
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Pagi hari datang, Fauzi terbangun dengan semangat, rumahnya sudah rapi dan wangi ditambah beberapa hiasan bunga asli yang sengaja ia letakan di beberapa ruangan, terutama didalam kamarnya.
Kini dia sedang berdiri didepan cermin rias Afifa, menyisir rambut hitam dan tebalnya yang sudah kelimis menggunakan minyak rambut yang sempat dibelikan Afifa untuk dirinya, begitupun dengan minyak wangi yang digunakannya. Setelan kemeja warna abu muda yang ia gulung setengah lengan nampak pas didada bidangnya dipadukan dengan celana kanvas panjang warna Abu tua, telah rapi menempel ditubuh tingginya.
Mata Fauzi masih menatap cermin dihadapannya, bayangan istrinya hadir tengah duduk dikursi rias sambil menyisir rambut panjang yang lembut dan indah dengan aroma khas dari rambutnya, senyuman pun mengembang seketika dari bibir Fauzi.
Fauzi melirik phaper bag yang tergeletak diatas nakas, dia menghela nafas panjang, "Farid..." ucapnya, "aku harus memberikannya kepada Farid", Fauzi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Umi bilang...Afifa akan pulang selepas dzuhur, jadi dia bisa berangkat pukul 10.30 nanti untuk menjemputnya.
"Masih ada waktu untuk bertemu Farid hari ini", ucapnya, dia menyambar phaper bag dan melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap diluar garasi. setelah masuk kedalam mobil, Fauzi menyempatkan diri menelphon Farid, untuk menanyakan alamat kost nya. Setelah mendapat jawaban, Dia segera mengeluarkan mobil dari halaman rumah, lalu mampir sebentar ke toko untuk memberikan interuksi kepada Mang Ujang agar menghandel tokonya hari ini. Setelah semuanya dirasa beres, dia segera menuju tempat kost Farid.
Sampai ditempat tujuan, mobil Fauzi berhenti tepat didepan rumah kost yang dikelilingi pepohonan rindang, udaranya sangat sejuk, dan lingkunhannya cukup bersih. dia segera keluar dari mobil, rupanya Farid sudah menunggunya didepan rumah.
Sempat terjadi kekakuan diantara mereka, sampai Fauzi mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Rid..., Apa kabar?" sapa Fauzi.
"Waalaikum salam, Alhamdulillah baik", jawab Farid, "Mari...silahkan Pak!", Farid mempersilahkan Fauzi masuk ke halaman rumah kostnya yang terhalang dengan pagar besi saja dari jalan, dan mempersilahkan Fauzi untuk duduk dikursi yang terbuat dari rotan di teras rumah kostnya.
Fauzi mengikuti langkah Farid, matanya berkeliling, memang baru kali ini Fauzi datang ke tempat tinggal Farid di Bandung.
"Ada perlu apa Pak Fauzi? sampai sengaja menemui saya" tanya Farid, setelah mereka duduk dan Farid membawa minuman kaleng ke hadapan Fauzi.
Fauzi mengangkat phaper bag dalam genggamannya, "Ini... milikmu". ucap Fauzi.
"Apa itu?" tanya Farid tak mengerti.
"Entahlah, saya juga tidak berani membuka bingkisan itu, yang pasti disana tertulis namamu".
"Dari siapa?" Farid mengeluarkan bingkisan dari phaper bag, dan ternyata memang benar, nama dirinya tertulis diatasnya, dia pun teringat dengan kejadian hari minggu kemarin saat di resto mall.
"Tentunya dari salah satu wanita yang berada di resto mall waktu itu", Ucap Fauzi.
Farid membuka bingkisannya ternyata isinya dua buah topi bermerek dengan tampilan yang elegant, Farid mengerutkan keningnya, "dari siapa ini?" tanya nya pada dirinya sendiri. sambil mencoba yang satunya lagi. Entah mengapa justru wajah Afifa yang terbayang di dalam kepalanya, karena dia fikir, hanya Afifa yang mengetahui tanggal lahirnya.
tanpa dia sadari, senyuman sempat tersungging dai bibirnya. Lalu dia kembali menguasai suasana saat menyadari orang yang berada dihadapannya sedang serius mendegarkan dan memperhatikan perubahan sikapnya.
"Kenapa sampai repot-repot mengantarnya kemari, Pak?" tanya Farid lagi.
"Kebetulan mau menjemput Afifa dari gedung Walikota, kufikir sekalian mampir kemari untuk memberikan ini padamu", jawab Fauzi, lalu berhenti sejenak dan kembali melanjutkan ucapannya, "dan...satu lagi, ada hal yang ingin saya tanyakan"
"Tentang apa?"
"Tentang Afifa".
Farid mengalihkan pandangannya dari topi yang dipegangnya ke arah Fauzi, menatapnya tajam tak mengerti. "Kenapa bertanya tentang istrimu padaku?"
Fauzi tidak menjawabnya, dia malah balik bertanya. "Apakah sampai saat ini kau masih mencintainya?" tanya Fauzi, sontak pertanyaan itu membuat Farid terperanjat dan menegakkan posisi duduknya.
Farid menarik nafas panjang dan membuang pandangannya lurus kedepan. "Apa kau meragukan cinta istrimu?" tanyanya datar. Fauzi tidak menjawab sampai Farid kembali menatapnya.
"Aku hanya ingin tau perasaanmu saja", jawab Fauzi.
"Baiklah, asal kau tau", Farid kembali memandang lurus ke arah jalanan. "perasaanku sampai saat ini tidak pernah berubah, dia adalah cinta pertamaku, dan entah sampai kapan rasa itu akan terus tersimpan dalam hatiku, meski aku tahu itu adalah satu kesalahan. Seandainya sedikit saja Afifa memberi celah padaku untuk bisa kembali padanya, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu". Ucap Farid.
Fauzi terdiam, Farid menolehnya, sekilas mata mereka bertemu, namun tak ada kata-kata keluar dari mulut keduanya. Hening sesaat, hanya suara kicauan burung yang hinggap di beberapa pohon besar didepan rumah yang terdengar disana.
Farid kembali menarik nafas dan mengeluarkannya dengan menimbulkan helaan panjang, "Tapi...Afifa sama sekali tidak pernah membuka kembali hatinya untukku", ucap Farid lagi, "karena kini yang ada dalam hati dan fikirannya hanya suaminya saja".
Fauzi menatap wajah Farid yang tetap memandang lurus kedepan. "Jadi..., selama ini aku salah?" ucapnya.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Farid.
"Ku fikir Afifa akan bahagia bersamamu saat aku melepaskannya untukmu", ucap Fauzi. dan hanya dijawab dengan gelengan kepala Farid.
Obrolan mereka terus berlangsung sampai waktu menunjukan pukul 10, obrolan yang tadinya kaku, kini sudah mencair dan kembali merembet pada masalah bisnis yang pernah mereka jalin sebelumnya, termasuk juga membahas tentang proyek pembangunan rumah Wulan, yang kini di handel Farid karena hampir tersendat akibat kondisi kesehatan Wulan.
********
Afifa bernafas lega setelah semua tesnya selesai, tinggal menunggu pengumuman hasil seleksi tahap satu ini sekitar satu minggu kedepan. Semua ikhtiar sudah dia lakukan, kini tinggal bertawakkal menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Pemilik segalanya. Dia bergegas ke penginapan untuk membereskan barang-barang pribadinya, sampai adzan dzuhur berkumandang, dia pun langsung menunaikan kewajibannya disana.
Afifa keluar dari kamar penginapan dengan menggendong tas ransel dipunggungnya, badannya begitu lemas dan wajahnya sedikit pucat. Teman-teman seperjuangannya juga sedang berkumpul diluar penginapan.
Deretan mobil sudah berjajar di halaman penginapan untuk menjemput keluarga mereka masing-masing, Afifa hanya tertunduk kelu menyaksikan suka cita mereka melepas kerinduan bersama keluarga. Afifa terdiam, lalu merogoh kantong rok hitamnya dan mengeluarkan isinya, dia menghela nafas saat hanya ada uang 17ribu saja disana, sedangkan untuk naik bis dari tempat ini menuju terminal angkot saja dia harus membayar 15ribu rupiah. Dia tertegun memikirkan cara untuk pulang ke rumah Umi.
