
Vino dan Viona sudah terlelap, sementara Alfaro sedang sibuk di ruang kerjanya, mengerjakan beberapa berkas yang harus segera di selesaikan. Arumi yang belum bisa tidur memutuskan untuk turun ke lantai bawah, untuk menemui Mama.
Saat akan menuruni tangga, kebetulan ia berpapasan dengan Bima. Mereka saling melepas senyum seperti biasa.
"Kamu dari mana?"
"Aku dari luar, ada sesuatu yang harus aku beli, Kamu sendiri mau kemana?"
"Aku mau ke kamar Mama."
"Oh baiklah, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu, selamat malam." Bima melanjutkan langkahnya melewati Arumi yang masih diam di posisinya.
Arumi diam tertegun sesaat, ia pikir tidak baik jika membiarkan Bima pergi begitu saja, setelah semua kebaikan Bima selama ini, setidaknya ia harus mengucapkan terimakasih, meski ia tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Bima.
"Apa kita bisa bicara sebentar," sahut Arumi tiba-tiba, membuat Bima menghentikan langkahnya.
Bima berbalik ke belakang, melihat wanita yang dulu memenuhi hatinya, kini sudah terasa biasa saja, normal dan tanpa getaran seperti dulu. Semua itu karena Almira yang tiba hadir menggeser posisi Arumi di hatinya.
"Baiklah, mau bicara dimana?" tanya Bima lalu kembali tersenyum kepada Arumi.
~
Di balkon utama lantai dua, Arumi dan Bima berdiri saling berdampingan. Arumi menoleh kearah Bima yang hanya diam seraya menatap langit malam yang terlihat sepi tanpa kehadiran Bulan dan Bintang.
"Jam berapa penebangan besok?" tanya Arumi pada akhirnya.
Bima menoleh kearah Arumi, "Jam delapan pagi."
"Aku tiba-tiba saja merindukan Malaysia ... tolong sampaikan salam ku kepada Mami kamu dan Kak Bianca saat sampai disana."
"Iya tentu saja, sesampainya disana aku akan langsung menyampaikannya."
"Dan juga ... terimakasih untuk semuanya, semua hal yang sudah kamu berikan kepada ku dan juga anak-anak, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalasnya."
Bima menatap Arumi sejenak, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke langit malam, "Aku sudah bilang jangan merasa berhutang budi, aku melakukan semuanya dengan ikhlas ... bagi ku, kamu, Vino, Viona, Alfaro, Almira dan Tante, sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri."
__ADS_1
Arumi tiba-tiba saja terkekeh sendiri, jika mengingat saat ia, Mama dan suaminya mengintip Bima dan Almira. Mendengar suara tawa Arumi, sontak Bima langsung kembali menoleh kesamping, dimana Arumi berdiri.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Bima penasaran.
Arumi memukul lengan Bima dengan kepalan tangannya, "Kamu dan Almira baru saja jadian kan?" tanya Arumi lalu kembali terkekeh.
Bima membulatkan matanya, "Ba-bagaima kamu bisa tahu?"
"Maaf ya, tapi aku, Mas Al dan Mama mendengar semua obrolan kalian."
"Apa! Wah kalian mengintip ... aku jadi tidak enak," ucap Bima seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jodoh memang tidak ada yang tahu ya ... lalu apa rencana kamu setelah pecaran dengan Almira?"
"Emm ... untuk sementara waktu kami menjalani hubungan jarak jauh, sebenarnya sejak lama aku sudah berencana untuk mengembangkan bisnis Daddy di Indonesia, semoga saja setelah semua ini, aku bisa mewujudkan itu," tutur Bima.
"Benarkah? Wah ide bagus ... apa kamu tidak mau memanggilku kakak ipar mulai sekarang, karena aku punya firasat jika kamu dan Almira akan menikah," ucap Arumi seraya tersenyum penuh arti.
"Ck, kakak ipar? Bagiamana ya ... baiklah, doakan hubungan ku dan Almira berjalan dengan baik ya KAKAK IPAR," ucap Bima lalu terkekeh sendiri mendengar ucapannya.
