Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Salah Faham...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Matahari masih belum muncul sempurna dipermukaan bumi, hanya semburat sinar jingga diatas langit yang menyinari remang-remang hiruk pikuk kota Bandung, Afifa sudah melesat menjalankan motornya menuju tempat dimana sang ibu kini sedang terbaring lemah, ibu yang selalu ada untuknya, ibu yang tak akan pernah menghianati cintanya, dimana ketulusannya tak perlu dipertanyakan, sampai-sampai kekhawatirannya terhadap sang ibu telah melupakan rutinitasnya kepada suaminya.


Pukul 6.15 Afifa sudah sampai di Puskesmas yang dimaksud, dengan cepat ia berjalan dari parkiran motor menuju ruang informasi, nampak sang Ayah sedang duduk dibangku pojok, Afifa segera menghampirinya. "Assalamualaikum Abi, Bagaimana kondisi Umi?" tanya Afifa sambil menyalami Abinya dan mencium tangannya.


"Waalaikum salam Teh, masih didalam, sedang dijahit kakinya robek kena pecahan keramik dikamar mandi", Ucap Abi seolah penuh sesal.


"Kenapa bisa ada pecahan keramik di kamar mandi Abi?" tanya Afifa heran.


Abi pun menceritakan semua kronologis kejadiannya, Umi terpeleset dikamar mandi dan menginjak ujung keramik yang rusak dan belum sempat diperbaiki karena tidak ada biaya untuk membayar tukang.


Afifa menghela nafas panjang, lalu beristighfar, dia merasa begitu teledor terhadap kedua orang tuanya, sudah lama sekali dia tidak berkunjung kerumah Umi, sampai tidak mengetahui kalau dirumah Umi ada kerusakan dan orang tuanya tidak punya uang untuk memperbaikinya, sehingga menyebabkan ibunya kecelakaan saat ini. Abi hanya seorang petani, yang tidak setiap hari memegang uang, hanya saat panen saja beliau bisa mendapat uang, itupun digunakan untuk biaya sekolah Rizqi yang kini sudah kelas 3 SMU dan Nisa yang sudah kelas 2 SMP. Afifa memang sering meminta izin kepada suaminya untuk mengirim Umi uang untuk sekedar mengurangi beban kebutuhan sehari-hari orang tuanya, namun entah karena banyak sekali masalah yang dihadapi Afifa akhir-akhir ini sehingga Afifa lupa kalau satu bulan ini dia tidak memberi uang kepada orang tuanya.


"Ya sudah, nanti kita perbaiki biar gak ada korban lagi ya Bi..., semoga Umi baik-baik saja". ucap Afifa coba menenangkan Ayahnya, meski terlihat jelas penyesalan diwajahnya.


"O ya Bi, Nisa sama Rizqi dirumah?" tanya Afifa lagi.


"Iya, kita kan hanya punya satu motor, Fa! jadi Abi hanya bisa bawa Umi saja kemari", jawab Abi.


Lagi-lagi Afifa menghela nafas panjang. Seandainya saja dia sudah diangkat menjadi PNS, mungkin dia dapat memberi uang lebih untuk orang tuanya, dia juga tidak enak kalau harus terus meminta uang dari suaminya untuk menutupi kebutuhan orang tuanya, meskipun sebenarnya suaminya akan dengan senang hati membantunya.


"Maafkan Fifa ya, Bi!, Fifa sudah lama tidak kerumah untuk menengok Umi dan Abi" Ucap Afifa sambil menggenggam tangan keriput Abinya yang nampak legam karena setiap hari terpapar sinar matahari disawah.


"Tidak apa-apa, Teh! Abi mengerti, banyak sekali masalah yang sedang Teteh hadapi saat ini, jangan terlalu banyak fikiran, Abi hanya bisa mendo'akan yang tebaik untukmu, Nak!", Abi mengusap kepala Afifa perlahan.


"Terimakasih, Bi! Do'akan juga minggu depan Fifa akan ikut testing CPNS, semoga Fifa lolos ya, Bi!" Ucap Afifa saat teringat dengan kartu peserta test yang sudah keluar 2 hari yang lalu.


