Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.19 (Me time)


__ADS_3

Motor metik milik Dinda melaju kencang, menyuri jalan ibu kota yang selalu padat merayap seperti biasa. Sesuai dengan kesepakatan bersama, mereka akan pergi ke Mall untuk bersenang-senang hari ini.


Sepanjang perjalanan, Arumi terlihat sangat senang, sesekali ia merentangkan tangannya, seakan menimati kebebasannya setelah beberapa hari harus bekerja siang dan malam.


~


Sesampainya di area Mall, mereka turun dari motor dan melepaskan helm yang mereka pakai.


"Kita mau ngapain dulu nih?" tanya Dinda.


"Terserah kamu aja," jawab Arumi.


"Wih, banyak duit nih. kalau gitu kita makan dulu yak, laper nih," pinta Dinda sambil mengelus perutnya.


"Boleh deh, aku juga laper sih, hehe."


"Siap, meluncur." Dinda melingkarkan tangannya di lengan Arumi, mereka berjalan beriringan sambil tertawa bersama.


Sesampainya di area dalam Mall, Dinda dan Arumi langsung beranjak menuju sebuah restaurant cepat saji yang Berada tak jauh dari pintu utama.


Arumi dan Dinda memesan makanan yang mereka inginkan, setelah mendapatkan makanan. Mereka duduk di sebuah kursi yang ada di dekat jendela Mall.


"Setiap minggu ajak aku makan ya," pinta Dinda.


"Huh, maunya."


"Eh gimana hubungan kamu sama Tuan Al, lancar?"


"Lancar gimana maksudnya?" tanya Arumi balik.


"Ya, siapa tau aja dia beneran suka sama kamu Rumi, gitu aja nggak ngerti," ucap Dinda.


"Hah, nggak mungkin lah Din, yang ada nih, dia itu lagi patah hati karena mantan istrinya mau nikah lagi," ujar arumi lalu meneguk minumannya.


"Kalau menurut kamu sendiri, Tuan Al itu gimana?" tanya Dinda penasaran.


"Emm, entahlah, aku juga masih bingung ... sejak aku menikah, yang aku tau, dia hanya pria dingin dan angkuh, tapi kejadian malam tadi buat aku tahu sisi lain dari dia."


"Maksud kamu apa tuh, penasaran aku."


"Anak kecil nggak boleh tau," ucap Arumi lalu melanjutkan makannya.


"Idih pelit amat."


"Eh kamu tau, tempat kursus mengemudi nggak?" tanya Arumi.


"Tau lah, kan deket rumah aku ada."


"Oh yang deket bengkel?"


"Tuh tau, emang kenapa? Mau beli mobil pake black card yang di kasih dia."


"Gila kamu, ya enggak lah, ngapain beli mobil, yang ada aku udah di kasih mobil dan aku harus bisa nyetir, kalau nggak dia ngancam kontrak pernikahan kami akan di perpanjang."


"Wah di perpanjang? Bagus tuh, haha."


"Dinda-dinda, pengen ku tabok tapi nggak tega juga," ucap Arumi geram.


"Hehe, bercanda Rumi ... oh iya aku masih nganggur, coba kamu tanya sama Tuan Al atau sekertarisnya si Aril-aril itu, ada lowongan lagi nggak, sumpek aku di ocehin ibu terus."


"Nanti aku tanyain, kalau inget."


"Kan jahat kan."


"Haha, bercanda, iya nanti aku tanyain."


"Asikk, habis ini kita mau kemana?"


"Nonton, karauke."


...***...


Mobil Mercedes Benz itu akhirnya kembali terparkir di halaman Mansion. Aril sudah berada di sana sejak tadi, karena ia di telepon oleh Alfaro untuk datang ke mansion.


"Selamat datang Tuan." ucap Bi Ranti dan beberapa pelayan lain yang berada di sana.


Alfaro hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali melangkah, di ikuti oleh Aril di belakangnya.


"Apa Tuan sudah lebih baik?" tanya Aril yang terus berjalan di belakang Alfaro.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya dan ikut aku keruang kerja ku."


Aril pun mengatupkan mulutnya dan terus melangkah menuju lantai dua mansion itu. Sesampainya di ruang kerjanya, alfaro langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa, sementara Aril masih berdiri di belakangnya.


"Apa kamu yang mengirim Arumi ke Apartement?" tanya Alfaro sambil menatap Aril dengan tajam.


"Saya tidak meminta Nona untuk kesana, tapi Nona sendiri yang ingin pergi," tutur Aril.


"Hah, kamu tau dia melihat kondisi terburukku saat mabuk, harusnya kamu mencegahnya."


Aril berusaha menahan tawanya saat mendengarkan penuturan Alfaro, "Maaf Tuan, saya tidak bisa mencegahnya ... tapi dimana Nona Arumi, kenapa dia tidak ikut pulang?"