Mereka tertawa bersama. Setelah terombang-ambing dalam lautan perasaan yang tak berujung, kini Bima dan Arumi sudah menemukan cinta mereka kembali dari orang pilihan yang di siapkan oleh takdir. Seberat apapun kamu berjuang, jika dia diciptakan bukan untuk kamu, maka kamu tidak akan pernah bisa memilikinya, bahkan untuk sekedar mengengamnya saja kamu tidak akan pernah bisa.
Namun saat ombak yang menghanyutkan perasaan mu mulai tenang, takdir sendiri yang akan membawamu sampai ke tepian, dimana seseorang yang sudah di siapkan takdir sedang menunggu seraya merentangkan tangan, untuk menyambut kedatangan mu.
~
Saat Arumi turun ke bawah, Bima melangkah menuju kamar Almira. Di ketuk-nya pintu itu hingga beberapa kali, sampai akhirnya sang pemilik kamar membuka pintu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Bima.
"Oh tidak, ada apa?" tanyanya balik.
Bima mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya, lalu di berikan kepada Almira, "Ini untuk kamu." Almira meraih kotak kecil itu dari Bima, namun saat ia hendak membuka kotak itu, Bima langsung mencegahnya.
"Jangan di buka sekarang."
__ADS_1
"Lalu kapan aku boleh membukanya?"
"Besok, setelah pesawat yang aku tumpangi terbang, kamu boleh membukanya, berjanjilah." Bima mengulurkan jari kelingkingnya dan langsung di sambut oleh Almira, "Iya aku janji."
Bima melirik ke kanan kiri, saat memastikan tidak ada orang, dengan gerakan cepat ia mengecup kening Almira, "Selamat tidur." Setelah mengucapkan itu, Bima langsung melangkah cepat masuk kedalam kamarnya yang memang ada di samping kamar Almira.
Sementara itu Almira masih berdiri ambang pintu, tersenyum sendiri seraya memegangi keningnya, karena bekas ciuman Bima yang masih begitu terasa.
...***...
Bandara internasional Soekarno Hatta.
Pesawat yang membawa Bima sudah terbang. Arumi, Alfaro, si kembar dan Mama bersiap untuk kembali ke Mansion, namun Almira masih berdiri di tempatnya, seolah tak mau beranjak.
"Mira, ayo kita pulang," ajak Mama.
"Mama pulang duluan saja sama Kak Al, aku masih ingin di sini," ucap Almira yang terdengar datar.
"Tapi sayang, Bima kan su--" Mama tak meneruskan ucapannya, karna Alfaro yang tiba-tiba memegang pundak Mama seraya menggeleng, pertanda untuk membiarkan Almira sendiri.
Mama mengikuti langkah Alfaro dan Arumi keluar dari bandara itu. Kini tinggallah Almira yang berada disana. Ia melangkah duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari sana.
Sesuai dengan permintaan Bima, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil pemberian Bima dari tasnya. Kotak yang entah apa isinya sampai Bima melarang Almira untuk membukanya malam tadi.
Perlahan Almira membuka kotak itu. Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan inisial namanya dan juga inisial nama Bima. Di dalam kotak itu juga ada sebuah kartu kecil yang berisi pesan dari Bima. Almira membuka kartu kecil itu dan langsung membaca pesan didalamnya.
[Kalung ini sebagai tanda kalau aku menggatungkan harapanku padamu, aku harap kamu tetap setia menunggu sampai aku kembali, jangan lupa hubungi aku setidaknya tiga kali sehari. Aku mencintaimu, Almira.]
Setelah membaca pesan itu, akhirnya Almira tidak bisa menahan tangisnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian menangis tersedu-sedu. Sebenarnya ia belum siap untuk menjalani hubungan jarak jauh di saat mereka baru saja resmi menjadi pasangan kekasih, ia hanya berusaha tegar, meski hatinya berteriak agar Bima tak pergi meninggalkannya.
Hari ini separuh hatinya di bawa terbang ke negeri seberang. Entah kapan Bima akan kembali, karena tak ada kejelasan. Hubungan jarak jauh itu perlu pengorbanan. Saat rindu tak bisa tersalurkan dengan sentuhan, setidaknya secara virtual mereka bisa saling bertegur sapa meski di pisahkan jarak dan waktu yang entah kapan akan menyatukan.
Bersambung 💓
Maaf cuma satu bab, karena author ada urusan mendadak, tapi tenang sore/malam ini author Insyaallah akan up satu lagi. Author otw dulu ya 🏃🏃
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