Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.58 (Pulang ke Mansion)


__ADS_3

Sekarang Aril dan Dinda sedang duduk di sofa berhadapan dengan Alfaro dan juga Arumi. Arumi memicingkan matanya, menatap Aril dan Dinda secara bergantian.


"Yang kami lihat tadi itu apa?" tanya Alfaro.


"Saya tersandung dan tidak sengaja jatuh menimpa tubuhnya," jelas Dinda.


"Ya betul sekali, kami tidak seperti yang kalian pikirkan," sahut Aril.


"Apa benar? tapi wajah Dinda tadi sampai memerah begitu," ucap Arumi yang berusaha menahan tawanya.


"Merah? Tidak wajah ku tidak merah," sangkal Dinda, meski sebenarnya ia memang merasa gugup saat itu.


"Ya baiklah, anggap saja kami percaya," ucap Alfaro yang sudah berdiri dari posisinya, lalu menoleh kearah sang sekertaris, "Aril kamu ikut aku ke Mansion sekarang."


"Baik Tuan."


Alfaro menyempatkan mencium kening sang istri di hadapan para jomblo yang ada di hadapan mereka. Aril dan Dinda saling melirik, entah kenapa mereka menjadi canggung sendiri karena kejadian tadi.


"Aku pergi dulu ya," ucap Alfaro seraya mengusap puncuk kepala Arumi dengan lembut.


"Iya Mas hati-hati."


Alfaro melangkah pergi bersama dengan Aril yang mengikutinya dari belakang. Saat ini tinggalah Arumi dan Dinda saja yang masih berada di sana. Arumi tersenyum seraya mengangkat-angkat alisnya, menatap Dinda yang terlihat salah tingkah.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" ucap Dinda kesal.


"Tidak papa, aku hanya curiga kamu mulai menyukainya," ucap Arumi.


"Apa! Aku menyukainya? Tidak mungkin lah, dia itu bukan tipe ku," ujar Dinda.


"Ya aku akan percaya jika kamu benar-benar sudah memiliki pacar dan bukan seketaris Aril orangnya."


"Oke tunggu saja," ucap Dinda .


~


Bima baru saja pulang dari kantor. Hari ini ia kembali tidak bisa melihat Arumi, ia semakin bertanya-tanya, ada apa dengan Arumi belakangan ini, yang setiap hari semakin terasa jauh darinya. Ingin rasanya ia menyentuh sehelai saja rambut pujaan hatinya itu. Namun bagaimana akan menyentuh, memilikinya saja belum.

__ADS_1


Mobil itu kini sudah terparkir di basement apartement. Namun ia masih saja tidak meninggalkan tempatnya. Ia diam termenung seraya memandangi kalung yang ada dalam genggaman tangannya. Kalung yang sudah sejak lama berada disana dan tak juga sampai kepada pemiliknya.


Bima membawa kalung itu kedalam genggaman tangannya lalu beranjak turun dari dalam mobil. Entah akan dia apakan kalung itu, mungkinkah ia akan mencoba menyatakannya sekali lagi kepada Arumi? Hanya Bima dan Tuhan yang tahu bagaimana isi hatinya.


~


Saat masuk kedalam apartement, wajah yang tadinya nampak murung kini tertutupi dengan senyuman saat melihat kedua orangtuanya sedang duduk bersama seraya menikmati kopi dan juga cake red velvet favorit mereka.


"Eh Bima sudah pulang," ucap Mami saat melihat Bima yang sedang berjalan menghampirinya.


Bima berajak duduk lalu berbaring di pangkuan hangat Mami. Kedua orangtuanya nampak Kaget, tidak biasanya Bima bersikap manja seperti ini.


"Kamu kenapa Bim, tidak biasanya berbaring di pangkuan Mami seperti anak kecil?" tanya Daddy yang duduk di hadapannya.


"Iya Bim, kamu kenapa ... apa ada masalah?" tanya Mami sambil menepuk lengan kekar Bima.


"Tidak apa-apa ... aku hanya sedang kehabisan energi saja," ucap Bima menyangkal semua yang kini memenuhi hati dan pikirannya.


"Kalau kamu sudah bosan dan ingin berhenti dari perusahaan Alfaro, Daddy malah senang, karena itu berarti kamu siap untuk menggantikan posisi Daddy di perusahaan," ujar Daddy lalu kembali menyeruput kopinya.


"Oh iya Bim, Mami dan Daddy mendapatkan undangan untuk ulang tahun perusahaan Alfaro ... sepertinya Mami harus shopping nih, Mami kan tidak membawa satu pun gaun pesta saat datang kemari," ujar Mami.


