Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kau Pantas Bahagia...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Fauzi tersentak mendengar ucapan Farid, dia langsung menoleh ke arah Farid yang nampak datar memandang lurus kedepan tanpa menoleh dirinya sedikitpun.


"Apa maksud...."


"Ceklek!" pintu ruang UGD terbuka, membuat Fauzi yang hendak bertanya kepada Farid langsung menghentikan ucapannya. Afifa melangkah keluar dari pintu, Farid dan Fauzi langsung berdiri menghampiri Afifa, begitu pun dengan sinta yang sedang duduk agak jauh dari mereka.


"Bagaimana keadaannya, Dek?"


"Bagaimana keadaannya, Fa?"


Tanya Fauzi dan Farid bersamaan, lalu keduanya terdiam dan saling memandang.


"Ibu baik-baik saja kan, Bu Guru?" tanya Sinta, pegawai Wulan itu nampak khawatir dengan kondisi majikannya.


Afifa belum menjawab pertanyaan ketiganya, matanya tertuju kepada Thalita yang sedang duduk dikursi tunggu sambil memandang dirinya dan menghentikan permainan gamenya. "Ayo kita duduk disana!" ajak Afifa pada ketiganya sambil mengarahkan matanya ke tempat duduk disamping Thalita. Ketiganya mengikuti langkah Afifa.


"Bunda Wulan baik-baik saja kan, Bun?" tanya Thalita saat Afifa sampai dihadapannya.


"Iya sayang, Bunda Wulan masih diobati, Kamu tenang ya", ucap Afifa sambil mengelus kepala Thalita dibalik kerudung instannya. "O ya, Thalita mau jajan gak?" tanya Afifa. Thalita malah memandang Afifa. "Di minimarket sana ada eskrim enak, ayo jajan sama Teh Sinta ya!", ucapnya sambil tersenyum. Thalita mengangguk.


"Sin..., sini!" panggil Afifa kepada Sinta. Gadis itu mendekat, dan Afifa membisikan sesuatu ditelinganya, nampak Sinta mengangguk-angguk tanda mengerti. Afifa memberikan uang satu lembar lima puluh ribu kepadanya.


"Ayo Thalita kita jajan!" Ajak Sinta sambil meraih tangan Thalita. Keduanya berdiri dan berjalan meninggalkan Afifa, Fauzi dan Farid.


Sepeninggal Thalita dan Sinta, wajah Afifa nampak serius, membuat Fauzi dan Farid semakin penasaran dengan kondisi Wulan.


Afifa menarik nafas dalam, lalu mulai menceritakan apa yang barusaja diucapkan dokter padanya. "Mbak Wulan belum siuman, dokter bilang tangan kanannya retak dan belum bisa melakukan aktifitas apapun, perlu waktu lama untuk pemulihan, dan... juga telah terjadi benturan keras di kepala bagian belakangnya yang menimbulkan cidera otak ringan, atau bisa disebut... mengalami gegar otak, dia harus selalu diawasi. Bila perlu, ubah jadwal rutinitasnya hingga cidera otak ringannya benar-benar pulih, selain itu dia juga membutuhkan observasi ketat untuk mencegah kondisi yang semakin parah, dan satu lagi, dia tidak boleh terbebani dengan fikiran yang terlalu berat karena akibatnya akan sangat fatal", Afifa kembali menarik nafas.


Fauzi dan Farid serius mendengarkan semua yang diucapkan Afifa.


"Jadi...harus ada seseorang yang benar-benar menjaganya setiap harinya", lanjut Afifa, lalu kembali terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit rumah sakit. "Mbak Wulan tidak punya keluarga lagi, lalu siapa yang akan terus menjaganya?", tanya Afifa lagi seolah meminta keduanya untuk ikut berfikir. Ketiganya terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kita bisa membayar orang untuk merawat Wulan", ucap Fauzi.


"Itu benar, bukankah Mbak Wulan punya tiga orang pegawai, kita minta mereka untuk menjaganya bergantian", Timpal Farid.


"Baiklah, kalau begitu, kita akan bicarakan dengan ketiga pegawai Mbak Wulan". Ucap Afifa. "Untuk sementara sebaiknya Kak Aji bawa Thalita pulang, biar Fifa yang jaga Mbak Wulan disini".


"Nanti kamu capek, Dek!" ucap Fauzi.


"Gak papa, Kak! Kasian Sinta kalau harus sendiri disini, dia belum tahu apa-apa mengenai prosedur rumah sakit", Ucap Afifa membicarakan gadis yang masih berusia 16 tahun itu. "Biar besok Fifa gantian sama Rina", ucap Afifa, sejauh ini hanya Rina yang sepertinya bisa diandalkan utuk menjaga Wulan selama di Rumah sakit, karena Tuti, pegawai Wulan yang satunya lagi tidak mungkin bisa terus standbay di rumah sakit, karena sudah berkeluarga dan punya anak kecil pula.


Tak lama Thalita kembali dengan membawa jajanan kesukaannya. anak itu menghampiri Afifa dan duduk disampingnya.


Dokter memberitahu kalau Wulan sudah siuman, mereka masuk bergantian ke ruang perawatan. Masih terpasang neck collar pada leher Wulan sebagai alat penyangga untuk mencegah agar kepala dan lehernya tetap stabil. Kesetabilan tulang lehernya sangat penting untuk untuk mencegah kondisinya semakin parah, kalau tidak, maka akan menimbulkan cedera pada saraf leher dan tulang belakang yang dapat mengakibatkan kelumpuhan.


