Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.116 (Munculah seperti saat itu)


__ADS_3

Almira melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Ia menatap Bima dengan tatapan penuh kerinduan. Perlahan tangan Bima tergerak untuk mengusap air mata yang ada di sudut mata sang pujaan. Ia meraih tangan Almira lalu menggenggamnya dengan erat.


"I miss you," ucap Bima lalu kembali tersenyum ke Almira.


Wajah Almira tiba-tiba saja bersemu merah, rasa malu bercampur bahagia kini beradu menjadi satu, "Miss you to."


"Kenapa kamu tidak bilang kalau akan datang?" tanya Almira.


Lagi-lagi pertanyaan itu kembali harus di dengar Bima. Rasanya kurang keren saja, jika ia harus mengatakan jika ia datang karena alasan sepele yaitu cemburu, "Aku ingin memberikan kamu kejutan, ayo kita pulang Vino dan Viona sudah menunggu," ajak Bima seraya membuka kan pintu mobil untuk Almira, namun tiba-tiba saja Almira ingat jika ia tadi keluar bersama Dinda.


Almira menahan langkahnya, ia menoleh ke belakang. Ia mengerutkan dahinya heran karena tiba-tiba saja Dinda menghilang. Tempat Dinda tadi berdiri sudah kosong. Almira menghela nafas panjang, ia terlalu senang bertemu Bima, sampai ia lupa tentang Dinda.


"Kenapa, apa ada sesuatu yang hilang?" tanya Bima saat melihat Almira nampak kebingungan.


"Tadi aku keluar bersama Dinda, tapi tiba-tiba saja dia menghilang," ucap Almira tanpa menoleh kearah Bima, matanya tetap fokus melihat ke sekeliling.


Tak lama ponsel yang ada di tangan Almira berdering tanda pesan masuk. Fokus Almira mulai teralihkan untuk membaca pesan yang ternyata di kirimkan oleh Dinda.


[Aku pulang naik taksi, aku tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang melepas rindu, hehe. Sampai jumpa besok.]


Almira bisa bernafas lega saat membaca pesan itu. Ia membalas pesan itu sebentar kemudian kembali melihat Bima, "Ternyata dia sudah pulang duluan ... apa tadi aku memeluk mu terlalu lama, sampai aku tidak sadar jika Dinda sudah pulang naik taksi."


"Emm, lumayan lama sampai banyak orang yang melihat kita tadi," ujar Bima.


"Benarkah, tapi kakak ku tidak ada kan?"


"Sepertinya tidak," jawab Bima.


"Syukurlah," ucap Almira yang merasa begitu lega, ia tidak pernah memegang tangan seorang di depan sang kakak, apalagi untuk berpelukan, mungkin Alfaro tidak akan marah namun tetap saja Almira merasa begitu malu.


"Ayo kita pulang," ajak Bima.


"Bisakah kita mampir ke restaurant teman ku sebentar, dia mengundang ku ke acara pembukaan restaurant miliknya," pinta Almira.


"Baiklah, ayo masuk."


Bima membuka pintu mobil itu lebar-lebar agar Almira bisa lebih leluasa untuk masuk kedalam. Setelah sang kekasih masuk, ia menutup pintu mobil, kemudian melangkah masuk ke kursi bagian kemudi. Bima belum tahu jika restaurant yang di maksud Almira adalah restaurant milik seseorang yang memasang foto kekasihnya di media sosial.


Sepanjang perjalanan, Bima melirik kearah Almira. Ia benar-benar ingin menanyakan tentang foto itu tapi nanti Almira pasti akan bertanya-tanya dari mana ia mengetahuinya. Ia harus kembali menahan rasa penasarannya, sekarang yang terpenting, ia bisa kembali ke sisi pujaan hatinya, meski ia belum tahu sampai kapan ia akan berada disana.


~

__ADS_1


Mobil yang di kemudikan Bima akhirnya sampai ke depan sebuah restaurant yang sangat kental dengan unsur American klasik. Bima keluar dari dalam mobil lalu di susul oleh Almira. Suasana sudah nampak sepi, yang tertinggal hanyalah sisa-sisa acara pembukaan yang masih terpajang di sana sini.


