
Mobil hitam itu memasuki area Mansion. Saat mobil berhenti, disana sudah ada Mama sudah menunggu di kursi teras. Arumi dan Alfaro keluar dari dalam mobil, melihat Mama berada disana, Alfaro turun bersama Arumi untuk menyapa Mama, meski hubungan mereka belum juga membaik sejak pengumuman pernikahan itu.
Mama berdiri dari posisinya saat melihat Alfaro dan Arumi berjalan kearahnya. Dari raut wajah Mama sudah bisa di pastikan ia akan melancarkan rencana untuk membuat Arumi mati kutu. Arumi terseyum saat Mama memandanginya meski tak mendapatkan respon yang sama. Mertuanya itu malah memandangnya dengan tatapan sinis seperti biasa.
"Mama tidak biasanya duduk di teras?" tanya Alfaro.
"Ya Mama menunggu kamu pulang," jawab Mama seraya terus menatap Arumi.
"Menunggu? ... apa ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan?" tanya Alfaro mendadak penasaran.
"Ini tentang istri yang kamu bangga-banggakan, ternyata tidak sebaik itu," ujar Mama tiba-tiba. Arumi dan Alfaro saling menoleh, memandang satu sama lain. Mereka sama-sama tidak mengerti maksud Mama.
"Apa maksud Mama?" Ekspresi wajah Alfaro mulai berubah menjadi serius.
Mama mengambil sebuah botol kecil dari saku bajunya. Mata Arumi membulat, wajahnya berubah menjadi pucat. Yang ia khwatikan benar-benar terjadi, kondisi semakin buruk karena botol obat itu jatuh ke tangan yang salah. Tangan yang akan membawa Arumi dalam masalah baru yang entah bagaimana tanggapan suaminya nanti.
"Ini adalah milik istri kamu, seseorang yang mengirim barang-barang dari apartement membawanya kemari." Mama menatap tajam kearah Arumi, membuat Arumi kian tertunduk, "Kamu tau, ini adalah obat penunda kehamilan." Wajahnya begitu puas saat melihat Arumi diam tak berkutik.
"Apa! Obat penunda kehamilan?" Alfaro menoleh kearah Arumi. Namun hatinya kian tak tenang karena ekspresi Arumi seolah membenarkan jika apa yang dikatakan Mama semuanya benar.
"Untuk apa dia mengkonsumsi pil itu kalau bukan karena DIA tidak mau mempunyai anak dari kamu ... felling Mama tidak pernah salah, dia ini hanya wanita yang bahkan tidak lebih baik dari mantan mu, wanita yang hanya menginginkan harta bukan cinta," tutur Mama penuh penekanan. wanita pary baya itu memang mempunyai bakat merendahkan orang lain dan memperburuk keadaan.
"Cukup Ma, saya bukan orang seperti itu," sahut Arumi, saat ucapan mertuanya sudah di luar batas.
Alfaro membawa Arumi agar melihat kearahnya, menatap mata sang istri dengan penuh harap, "Rumi jawab aku, apa kamu benar-benar mengkonsumsi obat itu?" tanya Alfaro, mencegkram erat pundak sang istri.
Raut wajah kecewa begitu terpancar, saat Arumi menatap mata suaminya. Ia memejamkan matanya sejenak seiring air mata yang tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya. Ia mengangguk pelan, sebagai jawaban atas pertanyaan Alfaro, " Aku bisa menjelaskan semuanya Mas aku hanya--"
__ADS_1
tring tringg tringg.
Ucapan Arumi terpotong saat ponsel Alfaro tiba-tiba saja berdering tanda panggilan masuk. Tangan yang tadinya berada di pundak, kini perlahan turun, meraih ponsel yang ada di saku jasnya. Alfaro bergerak mundur untuk menerima panggilan telepon itu. Arumi menyeka air matanya, sementara Mama tersenyum tanpa henti karena merasa menang.
Mama seolah mendapatkan keberuntungan di pagi hari karena berhasil membuat hubungan Arumi dan Alfaro merenggang. Alfaro mematikan panggilan telepon itu, ia kembali menatap Arumi. Entah kenapa ia sangat kecewa saat ia berharap akan segera mendapatkan anak, Arumi malah menjatuhkan harapannya.
"Mas dengarkan penjelasan ku dulu." Arumi meraih tangan suaminya. Namun perlahan Alfaro melepaskan tangannya dari Arumi. Membuat Arumi semakin lemah.
