ragu-ragu, Fauzi memegang handel pintu, lalu memutarnya dan mendorongnya perlahan, dia bernafas lega saat melihat pujaan hatinya sedang tertidur disana. Dia masuk dan kembali menutup pintu dengan perlahan. Fauzi berdiri menghadap tempat tidur, memperhatikan tubuh istrinya yang tidak juga bergerak, diapun mencoba untuk duduk di tepi ranjang dan perlahan menyentuh bahu Afifa. "Sayang..." panggilnya pelan, Namun Afifa tak juga menolehnya. Fauzi kembali terdiam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung dengan apa yang harus dilakukannya agar Afifa terbangun dan menyambutnya. dia kembali berdiri, berjalan mondar-mandir didalam kamar yang ukurannya 2 kali lipat lebih kecil dari kamarnya sendiri.


Fauzi kembali duduk, tangannya mencoba menyentuh lengan Afifa, "Dek..., ini aku", Ucapnya. "Dek..., jangan seperti ini, lihat kemari...Dek..., Ayolah sayang...Aku tak tahan diperlakukan srperti ini, Maaf...maafkan aku atas kebodohanku", Fauzi memelas. Tapi Afifa tetap tak bergerak.


Akhirnya Fauzi memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur, lalu berbaring disamping Afifa dan memeluknya dari belakang, "Sayang...aku merindukanmu", bisiknya tepat ditelinga Afifa.


Namun, tiba-tiba Afifa terbangun sambil menutup hidung dan mulutnya serta mendorong tubuh Fauzi, lalu dia berlari keluar kamar meninggalkan Fauzi yang hanya bengong di tempat tidur. "Huwek...huwek..." Suara Afifa dari kamar mandi, suaranya terdengar sampai ke kamar, Fauzi meloncat dan berlari menuju kamar mandi yang pintunya tengah terbuka.


"Sayang...! kamu kenapa?" tanya Fauzi panik sambil memegang pundak Afifa, namun Afifa tidak menjawab, dia malah menutup hidungnya dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya mengibas-ngibas agar Fauzi menjauh darinya. "Umi...!" tetiak Fauzi, panik saat melihat istrinya mengeluarkan cairan kental dari mulutnya.


"Iya sebentar...!", suara umi dari luar rumah, sambil berjalan tergopoh-gopoh karena kakinya masih sakit, nampak Abi, Nisa juga Rizqi mengikutinya dari bekakang. "Ada apa Nak Aji?" tanya Umi kaget.


"Afifa kenapa, Mi? dia muntah-muntah tapi tidak mau Aji sentuh". ucap fauzi.


Umi menghampiri Afifa, "Teteh kenapa?" tanya Umi, "ambil minum, Zi!" perintah Umi pada Fauzi.


Abi, Nisa dan Rizqi hanya bengong didepan kamar mandi.


"Iya Mi". Fauzi segera mengambil air hangat dari dispenser disamping meja makan, "Ini, Mi..." Mengulurkan segelas air minum kepada Umi yang sedang memijit punggung leher Afifa.


Umi mengambil gelas itu dan menyerahkannya kepada Afifa, dan segera diminum olehnya. Afifa mengambil tisyu dan mengelap mulutnya sendiri, wajahnya nampak berkeringat dan pucat, kerutan terlihat dikeningnya, pertanda ada sesuatu yang tidak nyaman baginya, nafasnya pun naik turun tak beraturan.


"Dek..., kamu sakit? kita ke dokter ya!" ucap Fauzi. Tapi Afifa hanya menggeleng, lalu kembali berjalan menuju kamar Nisa. Fauzi hendak membimbingnya, namun Afifa menepis tangan Fauzi dan barlalu meninggalkannya. Fauzi hanya menghela nafas dan mengikutinya menuju kamar.


"Fauzi betul Teh..., sebaiknya periksa dulu ke dokter". Timpal Umi.


Afifa berhenti melangkah, "Besok saja Mi, sekarang Teteh hanya ingin tidur.


"Tapi sebentar lagi maghrib Teh", ucap Umi lagi.


"Iya Umi..., Teteh tunggu adzan di kamar saja", jawab Afifa dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Fauzi mengikutinya, dan kembali menutup pintu.


Afifa duduk di tepi ranjang, Fauzi ikut duduk disampingnya. "Kamu yakin gak mau ke dokter sekarang, Dek?" tanya Fauzi sambil menggenggam tangan Afifa.


Tapi Afifa hanya diam saja.


"Dek..., bicaralah..., jangan terus mendiamkanku", Fauzi memalas. "Aku minta maaf atas semua kesalahan dan kebodohanku, Dek...Ayolah, ku mohon..." Fauzi mendekat dan memegang bahu Afifa, "Kau tau, Dek...? Aku sangat merindukanmu" ucap Fauzi hendak memeluk Afifa.