"Aamiin..., Do'a Abi selalu untukmu, Nak! semoga apa yang selama ini kamu cita-citakan akan tercapai, dan kehidupan rumah tanggamu juga secepatnya diberikan kebahagiaan, dan satu lagi, semoga segera ada janin kembali didalam rahimmu yang akan menjadi pengikat dan penguat rumah tanggamu". Do'a abi untuk Afifa.


"Aamiin..., Terimakasih, Bi!" Afifa tersenyum dan menghambur ke pelukan Abinya.


*******


Kini, Fauzi berperan sebagai Ayah sekaligus ibu bagi Thalita, dia menyiapkan semuanya untuk putrinya. Meminta Thalita untuk bersiap mandi, menyiapkan pakaiannya, sepatunya, buku-bukunya serta semua keperluannya, tak lupa dia juga harus mendengarkan protesan dan rengekan Thalita ketika Fauzi salah dalam menyiapkan semuanya. Untungnya sarapannya sudah disiapkan Afifa sebelum berangkat. "Huuuuh... repot juga ya jadi ibu rumah tangga", keluhnya. "Tapi kok Afifa gak pernah mengeluh? padahal dia juga harus bekerja sama sepertiku. Ah...istriku memang the best", gumamnya sambil tersenyum mengingat wajah istrinya.


Setelah sarapan Fauzi bergegas mengantar Thalita ke sekolah dengan mobilnya, "Sayang...nanti Ayah jemput lagi jam berapa?" tanyanya kepada Thalita, setelah menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolah.


"Setelah dzuhur Ayah, Thalita jamaah dzuhur dulu di sekolah, baru boleh pulang", jawab Thalita.


"Ya sudah, nanti Ayah jemput sekalian jemput Bunda kamu di Rumah sakit ya...".


"Jangan lupa bawa baju ganti buat Thalita ya Ayah".

__ADS_1


"O iya, Ayah hampir lupa, Ya sudah, ayo masuk sana! Nanti keburu bel".


Thalita mengangguk sambil meraih tangan Ayahnya, lalu menciumnya, "Assalamualaikum Ayah", ucapnya kemudian.


"Waalaikum salam", Jawab Fauzi sambil melambaiksn tangannya ke arah Thalita.


Fauzi kembali memutar balik mobilnya menuju ke tokonya. Satu pekerjaan sudah ia selesaikan dengan mulus fikirnya. diapun kembali pada rutinitasnya berkutat dengan laporan keluar masuk barang.


*******


Suara pintu yang dibuka oleh dokter dari dalam ruangan menghentikan obrolan mengharukan antara Ayah dan putrinya, merekapun masuk kedalam ruangan untuk menemui Umi setelah dipersilahkan oleh dokter.


Afifa tak henti-hentinya meminta maaf kepada Umi, lalu saat sadar waktu menunjukan pukul 7.30, Afifa pun meminta izin kepada Umi untuk melakukan panggilan telephon kepada kepala sekolahnya. Sebenarnya Afifa ingin memberitahukan bahwa hari ini tidak bisa masuk untuk menemani Umi, tapi Bapak kepala sekolahnya bilang, bahwa hari ini ada pemberkasan untuk persiapan test CPNS dan harus segera dikirim ke UPTD pukul satu siang nanti. Akhirnya dengan berat hati Afifa harus meninggalkan Umi dengan Abi di Puskesmas.


"Tak apa, Teh! pergi saja, Umi cuma luka luar, sebentar lagi juga pulang, iya kan, Bi?" jawab Umi saat melihat putrinya begitu berat meninggalkannya.


"Baiklah Umi, kalau begitu Afifa pamit, do'akan Fifa ya, semoga semuanya lancar".


"Aamiin..., hati-hati, Nak!", ucap Umi dan Abi.


