
Arumi meninggalkan lokasi pesta dengan terburu-buru. Saat perutnya tiba-tiba saja begitu mual. Alfaro segera menyusul sang istri yang melangkah menuju toilet. Sesampainya di depan wastafel Arumi memuntahkan semua isi perutnya.
"Kamu baik-baik saja?," tanya Alfaro yang terlihat kebingungan harus bertindak seperti apa. Ia sudah tidak perduli lagi jika saat ini sedang masuk ke toilet wanita.
Di ballroom hotel yang menjadi lokasi pesta pernikahan Almira dan Bima. Indra penciuman Arumi yang semakin sensitif pasca hamil, membuat ia mual saat mencium aroma makanan beranekaragam dan juga harum semerbak parfum yang di pakai para tamu, membuat kepalanya pusing. Sepertinya masa tersulit saat kehamilan sedang di rasakan lagi oleh Arumi.
Arumi meraih selembar tisu dan langsung membersihkan mulutnya, ia berbalik menatap sang suami yang saat ini nampak sangat khawatir, "Tidak apa-apa Mas, sepertinya aku hanya butuh istirahat saja."
"Tidak! Kita harus segera ke rumah sakit bagaimana kalau anak kita kenapa-napa," ucap Alfaro yang nampak sangat panik saat melihat wajah Arumi yang nampak sangat pucat.
"Aku tidak apa-apa Mas, hal seperti ini sudah biasa terjadi saat aku sedang hamil," lirih Arumi.
Alfaro menghela nafas berat seraya menggenggam tangan sang istri dengan erat, "Baiklah, kalau begitu kita ke kamar hotel yang sudah aku siapkan untuk kita menginap."
"Tapi bagaimana dengan anak-anak Mas?" tanya Arumi.
"Kamu tenang saja, malam ini mereka sudah setuju untuk tidur bersama Mama, tadi Bi Ranti membawa Vino dan Viona ke kamar Mama," tutur Alfaro.
"Baiklah, ayo." Dengan di tuntun sang suami, Arumi melangkah keluar dari toilet itu.
~
Kembali ke lokasi pesta. suasana semakin bertambah meriah dengan hadirnya penyanyi papanatas yang di hadirkan Alfaro di pesta pernikahan adiknya. Para tamu silih berganti datang dan pergi. Hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Almira dan Bima pun sudah berganti pakaian. Acara terakhir adalah acara pelemparan bunga. Tentu saja yang maju ke depan adalah para pasangan, jomblo, adapula seseorang yang sudah menikah malah ikut bergabung apa mereka berharap bisa menikah lagi, hehe.
Pembawa acara yang memandu agar Almira dan Bima untuk maju kedepan. Mereka memposisikan diri membelakangi para tamu yang sedang mengambil ancang-ancang untuk meraih bunga yang akan segera di lempar oleh Bima dan Almira. Di antara orang yang ada disana. Dinda terlihat sangat antusias.
Aril hanya bisa terperanga saat melihat Dinda menggulung lengan gaunnya hingga ke atas siku, ia bahkan melepaskan sepatu hak tinggi yang membalut kakinya. Entah benar atau tidak, seseorang yang berhasil mendapatkan bunga dari pengantin, maka ia akan segera menyusul untuk menikah. Dan hal itulah yang di percayai oleh Dinda.
Dinda menoleh kesamping dimana Aril berada, "Aku akan maju kedepan, saat pembawa acara menghitung satu sampai tiga, kamu harus menghadang orang-orang yang akan mendahului ku, sisanya aku yang urus," ucap Dinda berbisik.
"Untuk apa juga kamu antusias untuk mendapatkan bunga itu? Lebih baik kita mundur saja, terlalu banyak orang disini," ucap Aril pada Dinda.
"Awas saja, kalau aku tidak berhasil mendapatkan bunga itu, kita tidak akan menikah," ancam Dinda dengan pandangan yang tetap fokus dengan bunga yang di pegang Almira.