Tapi Afifa beringsut menjauhi Fauzi sambil menutup hidungnya. "Mmm... bau apa ini?" tanya Afifa tiba-tiba dengan mata mendelik ke arah Fauzi. "Kak Aji belum mandi ya?" tanyanya lagi, membuat Fauzi menghentikan aksinya dan menyadari kalau sore ini dia memang belum mandi setelah panik mencari Afifa. "Mandi dulu sana!" usir Afifa dengan tetap menutup hidungnya.


Fauzi menunduk menatap tubuhnya sendiri, lalu mencium lengan dan bajunya berkali-kali. Sebau itu kah tubuhku? gumamnya. Perasaan ini masih wangi, dan biasanya Afifa sangat senang dengan wangi farfum ini. "Dek..., ini kan masih..."


"Cepetan mandi dulu sana! aku tak tahan dengan baunya". potong Afifa, membuat Fauzi hanya menghela nafas.


Fauzi berdiri, saat dia hendak berjalan, dia kembali membalikan tubuhnya, "Handuknya mana? terus bajunya?"


"Pinjam punya Rizqi, dan itu handuknya, pake punyaku aja". jawabnya ketus.

__ADS_1


"Oh ... iya", jawab Fauzi lemas sambil berlalu meninggalkan Afifa.


Tak lama adzan maghrib berkumandang, Fauzi sudah berganti pakaian pinjaman dari Rizqi, dia pamit kepada Afifa untuk pergi ke mesjid bersama Abi, Nisa dan Rizqi. Malam ini mereka memutuskan untuk menginap dirumah Umi.


Selepas Isya, mereka kembali ke rumah. Saat Fauzi hendak masuk kamar, Umi memanggilnya dari ruang makan. "Nak Aji makan dulu, sini...!".


"Oh, Iya Umi", sambil celingukan mencari istrinya yang ternyata tidak ada di ruang makan. "Afifa mana, Mi?", tanya nya.


"Masih di kamar, belum keluar dari maghrib tadi", jawab Umi.


"Aji panggil dulu ya, Mi", Fauzi melangkah menuju kamarnya. Ternyata Afifa sedang terbaring meringkuk diatas tempat tidur dengan mukena putih yang masih dikenakannya. "Dek...", panggil Fauzi.


"hmmm...", jawab Afifa tanpa mengubah posisinya.


"Ayo makan dulu...", ajak Fauzi.


"Kak Aji makan aja, Fifa gak lapar", jawab Afifa pelan masih dalam posisi yang sama dan tetap memejamkan mata.


"Tapi kamu kan belum makan, sayang".


"Fifa gak lapar!" Jawab Afifa agak tegas.


"Kok kamu gitu si? bangun dulu, ayo lah..." Fauzi memelas, mambuat Afifa membalikan tubuhnya ke arah suaminya, perlahan membuka matanya, nampak Fauzi sedang duduk dihadapannya, tersenyum manis ke arahnya. Namun, begitu Afifa melihat wajah suaminya, tiba- tiba..."Nyel....!" dorongan kuat kembali datang dari lambungnya, membuat Afifa seketika menutup mulutnya dan ingin muntah, "Huwek...!" suara itu kembali keluar dari mulut Afifa membuat wajah Afifa memerah. Entah mengapa, Afifa tiba-tiba sangat sebel melihat wajah pria yang ada dihadapannya.


"Eh...Dek? mau muntah lagi?" tanya Fauzi.


Afifa menggeleng, "Kak Aji pergi saja dari sini! Fifa mau istirahat" Afifa mengibaskan tangannya.


"Lo...? kok gitu si, Dek?" tanya Fauzi heran.


Fauzi menghela nafas, merasa aneh dengan tindakan istrinya, "Ada apa denganmu, Dek?" gumamnya. Lalu dia pun melangkah gontai keluar kamar.


"Mana Afifa?" tanya Umi.


"Dia gak mau makan, Mi", jawab Fauzi.


"Lo...? dia kan belum makan dari siang tadi, nanti malah tambah sakit lagi", ucap umi sambil menyimpan nasi ke atas piring beserta lauknya, "Ini...!" Umi memberikan piring yang sudah berisi nasi dan lauk itu kehadapan Fauzi, "Makanlah di kamar bersama istrimu!" perintah Umi.


"Tapi...dia gak mau deket-deket sama Aji, Mi..." Jawab Fauzi sedih.


"Lo...? kenapa?" tanya umi heran.


"Gak tau Umi, dia bilang...pengen muntah kalau liat Aji", jawab Fauzi.


"Sebentar!, biar Umi lihat", Umi melangkah ke kamar Afifa, membuka pintu dan menghampiri Afifa yang masih terbaring. "Teh..." panggil Umi. Afifa berbalik ke arah Umi.


"Iya Umi?" jawabnya malas, lalu mendudukan dirinya ditempat tidur menghadap Umi.


