
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Suasana di dalam kelas mata kuliah akhir hari ini masih kondusif. Semua mahasiswa antusias dalam mendengarkan semua penjelasan Dosennya. Kecuali seorang gadis berhijab yang duduk di pojokan. Wajahnya nampak gelisah sambil menatap bolak-balik ke arah jam dinding yang tergantung di depan kelasnya, fikirannya terus melayang membayangkan apa yang akan terjadi saat makan siang nanti bersama Pria pujaannya. Sampai-sampai dia tidak sadar dengan kedatangan seorang Perempuan paruh baya, dengan tubuh gempal dan seragam batik sudah berdiri di sampingnya.
"Muthya Nadia Putri!" Bentaknya.
"A...E...Iya, Bu Dosen?" Jawab Nadia yang baru saja kesadarannya terkumpul setelah melayang kemana-mana.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya?" tanya Dosen itu lagi.
"Oh...Pertanyaan? per...pertanyaan yang mana ya, Bu?" balik nanya, wajahnya melongo tanda tak mengerti, sekaligus malu.
Suara anak-anak lain di dalam kelasnya terdengar riuh menertawakan dirinya yang seperti orang **** ini.
"Jadi...dari tadi fikiranmu tidak disini, Muthya?" tanya Dosen itu lagi.
"Oh..., maaf, Bu! tadi...tadi saya sedang memikirkan..., bagai mana caranya.... saya... bisa ke toilet sekarang, Ha ha ha...," Nadia malah tertawa, membuat teman-teman serta Dosennya menatap tajam ke arahnya dengan keheranan.
Tawa Nadia langsung terhenti saat mendapat tatapan tajam seolah ingin menerkam dari Dosen dihadapannya. "Kamu fikir ini lelucon ya?" tanya Dosen itu.
"Eh..., maaf, bukan... bukan seperti itu,Bu! Saya..., saya memang ingin ke toilet."
"Saking kerasnya kamu berfikir bagaimana cara ke toilet, sampai-sampai kamu tidak sadar kalau Saya sedang bertanya sejak tadi kepadamu Muthya?" Mata Dosen perempuan itu menatapnya dengan mata lebar hampir keluar dari tempatnya, membuat Nadia takut dan langsung tertunduk tak berani mengangkat kepalanya lagi.
Tangan Nadia diremas-remas di atas pangkuannya, fikirannya menggerutu mengutuki perbuatannya sendiri. Aduuuuh..., kenapa ni mulut nyerocos aja si Nadia, please dech..., ini kan Dosen.
"Muthiya...!" bentak Dosen itu lagi berbarengan dengan bunyi nada dering dari ponselnya yang terdengar cukup keras.
"Eh, Iya Muthya..., Kenapa?" Ucap Nadia terlonjak dari lamunannya seketika mengangkat kepalanya, dan berusaha menekan bunyi ponsel didalam tas dengan tangan kanannya, sebenarnya tidak mungkin berhenti juga si kalau tidak dimatikan 😀.
Dosen itu semakin geram. "Setelah kelas saya selesai, temui saya di kantor!" Ucap Dosen itu, lalu berbalik mekangkah ke arah mejanya sendiri, melanjutkan materinya sampai jamnya benar-benar habis.
Nadia hanya menelan salivanya dan mengelus-elus dadanya sendiri. Mata bulatnya berputar-putar memikirkan hukuman apa yang akan diberikan Dosen itu kepadanya nanti, sampai dia tidak berani melihat siapa orang yang sudah membuat ponselnya baru saja berbunyi.
****
Langkah Nadia gontay saat keluar dari ruangan Dosen, bagaimana tidak? dia mendapat tugas merangkum dua buah buku sekaligus dari Dosen itu. Dengan lemas dia mendudukan dirinya dikursi panjang tepat di depan ruangan yang barusaja dia masuki. Wajahnya kusut dengan jilbab berantakan tak beraturan, tanpa dia sadari, sepasang mata tengah memperhatikan gerak-geriknya.
"Assalamualaikum," Sapa orang itu.
"Deg...!" jantung Nadia berhenti sejenak. Dia tersentak, tak berani mengangkat kepalanya saat mengenal suara yang menyapanya.
"Nadia! Assalamualaikum," sapanya lagi.
Perlahan Nadia mengangkat kepalanya dan ragu-ragu menjawab salam. "Wa...alaikum...salam," ucapnya, mata bulatnya memberanikan diri untuk menatap wajah pria dihadapannya, sekilas mata mereka bertemu, ternyata Farid sedang tersenyum ke arahnya. Nadia kembali tertunduk, segera tangannya membetulkan posisi jilbabnya yang mencong dan berusaha memasukan anak-anak rambut yang keluar dari pinggiran jilbabnya, yang menunjukan kekesalan dan kebingungannya yang sempurna.
"Kenapa?" tanya Farid, Mulutnya terlihat ingin terbuka hendak tertawa, namun dia berusaha menahannya.
"Eh..., anu..., gak papa, aku..., cuma..."
"Dapat hukuman apa dari Dosen barusan?" tanya Farid lagi memotong ucapan Nadia yang gelagapan.
Nadia tersentak dengan pertanyaan Farid, dia tidak habis fikir, bagaimana pria pujaannya ini tau kalau dia baru saja diberi hukuman? bukankah itu sangat memalukan? Dia pun memberanikan diri mengangkat kepalanya, lalu kembali berkata. "Aku..., tadi aku hanya..."
"Gak papa, Temanmu Tiwi sudah cerita semuanya," Farid tersenyum.
"Tiwi...? ih dasar bibir rombeng!" gerutunya pelan, namun tentu saja dapat didengar oleh Farid, karena suasana kampus yang sudah sepi.
"Sudah, nanti aku bantu kalau memang dibutuhkan, asal kamu mau cerita," ucap Farid tak lepas dari senyumnya yang justru membuat jantung Nadia semakin berdegup kencang.
"Benarkah?" tanya Nadia menatap kembali wajah Farid dengan menampakan binar matanya, Farid mengangguk meyakinkan.
Tapi dia kembali tertunduk saat merasa dirinya terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan, dia pun kembali berkata dalam tunduknya. "Tapi..., sepertinya tidak perlu Mas, Nadia..., Nadia bisa kok," ucapnya sambil tersenyum yang agak di paksakan.
"Ya sudah kalau kamu bisa, kita bicara sambil makan saja Yuk!" ajak Farid.
Nadia mengangguk dan berdiri mengikuti langkah Farid di belakangnya. Farid berhenti dan menoleh ke belakang, "Kok nguntit di belakang, Nad? memangnya aku atasanmu?" tanya Farid.
"Oh..., iya gak papa," ucap Nadia sambil mengangguk.
Farid tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu mundur beberapa langkah agar langkahnya sejajar dengan Nadia. "Kenapa masih canggung aja si? katanya kita sudah pacaran?" tanya Farid sambil berjalan.
__ADS_1
"Aku..., aku masih merasa belum percaya , Mas! kalau ternyata kita sudah pacaran hari ini," ucap Nadia masih setia dengan tunduknya.
"Lebih tepatnya si bukan pacaran, tapi ta'aruf, agar kita dapat lebih mengenal sebelum nanti kita masuk ke jenjang pernikahan," Ucap Farid langsung pada intinya.
Langkah Nadia terhenti, entah mengapa, kini lutut dan tangannya bergetar, seolah ada sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuhnya. Jantungnya melonjak-lonjak, ingin bersorak. Perasaan senang, kaget dan rasa tak percaya berkecamuk di dalam dadanya. Secepat inikah? fikirnya. Bahkan mereka barusaja berkomitmen untuk pacaran belum genap sepuluh hari ini saja, walaupun sudah lama saling mengenal.
"Kenapa berhenti?" tanya Farid, ikut menghentikan langkahnya.
"Oh..., aku...aku hanya..."
"Terlalu cepat ya?" tanya Farid lagi, Nadia tak berani mejawab, dia hanya tertunduk dan melanjutkan langkahnya menuju Rumah Makan yang ada di sebrang kampusnya sesuai dengan chat Farid semalam.
Selama makan siang, Nadia lebih banyak diam, karena di hadapan Pria pujaannya ini dia sangat mengatur kata-katanya, meski terkadang dia keceplosan mengeluarkan kata-kata nyelenehnya yang membuat Farid terus tertawa, dan berakhir dengan permintaan maaf dari Nadia. dalam acara makan siang ini, Farid menjelaskan beberapa alasan kenapa dia ingin segera memperkenalkan Nadia kepada keluarganya. Farid berasal dari keluarga yang berbasis pesantren yang sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya, dalam kamus keluarganya tidak ada yang namanya pacaran kalau tidak berniat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Farid juga punya seorang adik perempuan yang sudah dilamar seseorang, namun adiknya keukeuh tidak mau menikah sebelum Kakaknya menikah terlebih dahulu.
Tentunya sudah banyak gadis yang ditawarkan kepada Farid oleh keluarganya, namun tak ada satupun gadis yang dapat singgah di hatinya, karena hatinya dulu sudah terisi dengan sebuah nama yang telah terukir lama di hatinya, sampai akhirnya kini dia mencoba untuk membuka ruang kembali dihatinya untuk gadis lain.