"Apa! Ti-tidak jadi menikah ... baiklah kita akan dapatkan bunga itu.
"Bersiap-siap, karena sebentar lagi bunga akan segera di lemparkan," ucap pembawa acara dengan mic yang ada di tangannya.
Satu....Dua....Tiga.
__ADS_1
Almira dan Bima melemparkan buket bunga itu. Dengan satu gerakan. Di saat itulah Dinda lari kedepan, sementara Aril merentangkan tangannya untuk menghadang semua orang yang ada di belakangnya dengan susah payah. Dinda melompat dan akhirnya--.
"Berhasil!!!!"
Teriakan Dinda membuat semua orang menghentikan langkah mereka karena bunga sudah ada di tangan seorang wanita yang saat ini sedang melompat-lompat kegirangan. Dinda berlari, berhambur memeluk Aril.
Dari atas pentas sana, Almira dan Bima hanya bisa terkekeh melihat Dinda dan Aril yang saat ini menjadi pusat perhatian.
Dinda melepaskan pelukannya dari Aril, menatap sang kekasih dengan wajah berbinar-binar, "I'm ready to get married."
...**...
Pesta yang berlangsung meriah kini telah usai. Para tamu sudah pulang. Yang tersisa hanya para keluarga dan kerabat lain yang malam ini menginap di hotel yang di sewa khusus oleh keluarga Bima. Bertepatan dengan itu juga hujan deras tiba-tiba saja turun.
Alam seolah mengerti jika hujan adalah teman terbaik saat sepasang pengantin baru memalui malam pertama. Bukan hanya pengantin baru, tapi sepertinya pengantin lama pun juga begitu. Saat ini Alfaro dan Arumi sedang terbaring di atas ranjang, mereka saling berpelukan di dalam selimut.
"Kamu sudah tidur," ucap Alfaro saat sekilas ia melihat mata Arumi yang mulai terpejam.
Arumi kembali membuka matanya, dari cahaya remang-remang lampu tidur ia tetap bisa melihat wajah tampan suaminya, "Aku tidak bisa tidur Mas."
"Kenapa?" tanya Alfaro seraya membelai pucuk kepala sang istri.
"Aku lapar," bisik Arumi.
"Apa ... lapar."
Arumi mengangguk dengan wajah sendunya, "Aku ingin makan steak yang ada di acara pesta tadi."
Alfaro bangkit dari posisinya, duduk di atas ranjang seraya menatap sang istri, "Maksud kamu, harus steak yang ada di acara pesta tadi?"
Arumi kembali mengangguk, "Iya."
Alfaro menghela nafas panjang, kemudian tersenyum lebar kepada Arumi. Ia sangat menanti saat mengidam sang istri. Tapi ia tidak menyangka hal itu akan terjadi di tengah malam seperti saat ini.
~
Di lain tempat. Di kamar sepasang pengantin baru. Setelah selesai mandi dan berpakaian. Mereka berdua duduk bersandar di kepala ranjang. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung, tak ada yang mengucapkan apapun kecuali suara rintik hujan yang mendominasi.
Perlahan Bima meraih tangan Almira dan menggenggamnya dengan erat, "Kamu pasti sangat lelah ya."
"Sedikit," ucap Almira yang terlihat tidak berani menatap mata Bima.
__ADS_1
"Ehm, kenapa hujan deras sekali," ucap Bima yang malah terdengar seperti basa-basi.
Almira hanya diam, seraya melihat keluar jendela yang tertutup tirai transparan, Bima terlihat bingung harus memulai seperti apa, sampai pada akhirnya suara petir terdengar menyambar.
Akkkk.
Teriak Almira dan langsung beralih memeluk Bima, menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang terbalut pakain tidur. Bima menelan salivanya sekuat tenaga saat hasrat yang tertahan kini tak dapat di bendung. perlahan ia melepaskan pelukan Almira dari tubuhnya, mata mereka saling menatap. Sesaat hanya membisu dalam keheningan, Almira mengerti jika saat ini Bima menginginkannya.