Afifa mengangguk, lalu memberikan uang 3 lembar seratus ribuan kepada Abi untuk membayar biaya pengobatan Umi, awalnya Abi menolak, namun Afifa bersikukuh dan tidak akan berangkat kalau Abi tidak menerimanya. Afifa menyalami kedua orang tuanya dan diapun melangkah keluar meninggalkan keduanya.


Motor yang dibawa Afifa melesat menuju sekolah, kali ini dia tidak memakai seragam dinasnya karena memang berniat untuk mengurus Umi. Untungnya semua fotokopi berkas-berkas yang dibutuhkan Afifa sudah lengkap diloker pribadinya, tinggal print out beberapa berkas yang kurang, itupun tinggal mengerjakannya disekolah bersama operator. Jadi dia tidak perlu kembali kerumah yang akan memakan waktu lebih lama lagi. Begitu sampai di sekolah, Afifa segera menemui operator, berkutat dengan data dan berkas, dia sengaja mensilen ponselnya, agar lebih fokus pada pekerjaannya, sampai tak terasa waktu berjalan begitu cepat, terdengar adzan dzuhur berkumandang, Afifa menghentikan pekerjaannya, lalu memasukan berkas-berkas yang sudah siap ke dalam satu map bisnis dan memberinya nama, diapun bergegas menuju mesjid terlebih dahulu untuk menjalankan kewajibannya.


Waktu sudah menunjukan pukul 12.30, sedangkan untuk sampai ke UPTD membutuhkan waktu 25 menit. Dengan terburu-buru Afifa melajukan motornya melewati jalan pintas dengan tujuan agar lebih cepat dan tidak terjebak macet, tapi ada yang dilupakan Afifa, motornya sudah sejak kemarin tidak sempat di isi bensin. Dia menepuk keningnya, saat motornya tiba-tiba berhenti dan pandangannya tertuju pada papan panel speedometer yang menunjukkan indikator bensin kendaraan nya sudah melewati huruf E, "Ah...,Ya Alloh... kenapa aku sampai lupa isi bensin?" tanyanya kepada dirinya sendiri, lalu kepalanya celingukan kekanan dan kekiri, barangkali saja ada pom bensin atau sekedar warung penjual bensin disekitarnya, tapi pandangannya nihil, tidak ada satupun penjual bensin disekitarnya, lingkungannya juga cukup sepi, hanya ada beberapa rumah dan warung kecil yang kebetulan tidak berjualan bensin. diapun turun dari motornya, lalu menuntunnya sampai tepat kedepan warung kecil itu, dia bertanya pada seseorang yang duduk disana. Dia bilang, penjual bensin sekitar 150 meter dari tempat itu, "Huuuh..." Afifa menghela nafas panjang, membayangkan dia harus menuntun motornya sejauh itu, diapun berterima kasih atas informasi yang diberikan orang itu, lalu dengan terpaksa dia mendorong motornya menuju tempat penjual bensin yang dimaksud.


Panas matahari begitu terik membuat Afifa yang sedang bersusah payah mendorong motornya bercucuran keringat dibalik helmnya, sampai telinganya mendengar bunyi klakson motor yang sengaja dibunyikan seseorang dari belakang.


"Tidid...tidid...!"


Afifa menoleh kebelakang, cukup kesal dengan perbuatan orang yang kepalanya tertutup helm itu.


"Mau kemana...?" teriaknya dari balik helm, suaranya hampir tenggelam karena deru bising motor.


Afifa tidak menghiraukannya, dia kembali berbalik dan menuntun motornya.


"Tunggu, Fa!, kamu mau kemana?" tanyanya lagi membuat Afifa kembali menghentikan langkahnya saat namanya disebut, perlahan dia menoleh orang itu yang ternyata sudah membuka kaca helmnya, dia merasa sedikit lega karena ternyata itu adalah orang yang dikenalnya, bukan orang yang bermaksud jahat terhadapnya.


"Eh...Kak Farid?" ucap Afifa sambil mengangkat helmnya.


"Mau kemana, Fa? kenapa dengan motor kamu?" tanya Farid lagi.


Afifa sedikit malu, "Itu...bensinnya habis Kak..." jawabnya sambil tertunduk.

__ADS_1


"Oh...padahal pom bensinnya masih jauh lo, Fa!" Ucap Farid sambil mendongakan kepalanya lurus ke jalan didepannya. "Ya sudah tunggu disini sebentar, aku beliin didepan", Ucap Farid kemudian, lalu kembali melajukan motornya tanpa menunggu persetujuan dari Afifa. Afifa pun hanya melongo menatap kepergian Farid dari hadapannya. Dia kembali menuntun motornya menuju tempat yang lebih teduh dibawah pohon yang besar. Lalu dia menurunkan standar samping motornya, Afifa membuka helmnya dan mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya dengan tisyu yang dibawanya. diapun menyandarkan tubuhnya pada pohon tersebut untuk melepas lelah.


Tak lama Farid kembali dengan membawa satu botol berisi 2 liter bensin, dia segera membantu Afifa untuk mengisi bensin ke motornya, Sesudah semuanya beres, Afifa kembali menutup tangki dan jok motornya. "Terimakasih, Kak!" ucapnya sambil menyerahkan uang selembar 20ribu ke arah Farid.


"Apa ini?" tanya Farid sambil menarik tangannya.


"Uang bensinnya", jawab Afifa.


Farid malah tertawa, "Ha ha ha..., Kamu ini apa-apaan si, pake bayar segala, bukankah kita berteman?" ucap Farid.


Afifa malah bengong, "Tapi itu bensinnya kan dibeli, Kak!"


"Iya, gak papa, anggap aja itu pemberian dariku untuk temanku", ucapnya.


"Tapi, Kak! Fifa gak enak ini terima aja!" Afifa mendekati Farid dan hendak mengepalkan uang itu ke tangannya, tapi Farid kembali menghindar.


Afifa tidak sadar kalau ada sebuah mobil hitam yang sedang melaju pelan melintas ke arahnya, tapi mobil itu tidak berhenti dan terus melaju kembali meninggalkan mereka berdua.


*********


Fauzi menghentikan pekerjaannya ketika mendengar adzan dzuhur, dia melirik pergelangan tangannya, lalu dia mengerutkan keningnya, "Kenapa Afifa belum juga memberi kabar tentang Umi ya? bagaimana keadaannya?" gumam Fauzi.


Dia pun mendial nomor istrinya, tapi sudah beberapa kali Fauzi memanggil, tidak juga ada jawaban disebrang sana. "Mungkin Afifa dirumah Umi" fikirnya. Lalu dia mengirim pesan, bertanya tentang kabar Umi juga bertanya tentang waktu untuk menjemput Wulan di Rumah sakit.


Fauzi kembali mengingat Thalita yang harus dijemputnya saat ini, diapun bergegas menuju rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti Thalita, lalu segera melajukan mobilnya menuju sekolah Thalita. Setelah itu, Fauzi langsung menuju rumah Umi untuk melihat kondisi Umi, juga menjemput Afifa agar sama-sama menuju Rumah sakit. Thalita duduk dikursi belakang sambil tiduran karena lelah pulang sekolah, Fauzi membiarkannya. Tapi saat diperjalanan, mata Fauzi tertuju pada sepasang pria dan wanita yang sedang ngobrol dipinggir jalan sambil sesekali tertawa, Fauzi melajukan pelan mobilnya saat melintasi dua orang itu, berharap orang yang dikenalnya itu akan menoleh kearahnya, tapi rupanya orang itu sama sekali tidak menolehnya, Fauzi hanya mengelus dada saat matanya melihat wanita yang dicintainya berusaha meraih tangan pria itu.


************


Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Hmmm.... Demo nya saya tampung dulu ya 😉.


Bukannya Author jahat, tapi Alurnya sudah Author fikirkan, dan itupun berkat dari masukan kalian para Readers tercinta.


Terus ikuti alurnya, dan pastinya akan Happy Ending nantinya😊🤗


Tetap Like, Vote dan komentar 😉


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul.


__ADS_2