"Kamu tidak keberatan kan kalau Aku meminta Fotomu?" tanya Farid sebelum mereka berpisah.
"Foto?" tanya Nadia heran.
"Iya, untuk ku tunjukan kepada keluargaku nanti di Semarang,"
"Kenapa harus minta izin? bukankah itu hal yang biasa ya?" tanya Nadia.
"Tentu saja harus minta izin dulu, meskipun status kita sedang ta'aruf, tapi kita kan belum muhrim," ucap Farid.
"Oh iya..., boleh silahkan!" jawab Nadia sambil tertunduk malu.
Farid segera mengambil ponselnya, dan membidikan kamera ke arah Nadia. Nadia semakin salah tingkah dibuatnya. Satu foto telah diambil Farid, dia melihat hasil jepretannya lalu tersenyum, "Cantik," ucapnya pelan, namun dapat didengar jelas oleh Nadia, membuat Hati Nadia semakin berbunga-bunga mendapat pujian dari pria pujaan hatinya.
Farid menatap Nadia yang sedang tertunduk dengan senyumnya, entah mengapa tangannya tiba-tiba ingin kembali menekan tombol kamera dan mengambil beberapa gambar wajah gadis imut dihadapannya, entah sampai berapa kali Farid mengambil Foto wajah Nadia dalam berbagai pose tanpa disadari pemiliknya.
Setelah makanan mereka habis dan Farid membayar tagihannya, Akhirnya keduanya saling mengucapkan salam dan berpisah untuk pulang menggunakan motor masing-masing.
***********
Pukul 14.50 Mobil Fauzi sampai didepan rumahnya setelah menjemput Afifa dari srkolah tempat dia mengajar. Keduanya turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju pintu rumah, seperti biasa tangan Afifa selalu bergelayut manja di lengan Fauzi.
Afifa melirik jam dinding, "Belum, Kak! sebentar lagi juga adzan," jawab Afifa sambil berjalan hendak masuk ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar nada dering panggilan dari ponsel di dalam tas yang baru saja disimpannya di atas nakas. Afifa segera merogoh ponselnya, lalu melihat nomor Nadia tertera di sana. Afifa tersenyum.
"Siapa, Dek?" tanya Fauzi.
"Keponakan jahilmu," ucap Afifa sambil tersenyum, lalu berjalan mendekati Fauzi dan mendudukan dirinya disamping suaminya.
"Assalamualaikum, Nad!" sapa Afifa setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Waalaikum salam, Antiiiiiiii.....! teriak di sebrang sana.
Afifa segera menjauhkan ponsel dari telinganya, karena tetiakan Nadia yang memekik telinganya. "Ih..., kenapa lagi ini anak?" tanyanya.
"Kenapa, sayang?" tanya Fauzi.
Afifa menekan loadspeaker di ponselnya agar terdengar oleh suaminya.
"Ada apa teriak-teriak, Nad? Anti tidak budeg lo," jawab Afifa.
Ah... Anti sayangku...! Mas Ari...! teriaknya lagi dengan nada senang tentunya.
"Iya kenapa, Mas Arimu itu?" tanya Afifa sambil melirik ke arah Suaminya yang sedang memperhatikan dirinya. tak ingin Suaminya salah Faham, Afifa menyenderkan kepalanya dibahu Fauzi sambil tersenyum. Fauzi segera melingkarkan tangannya di bahu Afifa dan mencium pelipis Afifa dibalik hijabnya.
Mas Ari mau memperkenalkan Nadia sama keluarganya, Anti...! Nadia seneng bangeeet..., Ucap Nadia disebrang sana.
"Wah...benarkah? maksudnya kamu mau di bawa ke Semarang gitu?"
Belum si, hehe..., tapi Mas Ari udah punya Foto Nadia untuk di perlihatkan kepada keluarganya.
"Wah... bagus itu. Selamat ya, Nad! semoga semuanya lancar."
Aamiin..., makasih Anti, Emmuach...
"Eh..., Ngapain emmuach-emmuach...?" Fauzi mengambil ponsel dari tangan Afifa.
__ADS_1
Eh...Paman ada disitu juga?
"Iya, dan jangan coba-coba cium Antimu ya!"
Widiiiih..., pelit amat, orang cuman di telepon duang, lebay ih!.
"Birin, suka-suka Paman mau ngapain, ponakan nakal suka ngerjain orang!"
Ya elaaah..., masih bahas yang kemarin? iya maaf....maaf, Nadia janji gak akan ulang lagi deh. Ya udah, Paman lanjutin deh pacarannya haha ...Assalamualaikum.
