
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Keluarga Farid nampak kaget mendengar Ucapan Afifa, seketika pandangan mereka tertuju ke arah Farid dengan sorot mata penuh tanya seolah meminta penjelasan darinya.
Farid nampak kikuk, lantas dia mengalihkan pandangannya ke arah adiknya Zia dengan tatapan tanya.
Zia membalas tatapan Farid, lalu perlahan mengangkat kedua jarinya sambil nyengir kuda.
"Zia! kamu bilang foto gadis yang ada di galeri ponsel Masmu itu adalah...," tiba-tiba Bu Lek Faiq bertanya kepada Zia sambil menatapnya heran. Namun ucapannya tertahan saat menyadari semua orang yang ada di ruangan itu menatap ke arahnya.
"Foto?" tanya Mama, tak kalah heran.
Semua orang terdiam, termasuk Afifa juga Fauzi. Apalagi Nadia yang semakin tertunduk dengan wajah pucatnya.
"Jadi begini, Ma!" Tiba-tiba Fauzi angkat bicara, "sebenarnya kemarin Farid mau membelikan hijab untuk Nadia, tapi dia tidak tau model seperti apa yang di sukai Nadia, jadi...Aji...Aji ngirim foto Afifa kepada Farid untuk contoh hijabnya. Ya..., seperti itu," Jelas Farid, untuk mencairkan suasana. Namun nampak garing dan masih menyisakan tanya dari orang-orang di sana.
"Oh..., begitu," Ucap Umi Wafa dan semuanya tampak mengangguk-angguk. "Jadi, Nak Afifa ini istrinya Nak Aji?" tanya Umi Wafa lagi.
"Iya betul, Umi! dia istri saya dan menantu bungsu rumah ini," jelas Fauzi.
Suasana di rumah itu pun kembali mencair, obrolan kembali berlangsung diantara mereka. kecuali 4 orang yang mengetahui persis dengan hubungan masa lalu dari Afifa dan Farid.
Afifa sedikit lega, namun ada kekhawatiran dalam dirinya saat melihat Nadia masih saja tertunduk dengan wajah pucatnya. "Nad!" bisik Afifa di depan telinga Nadia. Tapi Nadia masih terdiam, "Kamu baik-baik saja kan?" tanya Afifa lagi. Afifa semakin khawatir saat melihat mata Nadia mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia pun pamit kepada semua orang untuk mengajak Nadia kembali masuk ke dalam kamar, karena waktu maghrib hampir tiba.
Afifa membimbing Nadia masuk ke dalam kamarnya, lalu Nadia duduk di tepi tempat tidurnya, masih terdiam, namun ada cairan yang keluar dari kelopak matanya, hingga mengalir menganak sungai di kedua pipinya tanpa mengeluarkan suara.
Afifa semakin khawatir dan salah tingkah. Tentunya, Nadia bukan lah gadis bodoh yang tidak memahami situasinya saat ini. "Nad! Jangan srperti ini, Kamu percaya sama Anti kan?" tanya Afifa sambil memegang pundak Nadia, lalu duduk di sisi kanan keponakannya itu.
Nadia membalikan badannya ke sisi kirinya sehingga memunggungi Afifa, dia mengusap air mata yang terlanjur jatuh dengan tangan kirinya.
Afifa memandang punggung Nadia, lalu dia menggeser tubuhnya dan mengusap pelan punggung Nadia. "Anti tau persis bagaimana perasaanmu sekarang, Nad! Tapi jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum tabayyun terlebih dahulu, Anti Yakin, Mas Arimu tidak bermaksud menyakiti hatimu."
Nadia kembali mengusap air matanya, "Sepertinya, memang tidak tersisa sedikit ruang saja di hati Mas Ari untuk Nadia, An! Kalau boleh Nadia memilih, Nadia pun tidak mau menjatuh kan hati Nadia kepada orang yang sama sekali tidak menginginkan Nadia."
__ADS_1
"Hei, Nadia sayang, jangan berfikir sempit seperti itu! apa kamu tidak bisa melihat pandangan tulusnya saat dia melihatmu? Bukankah kamu sendiri yang bilang, bahwa pandangan Mas Arimu itu selalu membuat hatimu tenang? lalu kenapa sekarang kamu malah kembali meragukannya hanya karena kesalah fahaman ini?"
Nadia membalikan badannya menghadap Afifa. "Nadia tidak mau hanya menjadi pelampiasan cintanya yang tak terbalas, An!" Ucap Nadia dengan tatapan nanar ke arah Afifa.
"MasyaAlloh, Naaad! kisah kami itu sudah lama terkubur, dia itu bukan orang bodoh yang akan terus-terusan meratapi nasibnya hanya karena cinta monyetnya yang tak terbalas, cobalah berfikir positif! pasti dia punya alasan kenapa sampai dia tidak menghapus foto Anti di ponselnya." Afifa menarik nafas panjang, lalu menghadap Nadia dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Nadia.
"Nad! Percayalah kepada Anti! meskipun saat ini, Mas Arimu belum sepenuhnya mencintaimu, tapi dia pernah mengatakan kepada Pamanmu, kalau dia sudah merasa nyaman denganmu, bukankan rasa cinta itu di awali dengan rasa nyaman? Anti yakin seiring berjalannya waktu, dia akan benar-benar mencintaimu. Ingat juga perjuanganmu selama ini, bahkan sejak kalian masih di Semarang, bukanah ini Taqdir dari yang maha kuasa, sehingga mempertemukan kalian kembali? dan saat ini, perjuanganmu akan menuju puncaknya. Keluarga Mas Arimu jauh-jauh datang kemari untuk mengkhitbahmu, apakah itu tidak menunjukan keseriusannya kepadamu?" ucap Afifa sambil menatap Nadia penuh keyakinan.
