Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kebenaran dari Johan


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Faqih mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Dia tersentak kaget, saat melihat ternyata yang datang adalah orang yang pernah di kenalnya semenjak sepuluh tahun yang lalu.


"Johan???" tanya Faqih heran, dia tak habis fikir, kenapa Johan tiba-tiba ada di belakangnya.


Johan mengangguk, sambil menatap Faqih dengan iba. "Ayo berdiri, Sob! gak baik meratap di pinggir jalan." ucapnya tenang.


Faqih masih saja memandangnya heran, sampai tangan Johan terulur ke hadapannya. Faqih meraihnya dan segera berdiri, lantas menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang sedikit kotor.


"Ayo ikut aku!" ucap Johan sambil melangkah.


Faqih menuruti ucapan teman lamanya itu. Entah mengapa, saat ini kedatangan Johan terasa sangat berarti baginya, mungkin karena dia memang butuh seseorang untuk sekedar mencurahkan gejolak hatinya, agar sedikit mengurangi bebannya. Faqih memang sudah beberapa kali bertemu dengan Johan, namun sikap Johan yang biasanya selengean, kini benar-benar berbeda, dia nampak begitu tenang dan bijaksana. Sehingga tanpa fikir panjang, Faqih mengikuti langkahnya.


Keduanya berjalan beriringan menuju kursi taman yang berada tak jauh dari rumah Faqih. Sampai disana, Johan duduk lebih dulu, dan Faqih pun duduk di sampingnya.


"Maaf, Sob! aku tidak bermaksud ikut campur masalah pribadimu." Johan memulai pembicaraan.


Faqih menoleh, "Maksudmu?"


"Sejujurnya, ada satu penyesalan dalam diriku atas perbuatanku di masa lalu, terutama terhadap Wulan dan Fauzi."


Faqih hanya melirik Johan, karena sebenarnya dia sudah tau arah pembicaraan Johan dari cerita Wulan tentunya.


"Apa kamu tidak ingin tau, kesalahan apa yang sudah aku lakukan kepada mereka?" tanya Johan lagi.


"Wulan sudah cerita," ucap Faqih datar.


"Tapi apa kamu juga ingin tau apa yang Wulan tidak tau?" tanya Johan.


"Sudahlah! jangan betbelit-belit, aku benar-benar prustasi saat ini," Ucap Faqih sambil menghela nafas lemas.


"Apa orang tuamu tidak merestui hubungan kalian?" tanya Johan lagi.


Faqih menolehnya, dan menatap teman lamanya itu dengan tatapan penuh tanya, dari mana dia tau tentang hubungannya dengan Wulan? juga tentang restu dari orang tuanya.


Johan seakan menyadari tatapan tanya dari Faqih, dia pun mengulas senyum lalu kembali berkata. "Tam! Aku minta maaf, sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Fauzi, istri dan juga putrinya di restoran, aku banyak bertanya padanya saat menyadari putrinya itu mirip dengan seseorang, yaitu Wulan. Saat itu aku langsung teringat dengan kesalahanku waktu itu kepada mereka. Namun, saat itu aku belum yakin, sampai akhirnya tanpa sengaja pula di lain hari aku bertemu dengan Wulan yang sedang membawa putrinya, dan saat kulihat, ternyata itu adalah anak yang sama dengan anak yang di bawa Fauzi ke restoran itu. Dari sana Aku yakin, bahwa perbuatanku dulu telah membuat mereka benar-benar melakukan kesalahan itu." Johan menarik nafas panjang.


Faqih masih belum mengerti, dia pun bertanya. "Lalu bagai mana kamu bisa kebetulan ada di tempat ini?"


"Sejujurnya, rasa bersalahku terus saja menghantuiku, sebagai sahabat dari Fauzi juga Wulan, aku tidak mau hidup keduanya hancur hanya gara-gara kesalahanku. Aku sudah melihat Fauzi berbahagia dengan istrinya, tapi aku belum tau, apakah Wulan masih menderita karena ulahku, Aku pun bertekad terus mengikuti dan memantau kemanapun Wulan pergi, dan dari hasil pantauanku Aku tahu kalau kamu bermaksud baik terhadapnya, saat itu Aku bersyukur, karena yakin Kamu pasti bisa membahagiakannya. Tapi aku memiliki keraguan kalau orang tuamu akan merestui hubungan kalian. Maka akupun mengikuti kalian sejak dari rumah Wulan sampai kemari, dan ternyata... dugaanku benar." Jelas Johan panjang lebar.


Faqih terdiam, lalu dia kembali menatap Johan, ada satu hal yang masih mengganjal dalam fikirannya.


"Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu lakukan kepada mereka?" tanya Faqih penasaran.