"Sepertinya acaranya sudah selesai," ucap Bima saat menoleh kearah Almira.


"Iya, tapi aku sudah bilang sejak awal jika aku akan datang terlambat," ucap Almira kemudian melingkarkan tangannya di lengan Bima, "Ayo masuk." Mereka melangkah masuk kedalam restaurant itu secara beriringan.


Di dalam sana Dave sedang berbincang dengan beberapa karyawannya tentang, berbagai hal sebelum besok resmi di buka untuk umum. Ucapanya terhenti saat mendengar suara pintu terbuka, sontak Dave langsung menoleh kebelakang. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Almira, namun senyum itu perlahan surut saat melihat pria yang masuk setelah Almira.


"Hy Dave." Almira melambaikan tangannya saat melihat keberadaan temannya yang berjarak tidak terlalu jauh darinya.


Bima menghentikan langkahnya saat melihat pria yang di panggil Almira bernama Dave. Ia masih ingat saat melihat foto Almira di media sosial Bianca, jelas sekali jika foto itu di upload oleh seorang benama Dave juga.


Ternyata temanya laki-laki dan laki-laki itu adalah orang yang ada di media sosial kak Bianca, batin Bima.


Dave diam terpaku, seolah tak perduli dengan keberadaan Almira. Ia malah fokus melihat pria yang ada di samping temannya itu.


Siapa dia ... apa dia pacar Almira," batin Dave.


Almira melangkah menghampiri Dave, lalu di ikuti oleh Bima. Sesampainya di depan Dave, Almira melihat keduanya secara bergantian. Ia heran saat melihat keduanya hanya diam, namun saling menatap satu sama lain.


"Bima, perkenalkan ini Dave, teman yang tadi aku ceritakan," ucap Almira seraya menepuk pundak Bima pelan.


Bima mengulurkan tangannya kepada Dave, "Salam kenal, saya Bima pacar Almira," ucap Bima penuh penekanan.


Dave berharap jika semesta memberinya kesempatan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama cinta pertamanya. Namun sepertinya semesta lebih berpihak kepada sang pemilik hati, seolah peka dan langsung mengirim laki-laki yang ada di hadapannya sekarang, kembali ke sisi Almira.


~


Saat ini Dave sedang duduk berhadapan dengan kedua pasangan yang membuatnya tak betah duduk berlama-lama di sana. Tadinya meja itu ia persiapkan untuk ia dan Almira saja Namun rencananya gagal total, saat seharusnya hanya ada dua kursi tapi pada kenyataannya malah ada tiga kursi.


"Maaf ya Dave, aku terlambat datang. Tadi pekerjaan ku sangat banyak," ujar Almira lalu kembali memakan hidangan yang di siapkan oleh Dave.


"Tidak apa-apa," ucap Dave kemudian beralih melihat Bima yang sejak tadi hanya diam dan fokus dengan makanannya, "Saya tidak menyangka anda datang secepat ini, padahal Almira bilang jika anda sedang sibuk mengembangkan Bisnis."


"Jika dia datang berarti ia sudah selesai dengan urusannya dan akan segera membuka cabang perusahaan di Indonesia," ucap Almira kemudian beralih menatap Bima, "kami tidak akan berhubungan jarak jauh lagi, ia kan Bi?" tanya Almira yang saat ini menatap Bima penuh harap.


Sepertinya Almira sudah salah paham. Dan menyangka jika Bima sudah berhasil dan akan segera membuka cabang perusahaan di Indonesia. Padahal kenyataannya, hal itu masih jauh dari harapan. Melihat ekspresi penuh harap sang kekasih dan juga tatapan penasaran Dave, rasanya mulut Bima terlalu kaku untuk mengakui jika ia telah gagal.


"I-iya tentu saja," ucap Bima pada akhirnya.


Almira terlihat sangat senang saat mendengar ucapan Bima. Demi mempertahankan senyuman sang pujaan, ia harus menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Entah sampai kapan, tapi yang jelas Bima tak ingin membuat Almira kecewa dan membiarkan Dave mengambil alih posisinya.