"Waalaikum salam," jawab Fauzi dan Afifa. Keduanya tersenyum saling memandang.
"Disuruh pacaran tu sama Nadia," ucap Fauzi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih..., pacaran apaan? kaya anak muda aja!" jawab Afifa.
"Pacaran halal dong..., bentar aja," ucap Fauzi dengan tatapan nakal sudah menangkup tubuh Afifa di atas sofa.
"Ih...gak mau! mandi dulu sana!" usir Afifa.
"Hayolah sayang...," rengeknya terus memojokan Afifa ke ujung sofa, sampai adzan Ashar berkumandang.
"Nah..., Adzan Ashar. Ayo sholat dulu!" Afifa menutup mulut Fauzi yang sudah berada di depan wajahnya dengan tangan kanannya.
Fauzi menghentikan aksinya, lalu menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat, dia menegakkan duduknya dengan wajah di tekuk.
Afifa tersenyum, lalu..."Cup!" satu kecupan kilat mendarat di pipi kanan Fauzi, Afifa segera berlari menuju kamar mandi.
"Eh..., Sayaaaang...!" Fauzi bangkit dan mengejar istrinya, namun pintu kamar mandi segera ditutup Afifa dari dalam, Fauzi hanya tersenyum di depan kamar mandi. "Haaaah..., gimana aku tidak makin sayang padamu, Dek?" Gumamnya dibalik senyum yang terus mengembang.
***************
Sore hari, Wulan sedang berada di meja kerjanya sambil menggoreskan pencil yang dipegangnya, membentuk garis-garis berarti untuk menuangkan ide rancangan pakaian yang ada dalam fikirannya. Tiba-tiba seorang pegawainya menghampirinya, untuk memberi tahu bahwa ada seorang pria yang datang mencarinya. "Siapa Rin?" tanya Wulan.
"Kurang tau, Bu! katanya mau melihat kondisi Pak Herman," jawab Rina.
"Ya sudah, di persilahkan masuk aja!" ucap Wulan sambil berdiri hendak menemui tamunya. Senyuman langsung tersungging dari bibir Wulan saat melihat siapa orang yang datang yang memang sedang ditunggunya.
"Mari Masuk Dokter!" ucap Wulan ramah.
Faqih mengangguk dan mengucapkan salam, Wulan menjawab salamnya dan mengajak Faqih naik ke lantai atas.
"Sudah jam 5, ditutup Aja tokonya Rin!" perintah Wulan kepada pegawainya.
"Iya, Bu!" jawab Rina dan segera melakukan perintah atasannya.
Faqih mengikuti langkah Wulan, dan segera menemui Pak Herman dikamarnya, berbagai pemeriksaan dia lakukan dan akhirnya ditutup dengan senyum dari bibir dokter itu. "Alhamdulillah, Pak Herman sudah sehat sekarang, ingat ucapan saya ya, Pak! jangan memendam setiap masalah sendirian, ungkapkanlah! karena dengan begitu akan mengurangi beban fikiran Bapak, dan satu lagi, selalu ingat dengan dzat yang sudah menciptakan kita." ucapnya sangat bijak, lalu Wulan mengajak Faqih untuk bicara di ruang tengah. Mereka banyak bicara tentang perkembangan kesehatan Ayah Wulan, sampai akhirnya menjurus kembali kepada masalah pribadinya.
"Aku masih menunggumu, Lan!" Ucap Faqih pelan.
Wulan menatap Faqih dengan mata sayunya. Dia menarik nafas panjang untuk mengatur kata-katanya. "Baiklah, aku akan menerimamu, kalau keluargamu mau menerimaku apa adanya, aku tidak mau ada yang ditutupi tentang statusku kepada keluargamu, aku ingin semuanya terbuka, apapun resikonya nanti."
Faqih tersenyum, "Dan aku juga siap menjadi Ayah untuk putrimu, Meski aku tahu, Kehadiran Thalita adalah satu kesalahan yang sudah kamu lakukan di masa lalu bersama Fauzi, tapi..., aku akan menerimanya seperti anak kandungku sendiri." ucap Faqih, tanpa disadari seorang anak tengah berdiri mendengarkan ucapan mereka didepan pintu masuk menuju ruang tengah.
********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assakamualaikum Readers..., maaf sesiang ini baru bisa Up. 🙏
Mau kah Thalita mempunyai Ayah baru untuknya?
Apakah keluarga Faqih bisa menerima masa lalu Wulan?
Lalu Nadia???... hmmm... hatinya sedang berbunga-bunga, ada hambatan gak ya? 🤔
Tetap like, vote dan komen ya Readers...🤗
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul