Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.85 (Buka hati dan mata)


__ADS_3

Di sebuah cafe tak jauh dari kantor. Arumi dan Dinda sedang duduk saling berhadapan, Arumi menceritakan semua hal yang ia lewati selama empat tahun belakangan. Entah sudah berapa banyak tisu yang di pakai Dinda. Karena cerita kehidupan sang sahabat, begitu pilu hingga membuatnya tak bisa membendung air mata.


Hari ini semuanya tercurahkan. Arumi seolah melampiaskan apa yang ia rasakan, tanpa di tahan, karena Dinda sudah seperti rumah baginya, rumah tempat ia kembali. Selama di Malaysia, ia beberapa kali ingin menghubungi sahabatnya itu, tapi lagi-lagi demi melindungi diri, Arumi harus mengurungkan niatnya.


"Rumi, aku tidak tau kalau ternyata yang kamu lewati seberat ini, aku dan sekertaris Aril, sibuk mencari kamu kemana-mana, dan akhirnya kamu bertemu dengan Tuan Al, dengan tidak sengaja," ujar Dinda seraya mengusap punggung tangan Aruni.


"Begitulah, aku juga tidak sangka, dalam hitungan hari dan aku kembali kesini ... tapi kamu sendiri bagaimana, apa kamu dan seketaris Aril--"


"Apa yang kamu maksud, aku dan dia tidak punya hubungan apapun, kami hanya teman tidak lebih," ucap Dinda memotong ucapan Arumi.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai sekertaris Aril?"


Dinda terlihat sedang berpikir, jawaban apa yang baru ia berikan kepada Arumi. Ia dan Aril sudah melewati banyak hal bersama, namun zona nyaman sebagai teman dan rekan kerja, tidak membuatku berpikir untuk melewati batas itu. Meski pada kenyataannya, rasa itu ada hanya terletak di bagian hati terdalam, yang belum terjamah, hingga baik itu Dinda ataupun Aril, mereka sama-sama tidak menyadari.


"Entahlah ... tapi dia sendiri tidak pernah menganggap ku wanita, tapi kamu tau, hari ini aku mau berkencan dengan seseorang," kata Dinda yang kembali terlihat antusias.


"Kencan?" Dengan siapa?" tanya Arumi penasaran.


"Ada aja, pokoknya kalau aku jadi, nanti aku kabarin," ucap Dinda malu-malu.


"Oke aku tunggu, pokoknya."


Dua sahabat itu, bercerita hingga beberapa jam. Kisah hidup yang sama-sama menarik untuk di bahas. Lagi-lagi Arumi merasa jika empat tahun tidak banyak merubah sang sahabat, Dinda tetaplah Dinda yang selalu berhasil membuatnya tertawa. Begitu juga dengan Dinda. Baginya Arumi tetaplah sahabatnya yang dulu. Meski pada dasarnya, Arumi adalah istri dari atasannya, hal itu tidak membuat mereka menjadi merasa canggung meski sudah empat tahun tidak bertemu.

__ADS_1


...***...


Di tempat yang berbeda. Almira dan Bima mengajak si kembar bermain di salah satu time zone, tempat yang paling aman dan nyaman untuk anak-anak di tengah cuaca yang terik hari ini. Bima dan Almira sedang duduk berdampingan, dengan jarak yang membentang sekitar satu meter.


Mereka sama-sama memandang kearah yang sama. Yaitu memandangi si kembar yang sedang bermain mandi bola. Bima melirik kearah Almira yang sejak tadi hanya diam seraya melambaikan tangan kepada si kembar, dan seolah mengabaikannya. Ia mencoba berpikir keras, hal apa yang harus ia bahas untuk membuat suasana menjadi lebih hangat.


"Ini pertama kalinya, untuk Vino dan Viona pergi bermain di Mall," ucap Bima tiba-tiba.


"Benarkah?" Almira akhirnya kembali menatap pria di sampingnya.


"Iya, dulu aku selalu ingin mengajak mereka bermain di tempat seperti ini, tapi Arumi tidak mengizinkan," ucap Bima yang saat ini menatap Almira.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Almira penasaran dengan kisah Bima dan sang kakak ipar. Empat tahun menjaga si kembar dan juga Arumi. Rasanya begitu mustahil jika Bima tidak mempunyai maksud tertentu, pikir Almira.


"Bertanya ... apa, katakan saja," ucap Bima lalu tersenyum kepada Almira.


"Kamu ... apa kamu menyukai kak Arumi?" tanya Almira. Meski ia takut Bima akan tersinggung tapi rasa penasaran yang mendominasi, tak dapat di bendung lagi.