"Memangnya Mami saja, Daddy juga dong. Di sana pasti banyak tamu penting, Daddy harus tampil maksimal," sahut Daddy tiba-tiba.


"Benar hanya karena itu ... atau Daddy mau tebar pesona dengan wanita-wanita muda yang ada disana?" tanya Mami seraya memicingkan matanya karena curiga.


"Ti-tidak mungkinlah Mi ... Mami itu wanita paling cantik senegeri Jiran, mana mungkin mata ini menoleh ke yang lain." Rayuan maut yang selalu berhasil membuat Mami tersipu malu.


Bima kembali tersenyum saat melihat pertengkaran manis kedua orangtuanya. Mungkin memang benar, saat kamu merasa lelah karena dunia yang selalu mempermainkan mu, pulang dan lihat orang-orang yang selalu ada dan menyayangimu setulus hati lalu kamu akan sadar jika kamu tidak benar-benar sendiri.


...***...


Sesampainya di Mansion Aril dan Alfaro di sambut langsung oleh Bi Ranti. Sudah beberapa hari wajah tampan nan rupawan Alfaro tidak berlalu lalang di Mansion mewah itu.


"Selamat datang Tuan, apa kabar?" tanya Bi Ranti seraya menunduk hormat pada Alfaro.


"Baik Bi, saya memang sangat sibuk akhir-akhir ini," jawab Alfaro.

__ADS_1


Bi Ranti terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu yang ingin ia pertanyakan namun ragu. Ia melirik ke kanan kiri sepertinya aman, lalu kembali melihat Alfaro.


"Bagaimana keadaan Nona, apa baik?" tanya Bi Ranti pada akhirnya. Ia sangat merindukan Nona mudanya itu, entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu.


Alfaro tersenyum kepada Bi Ranti, ia sempat bertanya-tanya kenapa Bi ranti hanya diam dan bertingkah aneh, ternyata kepala pelayannya itu masih mengingat Arumi, "Baik bi, dia dalam keadaan sehat."


"Syukurlah kalau begitu Tuan," ucap Bi Ranti yang sudah merasa lebih lega saat mengetahui Arumi baik-baik saja.


"Kalau begitu aku dan Aril masuk dulu."


"Baik Tuan."


Alfaro dan Aril melangkah masuk. Sesampainya di dalam Mama dan Almira sedang sibuk mencoba beberapa sepatu dan tas yang mereka pesan. Almira melambaikan tangannya kepada sang kakak ,saat melihat Alfaro berjalan kearahnya.


"Kak sini!" panggil Almira.


"Kapan disaigner itu akan datang?" tanya Alfaro saat sudah di hadapan adik dan Mamanya.


"Malam ini, kenapa kamu terlihat buru-buru sekali," ucap Mama cuek.


"Duduklah Kak, kakak jarang sekali pulang, jangan bilang seketaris Aril ikut kemari karena kalian akan menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja kakak," ujar Almira dengan wajah cemberutnya.


"Benar sekali Nona, memang itulah tujuan saya ikut kemari," sahut Aril seraya menunjukkan tumpukan dokumen yang ada di tangannya.


Alfaro melangkah duduk di samping Almira kemudian kembali menoleh ke arah tempat Aril berdiri, "Kamu naiklah lebih dulu, aku akan segera menyusul."


"Baik Tuan." Aril berbalik pergi, menaiki tangga menuju lantai dua di mana ruang kerja Alfaro berada.


Alfaro beralih melihat Mama yang tetap asik mencoba sepatu dan tas yang di belinya. Kadang terbersit dalam benak Alfaro, kapan keluarganya menjadi harmonis seperti dulu. Semenjak kepergian ayahnya, kehangatan keluarga itu sudah menghilang dan lebih banyak di warnai konflik yang membuat hubungan keluarga semakin renggang.


Dari sini kita bisa membedakan antara keluarga Bima dan Alfaro yang saling bertolak belakang. Mungkin dari sisi keluarga, Bima lebih beruntung tapi Alfaro masih unggul dalam percintaan. Kehidupan seseorang tidak ada yang sempurna, pasti ada saja celah untuk seseorang merasakan pahitnya kesedihan. Jadi jangan berspekulasi jika harta dan tahta selalu membuat kehidupan menjadi sempurna dan bahagia.


Bersambung 💓


Next, masih dalam proses menulis, yuk kasih author semangat 😁😁😁


Jangan lupa like+Komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2