"Waktu itu, Wulan pernah curhat padaku, bahwa dia sangat mencintai Fauzi, namun Fauzi hanya cuek saja padanya, dia tidak pernah melakukan apapun selayaknya anak muda pacaran terhadap Wulan. Lalu saat pesta kelulusan kita di cafe waktu itu, aku menyarankan Wulan untuk menjebaknya, namun dia menolak, karena menurutnya itu salah. Tapi dengan kejahilanku waktu itu, aku bilang kalau obat itu tidak berpengaruh pada hal yang lebih buruk, hanya sekedar agar Wulan merasa sedang pacaran saja, mungkin sebatas ciuman. Dengan polosnya dia pun setuju dengan saranku. Lalu aku memberikan obat itu kepadanya untuk dicampurkan pada minuman Fauzi. Namun..., dia tidak tahu bahwa botol minuman uang selalu dia bawa kemanapun, sebenarnya sudah aku beri obat juga tanpa sepengetahuannya. Malam itu Fauzi mengantar Wulan pulang ke kostan, tapi aku tidak tau, kalau ternyata hal itu benar-benar terjadi. Sampai aku bertemu kembali dengan mereka beberapa hari yang lalu." Johan tertunduk penuh penyesalan.


"Apa???" Faqih berdiri dengan mengusap tengkuknya, berjalan mondar-mandir di hadapan Johan. "Jadi kamulah penyebab penderitaan Wulan selama ini?" tanya Faqih nampak geram, dan berbalik ke arah Johan, tangannya mengepal, hampir saja melayang dan mendarat di pipi Johan.


"Tunggu, Tam!" Johan menahan tangan Faqih, "Aku tau aku salah, untuk itu, aku bertekad untuk membuat Wulan bahagia dengan cintanya, dan itu ada padamu." Ucap Johan meyakinkan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Wulan tidak mau aku bersamanya, tanpa restu dari kedua orang tuaku." Suara Faqih meninggi.


"Untuk itu lah aku datang kemari, Tam! aku akan mengatakan semuanya kepada orang tuamu, aku akan bilang, kalau Wulan itu tidak bersalah atas semua kejadian di masa lalunya. Akulah yang salah dan telah menyebabkan penderitaan seumur hidupnya." Jawab Johan.


"Apa mereka akan percaya?" Faqih menyunggingkan senyum sinisnya.


"Kita tidak akan tau, kalau kita belum mencobanya," jawab Johan meyakinkan.


"Baiklah! Ayo ikut Aku!" ucap Faqih sambil melangkah mendahului menuju ke rumahnya. Johan mengikutinya.


Akhirnya dengan susah payah Johan meyakinkan kedua orang tua Faqih, bahwa Semua yang terjadi pada Wulan dulu adalah murni kesalahannya. Dan dalam hal ini, Wulan hanyalah korban dari kejahilannya.


Orang tua Faqih mulai luluh. Tapi, mereka bilang, sebelum restunya dia berikan, dia ingin bertemu terlebih dahulu dengan Ayah biologis dari putrinya Wulan, yakni Fauzi.


*******


Angkot yang ditumpangi Wulan terus melaju membelah jalanan Kota Bandung, hanya ada 3 orang penumpang disana termasuk dirinya, kedua penumpang itu memandangnya dengan heran, karena dia masuk dengan terburu-buru, disertai seorang Pria yang berlari mengejarnya dari belakang angkot tadi.


Wulan tertunduk, kini kedua matanya semakin terasa panas. Cairan yang sudah menumpuk tertahan disana, sudah mendesak ingin segera keluar dari tempatnya. Seandainya saja tidak ada siapapun disana, tentunya dengan senang hati dia akan mengeluarkan semua sesak yang tertahan itu dengan mengeluarkan semua air matanya, meski dia tau, air mata tidak akan mengubah segalanya.


Wulan menoleh ke luar jendela, dilihatnya sebuah mesjid sederhana dipinggiran jalan yang cukup sepi. Dia segera mengetukan jarinya ke badan angkot, memberi tanda kepada Pak Supir agar berhenti di sana.


Angkot itupun berhenti, Wulan segera memberikan ongkos sesuai tarif, lalu bergegas memasuki area mesjid itu, adzan Maghrib masih sekitar 30 menit lagi. Setengah berlari dia masuk ke toilet wanita, membuka pintu, masuk dan kembali menutupnya serta menguncinya dari dalam. Dia membuka keran air untuk memberi kesan samar-samar pada suara tangisnya. Kali ini, Wulan benar-benar mengeluarkan semua sesak yang tersimpan di dadanya. Menangis tersedu-sedu memikirkan nasib dirinya, rasa penyesalan yang tak kunjung hilang, rasa sakit yang kini terasa semakin teriris, mengingatkan kembali akan penghinaan yang pernah menimpa dirinya 5 tahun yang lalu dari keluarga Suami sirinya.


Bayangan kelam itu terus bermunculan, sampai ia tiba pada bayangan Ibundanya yang kini telah tiada, seolah kembali menudingnya sebagai penyebab kematiannya.


Waktu terus berjalan, Sang surya di upuk barat mulai tenggelam, temaram pun datang, menandakan hari ini akan segera berganti malam. Suara Adzan terdengar bergema dari pengeras suara masjid yang berada tepat di sampingnya. Wulan segera membuka kerudungnya, lalu membasuh seluruh wajahnya dengan air keran dingin, berharap akan mendinginkan suasana hatinya. Lantas mengambil air Wudhu dan segera memasuki mesjid untuk sholat berjamaah Maghrib.