Bima tertegun sesaat. Pertanyaan itu begitu klise, karena bahkan dirinya sendiri selalu mempertanyakan, bagaimana rasa yang sebenarnya ia miliki untuk Arumi. Ya, dia suka namun apa ia pantas menyukai apa yang telah menjadi milik orang lain. Bima menatap mata Almira, entah kenapa ia ingin jujur kepada gadis yang ada dihadapannya saat ini.


"Aku ... jujur, dulu sekali aku menyukai Arumi saat aku belum tau kalau dia adalah istri dari kakak kamu ... aku sudah terlanjur menyukainya, meskipun pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan." tutur Bima.


"Lalu bagaimana sekarang, apa perasaan itu masih sama?" tanya Almira yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Aku sedang dalam proses melupakan ... empat tahun belakangan aku belajar banyak hal dari Arumi, empat tahun terpisah dari suaminya, membawa kesalahpahaman yang menyakitkan, tapi semua itu tidak membuat cintanya berkurang sedikitpun, jadi untuk apa aku terus larut ... bukannya aku juga berhak untuk bahagia," ujar Bima lalu kembali tersenyum kepada Almira.


Almira membalas senyuman Bima. Ia salut kepada laki-laki yang ada disampingnya. Melindungi milik orang lain, bertahun-tahun, tanpa berusaha untuk merebut paksa, apa lagi memanfaatkan keadaan. Ya, Bima memang sebaik itu, karena membiarkan hati tergantung dengan hal yang tidak pasti. Saat ini ia masih berusaha untuk sembuh sendirian.


Bima pernah terjatuh di hati yang salah. Ia memutuskan berjuang untuk hati yang memperjuangkan orang lain. Ia pernah tanpa ragu, meminta kepada semesta tapi ternyata semesta memaksanya untuk melapaskan padahal menggenggamnya saja ia belum. Dia pernah sehancur itu, tapi dengan sekuat hati ia bahkan masih berdiri di hadapan kedua pasangan itu, dengan senyuman, meski hatinya meronta-ronta karena menahan sesak yang berkepanjangan.


"Bukankah merelakan adalah bentuk kebahagiaan yang sesungguhnya? Kamu pasti bisa memulai hidup baru dengan wanita yang di pilihkan untuk kamu ... setiap hal yang di genggam nyatanya memang harus di lepaskan, berusaha mempertahankan hanya akan menyakiti diri kamu sendiri, aku yakin kamu pasti bisa ... buka mata dan hati, lihat lah di dunia ini banyak wanita yang sedang berjalan kearah kamu," tutur Almira yang terlihat begitu lembut tanpa menghakimi orang yang jelas-jelas menyukai istri kakaknya.


Bima hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia tidak menyangka jika wanita yang ada dihadapannya saat ini, merespon pengakuannya dengan bijak. Ia menatap Almira yang saat ini kembali mengarahkan pandangan kepada si kembar yang melambaikan tangan kearah mereka. Ia mencoba menetralisir ucapan Almira yang mengatakan, buka mata dan hati dan pada kenyataannya matanya mulai melihat kearah Almira, apa hatinya juga begitu?


"Almira," panggil Bima.


"Ya, kenapa?" tanya Almira saat kembali menoleh kearah Bima.


"Apa kamu bisa membantu ku untuk melupakan dia." ucapan itu terlontar begitu saja, kepada wanita yang bahkan begitu asing bagi hatinya. Ucapan Bima ini bukanlah pengakuan cinta untuk membuat Almira menjadi kekasihnya. Tapi lebih kepada, ia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya tidak larut dalam perasaan yang salah, terdengar sebagai pelampiasan tapi ini adalah awal yang baik, bukan?


Almira hanya bisa terdiam begitu juga dengan Bima. Mereka saling menatap, tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, takdir sudah memulai perannya. Mungkin saat ini perasaan cinta itu belum tumbuh di antara mereka, tapi siapa yang tahu, jika di masa depan, ternyata Almira adalah takdir Bima yang sesungguhnya.


Bersambung πŸ’“


Huhu, banyak sekali permintaan untuk crazy up 😒 tapi author belum punya waktu untuk itu, ini aja telat update karena kelelahan, author tidak bermaksud mengabaikan tapi semoga saja kakak-kakak reader semua bisa mengerti. ☺️


Kisah Bima, Almira dan Aril, Dinda akan di mulai, tapi Arumi dan Alfaro akan tetap di prioritaskan, untuk menceritakan kisah indah berumah tangga yang sesungguhnya bersama anak-anak mereka, semoga kalian semua suka ya πŸ™πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2