"Jangan seperti itu pada suamimu, kasian dia", Ucap Umi, tapi Afifa hanya diam, "Umi tau dia salah, tapi ya jangan berlarut-larut gitu marahnya, dosa lo...".


Afifa menatap Umi, dia memang menyadari kalau hal itu salah, ternyata apa yang direncanakan Nadia untuk mendiamkan suaminya kini benar-benar terjadi tanpa keinginan dan rencananya, dia juga tidak tahu apa penyebabnya, yang pasti... kini setiap melihat wajah suaminya, dia selalu merasa sebal dan ingin muntah saja.


"Teh...sebenarnya Teteh kenapa?" tanya Umi lagi.


Afifa menyenderkan kepalanya ke bahu Umi, "Fifa juga gak tau, Mi. Setiap kali Fifa melihat wajah Kak Aji, kok bawaannya pengen muntah gitu", ucap Afifa.

__ADS_1


"Hmmm???, benarkah?" Umi tak percaya, tapi sepertinya Umi sedang menduga-duga sesuatu yang terjadi kepada putrinya. "Baiklah, kalau gitu...biar Umi yang bawakan makanan kemari ya".


"Gak Usah, Mi..., Fifa gak laper", jawab Afifa.


"Eits...ya harus dipaksakan, kalau tidak...nanti bukan hanya kamu yang sakit", Ucap Umi sambil tersenyum, lalu berjalan ke luar kamar, Afifa hanya mengerutkan keningnya, mencerna apa maksud dari ucapan Umi barusan.


Tak lama Umi kembali dengan membawa piring berisi makanan, Afifa mengikuti ucapan Umi untuk makan, namun hanya dua suap saja yang bisa masuk ke mulut Afifa, karena dia hampir memuntahkan lagi isi perutnya. akhirnya Umi pun menyerah dan kembali keluar menemui Suami, menantu dan anak-anaknya.


"Gimana, Mi? Fifa mau makan?" tanya Fauzi tak sabaran.


"Tuh..., hanya dua suap saja", kata Umi sambil memperlihatkan piring bekas makan Afifa yang nasinya masih menumpuk.


Fauzi nampak bingung, dan hanya menghela nafas.


"Sepertinya besok kamu harus benar-benar membawa Afifa ke dokter, Zi", ucap Umi, "Tapi...ke dokter kandungan ya", Umi tersenyum dengan ucapan terakhirnya.


Seketika Fauzi mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah ibu mertuanya, "Mmm...maksud Umi, Afifa....".


"Jangan senang dulu, periksa saja besok, nanti kalian akan tahu hasilnya", Umi kembali tersenyum.


Wajah Fauzi langsung sumringah, dia berdiri hendak menuju kamar Afifa.


"Mau kemana, Zi?" tanya Umi, langkah Fauzi terhenti dan menoleh Umi.


"Ke kamar Af..."


"Jangan sekarang..., nanti saja kalau dia sudah tidur, dia bisa mengusirmu lagi nanti", ucap Umi, senyuman tetap terukir dari bibirnya.


"Tapi, Mi... itu..."


"Sudah..., makan saja dulu!", perintah Umi.


"Oh...iya", ucap Fauzi, kembali mendudukan dirinya di kursi makan.


Makan malam selesai, Fauzi ngobrol sebentar dengan Abi dan Umi sampai pukul setengah sembilan malam. Fauzi pamit hendak masuk ke kamarnya.


Saat masuk kamar, nampak Afifa sudah terlelap disisi lain tempat tidur sambil memeluk guling, dia sudah mengganti pakaianya dengan baju tidur.


Fauzi berdiri didepan tempat tidur memperhatikan tubuh istrinya, seulas senyum terukir dari bibirnya. Dia duduk ditepi ranjang, tangannya terulur ke kaki Afifa yang tidak tertutup selimut sama sekali, perlahan tangannya memijat kaki mulus Afifa, dia menelan ludah, namun tak berani membangunkan istrinya.


"Ah...sayang..., tahu kah kau kalau saat ini aku sangat merindukanmu? tapi aku tidak mau mengganggumu, tidurlah, mimpi indah bersamaku dan anak-anak kita nanti", gumam Fauzi sambil tersenyum. Dia beringsut mendekati kepala Afifa, lalu mencium keningnya, dan membaringkan tubuhnya disamping istrinya, perlahan tangannya dia lingkarkan di perut Afifa sambil mencium bau harum tubuh istrinya. menikmati setiap detik kebersamaan yang telah satu minggu ini ia sia-siakan.


*****************


Bersambung....❤❤❤🤗🤗🤗⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ah... gimana Readers... Requesnya sudah terkabul ya...😉


Tetap Like, Vote, Komentar... saya tunggu...🤗🤗🤗


I LOVE YOU ALL...😗😗😗❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul.

__ADS_1


__ADS_2