Selama satu minggu dirumah Umi, ditambah lagi ini adalah akhir bulan membuat Afifa tidak punya uang cukup untuk kebutuhannya sehari-hari, dia juga tidak mungkin meminta bekal kepada Abi dan Umi.
Sejak Afifa keluar dari rumah itu, dia sama sekali tidak menggunakan kartu kredit pemberian suaminya, dia bermaksud untuk mengembalikannya kepada Fauzi.
Afifa masih tertegun, sampai ada satu bisikan yang mampir ditelinganya.
"Kok sedih?" bisik orang itu.
Seketika Afifa mengangkat kepalanya dan berbalik kearah sumber suara, "Nadia...???", Ucap Afifa dengan senyum lebar dari mulutnya. Sungguh...! Afifa merasakan satu kebahagiaan yang teramat sangat, saat dalam situasi seperti ini ternyata masih ada seseorang yang peduli dengannya.
"Antiii...!" Teriak Nadia sambil merentangkan tangan hendak memeluk Afifa, Afifa membalas pelukannya, "Gimana? lancar?" tanyanya setelah melepas pelukannya.
"Alhamdulillah, sangngat lancar", ucap Afifa sambil tersenyum manis ke arah Nadia. "MasyaAlloh, Nad! Anti seneng sekali lihat kamu disini", ucap Afifa sambil kembali memeluk Nadia dari samping.
"Iya dong..., dan bukan hanya Nadia lo yang ada disini", ucap Nadia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"O ya? memangnya kamu sama siapa?" tanya Afifa.
"Tuh...!" tunjuk Nadia ke arah mobil hitam dimana disampingnya ada Mama dan Papa yang sudah menunggunya.
Afifa melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah mertuanya, ucapan salam keluar dari mulutnya sambil mencium tangan keduanya. lalu memeluk Ibu mertuanya.
"Gimana tes nya lancar?" tanya Mama.
"Alhamdulillah, Ma! Pa!, tidak ada hambatan sedikitpun", jawab Afifa.
"Syukurlah, jadi kita bisa langsung pulang sekarang?" tanya Papa, disertai anggukan dan senyum dari Mama.
"Iya, Pa!" jawab Afifa, lalu keempatnya naik kedalam mobil, Afifa duduk dibangku penumpang bersama Nadia. Sedangkan Mama duduk disamping Papa yang dibelakang kemudi.
"Kamu mau Papa anter kerumahmu, Fa?" tanya Papa setelah mobilnya menyala.
"Ke rumah Umi dulu aja, Pa! barang-barang Afifa masih disana". ucap Afifa.
"Baiklah...tapi jangan lama-lama tinggal di rumah Umi, segeralah pulang kerumahmu", nasihat Papa.
"Eh...jangan mau An!, kalau gak dijemput", ucap Nadia asal.
"Nad...!" sergah Papa.
"Iya...iya Pak Eyang..., maaf hehe... becanda", Nadia cengengesan.
Saat keluar dari area penginapan, Nadia tak sengaja melihat mobil yang sangat dikenalnya, tapi Nadia hanya diam saja membiarkan mobil itu masuk kedalam halaman penginapan bersebrangan dengan mobil Kakeknya.
setelah lima menit didalam perjalanan, ponsel Afifa berbunyi, dia segera meraihnya, cukup lama memandanginya dan ragu-ragu untuk menerima panggilannya.
"Siapa An?" tanya Nadia.
__ADS_1
Afifa tidak menjawab, dia hanya menunjukan layar ponselnya ke hadapan Nadia.
Nadia menyimpan telunjuknya didepan mulutnya, pertanda meminta Afifa terdiam, sambil menaikan kedua alisnya, lalu menggerak2kan kedua tangannya yang terbuka pertanda Afifa tidak perlu menjawabnya.
"Kenapa?" bisik Afifa heran.
"Biarin aja, An! biar dia kelabakan cari Anti!" ucapnya setengah berbisik.
"Maksudnya?"
"Paling nanti juga Paman cari Anti kerumah Umi", ucap Nadia kemudian
Afifa mengangguk dan mematikan ponselnya. "bukankah dia juga pernah tidak menjawab panggilanku, jadi wajar saja kalau aku kini membiarkan panggilannya" gumam Afifa dengan sedikit ego.