__ADS_1


~


Waktu berputar begitu cepat, setelah obrolan yang cukup panjang akhirnya Almira dan Bima pulang juga. Malam semakin pekat hingga gadis yang ada di sampingnya saat ini sedang tertidur sangat lelap. Mungkin Almira kelelahan, pikirnya. Saat mobil yang di kemudikan hampir sampai di Mansion. Tiba-tiba saja mobil itu berhenti mendadak.


Bima menghela nafas panjang saat melihat jarum merah yang menandakan jika bahan bakar mobil itu habis. Sepertinya ia terlalu banyak pikiran sampai tidak sadar jika bahan bakar mobil itu sekarat dan minta di isi. Bima keluar dari dalam mobil. Jarak mobil ke Mansion tinggal tiga puluh meter lagi, ia pikir sebaiknya ia menggedong Almira saja.


Bima membuka pintu mobil dimana saat ini Almira sedang duduk. ia membawa Almira naik keatas punggungnya. Sepertinya tidur Almira terganggu saat mendapatkan gerakan tiba-tiba. Ia mengerjapkan matanya perlahan, ia terlihat kebingungan saat menyadari jika sekarang ia sedang di gendong oleh Bima.


"Kenapa kita jalan, dimana mobil ku," ucap Almira yang nampak masih sangat mengantuk.


"Mogok, kamu tidur saja sebentar lagi kita sampai ke Mansion," ujar Bima yang terus melanjutkan langkahnya.


Almira terseyum saat bisa merasakan kehangatan Bima dari belakang sana, dari punggung yang saat ini menempelkan di tubuhnya. Rasanya ia tidak ingin cepat sampai di Mansion dan ingin berlama-lama bersama kekasihnya itu, "Turunkan aku sebentar," ucap Almira seraya menepuk pundak Bima beberapa kali.


Bima nampak kebingungan karena Almira yang tiba saja minta di turunkan. Namun karena Almira terus bergerak, ia pun segera menurunkan Almira secara perlahan, "Kenapa turun, apa tidak nyaman?"


"Apa kamu bisa datang seperti saat itu?" tanya Almira dengan mata setengah terbuka karena menahan kantuk.


"Apa?" tanya Bima yang nampak kebingungan dengan pertanyaan Almira.


"Seperti saat kita pertama kali bertemu di Mansion, aku mau kamu muncul seperti itu ... saat itu kamu membuat jantungku hampir melompat dari rongga dada, kamu mengalihkan duniaku secara tiba-tiba, dan saat itu juga aku mulai menyukai mu," ujar Almira.


"Maksud mu, aku harus kembali merasakan di cekik dari belakang oleh mu saat secara tidak sengaja aku masuk ke kamar kamu waktu itu," ujar Bima yang nampak panik.


"Ck, kenapa kamu malah mengingat bagian yang itu," ucap Almira yang nampak kesal, karena maksudnya bukan seperti itu.


"Lalu apa?" tanya Bima.


"Hal yang membuat jantungku hampir melompat dari rongga dada, hal yang membuat aku mulai menyukai mu," ucap Almira kemudian maju satu langkah, menjinjit dan dengan satu gerakan ia menangkup wajah Bima dengan kedua tangannya.


Cup.


Satu kecupan singkat mendarat tepat di bibir Bima, membuat darah berdesir hebat. Ia hanya bisa diam terpaku tanpa bisa mengatakan apapun.


"Itu maksudku, ternyata kamu orang yang tidak peka," ucap Almira kemudian memutar badan, melangkah mendahului Bima. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, dari arah belakang tiba-tiba saja Bima menarik tangannya, membuat Almira kembali berbalik kebelakang.


"Sepertinya tidak sesingkat itu, lebih lama sampai membuatku susah untuk bernafas," ucap Bima tiba-tiba.


"Apa maksud ka--" Almira tak bisa melanjutkan ucapannya karena Bima yang tiba-tiba saja kembali mendaratkan ciuman di bibirnya. Ciuman yang benar-benar nyata, terasa hangat dan lembut. Membuat Almira memejamkan matanya perlahan, menikmati sensasi baru yang di tawarkan oleh kekasihnya, hal yang dulu hanya sebatas angan karena jarak yang berjauhan.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2