Wulan tak henti-hentinya menangis dan terus saja menitipkan Thalita kepada Afifa. "Fa...!", Ucap suara lemah Wulan. "Terimakasih untuk semua yang telah kau lakukan untukku dan putriku, Aku minta maaf karena selama ini terus saja merepotkanmu", ucap Wulan lagi, nampak cairan terus keluar di kedua ujung matanya, Afifa berulangkali menghapusnya dengan tisyu yang ia bawa, karena kepala Wulan tidak bisa bebas bergerak. "Begitupun untuk kali ini, lagi-lagi aku harus menitipkan Thalita padamu". Suara isak tangisnya semakin bertambah.


"Mbak..., Sudah jangan menangis lagi! semuanya akan baik-baik saja, Mbak Wulan juga tidak usah khawatir soal Thalita, Kak Aji akan membawanya kerumah untuk sementara, sebelum Mbak Wulan benar-benar pulih".


"Terimakasih Fa, aku tidak tahu lagi harus bilang apa untuk mengucapkan rasa terimakasihku padamu".


"Fa...", panggil Wulan lagi.


"Iya, Mbak?" tanya Afifa sambil menggenggam tangan kiri Wulan yang dingin, sedangkan tangan kanannya terpasang gips.


"Bagaimana dengan Ayahku?" tanya Wulan lagi saat teringat terakhir kali dengan Ayahnya yang sedang mengejarnya.


"Pak Herman sudah berada ditempat yang aman, Mbak!, Beliau dibawa kembali oleh petugas dari tempat rehabilitasi".


"Oh..., begitu ya...", Wulan menarik nafas berat, antara lega dan sedih juga, karena penyakit Ayahnya kini kambuh lagi.


"Iya, Mbak!, Mbak Wulan tidak perlu banyak fikiran, lebih baik sekarang Mbak Wulan fokus pada kesembuhan Mbak Wulan saja, biar cepat pulih dan kembali pulang kerumah". Ucap Afifa sambil tersenyum.


Wulan mulai tampak lega, "Terimakasih Fa!", ucap Wulan sambil menggenggam erat tangan Afifa.

__ADS_1


*******


Hari-hari berlalu, dua minggu sudah Wulan dirawat di rumah sakit, ketiga pegawainya sepakat untuk menunggui Wulan secara bergantian. Sedangkan Afifa, hampir setiap hari selalu menyempatkan diri mampir bersama Thalita ke Rumah sakit sepulang sekolah dan akan pulang sore hari, dan terkadang Afifa juga menginap kalau kebetulan sekolah besoknya libur. Begitupun dengan Fauzi, jika ada waktu senggang, akan menyempatkan diri untuk menjenguk.


Seperti hari itu, Afifa kembali menjenguk Wulan bersama Fauzi dan Thalita, karena kebetulan hari ini hari minggu. Tak lupa dia membawa buah tangan untuk Wulan dan Rina yang kebetulan sedang kebagian tugas menunggui Wulan.


Wulan sudah nampak segar saat mereka datang kesana, dan kabarnya besok dia sudah bisa pulang, meskipun gips di tangannya masih belum dibuka.


Thalita langsung memeluk Wulan saat datang kekamarnya, "Bunda..., kapan pulang?" tanyanya.


"Iya Sayang..., Anak Bunda yang cantik..., do'ain Bunda ya, semoga besok Bunda bisa pulang, dan bisa kumpul lagi sama-sama dirumah", ucap Wulan sambil memeluk Thalita dengan tangan kirinya, lalu mencium wajah anak itu bertubi-tubi.


"Thalita sekarang tinggal dirumah Ayah, Bunda..., Iyakan Ayah?" Thalita menoleh ke arah Fauzi, lalu kembali menatap ibunya setelah mendapat anggukan dari Ayahnya, "Kenapa Bunda gak pulang kerumah Ayah aja? biar kita bisa kumpul rame-rame, iyakan Bunda Fifa?" tanya bibir mungil Thalita lagi sambil menoleh ke arah Afifa yang cukup tersentak mendengar pertanyaan anak itu. Afifa mrnggigit bibir bawahnya, lalu berusaha menarik ujung bibirnya agar kembali tersenyum.


Fauzi yang berdiri disamping Afifa langsung menoleh ke arah Afifa, matanya terus memperhatikan perubahan raut wajah istrinya setelah mendengar semua yang dikatakan Thalita, entah mengapa, tiba-tiba saja Fauzi teringat kembali dengan ucapan Farid, Ucapannya terdengar berulang-ulang ditelinga Fauzi. "Jangan sia-siakan orang yang terus bertahan bersamamu, meski dia mengenyampingkan rasa bahagianya sendiri. Karna diluar sana... masih banyak orang yang siap dan sanggup membahagiakannya". Fikiran Fauzi terus melayang. Benarkah selama ini kau tidak bahagia bersamaku, Dek? Benarkah kau bertahan bersamaku hanya karena me jalankan kewajibanmu sebagai seorang istri saja? dan juga karena rasa hormatmu kepada suamimu? Aku sadar, selama ini aku hanya membuatmu menderita, betapa egoisnya diriku, jika karena cintaku padamu yang begitu dalam ini, sampai harus mengorbankan kebahagiaanmu dan terus memintamu untuk tetap bertahan bersamaku? Tidak! aku tidak akan membuatmu terus menderita, kau pantas bahagia meski untuk meraih hal itu aku harus rela kehilanhanmu.


********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ah... Readers...


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Haruskah Fauzi melepaskan Afifa? 😢


Ditunggu komentarnya...🙏


Tetap Like dan Vote....🙏


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2