"Ada masalah di lokasi proyek, aku harus segera kesana." Alfaro berbalik meninggalkan Arumi dengan perasaan campur aduk, tubuhnya terasa lemas, ia begitu terpukul mengetahui fakta jika Arumi mengkonsumsi obat kb. Harapan itu seolah pupus. Tapi Alfaro bukan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Arumi, ia hanya belum siap dan butuh waktu untuk menenangkan diri.
Mobil Alfaro bergerak cepat keluar dari area Mansion. Kini tinggalah Mama dan Arumi di sana. Lagi-lagi air mata Arumi keluar saat mobil yang di kemudikan suaminya menghilang dari balik pagar. Mama melangkah kehadapan Arumi.
"Lihatlah bagaimana kecewanya anak saya karena ulah kamu, dasar wanita tidak tau diri!" seru Mama lalu melangkah masuk kedalam Mansion.
Arumi menarik rambutnya hingga ke belakang. Kenapa ia di tinggalkan tanpa mendengar sebuah penjelasan. Apa salah jika seorang istri yang dulunya hanya di anggap sebagai pemuas hasrat, melindungi diri? Status yang tidak jelas, cinta yang dulu belum terbangun kuat, membuat Arumi mau tidak mau harus membangun tembok pertahanan dengan demi dirinya sendiri.
Alfaro mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Menyusuri jalanan tol yang bebas kemacetan. Ia sedang dalam perjalanan ke lokasi proyek yang ada di daerah Bogor, membawa semua pertanyaan dan rasa kecewa yang terpendam. Matanya memerah karena menahan gejolak di dada. Bayangan Arumi yang menganggukan kepala saat ia bertanya tentang obat itu, tak juga hilang dari pikirannya.
Alfaro sadar jika hubungan mereka memang di awali dengan cara yang salah. Wajar jika Arumi membentengi diri, tapi andai ia mengetahui fakta itu disaat rasa cinta dan harapan untuk memiliki anak bernama Arumi belum begitu kuat, mungkin ia tidak akan sekecewa ini.
Alhasil Alfaro menginjak pedal gas dengan kian dalam. Entah sudah berapa kecepatan mobil itu, Alfaro sudah tak perduli. Pikirannya benar-benar kacau, hingga konsentrasi mulai hilang, sampai ia tidak sadar jika dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Triiittt.....truaaarrrr.
Tabrakan pun tak terhindarkan. Mobil Alfaro berputar-putar hingga terbalik di tengah jalan. Dengan d*rah yang bercucuran dan posisi tubuh yang terjepit badan mobil perlahan kesadarannya mulai hilang, pandangan mulai kabur dan sedetik kemudian semua berubah menjadi gelap.
~
__ADS_1
Tringg... tringg...
Suara telpon rumah berbunyi cukup keras. Membuat Mama yang sedang duduk tak jauh dari sana Beranjak untuk menerima panggilan telepon itu.
"Hallo?"
[Apa ini benar kediaman Tuan Alfaro?]
"Ya, benar ... ini siapa?"
[Kami dari pihak rumah sakit xx daerah Bogor, ingin mengabarkan jika Tuan Alfaro mengalami kecelakaan di jalan tol perbatasan kota.]
"Apa!" Mama hampir tidak bisa menopang kakinya sendiri karena mendengar berita tersebut.
"Saya akan segera kesana." Mama menutup panggilan telepon itu dan langsung berjalan dengan cepat menuju kamarnya untuk mengambil tas dan memanggil Almira. Saat Mama masuk ke kamar, Almira mulai bingung karena melihat Mama begitu panik.
"Mama kenapa?"
"Kamu ikut Mama sekarang!"
"Tapi kemana Ma? Kenapa Mama panik sekali," ujar Almira.
"Nanti kamu akan tahu sendiri." Mama menarik tangan Almira agar berjalan mengikutinya.
Di saat Alfaro sedang dalam keadaan darurat. Tidak ada sedikitpun niat Mama untuk mengajak Arumi, ia pergi meninggalkan mansion, membiarkan menantu yang tak ia anggap meringkuk sendiri di dalam kamar dengan perasaan cemas. Kilas balik ujian cinta itu akan segera di mulai tanpa mereka sadari tanpa mereka rencanakan. Semuanya berjalan begitu saja sebagaimana takdir yang mempertemukan mereka.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