Dua jam dalam perjalanan, mobil hitam milik mertua Afifa telah terparkir di pekarangan rumah Umi, mereka semua turun dan disambut dengan suka cita oleh keluarga Umi dan Abi. Terjadi perbincangan cukup lama diantara mereka, termasuk kedatangan Fauzi kerumahnya kemarin sore, yang bermaksud menjemput Afifa.
Wajah Afifa nampak berseri mendengar suaminya berniat menjemputnya, namun...perasaan bahagianya ia tahan terlebih dahulu, takut kalau itu hanya angan-angan yang semu.
Ide gila muncul dari benak Nadia. "Nah...bener kan Anti, Paman itu cuman egonya aja yang besar, padahalmah cintanya sama Anti jauh lebih besar", ucapnya sambil tersenyum menampakan gigi kelincinya, "Anti sini deh!" ucapnya kemudian sambil mendekatkan mulutnya dan membisikan sesuatu ketelinga Afifa.
"Apa?", tanya Afifa. Dia terdiam fokus mendengarkan apa yang dibisikan Nadia ke telinganya. Nampak Afifa tersenyum lalu mengangguk-angguk tanda mengerti maksud dari ucapan Nadia.
Obrolan mereka berakhir saat adzan Ashar berkumandang, setelah sholat Asyar, Papa, Mama dan Nadia pamit pulang.
*********
Fauzi berjalan mondar-mandir didepan penginapan sambil memutar-mutar ponselnya, kepalanya terus celingukan mencari sosok yang dirindukannya. Sesekali ia melihat ponselnya, barangkali saja pesannya sudah dibalas istrinya. "Duh...dimana kamu sayang? orang-orang sudah mulai meninggalkan tempat ini, tapi aku tidak juga melihatmu, apa kau sudah pulang, Dek?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Mengapa tidak juga mengangkat telphonku ataupun membalas pesanku, Dek?" Wajah Fauzi nampak khawatir, sudah hampir dua jam dia menunggu disana sampai adzan ashar berkumandang. Diapun segera berjalan menuju mushola untuk menunaikan kewajibannya.
Selepas sholat, akhirnya Fauzi memutuskan untuk pergi ke rumah Umi, mungkin dia sudah pulang, fikirnya.
Senja sudah hampir tiba saat Fauzi sampai dirumah Umi, ketukan pintu dan ucapan salamnya hanya dijawab oleh Umi. Ragu-ragu Fauzi masuk kerumah Umi, matanya nampak berkeliling mencari sosok kekasih hatinya.
"Emmm...Umi...maaf, apa Afifa sudah pulang?" tanyanya ragu.
"Sudah, tapi dia tidak juga keluar dari kamarnya", jawab Umi.
"Oh...apa dia sakit?" tanya Fauzi khawatir.
"Mungkin dia capek Zi, biarkan dia istirahat dulu", ucap Umi, membuat Fauzi salah tingkah.
"A...apa boleh Aji menemuinya?" tanyanya.
"Silahkan... dia dikamar Nisa", Umi menunjukan kamarnya.
"Kalau begitu, Aji akan menemuinya", ucap Fauzi sambil mengangguk meminta persetujuan Umi. dan dijawab dengan anggukan Umi.
Fauzi melangkah menuju kamar yang ditunjukan Umi, "Tok...tok...tok..." tangan Fauzi mengetuk pintu kamar. "Sayang...", panggilnya pelan. "Sayang..., tolong buka pintunya", ucapnya kemudian.
Afifa yang sedang merebahkan tubuhnya seketika terperanjat mendengar suara orang yang dirindukannya, dia segera bangkit dan membetulkan posisi jilbabnya yang berantakan, lalu menatap sekilas ke arah cermin untuk memastikan penampilannya, namun saat dia hendak membuka pintu, fikiran Afifa teringat dengan ucapan Nadia, diapun mengurungkan niatnya, dan kembali naik ke tempat tidur dan berbaring membelakangi pintu.
************************
Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmmmm.... Afifa ikut pulang gk ya? 🤔
yuk yuk yuk... tetap like, vote dan komentar 😊
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul.