Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.92 (Meminta restunya)


__ADS_3

Sepulangnya dari bandara. Bima dan yang lainnya, mampir di sebuah restaurant yang menerapkan tema tradisional dengan saung-saung yang berjajar rapi sepanjang mata memandang saat masuk ke area Restaurant.


Setelah memesan tempat dan juga makanan. Mereka menikmati hidangan, meski di buat heboh dengan tingkah Vino dan Viona yang tak sangat aktif. Meskipun begitu Mama terlihat sangat antusias menjaga cucu-cucunya.


"Mama kesana dulu ya, Vino dan Viona mau main di area bermain," ucap Mama lalu melangkah dengan cepat menyusul cucu-cucunya


"Sekarang beliau nampak lebih ceria dan sikap galaknya sudah hilang, perubahan yang sangat drastis," ucap Aril seraya memandangi kepegian Mama.


"Benar sekali, aku juga bingung kenapa bisa begitu cepat Mama berubah," sambung Almira.


"Itu pasti karena Vino dan Viona," sahut Bima.


"Memangnya Beliau segalak apa? Aku jadi ingin melihatnya, apa lebih galak dari Ibu ku," ucap Dinda yang memang belum tahu betapa garangnya wajah Mama saat Marah.


"Berkali-kali lipat dari Ibu mu,"tutur Aril yang duduk di sampingnya.


"Benarkah," ucap Dinda dengan mata membulat.


Almira dan yang lainnya terkekeh melihat ekspresi wajah Dinda. Ya, Mama memang tekenal galak dan cenderung sadis, tapi siapa yang menduga jika sekarang Mama sudah banyak berubah. Meski pernah melakukan kesalahan yang membuat anak kehilangan jati diri tapi setiap pendosa sekalipun berhak memperbaiki diri dan mendapatkan kebahagiaan.


"Oh iya Kamu tidak jadi pulang?" tanya Aril pada Bima.


"Vino dan Viona tidak ingin di tinggal, jadi aku memutuskan untuk tinggal lebih lama," jawab Bima.


"Mereka pasti sangat dekat dengan kamu ya," ucap Dinda.


"Ya, begitulah ... dulu di Malaysia, setiap satu minggu sekali aku mengunjungi mereka, karena daerah Arumi tinggal dan rumah ku cukup jauh dan aku juga sibuk," tutur Bima.


"Bima kamu baik-baik saja kan? Aku yakin masih banyak perempuan di luar sana yang siap untuk menerima kamu," tutur Dinda dan membuat Aril melotot kepadanya. Kenapa juga Dinda harus membahas soal itu.

__ADS_1


Almira melirik kearah Bima yang duduk di sampingnya. Ia bisa melihat raut wajah Bima yang tiba-tiba saja berubah menjadi sendu dan diam seribu bahasa. Sepertinya luka itu masih sama namun hanya di tutupi dengan sempurna. Tapi ketika kembali di buka, semua nampak nyata jika ikhlas itu belum sepenuhnya menghapus rasa.


"Maaf Bima, mulut wanita ini memang susah di atur," ucap Aril yang nampak tidak enak saat melihat Bima.


"Tidak apa-apa, santai saja ... aku bahagia melihat Arumi bahagia, sekarang aku juga sedang berusaha membuka hati kepada seorang wanita, tapi aku tidak tahu perasaan dia seperti apa, masih dalam masa pendekatan istilahnya ... PDKT," tutur Bima yang sudah terlihat lebih baik.


"Benarkah, siapa-siapa?" tanya Dinda yang terlihat sangat antusias.


Almira menggenggam erat sendok di tangannya saat mendengar ucapan Bima. Ia tidak ingin terlalu percaya diri tapi, setelah apa yang mereka lalui beberapa hari ini, apa wanita yang di maksud oleh Bima adalah dirinya. Ia melirik kesamping, melihat Bima yang kini sedang terkekeh karena tingkah Dinda.


Kenapa dia hanya tertawa dan tidak menjawab, tapi bagaimana jika yang dia maksud itu bukanlah aku, kenapa aku kepedean sekali sih, batin Almira.


"Masih rahasia, nanti setelah aku berhasil mendapatkannya, akan aku bawa kehadapan kalian," ucap Bima pada akhirnya.