"Kamu lupa jika dia bisa pulang kerumahnya setiap akhir pekan," ujar Alfaro.


"Ah iya, saya lupa."


"Tetap pantau kemanapun dia pergi, aku tidak mau dia berhubungan dengan pria lain selama terikat pernikahan dengan ku."


"Tentu saja tuan, anak buah saya selalu memantau kemana pun Nona pergi, jika ada sesuatu yang mencurigakan pasti mereka akan melaporkannya kepada saya."


"Bagus, dan satu lagi ... belikan aku ponsel baru, ponsel ku rusak."


Aril mengeluarkan sebuah ponsel baru dari saku jaketnya. Alfaro sampai kaget saat Aril dengan senyumnya, menyodorkan ponsel baru itu kepadanya.


"Sudah saya beli, sebelum anda Mengatakannya."


"Wah, kamu memang selalu bisa aku andalkan, terimakasih," ucap Alfaro seraya mengambil meraih ponsel itu dari tangan Alfaro.


...***...


Sementara itu di luar sana, di dalam sebuah Mall, setelah selesai menonton film, Dinda dan Arumi ingin melanjutkan dengan berkaraoke.


"Kamu yakin mau karauke?" tanya Dinda.


"Iyalah, sudah lama kan kamu nggak denger suara emas ku," ucap Arumi sambil berjalan dengan riang.


"Ck, suara emas apaan, haduh, kalau bukan kamu yang bayar, aku nggak mau karauke lagi," decak Dinda.


"Tega kamu ya, sama temen sendiri."


Bugh.


"Rumi, kamu nggak apa-apa?" tanya Dinda sambil membatu Arumi berdiri.


"Arumi, maaf ya, aku tidak sengaja," ucap seorang pria yang di tabrak Arumi.


"Bima," ucap Arumi saat melihat tenyata orang itu adalah Bima.


Dinda memadangi Arumi dan Bima secara bergantian. Ia bingung, kenapa mereka bisa saling kenal.


"Kalian saling kenal?" tanya Dinda pada Arumi.


"Ah ini Bima teman kerja ku," jawab Arumi.


"Oh gitu, perkenalkan saya Dinda sahabat Arumi sejak bayi," ucap Dinda sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Bima, teman kerja Arumi," ucap Bima seraya menyabut uluran tangan Bima.


"Kalian mau ke mana?" tanya Bima.


"Kami berdua berencana mau karauke," jawab Arumi.


"Aku boleh gabung, tadinya aku mau langsung pulang setelah membeli sesuatu, tapi karena bertemu kalian, aku jadi mau ikut gabung."


"Boleh kok, boleh," sahut Dinda tiba-tiba, padahal Arumi belum mengatakan apapun.


"I-iya boleh kok," ucap Arumi dengan sangat terpaksa, kalau begini Arumi tidak akan mau bernyanyi, sudah pasti ia malu jika Bima mendengarkan suara cemprengnya.


~


Setelah memesan tempat, Bima, Arumi dan Dinda masuk kedalam Ruang karauke. Arumi terlihat kaku sekali, tidak semangat seperti tadi.


"Rumi, kok diam aja tadi kamu bilang mau nyanyi," ujar Dinda.


"Ah kapan, aku tidak pernah bilang seperti itu, kamu kan yang mau nyanyi tadi," ucap Arumi.


"Loh kok aku sih," ucap Dinda bingung.


"Bagaimana kalau aku saja," sahut Bima tiba-tiba.

__ADS_1


Arumi dan Dinda langsung menoleh kearah Bima lalu mereka mengangguk secara bersamaan, sebagai tanda setuju jika Bima yang bernyanyi.


Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu, dengan posisi Arumi berada di tengah-tengah, antara Bima dan Dinda. Bima terlihat sangat serius saat memilih lagu yang ada di monitor. Sampai pada akhirnya, alunan musik yang terdengar selow nan melow mulai terdengar, setelah intro lagu itu selesai, akhirnya suara emas Bima mulai keluar.


🎶


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu.


Dinda dan Arumi sampai terpana mendengarkan suara Bima yang sudah seperti suara penyanyi aslinya. Terutama Arumi, ia tidak menyangka jika di luar kecekatannya saat bekerja, ternyata Bima punya bakat terpendam seperti ini.


"Rumi, suaranya keren banget, orangnya ganteng lagi," ucap Dinda pelan


"Hust, diem deh, nanti orangnya denger lagi," bisik Arumi.


Bersambung 💓


Note: lagu yang di nyanyikan Bima adalah lagu yang di populerkan oleh Andmesh Kamelang yang berjudul Cinta Luar Biasa.


Jangan lupa like+ komen+ vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2