Mata Almira mulai terpejam, membuat Bima tersenyum, ia mengerti jika sang istri sudah memberi jalan untuknya. Perlahan ia mendekatkan bibir, hingga akhirnya kembali menyatu. Namun kali ini kembali sensasinya berbeda karena semua telah menjadi milik Bima seutuhnya. Tak ada lagi batasan seperti saat mereka belum menikah.
Terasa begitu hangat, melilit, semakin menuntut hingga saling bertukar saliva sudah mereka lakukan. Almira mencengkram erat punggung Bima. Ia hanya wanita biasa yang juga bisa mengikuti alur saat mendapatkan sentuhan fisik seperti saat ini.
Penautan keduanya terlepas sesaat, memberi ruang untuk sekedar mengambil nafas. Dahi mereka saling bertumpu hingga deru nafas yang memburu terasa menerpa wajah. Perlahan tangan yang mulai nakal, membuka satu persatu kancing piama Almira, tak ada penolakan karena Almira mengerti dan juga menginginkan hal yang sama sebagai seorang istri.
Lagi-lagi Bima harus menelan salivanya sekuat tenaga karena melihat gundukan yang ternyata tidak terbalut apapun lagi. Tanpa pikir panjang ia menuntun sang istri berbaring. Ia memposisikan diri di atas tubuh yang saat ini sudah setegah polos.
Bima menenggelamkan wajahnya di sana, di gunung kembar yang membuat hasrat tak terkendali, ia memainkannya secara bergantian.
Ahhhhh....ahhhh.
Suara eluhan Almira terdengar begitu indah di telinga Bima. Hingga ia semakin menggila. Ia mengecup hingga menggigit kecil seluruh bagian hingga menimbulkan bekas kemerahan. Ia mengakhiri permainannya sesaat, untuk membuka kain yang tersisa di tubuhnya dan juga Almira.
Sekarang mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun yang tersisa. Tak ada kata yang terucap saat na*su sudah mendominasi dua anak manusia yang baru saja mencicipi surga dunia. Dari ujung rambut ia mengecup semuanya, beralih ke dada yang sudah di jelajahi sebelumnya, ke perut hingga ke bawah perut.
Mata Bima terpana sesaat hingga akhirnya menenggelamkan wajahnya disana, membiarkan lidahnya menguasai seuatu yang saat ini sudah terasa begitu basah, semua itu normal karena Almira hanya wanita biasa sama seperti wanita pada umumnya saat memulai hal paling panas di malam pertama.
Almira mencengkram erat ujung bantal yang menopang kepalanya. Ia mengigit bibir sekuat tenaga namun kenikmatan itu tak bisa tertahankan lagi.
"Uhhh....ahhhhh...su-sudah, aku tidak tahan."
Bima mengakhiri permainan, ia mengusap bibirnya yang terasa lengket dengan punggung tangan. Sesuatu di bawah perutnya sudah tegak pari purna. Tanpa menunda waktu, ia mengarahkan miliknya, membuka paha sang istri untuk memberi jalan.
Satu hentakan, Almira hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sensasi yang tidak bisa di jelaskan.
Dua kali hentakan Almira mulai menggeleng perlahan, hingga hentakan ketiga yang terasa begitu kuat dan akhirnya, tembus sudah. Sempurna sudah kondratnya sebagai seorang istri di malam ini. Buliran keristal bening terlihat keluar dari sudut matanya, hingga membuat Bima tidak tega. Saat ia ingin melepaskan miliknya, Almira menahan dan berkata, "Lanjutkan, aku tidak apa-apa ... malam ini aku milik mu seutuhnya."
Bima terseyum senang, di kecupnya bibir sang istri lalu kembali fokus ke permainan yang belum terselesaikan.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊
__ADS_1