"Ceklek!" Suara pintu kamar Nadia terbuka, Afifa dan Nadia langsung menoleh ke arah pintu, tubuh tegap Fauzi berdiri disana, dia melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Fauzi hanya berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya, menatap iba ke arah Nadia.
"Kak...," panggil Afifa. Fauzi menolehnya, menatapnya sekilas dengan tajam tanpa bicara, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Nadia.
"Deg...!" Jantung Afifa berdetak kencang melihat tatapan suaminya yang penuh arti, ada sedikit rasa takut di dalam hatinya, kalau suaminya akan kecewa padanya akibat kejadian yang baru saja terjadi di ruang tamu tadi.
Fauzi masih tak bicara, dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali membalikan badannya ke arah pintu karena suara adzan maghrib telah terdengar bersahutan dari mesjid dan mushola di sekitar rumah ini.
"Kak...!" panggil Afifa lagi. Fauzi menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Afifa, sambil berkata, "Aku akan ke Mushola dulu," ucapnya, lalu kembali melangkahlan kakinya keluar dan menutup kembali pintu kamar.
Afifa hanya menari nafas panjang sambil meletakan tangan di dadanya, menatap kepergian suaminya.
Afifa keluar dari kamar Nadia, dia melangkah menuju kamar mandi, rupanya di ruang tamu sudah sepi, semua orang sudah berada di mushola kecil di samping rumah ini, yang sengaja Pak Haji Ramadhan buat agar ibadahnya lebih istoqomah saat berada di sana.
Saat Afifa hendak masuk, Mama datang menghampirinya, "Thalita kok gak di ajak, Fa?" tanya Mama.
"Thalita di jemput Mbak Wulan siang tadi di sekolahnya, Ma!" jelas Afifa.
"O ya? bukannya kamu bilang, Thalita sudah beberapa hari di rumah kalian? dan tidak mau pulang ke rumah ibunya?" tanya mamah yang memang sempat bicara lewat telepon dengan Afifa kemarin.
"Iya, Ma! tapi tadi waktu Afifa bertemu dengannya di sekolah, dia terus membujuk Thalita agar mau ikut dengannya, entah apa yang terjadi, dia nampak begitu sedih, dia bilang ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan putrinya."
"Oh..., begitu. Ya sudah, kamu Wudhu dulu! nanti gantian," Ucap Mama kemudian.
Afifa mengangguk lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
**********
Sholat jamaah di mushola telah selesai, para tamu yang ikut sholat di sana, satu-persatu keluar dan kembali ke rumah. Namun Fauzi menahan Farid untuk bicara sebentar di depan mushola.
"Tunggu, Rid!" ucap Fauzi datar.
Farid membalikan badannya dan melangkah mendekati Fauzi. Fauzi memberikan isyarat agar Farid mengikuti langkahnya menuju kursi kayu yang berada agak jauh dari rumah. Keduanya mendudukan diri disana, sempat terjadi kekakuan di antara keduanya, sampai Farid angkat bicara dia mengerti dengan maksud Fauzi mengajaknya ke tempat ini.
"Maafkan aku, Zi! aku sama sekali tidak bermaksud menyimpan foto Afifa, itu adalah foto lama, aku benar-benar lupa untuk menghapusnya." ucap Farid memelas karena merasa bersalah dengan keteledorannya.
"Aku justru memikirkan perasaan keponakanku saat ini, meski kelihatannya dia tomboy dan pecicilan, sesungguhnya hatinya sangat rapuh, apalagi setelah beberapa kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Kami sangat menyayanginya, jadi aku harap, kamu tidak akan pernah mempermainkan perasaannya!" suara Fauzi datar, namun terkesan tegas, dan hal itu sekaligus sebagai peringatan untuk Farid tentunya.
Farid menarik nafas pelan, seolah dia mengerti betul tujuan dari arah pembicaraan Fauzi. "Aku tau, Zi! meski saat ini hatiku belum sepenuhnya untuk Nadia, tapi percayalah, seiring berjalannya waktu, aku akan terus belajar untuk mencintainya, dia gadis yang baik, dan pantas untuk dicintai, dia juga pantas untuk bahagia, dan aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia." ucap Farid dengan penuh keyakinan.
"Baiklah! dan sebaiknya hal ini kamu ucapkan langsung kepadanya, karena saat ini, hatinya benar-benar kacau."
"Apa aku bisa bicara dengannya sebentar saja?" tanya Farid.
Fauzi mengangguk, "Ikutlah!" ucapnya sambil memberi isyarat agar Farid mengikuti langkahnya. Fauzi berjalan menuju pintu samping rumahnya, dan masuk ke ruang keluarga, lalu mempersilahkan Farid duduk disana untuk menunggu Nadia. Wajah Farid nampak gelisah, dia takut kalau Nadia akan terus salah faham padanya, meski ia tau, ini adalah benar-benar kesalahannya.
Fauzi mengetuk pintu kamar Nadia, lalu membukanya perlahan dan berjalan menghampiri Nadia dan Afifa yang baru saja selesai sholat masih menggunakan mukena. "Nad! Farid menunggumu di ruang tengah, dia ingin bicara denganmu."
Nadia terdiam menatap Pamannya, lalu menoleh ke arah Afifa. Afifa mengangguk dan Nadiapun keluar dari kamarnya tanpa membuka mukenanya. Fauzi memperhatikan Nadia di depan pintu kamar, saat meyakinkan Nadia sudah duduk di depan Farid, dia pun kembali masuk ke kamar Nadia dan menutup pintu kamar, lalu menghampiri Afifa.
************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm... tetap like, vote dan komen aja ya...😊
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul