
HAPPY READING... ⚘⚘⚘
"Kak Ajiiiiiiiiii...!!! Banguuuun Kaaaaak...!!! Banguuuun!!!" Teriak Afifa disela isak tangisnya. Air matanya berderai membasahi kerudung yang posisinya sudah tak beraturan berwarna krem dengan bercak merah dimana-mana karena darah segar Fauzi dalam dekapannya. Tangan Afifa terus mengguncang pipi Fauzi yang kini sudah tak bergerak dengan mata terpejam rapat.
Orang tua Fauzi hampir loncat mendengar teriakan Afifa, keduanya langsung menghampiri tubuh Fauzi yang terbaring tak berdaya dipangkuan Afifa, begitupun dengan Wulan dan Nadia. Talita yang datang bersama Nadia hanya berdiri sambil menangis melihat semua kejadian yang ada dihadapannya. Nadia segera meraih tubuh mungil Talita dan memeluknya, berusaha menenangkan anak itu.
Orang-orang terus berdatangan dan berkerumun menyaksikan tragedi mengenaskan didepan rumah Afifa, begitupun dengan semua pegawai Fauzi termasuk Bi Yati yang berada didalam toko mebel milik Fauzi yang letaknya tidak jauh dari rumah, mereka berlarian menghampiri kerumunan. tatapan iba dan penuh tanya terpancar dari wajah mereka, bahkan diantara mereka ada yang ikut menitikan air mata mendengar ratapan Afifa yang terus menangis memeluk kepala suaminya.
"Dia pantas mendapatkannya...!", tiba-tiba terdengar teriakan seseorang laki-laki dari arah kerumunan orang-orang dengan suara serak khas pria paruh baya, dia terus memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman tiga pria yang memegang tubuhnya.
Wulan tersentak mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia berdiri dan menghampiri sumber suara, matanya terbelalak saat pandangannya tertuju pada pria yang sedang meronta dan terus mengeluarkan cerocosan bermakna makian kepada Fauzi yang tak lain adalah Ayahnya sendiri. Pria itu memandangnya sambil tersenyum sinis penuh kepuasan.
"Ayah...!!!", Ucap Wulan geram, "Kenapa Ayah lakukan ini?, Kenapa Ayah ikut campur masalahku? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Fauzi? semua bis...".
"Cukup...!!!", Ayah Wulan memotong pertanyaan bertubi-tubi dari Wulan. "dengar...!!!, dia bahkan pantas mendapatkan yang lebih buruk dari ini, dia sudah menghancurkan keluargaku, laki-laki brengsek tak bertanggung jawab...!!!", makian Ayah Wulan terus tak terkontrol, membuat orang-orang yang berkerumun disekitarnya menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.
"Toloooong...!!! saya mohon tolong suami saya, siapapun... tolong bawa suami saya ke Rumah sakit", ucap Afifa sambil menangis tersedu-sedu memohon pertolongan, pandangannya berkeliling ke arah orang-orang disekitarnya yang kini perhatian mereka teralihkan kepada Ayah Wulan yang tidak bisa menutup mulutnya.
"Zi...bangun zi...!!!", Mama Fauzi ikut panik dan menangis melihat anaknya tergeletak.
"Mang Ujaaang...!", Panggil Papa Fauzi kepada Mang Ujang yang baru turun dari mobil pick up didepan toko Fauzi.
"Iya Pak...", Jawab Mang ujang sambil tergopoh-gopoh menghampiri majikannya, "masyaAlloh..., Nak Aji...???", matanya terbelalak melihat majikannya tergeletak, "Ada apa ini?", tanyanya lagi penasaran, karena tidak tau asal permasalahannya.
"Cepat keluarkan mobil saya!", pinta Pak H. Ramadhan kepada Mang Ujang sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
"O...iya Pak...!", jawabnya sigap, meraih kunci mobil dan berlari menuju halaman rumah Afifa.