"Ya kenapa rahasia sih," ucap Dinda kemudian tiba-tiba saja ia meraih tangan Aril dan langsung menggenggamnya, "Lihatlah sekarang kami sudah resmi pacaran ... eh bukan pacaran sih, tapi kami sebentar lagi akan menikah."


Seketika juga wajah Aril langsung memerah. Ia merasa aneh, saat seharusnya ia yang menggenggam tangan Dinda untuk di perkenalkan kepada orang-orang dan yang terjadi sekarang malah sebaliknya.


"Selamat ya Aril, Dinda," ucap Bima.


"Oh i-iya terimakasih," ucap Aril yang terlihat malu-malu.


Dinda memperhatikan Bima dan Almira. Ia merasa jika keduanya akan cocok jika bersama. Sama-sama cantik dan tampan dan tentunya dari keluarga yang juga sudah saling mengenal dengan baik. Jika dulu Alfaro gagal di jodohkan dengan Bianca, kenapa tidak mereka saja.


"Ngomong-ngomong, Bima, Almira kenapa kalian tidak pacaran saja, Almira jomblo kan ... kalian benar-benar co--" ucapan Dinda terpotong karena Aril dengan cepat menutup mulut Dinda dengan sebelah tangannya.


"Haha, maafkan dia ya ... sepertinya kali ini mulutnya benar-benar harus di kunci," ucap Aril yang merasa semakin tidak enak.


Almira dan Bima hanya diam tanpa menanggapi ucapan Aril dan Dinda. Mereka sama-sama masih ragu, dan baik Bima ataupun Almira merasa jika menumbuhkan sebuah cinta itu bukanlah hal yang mudah dan perlu waktu untuk saling memahami satu sama lain. Pelan tapi pasti, sampai hati sama-sama yakin jika cinta telah hadir di antara keduanya.

__ADS_1


~


Pukul satu siang, mereka berpisah di depan restaurant. Bima, Almira, Mama dan si kembar pulang ke Mansion, sementara Aril mengantarkan Dinda pulang ke rumah. Dinda melambaikan tangan saat mobil yang di kendarai oleh Bima melaju pergi meninggalkan halaman restaurant.


"Ayo pulang?" ajak Aril.


"Apa tadi kamu lihat ekspresi wajah Almira, sepertinya orang yang Bima maksud itu adalah Almira, iya kan?"


"Ah sudahlah, kalau memang jodoh tidak akan kemana, ayo." Aril menarik tangan Dinda agar berjalan mengikutinya.


~


Tak butuh waktu lama untuk Aril sampai di depan rumah sang pujaan hati. Dinda turun terlebih dulu, lalu di ikuti oleh Aril. Dinda mengeryitkan keningnya heran, ia kira Aril akan langsung pulang.


"Mau mampir?" tanya Dinda.


"Iya, mau menyapa ibu kamu sebentar," jawabnya.


"Kalau begitu ayo," ucap Dinda yang hendak melangkah, namun langsung di cegah oleh Aril.


Aril meraih tangan Dinda lalu menggenggamnya dengan erat, membuat Dinda menatapnya dengan bingung," Tunggu aku, kita masuk sama-sama." Aril menarik tangan Dinda agar berjalan mengikutinya.


Sesampainya di dalam. Aril dan Dinda bisa melihat Ibu yang sedang duduk sambil menonton acara infotainment di televisi. Saat tersadar jika ada seseorang yang datang, sontak Ibu langsung mengalihkan pandangannya. Ibu langsung fokus kepada tangan Dinda dan Aril yang saling menggenggam.


"Kenape nih, pake acara pegangan tangan segala? Emangnya si Dinda anak TK yang musti di gandeng mulu."


Aril menelan salivanya sekuat tenaga, saat melihat sebuah rotan yang berukuran pendek berada di tangan Ibu. Ia sudah membayangkan bagaimana jika rotan itu mendarat di kepalanya seperti tas belanja legend Ibu. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah Aril untuk meminta izin ibu.


"Se-selamat malam Bu, maksud saya mengadeng tangan Dinda masuk, untuk meminta izin kepada Ibu karena saya dan Dinda akan menjalin hubungan kearah yang lebih serius mulai sekarang, saya mohon Ibu merestui hubungan kami," ucap Aril tegas, dengan ekspresi wajah yang begitu kaku dan keringat yang bercucuran dari dahi karena menahan rasa gugup.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa+like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2