Cukup lama Wulan bersimpuh disana, menyerahkan semua kemelut kehidupannya kepada Sang Maha Pemilik segalanya. Kali ini, benar-benar tak ada yang bisa dia lakukan selain bertawakkal dan bersiap menghadapi kehidupan yang sudah terbentang di depannya, bersama putri dan keluarganya, tak perlu lagi menoleh ke belakang, cukup hanya dijadikan cermin untuk melangkah dan patokan agar dia tidak kembali terjerumus ke jalan yang salah tentunya.


***********


Sudah dua malam ini, Thalita sudah nyaman tinggal bersama Afifa, anak itu sudah tidur terlelap di kamarnya.


Derama ngidamnya Afifa datang kembali, sejak maghrib tadi, dia merasa punggungnya panas dan pegal-pegal, dengan sabarnya Fauzi mengusap dan memijit pelan punggung Afifa di atas sofa ditemani suara televisi yang terus menyala, meskipun sama sekali tidak di tontonnya. Sesekali rayuan ringan terlontar dari mulut Fauzi disertai sentuhan tangannya yang mulai menjalar kemana-mana, namun Afifa selalu menepis tangannya dengan sedikit cemberut, membuat Fauzi mengurungkan niatnya dan hanya tertawa menggodanya.


Suara dering ponsel Afifa yang tergeletak di atas meja membuat keduanya menoleh, profile Nadia terpampang di sana, Afifa merentangkan tangannya untuk meraih ponselnya, namun tangannya tidak sampai dan meminta tolong kepada suaminya. "Sayang! ambilkan ponselnya!" pinta Afifa.


"Udah biarin aja, ganggu aja!" ucap Fauzi cuek sambil meneruskan pijatannya di punggung Afifa.


"Ih..., siapa tau penting, Kak!" ucap Afifa.


"Paling nanti teriak-teriak lagi, bikin berisik!" Fauzi malah menjauhkan ponsel Afifa.


"Sayaaaang..., kalau ada kabar tentang Mama dan Papa gimana?" rayu Afifa sambil mengulas senyum dan menjawel dagu Fauzi yang ditumbuhi janggut tipisnya itu.


"Jangan menggodaku, nanti aku khilaf lagi dengan perjanjiannya," ucap Fauzi.


"Idiih..., udah beberapa kali di langgar juga, masih aja ngomongin perjanjian," Afifa memukul bahu Fauzi. "Sudah siniin ponselnya!" Afifa mengulurkan telapak tangannya ke arah Fauzi.


"Tapi, boleh ya malam ini aku langgar lagi perjanjiannya?" Fauzi mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Ih..., apaan si?" Afifa kembali memukul pelan bahu Fauzi sambil tersipu. Fauzi hanya tertawa melihat tingkah istrinya. Lalu memberikan ponsel Afifa ke tangannya.


Afifa mengambilnya dan menggeser tombol hijau di atas layar dan meloadspeaker ponselnya.


"Assalamualaikum, Nad!" sapa Afifa.


Waalaikum salam, Anti! jawab Nadia dengan suara lembut.


Afifa merasa heran dengan suara Nadia yang tiba-tiba berubah.


"Nad! kamu baik-baik saja kan?" tanya Afifa.


Baik Anti, bahkan sangat baik sebaik suasana hatiku saat ini.


"Hmmm...., o ya? ada apa ni?" tanya Afifa sedikit menggoda.


Keluarga Mas Ari akan datang ke rumah besok malam, Mak Eyang bilang, Paman dan Anti harus sudah ada dirumah besok sore. ucap nadia dengan suara lembut dan teratur.


"Wah..., benarkah?" tanya Afifa ikut senang. "Kak! denger kan?" tanya Afifa kepada Fauzi.


"Hmmm...," jawabnya cuek sambil terus memainkan ujung rambut Afifa dan sesekali menciumnya.


"Kaaaak..." panggil Afifa sedikit kesal.


"Iya, denger, udah selesai?" tanya Fauzi masih dengan nada cueknya.


"Apanya?"


"Nelphonnya." ucap Fauji, tangannya mulai memeluk pinggang istrinya.


"Ih! sebentar, telphonnya masih tersambung," ucap Afifa agak berbisik sambil menutup bagian bawah ponselnya dengan tangan.


Anti...! Paman lagi ngapain? Tiba-tiba suara Nadia berubah cempreng.


"Oh..., Enggak! gak papa, Nad! ya udah pokoknya besok sore, Anti dan Pamanmu sudah ada di rumah Mama ya, sudah dulu ya, Nad! Assalamualaikum." Afifa mengahiri panggilannya tanpa menunggu jawaban salam dari Nadia. Mengingat tangan suaminya yang sudah tidak bisa di kondisikan. 😄😄😄


*********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aduh Si Fauzi....😄✌✌✌


Hmmm... kira-kira, apa yang akan terjadi besok malam ya? 🤔


Terus apa yang ingin di katakan orang tua Faqih kepada Fauzi nanti? 🤔


Tunggu di part selanjutnya 😊


Tetap like, vote dan komen. 🤗

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2