Mang Ujang nampak bingung begitu sampai didepan mobil majikannya. Dia berfikir sejenak, bagaimana cara mengeluarkan mobil majikannya? sedangkan mobil Fauzi maupun mobil Pak Haji Ramadhan terhalang oleh mobil merah milik Wulan. Dia pun kembali menghampiri Pak Haji Ramadhan. "Pak...maaf, anu...", ucapnya kebingungan sambil menunjuk-nunjuk dengan jempolnya ke arah halaman rumah Afifa.
"Mana mobilnya mang...?, cepatlah...!!! Fauzi bisa kehilangan banyak darah", jawab Pak Haji Ramadhan tak sabar.
__ADS_1
"Itu Pak..., ada mobil Merah yang menghalangi", jawab Mang Ujang sambil melirik Afifa yang masih menangis.
Wulan yang mendengar ucapan Mang Ujang, baru menyadari kalau posisi mobilnya menghalangi mobil pemilik rumah. "Oh...iya Maaf Pak..., biar saya keluarkan dulu mobil saya", ucapnya sambil berlari menuju mobilnya. Tapi langkahnya terhenti dan kembali berbalik ke arah Mang Ujang. "Pakai mobil saya saja Pak!, kita tidak punya waktu lagi", ucapnya sambil menyerahkan kunci mobil.
Mang Ujang terdiam sebentar, lalu kembali mengangguk setelah beberapa saat mengingat kondisi majikannya. Pria paruh baya itu langsung menyambar kunci mobil dari tangan Wulan dan segera berlari menuju mobil merah milik Wulan.
"Tidid...tidid...", Mang Ujang membunyikan klakson memberi isyarat agar kerumunan orang didepan gerbang menyingkir untuk memberi jalan.
Paj Haji Ramadhan dan para pegawai toko segera mengangkat tubuh Fauzi ke dalam mobil Wulan yang kini dikemudikan oleh Mang Ujang. Afifa segera masuk kedalam mobil dan kembali menyanggah kepala Fauzi, Mama ikut bersamanya.
Saat Pak Haji Ramadhan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Ayahnya Wulan kembali berteriak. "Kalian akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan hahaha...", cerocosnya dengan wajah tanpa dosa, malah tatapan kepuasan yang terpancar dari matanya yang tajam dan merah penuh amarah.
Pak Haji Ramadhan menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arah pria yang sudah kehilangan akal itu. "Mang Ujang pergilah! bawa Fauzi ke Rumah sakit terdekat, sepertinya saya harus menangani masalah disini terlebih dahulu", ucapnya, sambil mengambil kunci mobil miliknya dari tangan Mang Ujang, lalu mengangguk ke arah istrinya memberi isyarat untuk segera berangkat.
Mang Ujang mengangguk tanda mengerti, dia segera tancap gas meninggalkan kerumunan orang yang masih kebingungan didepan rumah Afifa.
Sepeninggal mobil yang dikendarai Afifa dan Fauzi, Ayah Wulan masih tertawa lebar penuh kemenangan, namun kini dia tidak memberontak lagi.
Pak Haji Ramadhan menghampiri Wulan, "Bawa Ayahmu masuk ke dalam!", ucapnya datar dan berlalu meninggalkan Wulan dan kerumunan orang-orang menuju rumah Afifa.
Ayahnya Wulan luluh dan mengikuti langkah putrinya masuk ke dalam rumah.
Satu persatu kerumunan orang bubar setelah salah satu dari pegawai Fauzi membubarkannya, namun keingin tahuan mereka pastinya tidak akan berhenti begitu saja, berbagai dugaan mereka lontarkan lewat mulut-mulut mereka yang tidak bertanggung jawab, menimbulkan masalah baru tentunya yang akan semakin membuat Afifa dan keluarganya terpuruk karena gunjingan orang-orang disekitarnya.
Terjadi perbincangan didalam rumah Afifa. Dengan bijaknya Pak Haji Ramadhan mendengarkan keluh kesah penderitaan yang dilontarkan Ayah Wulan setelah kehamilan putrinya, Istrinya yang jatuh sakit sampai nyawanya tak tertolong karena penyakit jantung yang dideritanya, dirinya yang jatuh miskin karena terus berobat untuk kesembuhan istrinya, dan tentu saja nasib Wulan yang menjadi bahan gunjingan orang-orang disekitarnya.
Pak Haji Ramadhan mengangguk-angguk memahami semua ucapan Ayah Wulan, "Lalu apa yang Anda inginkan dari kami saat ini?" tanyanya kepada Ayah Wulan.
Ayah Wulan tersenyum sinis, "Heh..., memangnya apa yang bisa anda berikan untuk mengganti semua penderitaan kami selama ini?", balik bertanya.
"Apapun yang anda inginkan, asalkan anda tidak lagi mencelakakan putra kami", ucap Ayah Fauzi datar.
__ADS_1
"Suruh putramu bertanggung jawab dengan menikahi putriku dan menjamin kehidupan putri dan cucuku!".
"Deg...!!!", Ayah Fauzi terdiam, begitupun dengan Wulan, dan juga orang yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan mereka dibalik pintu sambil memeluk Talita yang masih gemetar, yang tidak lain adalah Nadia. Beberapa kali Nadia menarik nafas panjang, karena sesak didadanya, dia terus memikirkan nasib wanita yang selalu dia sebut Anti, wanita yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka, rasanya dia tak sanggup membayangkan bagaimana Antinya akan menderita seandainya Pamannya sampai memadu Anti kesayangannya. Air mata Nadia mulai menetes membasahi kedua pipinya.
Untuk beberapa saat tak ada satu katapun keluar dari mulut Ayah Fauzi, dia tidak tahu harus menjawab apa pada laki-laki dihadapannya. Dia tahu, Putranya sangat mencintai istrinya, dan dia tidak mungkin setuju untuk membagi cintanya. Ayah Fauzi menarik nafas panjang, lalu mencoba untuk bicara. "Apa tidak ada pilihan lain?" tanyanya.
"Apa maksud anda?", tanya Ayah Wulan sambil menatap tajam ke arah Pak Haji Ramadhan.
"Saya tidak bisa memutuskan hal ini sendiri, karena ini soal kehidupan rumah tangga putra saya, seandainya Bapak meminta sesuatu yang lain, insyaAlloh saya bisa memberinya",
"Apa Anda bermaksud memberi kami uang atau harta kekayaan Anda yang berlimpah...???" Ayah Wulan kembali tersenyum sinis, "Oh tidak...saya tidak butuh itu, saya sudah tua, saya hanya memikirkan masa depan Putri dan Cucu Saya".
"Bapak tidak perlu khawatir soal Talita, kami sudah tau kalau Talita darah daging Fauzi, Putra dan menantu kami juga sangat menyayanginya, kehidupannya akan terjamin sampai dia dewasa nanti".
"Lalu bagaimana dengan statusnya?, apa dia akan terus mempunyai julukan anak haram???", tanyanya tegas, membuat Ayah Fauzi merasa tercubit dengan julukan yang disebut pria itu.
Tiba-tiba terdengar tangisan Talita dari balik pintu, anak tak berdosa yang sudah berusia sembilan tahun itu, merasa terpukul ketika namanya disebut dengan embel-embel anak haram.
Ketiganya langsung menoleh ke arah pintu, Wulan terperanjat, setengah meloncat menghampiri Talita, tampak Talita yang sedang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Nadia, "Sayang...!", panggilnya sambil mengambil alih memeluk putrinya dari Nadia. "Kamu mendengar semuanya Nak?", ucapnya lagi sambil menciumi wajah Talita.
Pak Haji Rmadhan ikut menghampiri mereka, dia menarik nafas panjang, menyesali semua yang telah terjadi, tidak seharusnya anak sekecil itu menyaksikan dan mendengar semua yang belum dia mengerti sama sekali.
****************************************
Bersambung...😢😢😢❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tangan saya bergetar menulis part ini, sambil terus bergerak tak mau berhenti...😢
Hiburlah Author biar gak terus baper dengan Like, Vote dan komentarnya ya...
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul